Chapter 07

1333 Words
Pria berbadan tegap dan tampan itu selalu menarik hati para wanita. Sayangnya, niat untuk mendekatinya digagalkan oleh tatapan mata tajam yang selalu ditunjukkan Langit. Langit Bebiru, pria yang kini berjalan di belakang Anambas dan Malaka. Disampingnya ada Awan yang sibuk tebar pesona. Sedang dibelakangnya, terlihat Arafuru dan Embun berjalan menyamakan langkah kaki. Bangsawan Aires hendak mengadakan kunjungan dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Siapapun perlu menanamkan citra yang baik agar harga dirinya sebagai bangsawan terlindungi. “Beritahu aku, dimana bisa menjahit baju sendiri?”tanya Embun sambil berjalan dengan senyuman manis di wajahnya. Senyum untuk mereka yang menderita sebab lahir dalam tangisan dan kemiskinan. Kekayaan orang lain bisa menghibur mereka sesaat.  “Apa rencanamu?” “Membuat kebaya yang bisa kugunakan untuk berperang.” “Kau lucu sekali. Tidak ada yang seperti itu.” “Kau mau tahu kemampuanku selain keberanian yang seperti bara api?”tanya Embun dengan pandangan kedepan. Arafuru menggeleng. “Aku bisa menggambar. Dan aku tak suka dengan model kebaya di tempat ini. Aku rasa, aku bisa membuat gebrakan baru.” “Rupanya kau sudah gila.” “Aku mengatakan sesuatu yang masuk akal.” “Itu tidak masuk akal. Semua pakaian yang ada disini, punya standar sendiri.”ungkap Arafuru dengan wajah konyolnya. Dia pasti senang menahan pipis akibat tertawa mendengar ide tidak jelas yang keluar dari mulut Embun.  “Standar seperti apa?” “Kebaya yang membusungkan d**a dan memperlihatkan bentuk tubuh. Bagaimana caramu bertarung dengan pakaian seperti itu?” “Sial. Ternyata dunia dimana-mana sama saja. Perempuan selalu dijadikan objek pelampiasan hasrat.”keluhnya. “Tapi aku bisa tetap mengutamakan hal itu tanpa membuatku sesak.” “Dadamu akan terlihat kecil jika tanpa kemben. Kau mau?” “Tidak masalah. Aku punya trik sendiri biar dadaku tetap terlihat besar.” “Bagaimana caranya?”tanya Arafuru penasaran.   “Akan kuberitahu. Asalkan, kau kenalkan aku pada penjahit yang mau melakukan itu. Aku butuh beberapa set baju jika ada pertemuan di luar. Kau tahu kan, tak selamanya aku di asrama militer.” Arafuru mengangguk paham. Kini mereka sampai di tempat tujuan. Memberikan sedikit bantuan berupa uang dan kebutuhan sehari-hari. Dan tak lupa, dilakukan sesi dokumentasi. Gunanya biar nama Bangsawan Aires semakin melejit sebab memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.  “Ibu, apakah aku boleh pergi bersama Embun? Kurasa, sebelum dia masuk anggota militer, ada yang harus aku beritahu padanya.”pinta Arafuru saat mereka hendak pulang. “Mau berbuat apa kalian?”ucap Malaka curiga. Seorang ibu cenderung mencurigai setiap sikap anak perempuannya. Terutama anak perempuan yang masih remaja dan belum tahu apa artinya dewasa. “Hanya mencicipi semangkuk mie tangan milik si hidung mancung.”balas Arafuru. Sebab Arafuru sudah jarang melakukan hal itu, Malaka membiarkannya pergi. Tujuan Arafuru bukan cuma sekedar makan mie, tapi dia ingin mencarikan Embun tukang jahit. Embun tak ingin Malaka tahu dengan alasan pasti akan dilarang keras. “Bicaralah sendiri. Aku tak akan paham seperti apa yang kau mau.”ucap Arafuru. Perempuan itu memilih penjahit yang tak terlalu sibuk. Sebab waktu terus memburu, dan tinggal satu minggu Embun ada di tempat ini. Dia harus menjalankan misi pertamanya sebagai anggota militer. Sesuatu yang bagi Arafuru seperti sebuah kemustahilan.  “Bodoh! Cuma orang bodoh yang minta dibuatkan seperti itu. Pergi sana! Aku tak butuh orang seperti kau!”ucap wanita itu tegas. Wanita dengan rambut dikonde. Sepenglihatan Embun, wanita itu memiliki emosi yang kurang stabil. Tapi hasil jahitan tangannya sangat rapi. Terlihat dari baju yang dipajang itu. Dan Embun yakin, kepribadian wanita itulah yang membuat tempat ini sepi dari pengunjung. “Dengar, kau terlalu kaku untuk disebut sebagai penjahit. Kau perlu kreatifitas.” “Persetan dengan kreatifitas.” “Kau tahu, kenapa tempatmu sesepi ini?” “Bukan urusanmu.” “Kau tidak punya sesuatu yang lebih dibanding toko sebelah. Sama saja! Dan mereka diuntungkan sebab sifat mereka yang ramah. Sedang kau, kau hanya punya emosi yang gak bisa diredakan.” Perkataan yang membuat perempuan itu sedikit sadar akan sikapnya yang bodoh. Jika semua tempat di daerah itu menjual barang yang sama, orang-orang akan pergi ke tempat ternyaman menurut mereka. “Tapi itu menyalahi aturan.” “Tenang saja. Aturan bisa dilanggar jika tak merugikan orang lain. Kau akan puas dengan ide yang kuberikan.” Sikap persuasif Embun berhasil meluluhkan wanita itu. Arafuru hanya bisa geleng kepala melihat kemampuan Embun yang luar biasa. Perempuan penyintas yang otaknya tak bisa diberdayakan oleh siapapun. Seakan dia punya ilmu ghoib yang mampu mengubah sesuatu yang mustahil jadi seperti keajaiban. “Kenapa disebut mie tangan?”tanya Embun setelah mereka selesai dengan tukang jahit itu. Embun akan mendapatkan kebaya nya dalam empat hari kedepan. Dan kini, mereka sedang menunggu mie paling terkenal di Sumatera bagian Timur. “Sebab setiap porsi ditentukan oleh genggaman tangan.” “Tidaklah itu berbahaya? Tangan tempat paling tidak higienis bukan?” “Tenang saja. Dia punya timbangan untuk ukuran tangannya. Demi keadilan. Zaman juga sudah berubah. Bahkan sebuah pesan bisa dikirim dalam waktu singkat.”ucap Arafuru menjelaskan. Penjelasan yang terdengar aneh. “Lalu, Si Hidung Mancung maksudnya apa?” “Pemiliknya orang asing yang sudah lama menetap disini. Jelas semua dari ciri fisiknya. Dia benar-benar mancung melebihi manusia pada umumnya.” “Silahkan dinikmati!”ucap pelayan itu memberikan pesanan. Mie Tangan dibuat sendiri dari bahan singkong. Diolah sedemikian rupa dengan bumbu rahasia. Sedang bumbunya didominasi rasa unik dari bahan yang tak mampu didefinisikan. Tapi sungguh, rasanya enak. “Terima kasih banyak Ara. Aku akan membalas semua jasamu suatu hari nanti.” “Tenang saja. Aku selalu kasihan dengan penyintas seperti kau.” “Hey, aku tidaklah pantas untuk dikasihani. Aku tak seputus asa itu.” “Ya, kau cukup beruntung Embun. Beda dengan seseorang yang kukenal.” “Siapa?” “Seseorang yang pernah masuk sekolah. Sayangnya dia berasal dari keluarga pelayan. Dia juga kurang mampu bergaul dengan semua orang. Ketika mereka tahu dia seorang penyintas, semua melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas. Argh, aku benci sekali ketika mengingat hal itu. Terlebih, orang itu kini sudah tiada.” Mendengar hal itu, Embun menjadi sedih. Masa lalunya tidak beda jauh dengan cerita Arafuru. Kekejaman dunia tak terbatas oleh apapun. Di belahan bumi manapun, selalu saja ada keirian yang membuat manusia jadi lebih jahat daripada hewan. Ironis yang terlalu nyata. “Berdamailah dengan Langit.”pinta Arafuru saat mereka berada di mobil hendak menuju ke rumah. Jalanan tampak ramai dengan orang berlalu-lalang. Tampilan bangsawan dan pelayan tanpa berbeda secara signifikan. “Aku benci pada orang sok hebat.” “Kau akan butuh dia suatu hari nanti.” “Aku akan berusaha agar tidak minta tolong padanya.” “Tapi demi aku, tolonglah dia jika mendapat masalah.” “Hey, kau cuma peduli padanya? Kau tidak memikirkan kakakmu sendiri?” “Sebenarnya, aku juga mau menitipkan Awan padamu. Jangan biarkan dia mati.” “Kau gila? Dia tidak akan mati.” “Aku terlalu takut Embun. Yang terlihat mata kita cuma sebagian kecil dari dunia ini. Diluar sana, banyak kegundahan yang bahkan tak bisa kita bayangkan.” Arafuru mendengar percakapan Malaka dan Anambas kemarin. Ketika mereka sedang bercengkrama di bawah bulan yang menunjukkan sinarnya. Ketika teratai di danau itu dilingkupi sinar, terlihat jelas bahwa kedua orang tuanya sedang menyesali keputusan yang sudah dibuat. Mereka berdua adalah orang yang paling sedih waktu tahu Awan diterima untuk jadi anggota tetap militer Sumatera. “Membiarkan dia pergi sama saja kehilangan seorang anak.”ucap Malaka dengan wajah sendu yang terukir jelas. “Tenang saja. Terkadang, kita tak bisa campur tangan keputusan seorang anak.” “Aku tahu. Tentang pernikahan kita saja, kita menginginkan kebebasan. Dan kurasa, Awan juga berpikiran yang sama.” “Berdoa saja, semoga Dewa selalu bersamanya. Semoga pedang tak mengambil nyawanya yang berharga itu.” Ketika mendengar hal itu, Arafuru langsung mengingat Awan dan Langit. Dua orang yang selama ini ada dihatinya. Jika disuruh kehilangan, akan lebih indah jika nyawa Embun saja yang hilang. Tapi kembali lagi, hunusan pedang tidak mengenal siapa yang pantas mati dan yang tidak pantas mati. Mereka harus mengabdi demi Santara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD