Chapter 20 - Bribery

1780 Words
Ada rasa yang tak biasa. Ketika seseorang terlalu dekat dengan yang lain. Seperti kecemburuan yang landasan dasarnya tidak diketahui dengan jelas. Langit merasakan hal itu ketika Samudera datang. Dia tak cuma mengambil alih Embun tapi semua orang di tempat ini. Dia punya kemampuan yang luar biasa.  Langit mencoba memfokuskan diri pada tujuannya. Jika ingin kembali ke Indonesia, dia harus tahu caranya. Tapi yang jadi pertanyaan, apakah ada efek samping jika seorang penyintas ingin kembali? Kemungkinan besar ada akibat untuk itu. Langit hanya belum tahu detailnya bagaimana. Dia memegang pedang milik Awan. Pedang yang ia simpan diam-diam. Dia ingin menyimpannya agar selalu mengingat pria itu. Manusia paling tulus di muka bumi ini. Manusia memang gampang lupa. Tapi tak semua yang sengaja ingin melupakan. Langit pribadi tidak ingin melupakan Awan. dia telah berdosa membawa pria itu ke akhir hidup yang seperti ini.  Samudera datang dengan handuk menutupi badannya. Dia baru selesai mandi. Satu hal yang membuat Langit curiga. Dia memiliki badan yang terlalu bagus. Apa mungkin dia keturunan bangsawan? Bahkan, Awan saja tidak sesempurna itu. Di Santara, semua keturunan bangsawan memiliki tempat khusus untuk memastikan badan mereka bagus. Jarang sekali mereka memiliki luka di bagian badannya. Mereka memang diatur di semua posisi.  “Apa kau punya kiat untuk bisa punya badan bagus?”tanya Langit sambil mengasah pedang yang kini ada di tangannya. Pertanyaan itu membuat Samudera menoleh. “Kau begitu penasaran? Padahal aku sudah menunjukkan kakinya yang luka parah.” “Satu luka tak berarti bisa membuatmu lepas dari kecurigaan. Kutebak, kau keturunan bangsawan?” “Hahahah, kesimpulan yang tidak berdasar.” “Ya, tak mungkin orang biasa bisa seperti ini. Bahkan Anoda dan Awan tak seperti kau.” “Lupakan. Siapapun aku, tidak ada urusannya denganmu.” “Jelas ada. Jika kau menyimpan rahasia, jangan pernah mendekati Embun.”ucap Langit begitu saja. Dia mengatakannya dengan emosi berapi-api. “Kau cemburu?” “Bukan cemburu. Aku tak ingin kehadiranmu membuat tujuannya berubah.” Langit segera pergi. Samudera sendiri tidak tahu tujuan Embun apa. Tapi sepertinya Langit mengetahuinya. Sedekat apa mereka sampai pria itu harus tahu hal itu? Jujur saja, Samudera ingin tahu. Tapi dia tidak ingin membebani Embun. Dia mau mengetahuinya saat Embun memang berniat memberitahukannya. Sesederhana itu. Semua berkumpul di lapangan luas itu. Tampak Dimas Anggara sedang bersiap untuk bicara dengan mereka. Bagaimanapun setiap misi akan jadi penentu untuk bisa lanjut ke tahap berikutnya.  Anoda tampak bermain dengan celotehan receh. Setelah dia resmi mendapatkan kekasih, dia jadi lebih sering tertawa. Walau di masa depan, kekasih itu mungkin saja menghilang. Tapi dia ingin menikmati saat ini. Saat-saat dimana dia masih satu tempat dengan Biella, kekasihnya. Dia sudah tahu kalau pasti perpisahan tidak bisa dihindari. Terutama karena dia harus berpindah-pindah pulau setiap saat. “Kita akan melakukan sesuatu yang sangat beresiko.”ucap Dimas mengawali. “Kalian harus melawan mafia perusakan lingkungan yang berkeliaran di hutan. Ini bukan hal mudah karena mereka punya izin resmi. Hanya saja, beberapa warga melakukan komplain dan ingin hutan ini diselamatkan. Tugas kalian bukan untuk membunuh atau menangkap mereka. Kalian harus membuat mereka luluh dan sadar akan hutan lindung.” Ini sangat tidak masuk akal. Berdamai dengan orang bebal adalah satu dari sekian hal sulit di dunia ini. Terlebih mereka adalah mafia. Kemungkinan besar misi ini akan gagal tanpa usaha yang berarti. “Jika kalian gagal, kalian bisa kembali pulang.”ucap Dimas tegas. Ketegasan yang membuat semua orang merenungi ucapan itu. Dimas langsung pergi. Tak seperti biasanya. Dia terlihat tidak bersemangat dengan tugas ini. Biasanya dia memberikan banyak sekali petuah yang mampu membangkitkan semangat anggotanya. Tapi kali ini dia terlihat berbeda. “Apa kita akan baik-baik saja?” “Komandan terlihat meragukan kita.” “Sudah,sudah. Ayo kembali latihan.” Semua berjalan hendak pergi. Tapi ada saja yang mengganjal di hati Embun. Dia ingin bicara berdua dengan Dimas. Mungkin dengan bicara berdua, dia bisa tahu apa yang terjadi. Kenapa ekspresi komandannya itu malah terlihat seperti menahan sesuatu.  “Mau kemana?”tanya Anoda penuh selidik. “Mau ke toilet. Nanti aku susul.” Dia bergegas mencari Dimas. Dia perlu berjalan cukup jauh untuk sampai di tempat pria itu. Saat ia sampai, terdengar suara dari dalam ruangannya. Dia sedang kedatangan tamu, tapi pintu ruangannya terbuka lebar. Jadilah Embun seperti penguntit. “Bagaimanapun, saya sudah punya tim untuk berlanjut ke Kerajaan Jawa.” “Bukankah ini kompetisi yang sehat? Kenapa harus memberikan tugas berat pada anggota saya?” “Dengar Pak Dimas, di tim saya ada orang penting yang harus bisa mencapai atas.” “Hahaha, dia bukan orang penting. Dia cuma orang berduit yang berhasil menyuap bapak.” “Terserah sajalah. Tapi saya yakin, tim anda akan gagal melaksanakan misi ini. Sebab ini misi paling tidak masuk akal.” Dia langsung pergi dan melihat Embun yang menatapnya tajam. Embun memasukkan wajah itu ke dalam memorinya. Pria berperut buncit yang menggerus sistem sehat di dalam suatu organisasi. Dia mengira bahwa jabatan yang diambilnya akan bertahan sampai akhir. Lihat saja, jika Embun diberi kesempatan, maka orang itu adalah yang pertama harus disingkirkan. Embun mengetuk pintu dan berjalan masuk. Dimas terlihat kaget. Jelas sekali, dia menyembunyikan hal serumit ini dari anggotanya. Dia seakan bertindak sebagai penghianat bangsa.  “Ah, ada apa Embun?” “Maaf komandan, saya mendengar semua pembicaraan barusan!” Dimas menghela nafas. Jika sudah begini, tak ada lagi yang bisa ditutupi. Dia terlihat kecewa dengan dirinya sendiri. Kekecewaan terbesar dalam hidup manusia. Apalagi jika kecewa itu mendarat di dalam diri sendiri. “Maafkan saya.” “Tidak. Saya akan buktikan kalau saya dan mereka akan berhasil.” “Tidak mungkin, Embun. Bahkan kerajaan saja memberi izin untuk mereka.” “Selalu ada cara licik untuk sesuatu yang licik. Jika orang barusan bisa berlaku curang maka saya juga bisa.”seru Embun sambil berjalan hendak pergi. Sejenak dia berhenti dan menoleh. “Untuk sementara, biar saya yang tahu masalah ini. Saya tidak mau mereka jadi kepikiran. Sebelumnya, terima kasih Komandan!” Bukannya menjadi ciut, Embun jadi semakin terpacu untuk membalas pria itu. Pria picik sejenis ini juga ada di Indonesia. Pribadi yang seakan terhormat padahal lebih rendah dari hewan. Dia tidak tahu bagaimana perjuangan orang lain disaat dia ingin melakukan hal yang curang. Embun mengambil perlengkapan untuk mengasah otot dari tempatnya. Dia memukul sesuatu dengan sangat bersemangat. Bahkan semua orang ini melihatnya dengan tatapan bingung. Embun tidak ngotot seperti ini dalam hal kekuatan. Dia lebih suka berpikir sambil meminum segelas kopi.  Tak ada yang berani mengusik perempuan yang sedang diliputi emosi. Ya, Embun terlihat sekali sedang seperti itu. Wajahnya tak bisa berbohong. Setelah lelah mendatanginya, dia berhenti untuk istirahat. “Bagi minumannya!”ucapnya sambil meneguk air mineral di tangan Langit. Langit pasrah saja.  “Ada apa? Kau terlihat marah.”ucap Samudera sambil mengasah pedang di tangannya. “Jelas aku marah.”ucap Embun dengan ekspresi berapi-api. “Kalian terlihat tidak berselera dengan misi ini.” “Wong jelas!”ucap Anoda yang muncul tiba-tiba. “Misi kali ini seperti menghitung jumlah air yang mengalir di sungai. Mustahil.” “Lalu, kita tidak akan bisa ke Kerajaan Jawa?” “Mungkin.” “Kita harus bisa.”ucap Samudera dengan ketegasannya. Samudera tidak ingin berhenti disini. “Selain demi kalian yang punya tujuan. Aku juga punya tujuan untuk bisa sampai ke Kerajaan Kalimantan. Aku tak pernah menyerah meski misi ini terdengar mustahil.” “Nah, aku suka gaya yang seperti ini.”ucap Embun merangkul Samudera. Samudera tampak menikmatinya. Tapi tidak dengan Langit. Dia terlihat marah. Anoda menyadari hal itu dan mengajaknya keluar.  “Jangan sok dekat!”protes Langit saat mereka hendak berjalan. “Aku tahu kau menyimpan rasa pada Embun.” “Jangan mengambil kesimpulan tidak berdasar.” “Kau tidak penasaran dengan yang kulakukan dengan Embun tempo hari?” “Memangnya apa?”tanya Langit penasaran. Dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan memang, dia masih penasaran. Kepergian Anoda dan Embun seperti pasangan kekasih yang sedang menikmati malam minggu bersama. Perasaan Langit yang dulunya benci kini berubah jadi ke arah perhatian. Dan Langit sendiri tidak yakin mengapa dia jadi begini. Bukan tipikalnya jadi laki-laki yang perhatian pada perempuan. Beda dengan Awan yang memang sangat ramah dan suka memberikan bantuan. “Di malam itu, aku berhasil mengambil hati seorang perempuan. Dan kini dia jadi kekasihku.” “Gak masuk akal. Embun mau jadi kekasihmu?” “Kau sedikit gila. Embun yang membantuku mencapai hal itu. Mendapatkan kekasih yang mungkin akan kutinggalkan dalam waktu dekat.” “Jadi waktu itu dia cuma membantumu?” “Iya. Dia berhasil memecahkan kecanggungan di antara kami.”ucap Anoda menjelaskan. Langit lega. Tidak sedikit tapi banyak. Kelegaan yang luar biasa karena Embun tak berlabuh pada cinta seorang Anoda. Argh, seharusnya Langit sudah sadar. Anoda tak mungkin jatuh cinta pada seorang penyintas. Akan jadi ajang memalukan jika dia melakukan hal itu. “Jangan terlalu terlihat.” “Apanya?” “Sikapmu pada Embun. Nanti semua orang bisa tahu.” “Jangan mengada-ada. Aku hanya tidak mau jika dia disakiti. Bukan karena rasa tapi aku berasal dari tempat yang sama. Kau tahu perasaan semacam itu kan?” “Terserahlah jika kau berdalih. Yang pasti, Samudera terlihat sangat tertarik padanya. Kau bisa kalah jika tak bergerak cepat.” Apakah Langit terusik? Ya. Dia sangat terusik dengan ucapan Anoda yang menyebalkan itu. Dia kembali dan melihat dua orang itu sedang tertawa membicarakan sesuatu. Mereka terlihat sangat kompak dan serasi. Pemandangan yang menyanyat hati. Jika itu adalah Awan, Langit akan lebih bahagia. Awan terlalu mencintai kekasihnya dan tidak mungkin dia jatuh hati pada Embun. Di tempat lain, Embun tertawa bukan karena lawakan atau apalah. Dia hanya sedang mencari momen untuk mengajak Samudera masuk dalam rencananya. “Sam, apa kau bisa membantu tim kita dengan kekuatanmu?” “Aku tak mengerti apa maksudmu.” “Jika kau punya akses ke tempat-tempat pemerintahan. Aku ingin kau mencari informasi lebih detail tentang mafia yang melakukan illegal logging. Kita tak perlu saling baku hantam. Aku rasa, kita bisa bicara baik-baik saja.” “Kau yakin?” “Demi keberhasilan kita. Aku pernah dengar ucapanmu ketika kau dalam keadaan mabuk. Kau punya sesuatu yang bisa membuatmu mewujudkan segala keinginan. Dan menurutku, kau pasti punya akses untuk masuk ke gudang penyimpanan dokumen.” Seperti penyamaran yang akhirnya diketahui, begitulah perasaan Langit saat ini. Dia merasa terpojok dengan Embun. Bagaimana bisa Embun mengetahuinya? “Aku tidak perlu tahu kau siapa, Samudera. Aku percaya, setiap orang tak ingin rahasianya terbongkar. Sebagaimana kau tahu aku punya rahasia juga. Aku cuma ingin kau membantu kali ini.” “Baiklah. Aku akan berusaha untuk mewujudkannya.”ucap Samudera tegas. Embun tersenyum kecut. Ada ketakutan besar di dalam hatinya. Mampukah ia melewati misi ini? Ataukah dia harus pulang ke Sumatera dan menghadapi keluarga Aires?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD