Hari ini menjadi berbeda. Bukan karena matahari terbit dari tenggara, tapi karena seorang wanita memasuki area militer yang didominasi para pria. Embun tidaklah peduli, ingatan yang perlahan muncul membuatnya sadar bahwa dirinya di Indonesia adalah manusia dengan keberanian sebesar bara api yang menyala-nyala. Bahkan, Arafuru mengira dia sedang dirasuki dewa iblis. Tadi pagi, Embun berhasil mengacak-acak kamarnya. Semua benda kaca pecah oleh tangannya. Itu semua karena ingatan tentang perbuatannya di sekolah dulu.
Menggoda guru muda? Pernah. Bahkan sampai guru itu dipecat. Melakukan kekerasan fisik pada temannya? Pernah. Bahkan orang tersebut dikeluarkan dari sekolah. Kok bisa? Uang bisa mengatur semuanya.
Tentu Embun punya alasan untuk itu. Dia hanya lupa kenapa dia sebinal itu di masa lalu. Yang pasti, Embun menyukai dirinya yang pemberani.
“Aku bertaruh, perempuan mungil itu akan kalah di tes pertama.”ucap Anoda bercengkrama. Semua anggota militer menunggu di sisi lapangan. Mereka disuruh untuk memperhatikan semuanya. Bagaimana kandidat itu mungkin akan mengalahkan mereka di tes akhir.
Semua berjalan lancar, hingga sampai giliran satu-satunya wanita di tempat itu. Embun Aires. Dia tak menggunakan nama aslinya, untuk menutupi fakta bahwa ia adalah penyintas. Dia tak sebodoh Langit yang dengan sukarela memberitahu semua orang bahwa dia penyintas. Mari, berteman dulu dengan mereka semua. Itu akan menguntungkan Embun.
Soal tata krama, Embun melewatinya dengan begitu mudah. Dia sudah beradaptasi dengan keadaan di Santara. Hidup di dunia kerajaan memang sulit, tapi Embun bisa melakukannya dengan mudah. Jadi ini bukan masalah.
Tentang pertarungan, Embun berhasil membuat semua orang kaget. Ketika dia hampir kalah oleh sebilah pisau yang ada di lehernya, dia mengambil kayu dengan cepat. Kayu itu berhasil menjatuhkan lawan seketika. Tentu saja dia diprotes oleh lawannya.
“Ini namanya curang!”
“Bukankah tidak ada peraturan tentang alat yang digunakan? Ketika pedangku lepas dari tangan, aku akan menggunakan cara lain. Aku tak akan membiarkan nyawaku hilang hanya karena tidak punya pedang.”teriak Embun berambisi. Semua yang mendengar malah diam.
“Sudah. Kami akan punya penilaian sendiri untuk kalian.”ucap Dimas Anggara mengakhiri. Embun bergegas ke sisi lapangan untuk melihat orang lain yang sedang mengikuti hal yang sama.
Embun duduk disisi lain dengan seragam militer lusuh yang dipinjamkan oleh Dimas Anggara. Embun sangat bersyukur karena tidak harus mengenakan kebaya untuk bertarung. Dia bernafas lega tapi juga penuh rasa kuatir.
“Kenapa kau lakukan itu?”tanya Awan yang tiba-tiba duduk disampingnya.
“Apa maksudmu?”
“Kau licik sekali menggunakan kayu untuk mengalahkan lawan.”
“Tidak ada ketentuan hal itu dilarang.”
“Aku tahu, tapi,,,”keluh Awan tidak menyangka. Semua orang kaget melihat jalan pikiran Embun. Perempuan yang terlihat lemah tapi punya sejuta cara. “Tapi pihak militer tidak suka cara seperti itu.”
“Argh, kau membuat pikiranku tak tenang, Awan.”
“Dengar, aku saja bisa lolos walau tak bisa menggunakan pedang. Sekarang, kau cuma punya satu kesempatan. Menggunakan taktik untuk menyelesaikan masalah. Ku harap kau bisa!!”ucapnya mengakhiri. Awan bergegas pergi ke kerumunan teman-temannya.
Akhirnya, sampai ke tahap terakhir. Bagaimana caramu menghadapi masalah. Embun sangat tidak nyaman terpojok seperti ini. Seakan ingatan masa lalunya datang. Tapi tidak jadi sebab jantungnya berdetak tak normal. Ada kekuatiran di hatinya. Apakah aku akan gagal?
“Kepada kupu-kupu yang terbang di angkasa. Jika salah satu diantaranya mematahkan kakimu. Apakah aku akan mematahkan sayapnya? Atau kau biarkan nafasnya berhenti?”
Pertanyaan macam apa ini? Peduli amat dengan kupu-kupu? Itulah pertanyaan yang diajukan kepada pria kelima yang sedang mengikuti ujian taktik. Pertanyaan yang membuat Embun frustasi. Apa hubungan kupu-kupu dengan perang antar wilayah? Embun tak bisa berpikiran normal.
Dia bergegas mencari air untuk diminum. Dunia tempatnya sekarang seperti kemustahilan. Tapi kenapa terasa seperti kenyataan? Embun mencuci wajahnya dengan air itu. Membuat pikiran jernihnya datang. Bagaimanapun, dia harus berhasil. Tidak bisa tidak.
“Apa yang kau pikirkan tentang rencana yang tidak sesuai dengan hati nuranimu? Aku akan memberikan sebuah contoh. Setiap tindakan yang dilakukan anggota militer, selalu ada rencana. Jika itu bertentangan dengan yang kau harapkan, apa yang kau lakukan? Disaat rencana itu sudah matang dan siap untuk dieksekusi.”
Pertanyaan yang membuat Embun bergeming. Tak ada yang terlintas di pikirannya. Jika dijawab jujur, dia hanya akan sampai pada kegagalan. Tidak mungkin kan dia diterima disaat pikirannya tertuju pada kepentingan pribadi?
“Embun!”ucap Dimas dengan nada tinggi. Membuat perempuan itu sadar dari lamunannya tentang hal negatif. Demi Dewa, Embun berjanji akan berdoa pada Dewa jika keinginannya yang satu ini terkabul.
“Rencana yang dibuat di dalam kelompok harus memenuhi kepentingan kelompok. Bagaimanapun, jika saya dihadapkan pada keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan saya, saya akan mengutamakan kelompok.”ucap Embun dengan tegas. Dan dia berhenti sampai disitu, awas terhadap mulutnya yang mungkin saja mengucapkan sesuatu yang salah.
“Jika ternyata rencana itu memang menuju kegagalan. Dan anda sebagai seseorang yang menentangnya, apa yang anda lakukan?”tanya yang lain lagi. Sungguh, ini seperti proses rekrutmen pekerjaan. Bedanya, ini mengorbankan nyawa.
Sebab sudah tak ada yang terlintas di pikirannya, Embun memutuskan untuk bicara dengan leluasa. Biarlah, keputusan terakhir adalah takdir semesta untuknya. Kegagalan mungkin bisa membawanya pada jalan lain menuju ke kata berhasil.
“Jika saya seyakin itu bahwa rencana akan gagal, saya akan mengajukan solusi yang bisa dilakukan. Rencana B yang memungkinkan. Tapi jika saya tidak yakin, saya akan menerima semua keputusan komandan.”
“Ok, baik. Cukup! Terima kasih.”
Secara pribadi, Embun tidak yakin dengan apa yang dia lakukan. Rasanya seperti perjuangan yang sia-sia. Dalam pertarungan saja, dia sudah berbuat curang. Ya, begitulah kata orang-orang itu. Ia merenung di dalam kamar dengan pemikiran akan gagal. Dewa yang ada di tempat ini mungkin saja tak peduli padanya. Atau, nazar Embun untuk memuja dewa ketika berhasil adalah sesuatu yang salah.
“Pelayan, bisakah aku berdoa kepada dewa?”tanya Embun seraya merapikan bajunya. Kebaya yang menyesakkan dadanya dengan begitu ketat. Andai dia punya keahlian menjahit, dia akan memanfaatkan kemampuan itu untuk membuat pakaian sendiri.
“Nona serius?”tanya pelayan itu tidak percaya.
“Iya. Aku punya permintaan pada dewa.”ungkap Embun serius. Jiwanya seakan tak bersemangat, apalagi mengingat ucapan Awan tadi. Semua ini terlihat mustahil tapi tetap saja, masih ada harapan. Pelayan membawa Embun ke bilik yang ada di sisi sebelah kiri. Ornamen yang didominasi gambar kepala buaya. Ketika Embun sampai di dalam, keadaan tampak seperti kuil dengan d******i warna kuning. Embun duduk dengan sikap sujud. Dia menarik nafas dan menghembuskannya.
“Dewa, jika berkenan, izinkan aku melanjutkan rencana ini. Dan kalau aku gagal, ku harap aku masih bisa bertemu ibu. Entah dengan cara apa.”
Tak terasa, air mata mengalir di wajahnya. Seketika matanya buram sebab isak tangis yang tak bisa diredam. Dan ingatan itu kembali datang.
“Dia akan segera mati.”
“Tidak. Aku tak akan pernah membiarkannya.”
“Kau mau apa lagi? Semua sudah berakhir.”
“Tidak. Tolong awasi gerak dokter. Aku akan menyelamatkannya.”
Mata Embun melotot mengingat semua itu. Apakah ini berarti bahwa Embun menderita suatu sakit parah? Atau kecelakaan? Sehingga dia berakhir di rumah sakit? Argh, dari semua ingatan yang datang, dia belum bisa mengingat wajah ibunya.
Embun mengusap wajah itu dengan sapu tangan. Dia berjalan dengan tegap keluar dari tempat ibadah itu. Dia tak ingin terlihat lemah. Dia juga tak ingin ketahuan, jika ingatannya telah kembali. Percaya atau tidak, Embun masih belum bisa menaruh harapan pada semua orang di rumah ini. Dibanding itu, Embun ingin mengandalkan kemampuannya sendiri.
Tak ia sangka, tiga orang itu berdiri menunggunya di depan tempat ibadah itu. Apa ada yang terjadi?
“Embun, kau terlalu hebat.”Arafuru tampak sumringah.
“Ada apa?”
“Kau berhasil lolos.”seru Awan dengan ekspresi datar.
Embun mengernyitkan dahinya tidak percaya. Dengan jawaban itu, dia berhasil melaju dan punya posisi yang sama dengan Awan dan Langit.
“Ini tidak masuk akal.”
“Memang. Kau hanya beruntung. Kurasa, di tahap selanjutnya kau akan langsung dipulangkan.”ucap Langit berkomentar.
“Santailah sedikit. Aku rasa, dia cukup hebat di beberapa bagian.”seru Awan.
“Di bagian mana? Jika aku jadi juri, tak akan kubiarkan dia lolos.”
“Untung saja jurinya bukan orang sepertimu! Sok hebat! Padahal aslinya kau rapuh kan?”
“Diam kau!”
“Dengar! Aku akan sampai di atas tanpa bantuanmu. Jangan pernah meremehkan orang lain. Tangisi saja hidupmu sendiri!”ucap Embun tegas. Emosinya semakin menjadi. Rasanya ingin menghabisi Langit, tapi dia tahu posisinya saat ini. Suatu hari nanti, ia akan mengambil kesempatan untuk membalas pria sok kuat yang ternyata lemah gemulai itu.
Langit malah tertawa dengan suara keras. “Kau sama saja, sok kuat dan hebat. Nyatanya, kau butuh bantuanku kan? Jangan terlalu percaya diri. Ini cuma cara Dewa untuk membuatmu sedikit bangga. Padahal ujungnya sama saja. Gagal dan hancur berantakan.”
“Diam!”tegas Embun dengan tangan mengepal di leher Langit. Awan dan Arafuru menatap dengan kekuatiran. “Itu akan jadi pertolongan pertama dan terakhirmu!”lanjutnya tegas.
“Ara, Awan, aku kembali duluan.”ucapnya mengakhiri. Langkahnya perlahan menuju ke kamarnya. Jiwanya bergelora dan ingin membunuh Langit. Seharusnya dia bunuh detik ini juga, tapi dia belum tahu hukum membunuh di Santara. Akan jadi masalah jika dia melakukan sesuatu tanpa mengerti akibatnya.