Teriknya matahari tak jadi penghalang mereka berbaris di depan Raja Papua. Banyak yang sama seperti mereka, berjuang untuk bisa sampai ke Kerajaan Kalimantan. Semua prajurit tampak sumringah berhasil menyelesaikan misi itu. Misi yang di hari kemarin membuat mereka menangis. Dan sekarang, mereka menuai apa yang sudah mereka tabur.
“Jelas mereka lebih hebat dari kita. Mereka bisa menyatukan dua suku yang berseteru belasan tahun.”
“Sayangnya mereka tidak seimbang antara kekuatan tangan dan otak. Kita masih lebih sempurna.”
“Apa iya?”
“Tentu saja. Mereka cuma beruntung bisa menemukan solusi tanpa butuh cara berpikir yang rumit. Coba saja mereka mendapat kasus seperti kita. Mungkin mereka akan gagal.”
“Jangan kepedean.”ucap Anoda menjadi pihak ketiga. “Mereka punya satu orang yang sebelas dua belas dengan Awan. Kalau dipikir-pikir, mereka lebih kuat dibanding kita.”
Perkataan itu mematahkan ekspektasi mereka. Mereka kembali fokus mendengarkan banyak hal yang disampaikan raja.
Di tempat lain, Embun merasakan sesuatu yang berbeda. Setelah sadar dari pingsannya, dia merasa kalau ada sesuatu yang terlupakan. Ingatannya tentang wawancara yang dibuat Langit seketika hilang. Tapi dia sendiri tahu, ada memori yang tak sengaja ia lupakan.
“Argh, sialan!”keluhnya sambil memukul kepalanya.
“Kau baik-baik saja?”
“Ah, iya.”
Embun tidak paham dengan dirinya. Keberhasilan ini tak memuaskannya, dia belum tahu apa-apa tentang kedatangannya. Indonesia dimana? Bagaimana jika dia ingin kembali? Apakah sudah tidak bisa? Bertemu ibunda yang tak diketahui namanya. Argh, semua terasa berat dan tak berjalan.
“Selamat ya, kalian begitu hebat!”seru Dimas Anggara memberikan pidato kepada anak didiknya. “Keberhasilan kalian sebuah prestasi, sebab banyak tim diluar sana yang tak bisa melanjut seorangpun.”
“Selanjutnya, kita akan ke Kerajaan Bali. Saya tidak tahu apa yang akan kita hadapi. Yang pasti, untuk dua hari kedepan, kalian bisa melakukan apa saja.”
“Siap, komandan!”teriak mereka serempak.
Semua tampak sumringah untuk menikmati istirahat sejenak. Mengenakan pakaian manusia biasa dan tidak menunjukkan identitas sebagai anggota militer. Semua itu bisa memberi mereka ruang dan waktu untuk menjadi diri sendiri.
“Ayo minum-minum.”ajak salah satunya. Semua setuju kecuali Embun. Tapi akhirnya, mereka semua memaksa perempuan itu untuk ikut. Sebuah rumah makan dengan sajian daging ayam khas yang harganya mahal. Komandan Dimas memberi mereka hadiah dengan makan-makan gratis di mana saja. Tentu mereka mencari tempat makan yang mahal. Biar tidak rugi.
“Dengar Mbun, semua yang terjadi juga berkatmu. Iya kan?”
“Tentu saja. Jika tidak, kita akan kehabisan waktu. Mungkin saja, kita akan dipulangkan ke Sumatera. Aku tidak mau itu terjadi.”
“Apaan. Dia tidak berbuat apa-apa.”komentar Langit sinis.
“Kamu membicarakan diri sendiri?”tanya Embun tidak terima.
“Sok hebat!”
“Kau pikir aku tak bisa menebas kepalamu sekarang? Aku hanya menghargai komandan Dimas.”
“Stop!”ucap Anoda menengahi. “Kalian itu sama-sama penyintas, tapi tidak bisa bekerja sama apa?”
“Anoda, kau kira penyintas itu sama? Jika kau dan dia sedang di ujung kematian, aku akan memilih untuk menyelamatkanmu.”seru Embun tegas. Ketegasan di wajahnya tampak seperti kemarahan yang membara. Pria menyebalkan itu menimbulkan rasa kesal di dalam dirinya.
“Stop berdebat. Mari kita makan.”
Makanan ini terasa hambar. Walau mereka semua tampak berselera, Embun tidak sama sekali. Pikirannya tertuju pada tujuan utamanya. Jika misi pertama sia-sia, apakah misi selanjutnya juga sama? Embun tidak ingin itu terjadi. Jangan sampai. Dia tidak mau berakhir buruk di tempat ini dan menyerah pada keadaan. Sama seperti Langit yang bodoh itu.
Malam datang menggelapkan semua hal. Tapi tidak menggelapkan niat dan hasrat Embun. Dia memilih duduk di atas kasur dengan buku kecil tempatnya menulis semua ingatannya yang datang.
“Tadi kau pingsan, dan Langit mewawancarai kamu dengan sejuta pertanyaan. Jika kau tak ingat, tanyakan saja pada Langit.”
Begitulah perkataan Awan tadi siang. Perkataan yang membuat Embun kepikiran. Tapi dia terlalu gengsi untuk bertanya pada Langit. Dia terlanjur benci sampai ke dalam hatinya. Besok mereka akan diberi waktu untuk menikmati indahnya Kerajaan Papua. Tapi, apakah itu akan berguna untuk penemuan jati dirinya? Rasanya tidak.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ini sudah dini hari pukul tiga. Waktu yang terlalu pagi untuk bangun. Rasa penasaran menguasainya. Ia mengintip dari balik tirai yang menutupi tempat tidurnya. Dan langkahnya tak bisa dihentikan. Dia mengikuti orang itu, meski tak tahu dia siapa.
Kegelapan malam menutupi pandangan mata. Suasana yang sepi masih terasa. Ketika Embun berusaha mempercepat langkahnya, seseorang membuatnya kaget. Langit, ternyata Langit yang ada di belakangnya.
“Kau mengikutiku?”
“AH,, tidak. Aku hanya tidak bisa tidur.”balas Embun dengan penuh keraguan. Dia tidak menyangka kalau orang itu adalah Langit.
“Baguslah.”balas Langit hendak pergi.
“Kau mau kemana?”tanya Embun dengan setengah berteriak.
“Bukan urusanmu!”
“Aku mau ikut. Sekalian ada yang mau kutanyakan.”desak Embun sambil berjalan disampingnya. Niat hati ingin menolak, tapi rasanya sudah tidak mungkin. Langit tetap berjalan dan diikuti perempuan itu. Perempuan yang tak punya rasa takut meski kebaya yang dipakainya sobek oleh tebasan pedang dan senjata.
Langit duduk di tepi sebuah danau dengan buku kecilnya. Dia menggambar sesuatu dengan pensilnya. Embun memperhatikannya dengan seksama. Ternyata dia punya hobi yang cukup unik dan keren.
“Ada apa?”tanyanya saat Embun melirik bukunya.
“Ehm, apa yang kukatakan kemarin? Saat aku sadar dan tampak seperti orang lain.”
“Awan terlalu peduli padamu. Sampai tak bisa menjaga rahasia.”
“Apa yang kukatakan terlalu privasi?”
“Tentu saja. Kau membicarakan ibumu.”
Seketika Embun terdiam. Dia saja belum ingat ibunya sendiri, bagaimana bisa Langit sudah tau?
“Tenang saja. Aku cuma ingin memastikan kalau dahulu kau tidak berbohong. Padaku dan Awan. Kukira kau cuma meminta belas kasihan dan membuat cerita bohong. Ternyata tidak.”
“Lalu, apa yang kau tahu?”
“Ibu mu bernama Andari Kwari. Cuma itu yang penting, sisanya tidak penting.”
Andari Kwari. Nama yang tak sedikitpun memberikan Embun ingatan. Kenapa ibunya harus membawanya ke tempat antah berantah seperti ini? Kenapa? Tempat ini terasa tak tepat untuk seorang anak. Apa mungkin, ibunya tak sungguh mencintainya?
Selama beberapa menit, Embun diam. Mencoba memikirkan sesuatu tentang ibunya, tapi tak ada yang terlintas. Ia melirik ke arah buku gambar Langit. Sebentar lagi, hasil gambar itu akan jadi sempurna.
“Kau suka menggambar?”
“Lumayan. Tapi dibanding itu, aku suka dengan budaya. Selagi disini, aku ingin mengabadikan momen dengan menggambar semua yang kulihat.”
“Gambarmu bagus.”
“Terima kasih.”
“Apa masih ada harapan untuk kembali ke Indonesia?”
“Tentu saja. Apa kau mulai menyerah?”
“Sebenarnya bukan menyerah. Aku hanya merasa kalau masuk militer tak terlalu berguna. Sampai sekarang, aku tidak mendapatkan apa-apa kecuali ingatan yang samar-samar.”seru Embun sedih.
“Usahakan melakukan sesuatu sembari menunggu. Diam saja tidak akan menghasilkan apa-apa.”
“Apa maksudmu?”
“Besok, aku dan Awan akan pergi. Jika mau ikut, bergegas sebelum matahari terbit.”
“Kemana?”
“Mencari tahu tentang Indonesia.”
“Ahh, baiklah, aku ikut.”
“Dan aku tahu, kau mencuri beberapa kepingan emas itu kan? Aku akan merahasiakannya asal kau tidak macam-macam.”
“Baiklah. Takdirku memang berhutang budi padamu. Mungkin karena kita sama-sama penyintas.”
“Cih, jangan samakan aku dengan kau. Aku masih lebih baik daripadamu.”
“Terserahlah. Aku sedang tidak membela diri untuk disebut baik atau tidak. Aku juga tak b*******h untuk berkompetisi. Semua rasanya seperti sia-sia.”
Hingga pagi datang, mereka tetap disana. Seakan semua seperti baru bangun, padahal dua orang itu baru saja menikmati indahnya pagi. Awan berkemas sesuai dengan janjinya pada Langit. Mereka harus bergegas agar tak ada kecurigaan dari teman-temannya. Termasuk Anoda yang tak jarang memasang wajah curiga.
“Jadi, kalian sudah baikan?”tanya Awan dengan wajah sumringah. Awan itu orang yang ceria dan dia sangat pengertian. Itulah yang membuat Langit percaya padanya. Bahkan, keinginan Langit untuk masuk militer malah diikuti pria itu. Katanya sih ingin membantu Langit mencapai tujuannya. Dia memang pria yang ramah dan disukai siapa saja.
Embun sibuk merapikan kebayanya. Dengan terpaksa dia mengenakan kebaya yang menyesakkan d**a. Kebaya kesayangannya harus dicuci dahulu. Setelah kejadian di perbatasan tambang, kebaya itu jadi lebih kotor dan terpaksa dicuci. Kini, dia merasakan keanehan di beberapa bagian badannya. Begini rasanya beradaptasi kembali dengan pakaian itu.
“Kau tidak apa?”tanya Awan lagi.
“Argh, pakaian ini merusak suasana hatiku. Apa aku berpura-pura jadi pria saja?”
“Kau sudah mulai gila.”seru Langit sambil berjalan menuju ke mobil yang akan membawa mereka. Lama-lama, Embun mulai terbiasa dengan ucapan menohok Langit. Mungkin dia memang sudah terbiasa mengatakan hal yang ceplas-ceplos seperti itu.
Mobil membawa mereka ke perkotaan. Kerajaan ini sangat kaya akan budaya. Tidak cuma itu, mereka juga punya warna kulit yang berbeda dibanding daerah lainnya. Kurang lebih sama dengan Indonesia. Tapi terlihat jelas, kalau Kerajaan Papua ini sangat kaya. Jarang sekali melihat kaum pelayan di tempat ini. Pakaian mereka berwarna cerah dan berbahan bagus.
Mereka sampai di sebuah tempat yang seperti perpustakaan. Tapi tidak. Disana cuma ada dokumen bersejarah. Tak ada buku dan lain sebagainya. Dibanding perpustakaan lebih tepat disebut sebagai gudang penyimpanan dokumen.
“Kalian serius? Tempat seperti ini bisa dimasuki orang seperti kita?”
“Tenang saja. Aku punya akses masuknya.”seru Langit sambil menunjukkan sebuah kartu akses. Kartu yang tidak diketahui Embun dari mana asalnya. Apa mungkin Langit mencurinya?