Lima belas orang anggota militer dibawa dari Sumatera. Tak cuma dari Sumatera, tapi juga dari semua kerajaan di Santara. Mereka terlihat bangga dengan seragam yang kini melekat di tubuhnya. Dan Embun adalah satu satunya perempuan yang ada disana. Kendaraan sebesar truk yang membawa mereka menuju ke Kerajaan Papua.
“Jadi kau seorang penyintas? Kukira kita bisa membangun keluarga, ternyata bisanya membangun permusuhan.”ungkap Anoda dengan tatapan sepele. Wajah liciknya itu menunjukkan pada Embun kalau pria itu sampah masyarakat.
“Langit yang mengajakmu kesini? Kau akan mati oleh pedangmu sendiri. Mungkin saking bodohnya.”lanjutnya berkata-kata.
“Akan lebih baik mati sebab pedang sendiri. Mungkin kau akan mati diracun di kamar tidur. Ya, tanpa perjuangan! Tak ada gelar pahlawan yang akan disematkan di namamu.”balas Embun tegas. Ketegasan yang ia dapat seiring berjalannya waktu. Waktu membuat ingatannya kembali.
“Jangan sok hebat!”
“Apa kau tidak tahu? Penyintas seperti aku punya pengalaman yang luar biasa. Aku pernah hidup di dunia lain. Dan jangan salah, membuat racun tidak sesusah itu. Kurasa, membunuhmu tak merugikan siapa-siapa.”balasnya tegas. Perkataan itu membuat semua yang ada disana tertawa. Embun memberikan lawakan yang menurut mereka pantas untuk seorang Anoda yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya menggunakan pedang dan senjata. Pria sombong yang membuat orang lain selalu kesal.
“Kau pintar berkata-kata gadis kecil!”
“Aku serius. Hati-hati dengan makanan dan minuman. Karena jika aku kesal, dengan mudah kubuatkan racun untuk perutmu.”
Perkataan itu sedikit menggertak Anoda. Dia terdiam dan tak bisa membalas. Jika diteliti, penyintas seperti Embun memang lebih diuntungkan. Apalagi jika dia paham seluk beluk suatu daerah.
Dan akhirnya, mereka tiba di Kerajaan Papua. Untung saja, Embun punya wawasan luas tentang papua yang ada di Indonesia. Daerah dengan emas yang menjulang tinggi. Kerap jadi pemicu perebutan yang tiada ujungnya. Apakah disini juga demikian?
Dimas Anggara menjelaskan tentang Kerajaan Papua. Satu-satunya kerajaan yang belum tersentuh perkembangan peradaban. Tapi mereka punya emas yang tiada habisnya. Raja Papua dilimpahi emas yang melimpah. Itu membuat masyarakat sana jarang yang berakhir miskin. Permasalahan yang muncul dari semua emas itu adalah pencurian emas dalam jumlah besar yang belum menemukan solusi.
“Komandan! Saya ingin bertanya.”ucap Embun menggebu-gebu. Semua menoleh hendak mencibir, pasalnya Dimas belum selesai menjelaskan semuanya.
“Ya sudah. Silahkan!”ucap Dimas mengalah.
“Apakah Kerajaan Papua bisa mengolah emas mereka sendiri?”tanya Embun penasaran.
“Ya, itu bukan hal sulit kan?”
Ahh, pantas saja ada pencurian. Kemungkinan terbesar, pencuri itu adalah suruhan kerajaan lain. Atau bisa saja, orang lain yang bukan bagian dari Papua. Embun sedikit banyak kagum dengan Kerajaan Papua. Mereka mampu membuat pengolahan emas sendiri.
Dimas menjelaskan sisanya untuk dipahami. Dan misi pun dimulai. Diawali dengan melakukan pengawasan di pintu penjagaan keluar masuk tambang emas. Ya, untuk kerajaan yang satu ini, mereka tidak terlalu butuh pedang dan senjata. Yang mereka butuhkan adalah taktik dan kemampuan analisa untuk tahu siapa pencuri itu.
“Kali ini kau tidak terlalu dibutuhkan Anoda.”ledek salah satu diantara mereka.
“Heh, kau kira kalau Awan berhadapan dengan tukang bunuh, apa dia bisa menghadapinya?”protes Anoda tak terima.
“Ya, ya. Kerjamu cukup menyelamatkan kami. Tapi otakmu terlalu bodoh untuk tahu siapa pencurinya.”ledek Awan merasa menang. Langit dan yang lainnya sibuk menertawakan Anoda. Tapi tidak dengan Embun. Dia sedang berpikir keras dengan pencurian emas dalam jumlah besar itu.
Banyak sekali kendaraan yang keluar masuk tambang emas. Mulai dari pengiriman bahan makanan, karyawan tambang, hingga hasil olahan emas. Atau jangan-jangan mereka menggunakan jalan lain?
“Awan, bagaimana analisismu?”tanya Embun mengacuhkan Langit. Langit merasa sangat kesal, tapi semua itu ia tahan di dalam hatinya.
“Aku rasa, terlalu mudah jika menyalahkan truk yang keluar masuk. Soalnya, penjaga disini sudah memastikan kalau setiap truk pasti melewati proses pemeriksaan.”
“Benar juga sih.”balas Embun seraya berpikir. Dia bergegas pergi meninggalkan Awan dan Langit. Dia perlu membaca data keluar masuk truk selama sebulan belakangan ini. Sesuai dengan informasi yang diterima, proses pencurian dilakukan secara random di waktu yang tak terkira setiap bulannya.
“Jangan terlalu percaya padanya. Bisa saja dia ingin kau gagal.”
“Kau berlebihan. Tujuan dia bukan ingin jadi nomor satu di keanggotaan.”
“Kau tahu tujuannya apa?”
“Ingin bertemu ibunya.”
“Kau sedang ditipu. Dia pintar mempengaruhi orang lain.”
“Aku rasa itu bukan kebohongan. Sebab, wajahnya terlihat serius ketika menceritakan hal itu.”
Langit tidak terlalu berpengaruh di bagian ini. Dia lebih memilih diam sembari memastikan semua aman. Orang seperti Awan dan Embun lebih berpotensi untuk menyelesaikan misi ini.
Deru angin membawa air hujan yang sangat kencang. Pohon seakan bergoyang dan hendak menyengsarakan manusia yang berjalan. Mereka segera menutup jalan dan memastikan bahwa ruangan itu aman dari air hujan yang hebat.
Tusukan pisau dari seseorang membuat salah satu anggota militer tersungkur. Gelapnya malam dan kuatnya angin, membuat pandangan mata terasa kabur. Dan detik itu juga, terjadi kegaduhan di semua sisi.
“Bagaimana ini?”tanya Anoda panik. Dibanding mencari pelakunya, lebih baik menyelamatkan rekannya itu. Dia memegangi perutnya yang mengucurkan darah. Embun tersadar akan sesuatu. Darah, ya darah. Darah yang membuatnya sampai ke tempat ini bukan karena jatuh dari atap gedung sekolah. Darah itu bersumber dari kecelakaan parah yang menimpa nya. Dia hampir terjatuh tapi Langit menopangnya.
“Kau kenapa?”tanya Langit berusaha menyadarkan Embun.
“Ah, tidak apa-apa.”balas Embun menghindar.
“Hallo Komandan. Parsora luka parah. Seseorang menusuknya.”ucap Awan menghubungi Dimas Anggara. “Baik komandan. Siap!”
“Anoda, biar aku yang menjaga Parsora sampai bantuan datang. Komandan menyuruhmu dan Langit untuk mencari pelakunya.”
Anoda mengangguk paham. Dia bergegas pergi bersama Langit dan beberapa orang lainnya yang pandai menggunakan pedang. Ah, di Kerajaan Papua, dilarang menggunakan senjata. Benda itu dianggap bisa melukai orang yang tidak bersalah. Dan lagi, adat istiadat masih melekat kuat disana.
***
Emas telah dicuri dari gudang. Kemungkinan pencurian dilakukan kemarin malam. Jumlah emas yang dicuri setara dengan memberi makan seribu anggota keluarga. Ini terdengar miris karena penjagaan dari anggota militer tampak tidak berpengaruh.
“Jangan dengarkan pendapat orang tentang kalian. Kita masih punya waktu untuk menyelesaikan masalah ini.”ucap Dimas tegas. Parsora terpaksa dilarikan ke dokter. Di Santara dokter bekerja di bawah kerajaan. Dan jangan salah, dokter dan dukun disandingkan di tempat yang sama. Mereka harus sejalan dan seirama untuk menyeimbangkan antara kepercayaan dan logika.
“Satu orang sudah berlalu. Kalian tinggal 14 orang. Apapun bisa terjadi, tapi tetaplah fokus. Tujuan kalian tak seberat pihak sebelah. Mereka harus mendamaikan suku yang tak takut mati. Kalian mengerti!”
“Mengerti komandan!”balas mereka serempak. Semua kembali ke awal. Seakan kejadian yang nyaris membunuh Parsora bukan apa-apa.
“Jika semisal aku luka, apa aku akan langsung dipecat?”tanya Embun pada Awan. Embun beradaptasi pada keadaan. Tidur sekamar dengan pria itu tidak membuatnya takut. Di Indonesia, dia berhasil memberantas guru m***m yang menggodanya berkali-kali. Embun membuat batasan dengan kain hitam untuk memisahkannya dengan pria-pria itu.
“Tentu saja. Semestinya, kita harus jaga diri.”balas Awan sambil memakai seragam itu.
“Bukankah itu jahat? Perjuangan yang kita lakukan seakan di bumi hanguskan.”
“Malah itu pilihan terbaik. Dibanding kembali dalam keadaan mati, lebih baik kembali dalam keadaan sakit. Keluarga di rumah mungkin akan sedikit terobati.”
Awan benar. Siapa yang tidak sedih melihat kepergian tanpa bukti nyata. Mereka yang gugur di medan perang terpaksa dianggap menghilang. Walau tak ada perpisahan terakhir. Itu sangat menyesakkan.
“Ah, bisa tolong kancingkan kebaya ku?”ucap Embun seraya membuka kain hitam yang menutupi dirinya. Ia tampak kesusahan mengambil kancing paling belakang. Kebaya yang ia pesan secara khusus pada tukang jahit itu. Kebaya tanpa kemben tapi bisa menonjolkan d**a dan bagian belakang. Setelah membuat kebaya itu, wanita yang menjahitnya jadi punya ide bisnis baru.
“Ah, ia. Terima kasih.”lanjutnya sambil menoleh ke belakang. Dia kaget saat melihat Langit disana dan bukan Awan.
“Kenapa jadi kau?”
“Berterima kasihlah jika seseorang memberi bantuan.”balas Langit acuh. Dia bergegas pergi meninggalkan Embun dengan wajah bingung.
Hari ini, mereka akan menyelidiki banyak hal. Dan Embun berpura-pura sebagai orang biasa. Makanya, dia mengenakan kebaya itu. Ini semua atas inisiatifnya sendiri. Komandan Dimas Anggara membiarkan mereka melakukan sesuka hati. Dengan ketentuan, jangan ada yang melanggar peraturan daerah Kerajaan Papua.
“Nona, hendak kemana?”tanya seseorang menyapa. Aha, sudah saatnya mencari mangsa. Pria itu terlihat tampan dengan mahkota kepala yang terlihat khas.
“Ah, saya ingin bertemu seseorang. Apa anda tahu jalan masuk ke dalam?.”
“Masuklah. Cuma ada satu jalan menuju ke dalam.”
“Jadi, tidak ada jalan lain?”
“Tidak mungkin. Raja membuat tembok yang menghalangi semua jalan tikus. Kebijakan yang sangat bagus bukan?”
Embun menarik nafas kesal. Bagaimana hal sesederhana ini tidak menemukan solusi? Tak mungkin ada ilmu ghoib yang bisa membawa emas keluar dari tempat ini. Dia memutuskan untuk kembali ke pintu penjagaan. Dia malah berpapasan dengan Anoda yang menatapnya bingung. Kenapa rekannya itu mengenakan kebaya disaat seperti ini?
“Ada apa dengan penampilanmu?”
“Aku sedang menyelidiki orang-orang itu. Tapi tidak ada jawaban.”ucap Embun dengan nada datar. Anoda juga sama, lelah dengan semua ini. Lebih baik mereka berperang daripada memikirkan hal sesulit ini. Bahkan prajurit dan kaki tangan raja tak mampu menyelesaikan masalah ini. Lalu kenapa? Kenapa mereka harus mengambil alih?
“Jika kita gagal, aku ingin sekali makan mie tangan.”ucap Anoda sambil menatap jalanan yang mulai kering oleh sinar matahari. “Tapi aku cukup bangga, aku bisa melihat tanah papua yang indahnya luar biasa.”lanjutnya bercerita.
“Anoda, apa kau tak melihat apapun kemarin? Saat seseorang menusuk Parsora?”
“Tidak. Aku cuma melihat petani dengan topi jerami.”
“Apa yang dia lakukan?”
“Cuma berjalan tanpa menoleh sedikitpun. Bahkan, ketika terjadi kegaduhan, dia tetap berjalan santai.”
“Astaga!”teriaknya sambil bangkit berdiri. “Terima kasih, Anoda!”ucapnya sebelum pergi. Anoda menatap kebingungan. Sedang Embun berjalan menuju ke tempat Awan. Mungkin saja pria bertopi jerami itu ada hubungannya dengan semua ini. Dia menemukan Awan sedang melakukan sesuatu dengan kertas-kertas di atas meja. Dia disana bersama Langit. Dia langsung berdiri saat melihat Embun datang.
“Sini, ada yang harus kau lihat.”ucapnya sembari menginstruksikan dengan tangannya. Awan menunjukkan dokumen tentang seorang penyintas. Fakta yang menunjukkan bahwa ujung dari seorang penyintas yang mencari jati dirinya adalah kematian. Seseorang yang menggebu-gebu tanpa pertimbangan yang matang. Data kematian seorang penyintas di papua sangat banyak. Mereka mati tanpa dikenal, tanpa dikenang. Seperti angin lalu yang cuma dirasa sesaat dan tak dipedulikan kemudian.
“Kau tidak apa-apa?”tanya Awan peduli. Terlihat sekali kalau Embun sedang menahan emosi dan sedihnya. Dia tak ingin terlihat lemah, meski itu di depan Awan dan Langit saja.
“Tenang. Aku cuma sedikit terusik dengan fakta itu.”ucap Embun bersikap tegar. “Lupakan soal itu, aku ingin memberitahumu sesuatu.”
Tentang petani yang keluar masuk daerah itu. Mereka melakukannya setiap hari, tapi ada suatu ketika mereka membawa hasil pertanian. Dan itu tidak periksa atas nama kepercayaan.
“Jadi maunya gimana?”tanya Awan kepikiran. Mereka gak bisa sembarangan memeriksa truk yang biasa mengantarkan hasil pertanian. Kalau kecurigaan ini salah, mereka hanya akan mempermalukan diri sendiri.
“Aku bingung.”seru Embun meragu. Dia gak bisa konsentrasi karena kepikiran atas fakta yang baru saja diberikan Awan. Tentang penyintas yang berakhir pada kebinasaan jika ingin tahu tentang Indonesia.
“Aku punya ide.”balas Awan tegas.
***
Hujan membuat suasana mencekam. Tak ada lagi manusia yang berlalu lalang. Seakan hujan ini menyuruh semua orang untuk tetap berada di rumah. Tapi tidak dengan Embun dan Langit. Mereka berdua berjalan ditengah hujan dengan satu payung berdua.
“Ish, kenapa harus dengan dia?”keluh Embun kesal. Dia lebih ingin bersama Anoda dibanding Langit. Tapi Awan bersikeras. Katanya, Anoda tak akan percaya dengan ide ini. Dia akan sepele dan menganggap ini ide yang bodoh. Sedang Embun tak bisa jalan sendiri. Dia butuh seseorang yang pandai memakai pedang, untuk menghindari kematian yang terlalu awal. Embun tidak mau berakhir seperti Parsora.
Truk itu berhenti setelah Langit melambaikan tangan. Dia sengaja pakai batik agar terlihat seperti orang biasa. Sedang Embun, dia mengenakan kebaya kesayangannya.
“Ada apa?”
“Bisa tolong antar kami ke jalan besar? Ini sudah terlalu malam untuk menunggu bus.”
Pria berbadan besar itu tampak berpikir. “Kalian disini untuk apa?”tanyanya kemudian. Pertanyaan yang membuat Langit menelan ludah. Ada ketakutan yang amat besar di dalam daadanya.
“Saya pekerja tambang. Dan kebetulan, istri saya datang untuk berkunjung.”ucapnya ngasal. Embun menatapnya heran. Kenapa harus berpura-pura sebagai suami istri? Kayak gak ada alasan lain saja. Tapi ternyata, keputusan itu sangat tepat. Pria berbadan besar itu mengizinkan mereka masuk. Dan terjadilah seperti yang mereka harapkan.
Tak mudah untuk tahu isi truk itu. Hingga mereka tiba di perbatasan dan Awan menghentikan kendaraan itu.
“Tolong turun sebentar, Pak. Demi keamanan.”ucap Awan tegas.
“Ada apa? Tak biasanya seperti ini?”
“Saya cuma butuh tanda tangan bapak. Cuma sebentar saja. Kami percaya kok pada petani di tempat ini.”seru Awan berusaha menyakinkan. Dengan keterpaksaan, pria itu melakukan sesuai yang Awan katakan. Dan ketika dia turun, Embun melompat masuk ke dalam truk. Dan dia terkesima dengan yang dia lihat. Emas yang ditumpuk sedemikian rupa. Baru kali ini Embun melihat emas sebanyak itu. Dengan sigap, dia ambil satu untuk dirinya sendiri. Ditaruhnya di dalam kantong kebayanya. Ya, dia memesan kebaya dengan kantong yang berada di sebelah kiri. Kantong yang tak akan disadari oleh siapapun, karena memang tampak seperti kebaya biasa.
“Langit, suruh yang lain bersiap. Ini beneran emas.”seru Embun segera. Langit langsung keluar dari truk. Sedang Embun mengambil kunci yang terpasang di truk itu.
“Ada emas di dalam!!”teriak Awan memberitahu semua rekannya. Saat mendengarnya, pria berbadan kekar itu bergegas lari untuk menyelamatkan diri. Saat dia hendak menjalankan mobil, dia sadar kalau tak ada kunci disana.
“Ini yang dicari?”ucap Embun menunjukkan kunci itu. Pria itu berniat merampas, tapi Embun langsung melemparnya keluar dari mobil. Pria itu mendorong Embun keras. Membuat perempuan itu terjatuh menimpa kerasnya tumpukan emas. Kepalanya berdarah. Pandangannya berkunang-kunang. Dan seketika dia tidak sadarkan diri.
“Diam, atau saya tebas kepalamu!”teriak Anoda keras. Pria itu akhirnya menyerah setelah pertahanan diri yang kuat.
“Tolong, Embun pingsan!”
“Sial!”teriak Anoda keras. Dia segera memberikan pria itu pada Langit. “Aku akan menyelamatkan Embun.”ucapnya seraya menaruh kepala pria berbadan kekar itu. Dia membawa Embun yang kepalanya penuh darah. Dia bergegas membawanya ke tempat aman. Awan datang dan ikut mengobati lukanya.
“Awan, segera laporkan pada komandan!”ucap Anoda kuatir.
“Kurasa Embun tidak menginginkan hal itu.”
“Kau bodoh?”teriak Anoda sambil menggenggam kerah baju Awan. “Dia akan mati jika tak diobati.”
“Aku akan menghubungi dokter. Tapi aku mohon, jangan beritahu komandan. Dia tidak ingin berakhir sampai disini.”
“Kau lebih memilih dia mati?”tanya Anoda dengan mata melotot.
“Aku juga tidak mau. Tapi misi ini berhasil karena dia. Apa kau tega membiarkan dia dipecat hanya karena luka ini?”ucap Awan menyakinkan. Perkataan yang membuat Anoda sedikit luluh. “Aku akan menghubungi dokter.”lanjutnya sambil bergegas pergi. Anoda merasa sangat kesal. Dia mengusap wajah Embun yang tampak menderita.
Tak lama dokter datang. Awan memaksa agar jangan memberitahu Komandan Dimas sampai Embun sadar. Dan ketika Embun sadar, sesuatu yang aneh terjadi. Keanehan itu disaksikan oleh Anoda, Awan dan Langit.
“Aku dimana?”
Pertanyaan yang membuat Awan mendapat satu kesimpulan. Ya, dia lupa ingatan.
“Kalian siapa?”tanyanya lagi.
“Gila! b*****t! Babi!”teriak Anoda tidak terima. Rasanya seperti kenyataan yang tak mampu diterima. Semua hal yang terjadi membuat Anoda berubah drastis. Dia pernah melihat Embun menangisi sebuah foto. Entah foto apa itu. Air matanya tampak sangat menyedihkan. Itulah yang membuat hatinya luluh. Ia ingin sekali membantu perempuan itu.
“Ini aku, Gustiawan Aires.”ucap Awan berusaha menyadarkan.
Tiba-tiba air matanya mengalir. Dia menangis dan mengusapnya seketika. “Kemarin aku dihina di sekolah. Mereka semua membenciku. Dimana mama?”ucapnya histeris. “Mama bilang akan mengurus semua tukang bully itu. Tapi mama tidak melakukan apa-apa.”
Langit bergegas menutup pintu. Ia langsung duduk di depan Embun.
“Kau ingat nama lengkapmu?”
Embun menggeleng.
“Siapa ibumu?”
“Andari Kwari.”
“Langit, kenapa malah nanyain? Sadarilah, dia butuh istirahat.”
“Kita perlu tahu informasi ini, Awan. Aku yakin, Embun yang sebenarnya akan sangat berterima kasih.
Selama satu jam lebih, Langit mewawancarai Embun yang tampak seperti bukan dirinya. Setelah itu, dia kembali pingsan. Awan dan Anoda sangat kesal dengan Langit. Dia tidak punya peri kemanusiaan. Membiarkan orang sekarat sebagai sumber menggali informasi. Langit punya alasan untuk itu. Beberapa saat yang lalu, dia melihat Embun menulis sesuatu dalam buku kecil. Langit tahu kalau sebenarnya Embun sudah mengingat sebagian besar dari jati dirinya. Dia cuma tidak ingin memberitahu siapapun tentang hal itu. Dia ingin menyimpannya seorang diri. Apa tujuannya? Pasti ada sesuatu yang membuatnya melakukan hal itu.