“Saya boleh masuk?”ucap Samudera sambil memberikan sebuah kertas pada penjaga. Tanpa banyak bertanya, penjaga mempersilahkannya masuk ke dalam gudang penyimpanan berkas dan dokumen penting.
Sebenarnya dia tidak menyangka, hak akses itu berguna untuknya. Walau awalnya ia menolak pemberian dari Hujan itu. Ya, Hujan. Pria yang dianggap sebagai panutan dalam tahun-tahun yang pernah ia lewati. Satu-satunya manusia yang masih percaya padanya meski dunia ini sudah tidak percaya.
Dia berjalan perlahan untuk mencari letak dokumen kontrak dengan perusahaan swasta untuk mengambil sumber daya utama di Kerajaan Sulawesi. Apapun rencana Embun sepertinya itu tak akan menghasilkan apa-apa. Bagaimana caranya menggagalkan suatu hal yang jelas-jelas disetujui oleh orang tinggi di Kerajaan Sulawesi.
“Apa saya bisa meminta bantuan?”ucapnya seraya kembali ke tempat petugas. Petugas itu tampak bingung. Jika ditolak, dia hanya akan mencari masalah. Samudera memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang biasa. Memang terlihat aneh, seseorang dengan kasta setinggi itu bisa ada di tempat ini. Tempat yang jarang dikunjungi oleh keluarga kerajaan.
“Apa aku bisa melihat kontrak kerja dengan perusahaan yang mengatur hutan?”
“Tentu bisa. Tapi kau tak bisa membawanya keluar dari tempat ini.”
“Baik. Aku hanya ingin membacanya.”
Petugas itu menunjukan jalan untuknya. Hingga dia sampai di sebuah tempat yang penuh dengan dokumen rahasia. Dia menggunakan waktu yang tersisa untuk menyalin dan mengingat semua hal penting yang ada dalam kontrak itu. Bisnis itu semata-mata karena uang. Mereka juga memberikan hasilnya kepada pemerintah Raja Sulawesi. Ya, sebagai jaminan untuk keleluasaan mereka dalam mengelola semua sumber daya yang ada di hutan itu.
Sesungguhnya, banyak kecurigaan yang muncul di hati Samudera. Semenjak dia memergoki Embun dengan buku yang menunjukkan peristiwa penting dan cara keluar masuk dari Indonesia ke Santara. Apa sebenarnya tujuan Embun adalah hal itu? Seandainya Samudera bisa leluasa bicara dengannya maka semua akan lebih mudah.
Dia segera kembali ke tempat latihan. Hari masih sore dan semua orang masih ada disana. Tapi wajah mereka terlihat murung. Seakan tidak ada semangat untuk melewati hari ini.
“Ada apa?”tanya Samudera dengan tatapan menyelidik.
“Kurasa, kita benar-benar akan berhenti sampai disini.”balas Anoda.
“Apa maksudmu?”
“Tadi komandan datang. Dia bilang, kita sudah tidak punya misi lagi. Kita harus bersiap untuk pulang sesegera mungkin. Akan ada pengumuman nanti malam.”
Tidak bisa dibiarkan. Seketika emosi Samudera meluap-luap. Rasanya seperti mimpi buruk yang terjadi secara nyata. Ini bukan lagi soal Samudera seorang, tapi juga Embun. Ya, perempuan itu terlalu kasihan jika usahanya berakhir seperti ini. Dia pasti kecewa karena kematian Awan seperti sia-sia. Samudera mencari Embun tapi tak ketemu. Langit juga tak ada disana.
“Embun dimana?”
“Dia pergi. Aku tak tahu kemana, tapi kelihatan dia sedang sangat marah.”
“Sialan!”keluh Samudera sambil bergegas keluar. Padahal dia sudah menemukan banyak informasi tentang bisnis itu. Sangat tidak masuk akal jika ujungnya malah berhenti disini.
***
“Saya akan melaporkan anda pada dinas tertinggi dinasti. Anda kira saya tidak punya orang dalam?”tegas Embun pada pria tua dengan badan buncit itu. Pria yang disuap oleh tim lain demi tujuan individu. Jika bersaing secara sehat, Embun tak mungkin akan melakukan hal ini. Disampingnya, terlihat Langit sedang diam. Tapi dalam diam itu, dia sedang marah besar.
“Memangnya kamu siapa? Jangan banyak berkhayal.”
“Anda ingin sekali cepat kaya? Hati-hati, besok anda bisa mati.”
“Diam kamu! Kamu tidak punya sopan santun.”
“Atau mereka memang selemah itu sampai harus takut pada kami? Jika dilihat kinerja selama ini, tim kami akan menang telak jika dibandingkan dengan mereka. Tim yang sibuk melindungi temannya tapi tak berjuang banyak. Terlalu lemah!”
“Anda jangan sembarangan!”
“Saya tidak pernah sembarangan! Tim saya harus tetap berjuang.”
“Tidak akan. Seharusnya Dimas sudah bilang pada kalian. Patuhi saja komandan kalian itu.”
“Komandan memang sudah bilang. Tapi bukan dengan wajah lega. Dia seperti dipaksa.”
“Keluar sekarang! Atau kalian saya pecat sekarang juga?”
Prak!
Suara pintu terbuka terdengar. Perhatian mereka bertiga tertuju pada orang yang baru saja datang. Samudera Alia, pria yang kini marah tapi memasang wajah bahagia. Dia tersenyum seakan sedang berada di atas awan.
“Kamu siapa lagi?”
“Saya dari tim yang sama dengan mereka. Saya tidak menyangka, orang seperti anda bisa-bisanya tidak menghargai kami. Jelas sekali kami kehilangan teman demi tugas ini. Tapi anda menganggap ini bukan apa-apa. Sialan!”teriak Samudera tidak bisa menahan diri. Dia tidak akan bertingkah seperti ini di depan Dimas. Tapi di depan pria yang suka disuap ini, dia tidak malu dan takut.
“Kau mau berakhir sama seperti mereka?”balasnya sambil tertawa. “Untuk mengeluarkan kalian dari anggota militer bukan hal sulit. Apalagi kalian belum sampai ke tahap akhir. Terima saja nasib kalian. Kembali ke desa kelahiran dan hidup damai disana.”
“Saya tidak suka hidup damai!”tegas Samudera sambil memukul meja di depan pria itu. Perlakuan yang sedikit menggertaknya. Samudera mengambil kertas dari kantong celananya. Lagi-lagi dia merasa menyesal. Dia yang dulu menolak surat itu kini menggunakannya tanpa rasa malu. Jika Hujan tahu, dia pasti akan tertawa. Ketetapan hati Samudera berubah seiring berjalannya waktu.
“Ini.”ucapnya meletakkan kertas itu. Dan saat pria itu membacanya, ada ketakutan yang amat besar disana. Kemudian dia mundur beberapa langkah.
“Apa yang kau inginkan?”ucapnya dengan suara yang amat rendah. Tak seperti beberapa saat yang lalu. Kini dia tampak menunjukkan sopan santun yang tinggi. Pria b***t itu semakin menyebalkan.
Di Tempat lain, Embun dan Langit saling melirik. Bagaimana bisa Samudera meluluhkan manusia hanya dengan secarik kertas. Mereka melongo kebingungan.
“Izinkan kami melakukan misi ini. Sebagai bentuk keadilan, kami akan mundur jika gagal.”
“Baiklah. Silahkan, kalian bisa melakukannya.”
Samudera menghela nafas. Dia mengambil kertas itu dan menaruhnya di kantong celana. Dia melirik ke arah Embun dan Langit. “Ayo, pergi!”ucapnya segera. Dia keluar dari tempat itu dengan langkah datar. Embun serta Langit mengikuti dari belakang.
“Kau sebenarnya siapa?”tanya Embun penasaran.
“Apa itu penting? Kita tak harus berhenti sampai disini kan?”
“Apa kau tak ingin ngasih tahu?”
“Lain kali ya.”
“Hmm, baiklah.”
“Tapi, kalian jangan beritahu ini pada siapapun ya. Termasuk pada semua anggota tim kita.”
“Baiklah.”
“Ya, terserah padamu.”balas Langit cuek. Itu yang terlihat dari luar, tapi sebenarnya, dia juga sangat penasaran. Siapa sebenarnya pria bernama Samudera Alia itu? Hak apa yang dia miliki sampai bisa melakukan semuanya dengan mudah? Dan jika dia keturunan bangsawan, mengapa dia masuk anggota militer?