Chapter 05

1342 Words
Jika waktu adalah uang, maka waktu tidurmu yang berharga bisa diganti dengan uang. Tapi tidak semudah itu. Waktu adalah uang dengan syarat dan ketentuan berlaku. Embun menghabiskan satu malam di perpustakaan dengan tidur nyenyak. Dia bangun akibat suara pelayan membuka pintu. Dia menguap dan kaget saat waktu menunjukkan pukul 9 pagi.  Dia mengusap matanya dan merapikan buku-buku itu. Dia hendak berjalan ke kamarnya, tapi Malaka menunggunya di depan perpustakaan. Dia terhenyak hingga menjatuhkan buku catatannya.  “Taktik perang perebutan wilayah.”ucapnya membaca catatan Embun yang terbuka. “Kau masuk sini atas izin siapa?”tanyanya tegas. “Ah, aku bersama Awan.” “Perpustakaan ini tak boleh dimasuki sembarang orang. Bahkan Arafuru sekalipun, harus mendapat izin dariku.” “Maaf Wali, saya tidak tahu.” “Pergilah. Sekali lagi, kalau mau masuk kesini, kau harus memberitahuku. Ada buku yang tak bisa dibaca sembarang orang.” Embun mengangguk ketakutan. Wajah Malaka tampak mengerikan. Dia menatap tajam Embun. Embun tidak tahu ada peraturan seperti ini. Dibanding membaca buku yang tak bisa dibaca sembarang orang itu, Embun lebih memilih membaca sejarah kerajaan di Santara. Itu lebih berguna untuk masa depannya. “Ah, buku yang kau baca akan kusuruh diantar pelayan ke kamar. Kau bisa membacanya disana. Tak perlu berpakaian rapi seperti itu.”ucap Malaka sebelum Embun semakin jauh. “Terima kasih, Wali.”ucap Embun penuh hormat. Dia mempercepat langkahnya. Dia merasa bodoh karena menghabiskan separuh waktu untuk tidur. Ya, bukan untuk belajar taktik. Hidup ini memang perjuangan sampai akhir. Sama seperti belajar. Istilah belajar seumur hidup itu nyata. Dia menulis di catatannya tentang ingatan yang baru saja datang. Tentang pukulan parah yang diterima dari sejumlah teman perempuan. Embun malu mengakuinya, tapi dia korban bullying di Indonesia. Pukulan dan tamparan keras ia terima dari gadis populer di sekolah. Bahkan dia hampir jatuh dari lantai lima gedung sekolah. Jatuh atau tidak, Embun tidak bisa ingat. Dia jadi memasukkan asumsi pertama tentang kepindahannya. Apa mungkin darah di sekujur tubuhnya adalah akibat dari peristiwa itu? Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Suara pintu berderit membuatnya mengatur posisi. Dia menyembunyikan bukunya di dalam laci. Tidak ada yang boleh tahu soal ingatan itu. Dia tak mau jadi sebodoh Langit, memberitahu semua orang soal ingatannya. Dia tidak tahu bahwa kawan bisa saja seorang lawan. Tanpa banyak menunggu, Arafuru masuk dengan nafas tersengal-sengal. Embun melihat jam di dinding, sudah pukul 1 siang. Dia menghabiskan banyak waktu bertapa hingga rasanya seperti tidak berguna. “Katanya kau mencariku?” “Tepat sekali. Bagaimana membuat Langit luluh?” Arafuru mengernyitkan dahi nya. “Apa maksudmu? Aku sudah pernah bilang jangan mendekati Langit.” “Ini tak seperti yang kau kira. Aku mau minta tolong padanya. Tentang cara menggunakan pedang dan senjata tradisional Sumatera.” “Argh, aku paham.”ucap Arafuru sambil manggut-manggut. Dia duduk di lantai kamar Embun yang dibalut tikar. Bagi Embun, hal paling sulit untuk dilakukan adalah menggunakan senjata dan pedang. Orang awam seperti dia tak punya banyak waktu untuk belajar semua itu. Dia sudah memperkirakan semuanya. Untuk menggunakan senjata, tak hanya kemampuan dan kekuatan yang dibutuhkan. Tapi juga taktik. Bagaimana sebilah pisau bisa menebas leher lawan tanpa mengeluarkan banyak tenaga? “Aku rasa, kau harus membayar sesuatu untuk menerima bantuannya.” “Sial. Semua sama saja. Permintaan Awan sudah membuatku frustasi. Ditambah lagi Langit punya permintaan.”keluh Embun. Arafuru malah tertawa. Dia cukup terpukau dengan kegigihan Embun. Perempuan lemah yang berusaha keras untuk menggunakan pedang dan senjata. Dia kira ini semudah yang ada dipikirannya. Ayolah, pikirannya itu perlu revisi berkali-kali. Dia tidak akan sanggup. Badannya saja kecil, ototnya tidak ada. Jika disuruh duel satu lawan satu dengan kaum pelayan, dia pasti akan kalah telak. “Aku tidak paham dengan keinginan Langit. Yang pasti, dia berbeda dengan orang pada umumnya. Dia tidak sesederhana Awan yang memintamu menghidupkan kembali bunga yang sudah mati.” “Lalu apa?” “Tanyakan sendiri. Aku tidak tahu.” Arafuru meninggalkan Embun seorang diri. Dia menaruh kepalanya di atas meja. Dia memandang sekelilingnya. Bodohnya kau Embun Deangkasa. Kau harus menggunakan otakmu untuk menyelesaikan ini. Jangan menyerah hanya karena seorang Langit. Dia cuma pria biasa. Ya, walau dia seorang penyintas yang paham betul bagaimana Indonesia. *** Mobil itu berhenti tepat di rumah Bangsawan Aires. Dua pria dengan badan tegap itu turun dengan tas besar di punggungnya. Pelayan langsung mengambil tugas untuk menyimpan semua benda itu. Hari ini, mereka berdua tampak lebih sumringah. Beda sekali dengan kemarin. Embun sudah menunggu dengan kebaya rapih membalut badannya. Dia berjalan tegak mempraktekkan tata krama yang diajarkan Arafuru. “Kau mau bertemu denganku?”tanya Awan bersemangat. “Tidak. Kita akan bicara di tempat biasa. Sekalian, aku akan mengajarimu cara merawat bunga itu.” “Wah, kau terlalu hebat untuk orang baru yang ada disini.”puji Awan sambil tertawa.  “Aku mau bicara dengan Langit.” “Aku tidak punya waktu.”balas Langit hendak pergi. Dengan sigap, Embun melayangkan pedang ke lehernya. Percobaan yang cukup mengagetkan untuk semua orang. Bahkan Awan melongo melihatnya. “Dengan ancaman, apa kau bisa tetap disini?” Dengan cepat, keadaan berbalik. Kini pedang itu yang berlokasi di leher Embun. Embun tersengal-sengal. Keringatnya mengucur di punggung. Tidak ada yang tahu, tapi Embun benar-benar takut. “Jangan macam-macam padaku!” “Sudahlah, kalau gak mau bicara. Tinggalkan dia sendiri.”ucap Awan menengahi. Awan langsung pergi saat keadaan berbalik. Satu-satunya yang membuat dia kaget adalah Embun bisa menggunakan pedang itu. Dan yang pasti, dia mencurinya dari kamar Malaka. Atau bisa saja dia ke ruang rahasia Malaka. Hanya dia yang tahu. Awan tidak mau ikut campur. Dia terlalu takut melawan orang tuanya. Langit menatap tajam dan melepaskan pedang itu. Ia hendak pergi setelah meletakkan pedang itu di sisi kanan Embun. “Kembalikan pedang itu jika kau tidak mau kena akibatnya.”ucapnya hendak mengakhiri. “Tunggu dulu, Langit. Aku betul-betul butuh bantuanmu. Tolonglah!”pinta Embun menyusul Langit. “Apa kau takut aku bisa mengambil tempatmu?” Langit diam dan menatapnya tajam. “Jangan terlalu percaya diri. Kau cuma penyintas yang baru saja masuk Santara. Kau kira hebat dengan todongan pedang tadi?” “Aku tahu aku bodoh. Tapi aku bisa membantumu mencari tahu tentang kedatangan kita kesini.” “Apa maksudmu?” “Aku tahu keinginanmu. Niatmu masuk militer untuk bisa mencari tahu tentang kedatangan kita kan?”tanya Embun serius. “Sama. Aku juga seperti itu.” “Kau tidak akan berguna. Kau tidak lebih hebat dari aku.” “Untuk berhasil, hebat saja tidaklah cukup. Kau tidak penasaran dengan ingatan yang baru saja kudapat?”seru Embun sambil berjalan dengan melipat tangannya di atas b****g. Mengenakan kebaya tak lagi buruk di matanya. Dia cukup cantik sewaktu berkaca di cermin besar kamarnya. “Kemungkinan besar, aku dibully di Indonesia. Manusia b*****t yang membuatku jatuh dari lantai 10 gedung. Bahkan aku gemetar sewaktu berdiri di gedung itu. Tapi air mataku terus mengalir karena sayatan pisau yang mereka buat di kakiku. Aku senang karena di tempat ini kakiku dibalut kain. Jika tidak, mereka akan melihat betapa menjijikannya penyintas yang tinggal di rumah bangsawan Aires.”curhat Embun dengan wajah sedih. Tak ada kebohongan di cerita itu. Tapi tujuan utamanya adalah untuk membuat Langit luluh.  Walau ini Santara, dunia tetaplah dunia. Cerita sedih selalu bisa membuat iba hati tak terkendali. Itulah sebabnya media selalu menampilkan cerita yang bisa menciptakan rasa kasihan. Manusia bisa makan hanya dengan mengemis di jalanan.  “Jika kau mengajar aku sekali ini saja, aku janji tak akan menyusahkanmu. Dan aku akan berhutang satu budi padamu.” Langit tampak memikirkan permintaan Embun. Perempuan kecil yang rasanya tidak akan sanggup menangkis satu pedang yang terhunus di lehernya. Sebuah kemustahilan yang coba Langit mengerti. Biarlah, tidak masalah membantunya. Kalau dia gagal, anggap saja sebagai amal dan ibadah.  “Baiklah.” “Benarkah?”seru Embun sangat tidak menyangka. Langit yang keras kepala itu bisa ia taklukkan dengan kemampuan liciknya. Siapa yang peduli dengan tujuan Langit. Embun hanya ingin tahu dimana ibunya berada. Ingatan tentang seorang ibu mendatanginya begitu saja. Wanita bernama ibu itulah yang membawanya ke Santara. Dia tak akan pernah diam, dia harus bertemu dengan ibunya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD