Chapter 12 - Bali Kingdom 3

1074 Words
Jalan hidup memang seperti roda yang berputar. Terkadang, rencana tak sesuai dengan kenyataan. Tapi kenyataan adalah sesuatu yang harus diterima. Embun menyesal atas dirinya yang membawa Langit dan Anoda pada kondisi ini. Terutama Langit yang kini tidak sadarkan diri. Dia ingin mengejar pelaku pembunuhan itu, tapi keadaan Langit tidak memungkinkan untuk ditinggalkan. “Argh, sialan!!!”keluhnya dengan suara keras. Semua orang memandangnya dengan tatapan aneh. Dan dengan sigap ia berdiri. “Saya petugas. Tolong semuanya keluar.”ucapnya tegas. Ia menekan perut Langit yang berdarah akibat tusukan tajam itu.  “Langit, kau beneran mau mati? Ya, penyintas memang pantas untuk mati dengan cepat.”ucap Anoda di bawah bayang-bayang tequila yang mempengaruhi pikirannya. “Anoda, tolong pegang perutnya. Aku harus memastikan banyak hal.” “Ah, kau juga penyintas kan? Jangan sok hebat disini.” Embun frustasi karena Anoda tak bisa diajak kerjasama. Dan saat Awan datang, dia merasa sangat lega. Mereka mengambil alih Langit sedangkan Embun dan Awan meneliti semua keadaan yang ada disana.  “Apa yang terjadi?” “Tenang. Langit baik-baik saja. Kita perlu cek orang itu.” “Kau gila? Bagaimana bisa Langit baik-baik saja? Dia sekarat sekarang.” “Dengar Awan, luka itu  cuma goresan kecil yang akan sembuh dengan perawatan. Aku tahu banyak hal sebab aku pernah tinggal di Indonesia.”ucap Embun menyakinkan. “Percayalah padaku.”pintanya kemudian. “Baiklah.”balas Awan percaya. Mereka melakukan pengecekan mayat yang tergeletak dengan darah yang banyak. Perempuan berparas cantik itu seketika jadi begitu buruk karena darah yang memenuhi wajahnya. Awan memeriksanya dengan seksama. Badannya penuh dengan warna biru. Seperti sedang mengalami penindasan beberapa hari ini. Semua penglihatan itu seketika berakhir. Pihak kepolisian datang dengan tergesa-gesa. Dan mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa selain bergegas pergi. Kejadian yang menimpa Langit sengaja dirahasiakan dari Dimas. Tentu saja agar komandan yang satu itu tidak buru-buru mengambil kesimpulan untuk memulangkan Langit ke Sumatera. Tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Anoda terkapar di tempat tidur. Dia terlelap dalam tidur yang sangat memabukkan. Sedangkan yang lain panik karena keadaan Langit yang tak bisa diprediksi. Terlebih Awan, dia lebih memikirkan Langit dibanding kasus yang sedang mereka hadapi. “Embun, kau serius membiarkan dia begitu saja?”seru Awan dengan suara keras. Dia tidak tega melihat Langit seperti ini. Terkulai lemas dan tidak sadarkan diri. Diperutnya cuma diberi perban yang tak akan bisa mempengaruhi dirinya. Bukankah seharusnya dia diberikan obat? “Kita perlu mencari tahu ini Awan.” “Embun!!” “Baiklah. Biarkan aku memeriksanya.”ucap Embun mengalah. Dia sendiri tidak yakin dengan ini. Tapi pandangan teman-temannya membuatnya serba salah. Semoga ini bukan keputusan yang salah. Dia memikirkan cara terbaik yang tidak melibatkan orang luar. “Pras dan Zona, apa kalian bisa membeli sesuatu untukku? Ini bisa berguna untuk Langit.” “Ah, baiklah.” Embun segera mengambil secarik kertas dan menuliskan beberapa hal yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Bahan pengobatan di Indonesia dan Santara tidak jauh berbeda. Perbedaannya hanya pada peran dukun yang dilestarikan di tempat ini. “Lihat, setelah mereka kembali, Langit akan baik-baik saja.” “Tidak, Embun. Aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku tak akan bisa berpikir jika Langit belum sadar.” “Bodoh! Kau mau melibatkan misi kita?” “Aku tidak peduli.” “Aku terlalu peduli pada Langit. Padahal dia belum tentu peduli padamu.” “Aku begini bukan hanya pada dia seorang. Tapi padamu juga. Ketika kau tidak sadarkan diri di masa lalu, aku juga begini. Tapi reaksi Langit sama sepertimu. Kalian benar-benar tidak punya hati.” Seketika Embun terdiam. Rasa bersalah memenuhi ruang kosong di hatinya. Ya, sejujurnya Embun tidaklah peduli dengan nasib Langit. Jika dia mati, mungkin itu takdir. Tapi perkataan Awan berhasil merubah dirinya. Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu yang kosong itu dengan berkualitas. Dia menggunakan cara lama untuk merawat Langit. Sembari menunggu dua rekannya datang, ia mengompres kepala Langit dengan kain basah. Tak lupa ia memeriksa setiap bagian tubuh Langit. Jangan sampai ada yang terluput dari pandangan mata. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Sedikit demi sedikit, Embun mulai percaya pada orang di dunia ini. Dia mulai terbuai oleh kebaikan Awan. Ya, di belahan manapun manusia tetap memiliki sisi baik dan sisi jahat. *** “Kau sedang apa?”tanya Nahasa menghentikan jemari Samudera mencoret kertas di mejanya. Tak cuma jarinya yang berhenti tapi jantungnya juga. Dia sangat tidak mau kalau Nahasa melihat apa yang ia tulis. Baginya, menulis adalah karya seni yang tak baik dikumandangkan sebelum benar-benar selesai. “Hanya menyalurkan hobi dengan menulis semua hal yang sudah kulalui.” “Wadi sudah membaik. Tapi di matanya ada dendam yang membekas.” “Dendam itu seperti kobaran api. Aku takut itu bisa membuatnya menyesal di masa depan.” “Jangan begitu, kau tentu pernah dendam dengan seseorang kan?” “Ya, sampai sekarang.” “Lalu apa bedanya kau dengan Wadi?”protes Nahasa tidak terima.  “Wadi tak bisa mengontrol emosinya. Sedang aku, hahaha, aku ahli dalam hal itu.” Mahesa datang dengan bantuan Wadi disampingnya. Dia membawa sebuah surat yang menunjukkan misi mereka di tempat ini. Kerajaan Bali yang menjunjung tinggi berbagai peraturan budaya. Tak boleh ada yang mengganggu gugat peraturan yang dibuat ribuan tahun lalu.  “Dengan anggota yang terbatas, kita disuruh menjadi pengawal Putri Ida Ayu di pesta pertunangan minggu depan. Ini bukan misi yang sulit karena kita hanya perlu memastikan Putri Ida Ayu tidak kabur dari pertunangan itu.” “Argh, misi macam apa ini?”keluh Nahasa tidak menyangka. Ia merasa bahwa misi seperti ini tidak ada faedahnya. Misi yang tidak bermutu sama sekali.  “Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Malahan, kita akan menikmati makan malam yang enak. Cobalah mengambil sisi positifnya. Sudah lama kan kalian tidak menikmati hal seperti ini?” “Komandan, aku malah senang. Menghadiri pesta seorang putri bukan hal mudah. Ini akan jadi kali pertamaku.”balas Wadi antusias. “Ya, itu keuntungannya. Tapi itu bukti kalau mereka menyepelekan kita. Apa mereka kira kita akan mati jika ditugaskan di medan perang? Terlalu cupu.”seru Nahasa. Mereka tertawa begitu saja. Tidak masalah juga jika disebut terlalu cupu. Hal seperti ini jarang diterima oleh anggota militer. Keadaan Mahesa membuat pihak atas iba. Apalagi, di Kerajaan Papua mereka berhasil menjalankan misi. Meskipun berakhir tidak sempurna. Di tempat lain, tampak Samudera terdiam. Dia bingung harus bicara apa. Ada ketakutan yang besar di dalam hatinya. Pesta anggota kerajaan menjadi hal yang tidak ia sukai. Terutama karena pesta itu adalah pertunangan Putri Ida Ayu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD