Chapter 13 - Pertunangan Putri Ida Ayu

1908 Words
Amarah yang luar biasa terpancar dari wajah Langit. Ketika ia sadar, naluri berkata untuk menyalahkan Embun. Semua koleganya malah terdiam karena tidak bisa membela salah satu.  “Aku tahu, kalian menyembunyikan fakta ini dari komandan kan? Sudah cukup bermain-main, aku tidak akan mau lagi mengikuti skenario yang dibuat perempuan itu.”ucapnya tegas sambil meninggalkan ruangan itu. Dia menutup pintu dengan keras. Perutnya masih terasa sakit karena memang baru mengalami penyembuhan. Langit tak pernah mengikuti rencana Embun. Dia cuma sial saja karena kena imbas dari rencana konyol itu. Langkahnya seketika mulai melambat. Kekuatannya memang belum pulih seutuhnya. Tapi dia sudah muak dengan semua yang telah terjadi.  “Harusnya aku mendapat petunjuk, bukannya mendapat luka.”keluhnya dengan usaha keras. Hingga badannya terjatuh di sisi jalan. Saat orang yang berlalu lalang hendak membantu, Awan datang dan memapahnya. “Kau dukung dia kan? Tidak usah pedulikan aku.” “Aku seperti pacar yang cemburuan.”seru Awan dengan tawa kecil di wajahnya. “Aku sedang tidak bercanda Awan!!”teriak Langit tidak terima. “Baiklah. Alangkah lebih elok jika kau beristirahat sebentar. Kalau sudah kuat, kau bisa melanjutkan tujuan kamu menemui komandan. Kau tahu kan, tempatnya masih jauh dari pandangan mata.” Dengan terpaksa, Langit mengiyakan. Mereka duduk di pendopo yang ada di dekat situ. Tampak Langit tersengal-sengal. Dia belum cukup kuat untuk bisa berjalan karena luka di perutnya. “Apa kau ingat apa yang terjadi?” “Tentu saja. Embun membelikan kami Tequila. Tapi tenang saja, aku tak mencicipinya segelas pun. Hingga seseorang menusuk perutku. Sayang sekali, Anoda malah terhasut oleh ajaran sesat Embun.”seru Langit berapi-api. “Lalu, setelah itu?” “Bagaimana aku bisa ingat? Aku pingsan dan tidak sadarkan diri.” “Embun yang membuatmu sembuh seperti sekarang. Dia melakukan banyak hal sampai kau sadar. Dan cara-cara itu bukan cara yang kami tahu selaku manusia yang hidup di Santara sejak lahir. Dia hebat bisa membuatmu seperti sekarang dalam waktu singkat. Jika kau ingin bertemu komandan, akan ada pertemuan dua jam lagi. Tapi ku harap, kau berubah pikiran.” Penjelasan Awan sedikit meredakan emosi Langit. Dia tak ingin mengakuinya, tapi fakta menunjukkan kalau perempuan itu membantunya untuk bertahan hidup. Argh, lagi-lagi dia tak bisa melakukan hal ini. Bukankah tidak punya hati jika dia membuat Embun dipecat? Serba salah memenuhi pikirannya. *** Hiruk pikuk manusia terlihat. Suasana yang sangat indah dengan pernak pernik malam. Para wanita tampak cantik dengan kebaya berbagai model dan ukiran. Tak cuma itu, para pria juga dipermak sedemikian rupa sehingga tampak berbeda dengan batik yang melekat di badannya. Sajian makanan yang beraneka ragam membuat mata dan perut dimanjakan. Wangi bunga yang memenuhi tempat itu membuat tenang. Para pelayan mulai mengambil tempat untuk memanjakan para tamu yang hadir.  Pertunangan Putri Ida Ayu sangat ditunggu-tunggu oleh semua warga kerajaan Bali. Siapa sangka, putri yang beberapa tahun lalu masih kecil kini telah tumbuh dewasa. Orang luar tahu bahwa pertunangan ini menjadi ajang yang ditunggu selama bertahun-tahun. Tapi kenyataannya sangat berbeda dengan ekspektasi itu. Lain pelayan, lain pula para petugas. Tiga pria itu tampak bersiap untuk melaksanakan tugas. Mereka akan mengenakan seragam yang berbeda dari biasanya. Seragam dengan d******i warna biru. Wandi berkaca dengan wajah tampannya. Begitu juga dengan Nahasa. Mereka berdua tampak antusias melaksanakan tugas ini. Tugas receh yang akan membuat mereka berhasil naik level. Mereka memang beruntung walaupun sudah kehilangan banyak koleganya. “Ada apa denganmu?”tanya Nahasa penasaran. Sikap Samudera tampak berbeda dibanding biasanya. Kenapa melaksanakan tugas semudah ini dia tampak pucat?  “Tidak. Aku cuma sakit perut.” “Kalau kau merasa tidak nyaman, biar kami yang menemui Putri Ida Ayu. Itu bukan tugas yang sulit.” “Bolehkah?” “Tidak bisa begitu. Komandan akan marah besar kalau tahu dia tidak ikut.” Benar saja. Mahesa menghadiri pesta ini sebagai tamu undangan. Dia pasti akan memantau dari jauh. Meskipun dia memiliki keterbatasan dengan kursi rodanya, dia masih punya insting kuat untuk melihat para anggotanya yang bekerja.  “Tahan sajalah. Daripada kita kena batunya.” Samudera masih saja melayangkan pandangan kosong. Dia berjalan mengikuti mereka berdua. Jantungnya berdetak kencang. Dia akan bertemu Putri Ida Ayu. Andai dia bisa menjadi orang lain, maka semua akan terasa mudah. Semoga saja, semoga saja perempuan itu tidak menyadari kehadirannya. Tapi tidak mungkin.  Mereka meminta izin masuk kepada pelayan. Mereka kemudian masuk ke ruang rias perempuan itu. Ruangan yang sangat cantik dan penuh nuansa warna merah muda. Mirip dengan ruang rias pengantin. Wajar saja, keturunan Raja Bali yang pasti ditunggu-tunggu oleh semua orang di tempat ini. “Selamat pagi putri, kami ditugaskan untuk menjaga tuan putri selama acara berlangsung.”seru Nahasa dengan sopan. Perempuan itu tetap pada posisinya. Dia tidak peduli. Perias masih tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. “Saya Nahasa dari Tim Gerhana.” “Saya Wandi dari Tim Gerhana.” Samudera hanya diam dengan tangan tetap berada di belakang. Nahasa menegurnya dengan tatapan aneh. Dengan terpaksa, Samudera memperkenalkan diri. “Saya Samudera dari Tim Gerhana.”ucapnya dengan suara kecil. Nama itu membuat Putri Ida Ayu mendongakkan kepala. Dia ingin melihat orang bernama Samudera itu. Dan saat matanya tertuju ke depan, dia terlihat kaget. Dan sesaat kemudian tersenyum. Senyum tipis yang memiliki sejuta arti dan makna. Dia menyuruh perias untuk berhenti. Lalu dia menyuruh orang-orang itu untuk pergi sebentar. Dia butuh istirahat. “Saya mau bicara dengan pria itu.”ucapnya sambil menunjuk Samudera. Nahasa dan Wandi saling lirik. Mereka bingung sendiri dan hanya terdiam kaku di tempat yang sama.  “Dengar ucapan saya kan??”teriak perempuan itu dengan nada tinggi. Akhirnya, Nahasa dan Wandi keluar. Mereka melirik ke arah Samudera yang hanya diam dan menunduk. Entah apa yang disembunyikan pria itu. Mereka punya segudang pertanyaan yang akan ditanyakan nanti.  Saat pintu tertutup, wajah Samudera seketika berubah. Dia memandang tajam pada Putri Ida Ayu. Perempuan itu malah tersenyum kecut. “Pangeran Samudera Alia, kenapa kau masih bisa berlalu lalang? Bukankah perbuatanmu di masa lalu pantas membuatmu mati?” “Apa yang kau lihat sekarang bukan urusanmu!” “Aku tinggal melaporkanmu. Penyamaran seperti ini akan membuat raja marah.” “Aku mohon, jangan lakukan itu.” Putri Ida Ayu malah tertawa keras. Dia merasa senang bisa mengetahui rahasia sebesar ini. Siapa sangka, Samudera akan berakhir jadi seorang petugas kerajaan? Dia memang pantas untuk itu. Bahkan dia pantas untuk mati. “Kau terlalu berharap dimaafkan. Padahal, perbuatanmu di masa lalu sungguh kejam.” “Kau masih tetap saja bodoh. Kau percaya berita itu?” Seketika Putri Ida Ayu terhenyak. “Apa maksudmu?” “Aku tidak pernah mengaku bersalah. Dan ini cuma jebakan yang membuatku diungsikan.” “Apa kau serius?” “Aku tak pernah berbohong. Kau mengenalku kan?” “Setahuku sih begitu. Sayangnya, kau pernah berbohong tidak menyukaiku. Padahal kau menyukaiku kan?” “Kau bukan tipeku. Dulu dan sekarang, masih sama.” “Bicaramu tak pernah berubah, pedas dan menyakiti.” “Tolong bantu aku kali ini. Aku janji akan membalasmu.” Dia tampak berpikir. Tidak ada ruginya membantu Samudera. Dia punya tujuan dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Tapi dibanding itu, Putri Ida Ayu ingin memanfaatkan kesempatan ini. “Baiklah. Tapi kau bantu aku sesuatu.” “Tidak bisa begitu. Aku punya tugas juga.” “Kau bantu aku membatalkan pertunangan ini.” Fakta yang membuat mata Samudera terbelalak. Pertunangan ini bukanlah yang diinginkan Putri Ida Ayu. Padahal, semua orang sedang berbahagia untuk hal ini. Tapi kenapa, orang yang terlibat didalamnya malah tidak merasa nyaman. “Itu hal yang harus dicegah oleh petugas seperti aku.” “Aku lakukan itu di belakang teman-temanmu.” “Tidak bisa! Jika gagal, aku benar-benar akan berhenti sampai disini. Lagian, kenapa kau tak ingin hal ini terjadi?” Putri Ida Ayu menghela nafas. “Aku mencintai orang lain.” Rumitnya perasaan memang hal paling runyam dalam dunia orang elit. Ketika mencintai tak sejalan dengan tujuan keluarganya, maka disitulah dunia terasa pelik. Bagaimanapun, mencintai dan menikahi seakan dipisah jadi dua.  “Aku tidak bisa!!” “Aku akan melaporkanmu.” “Sial!!” Samudera membuka pintu dengan badan tegapnya. Nahasa dan Wandi melihat dengan seksama.  “Ada apa?” “Dia cuma ingin penjagaan ketat. Peristiwa pembunuhan yang marak baru-baru ini mengkhawatirkan.”balas Samudera mencari alasan. Dia tidak ingin memberitahu yang sebenarnya pada dua orang itu. Mereka juga tidak perlu tahu siapa Samudera. Dia harus menjaga baik-baik identitasnya. Identitas yang tak bisa dicampur aduk dengan tujuannya.  “Kau kira aku akan percaya?”ucap Wandi tegas. Dia tampak emosional. Jawaban Samudera memang tidak masuk akal. Bagaimana bisa Putri Ida Ayu hanya menyuruh Samudera melakukan hal itu? Padahal, ada Wandi dan Nahasa yang posisinya sama dengan Samudera. Kenapa cuma Samudera? “Aku akan jelaskan nanti. Mari fokus pada tujuan.”balas Samudera tegas. Dia tak mungkin memberitahu fakta pada dua orang itu. Tapi yang lebih utama, dia harus memenuhi permintaan Putri Ida Ayu. Sialan! Kenapa dia harus berada di situasi ini? Suara piano dengan nyanyian indah terdengar. Tempat itu sangat penuh dengan cinta. Tapi tidak dengan perempuan yang akan bertunangan itu. Dia tidak suka pria yang ada disampingnya. Pria yang tak membuatnya b*******h. Dia ingin pria yang duduk dibangku tamu sekarang. Pria biasa yang selalu menebar senyuman dengan begitu menenangkan. Pertunangan ini adalah dalam bentuk paksaan. Sudah berkali-kali Putri Ida Ayu menolak, tapi Raja Bali selalu menolak. Bahkan pria itu mengancam akan mengusir putrinya jika itu terjadi. Samudera masih tak tahu harus bagaimana. Dia tak punya alasan untuk menghentikan pertunangan ini. Dia juga tak mungkin menunjukkan jati dirinya di depan orang banyak. Bertemu dengan orang-orang di masa lalu membuatnya muak. Bahkan untuk bertemu Raja Bali, dia masih berpikir ribuan kali. Dia juga tidak mau tujuannya gagal sampai di Kerajaan Kalimantan. “Terima kasih.”ucap Wandi saat menerima satu gelas minuman dari pelayan. Sedang Samudera menolak minuman itu. Dia tak ingin bolak balik kamar mandi hanya karena segelas minuman. “Eh, aku mau ke toilet.”ucap Wandi dengan wajah tersiksa. Samudera mengiyakan dengan wajah datar. Sesuai dengan dugaannya. Dia tetap berfokus pada tujuan. Sampai seorang perempuan menabraknya. Perempuan itu terjatuh dengan kertas yang berserak. Kemudian dia berdiri sambil mengatur bagian dadanya dengan tangan. Dia tampak tersesat dengan pakaian itu. “Maaf-maaf.”ucapnya dengan kepala menunduk. Lalu dia berusaha mengumpulkan kertas itu. Ada satu kertas yang membuat Samudera teralihkan. Dia mengambilnya dan menemukan fakta suatu pembunuhan. “Ah, itu milik saya kan?” “Tunggu dulu.”balas Samudera menjauhkan kertas itu dari tangan perempuan itu. “Kamu siapa?” “Saya disini tamu.” “Jadi ini apa?” “Berikan pada saya sekarang!”ucap perempuan itu dengan berapi-api. “Tidak. Sebelum kamu bicara jujur.” Perempuan itu malah melihat ke kiri dan kanan. Dia bergegas pergi walau tanpa kertas itu. Dan disaat yang sama, Wandi datang. Mereka kembali berjaga. Memastikan Putri Ida Ayu dalam kondisi aman dan tak ada masalah. Raja datang dengan kegagahannya. Dia jadi pusat perhatian semua orang. Pria yang di kepalanya terdapat mahkota. Pakaiannya terbuat dari emas murni dan istri disampingnya sangat cantik. Pemandangan yang membuat semua orang terpesona. Samudera membuka kertas itu. Cuma ada tulisan tentang pembunuhan di sebuah tempat hiburan. Dan ketika dia melihat tanda-tanda yang ditunjukkan, dia melirik ke arah Putri Ida Ayu yang mencoba untuk tetap tersenyum. Disampingnya ada Pangeran dari keturunan prajurit kasta atas. Dengan segera, dia izin ke toilet pada Wandi. Dia harus mencari perempuan itu. Perempuan yang sedang mencari pelaku pembunuhan berantai yang marak di Kerajaan Bali. Dia juga harus memastikan kecurigaannya. Ini bisa menguntungkannya walau tanpa persiapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD