Bali memiliki pulau dan pantai yang indah, dan berbatasan dengan luar Santara. Luar Santara kerap disebut pihak asing. Bukan berarti tak ada hubungan baik, tapi dibuat perbatasan guna menjaga keutuhan tempat itu. Dan yang jadi masalah bukanlah mempertahankan itu semua.
Embun menghela nafas panjang setelah sederet penjelasan dari Komandan Dimas. Fakta baru tentang misi mereka di Kerajaan Bali. Keberhasilan mereka dengan hanya kehilangan satu orang membuat tim lain merasa tersaingi. Bukankah tidak adil melihat tim mereka masih utuh saat tim lain sudah kehilangan hampir separuh anggota? Sungguh tidak masuk akal. Terlebih ada seorang perempuan di antara mereka.
Misi untuk Kerajaan Bali. Akhir-akhir ini, Bali berseteru dengan seluruh Santara. Mereka tak ingin ada kerjasama dengan Kerajaan Kalimantan. Padahal, sudah seharusnya semua kerajaan berkiblat pada Kerajaan Kalimantan. Sayangnya, Bali menganggap diri hebat dengan banyaknya destinasi dari mereka yang bisa dijadikan sumber uang. Seiring dengan hal itu, terjadi hal pelik yang sangat disayangkan. Kematian yang terus beriterasi dan ditambah dengan meningkatnya angka kematian. Sejak saat itu, Bali mulai luluh. Dan kedatangan anggota militer kali ini diharapkan dapat membuat hubungan Kerajaan Bali dan seluruh kerajaan di Santara menjadi membaik.
“Kita dikorbankan untuk keegoisan seseorang.”seru Awan dengan tatapan datar. Mencari seorang pembunuh berantai lebih sulit daripada berperang dengan lawan. Jika wajah saja tidak bisa dilihat, bagaimana bisa ditemukan siapa orangnya?
“Jangan berkecil hati, kita pasti bisa selamat.”balas Langit menenangkan.
“Padahal cuma ada tiga orang yang jago menggunakan pedang. Kenapa misi ini malah diberikan pada kita?”protes Awan dengan suara keras.
“Karena perempuan itu. Semua orang iri pada kita. Tapi kau tenang saja, mencari pembunuh tak sesulit yang kau kira, Awan.”ucap Anoda sambil mengambil teh panas yang baru saja dihidangkan oleh seorang perempuan paruh baya. Embun langsung mengambil gelas itu dan meminumnya. Sikap yang membuat Anoda kesal.
“Seharusnya kalian bangga karena ada aku. Mungkin, kalian tidak akan sampai ke level ini kalau tanpa aku.”balasnya sambil tersenyum tipis. Terlihat kalau ia tidak takut walaupun harus berhadapan dengan seorang pembunuh berantai.
“Wah, percaya dirimu terlalu tinggi. Tapi itu menunjukkan kalau kau bodoh.”
“Anoda b*****t! Kau tidak tahu kemampuanku? Aku bukan cuma bisa menggunakan otak untuk mencari pencuri, tapi pembunuh juga. Aku cuma butuh catatan sejarah.”tegas Embun kesal. Tapi perkataan itu berhasil membuat semua orang berpikir keras. Benar juga. Jika Embun bisa menemukan pencuri emas, dia pasti punya otak yang mendukung untuk mencari seorang pembunuh.
Mereka terlihat lega dan tampak senang. Tapi tidak dengan Embun, setelah ia dihadapkan pada data kosong di tempat penyimpanan. Dia melongo kebingungan. Sedangkan Awan hanya menghela nafas dengan pikiran yang lari entah kemana.
“Ini serius? Tak ada apapun yang bisa dilakukan?”
“Sudahlah Embun. Lain kali kau harus hati-hati menggunakan mulutmu. Mulut itu seperti singa yang bisa menerkam.”
“Bukannya harimau?”
“Terserahmu saja memberikan pengandaian.”
“Baiklah. Sekarang, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.”
Awan bergegas duduk disampingnya. Mata Embun tampak menghitam akibat tidak tidur selamanan. Entah apa yang membuat perempuan itu tidak bisa tenang.
“Cuma ada satu cara.”
“Apa?”
“Ada kematian yang terjadi dalam waktu dekat ini. Kita bisa menjadi yang pertama menyelidiki dan mencari bukti.”
Perkataan Awan barusan seperti pencerahan yang membuka pikiran Embun. Dia bergegas berdiri dan terlihat sumringah.
“Kau benar, Awan.”
“Jangan senang dulu. Kita tidak tahu, sehebat apa pembunuh itu.”
“Baiklah. Mulai sekarang aku akan bertingkah seperti dirimu. Rendah hati dan tidak sombong.”ucap Embun sambil berjalan keluar dari tempat itu. Mereka akan ke markas untuk mendiskusikan misi ini dengan teman yang lain.
“Siapa bilang tidak bisa sombong? Sombonglah ketika hal itu sudah kau yakini. Sesederhana itu.”
“Ya, baiklah Gustiawan Aires.”seru Embun sambil terkekeh.
Mereka berjalan bersama menuju ke markas. Di dalam perjalanan, mereka melihat tim lain yang sepertinya sedang dilanda banyak pergumulan. Tim yang disebut-sebut hampir kehilangan seluruh anggotanya. Tapi mereka cukup solid tetap melanjutkan semuanya ketika hanya tersisa tiga orang saja.
“Awan, mereka siapa?”
“Tim Gerhana, sisa tiga orang.”
“Hebat.”
“Hebat? Bukanlah itu kinerja yang buruk?”
“Mereka masih tetap berjuang meski sudah kehilangan lebih dari separuh anggotanya. Bahkan, komandannya sudah tak berdaya.”
“Jangan sampai kita seperti mereka.”
Misi dimulai dengan pemantauan seluruh wilayah di Kerajaan Bali. Mereka sudah diberikan akses untuk melakukan apa saja, selagi mematuhi aturan. Sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Dimas dan Awan, mereka akan berpenampilan seperti orang biasa. Dan tujuan mereka malam ini adalah salah satu tempat hiburan malam di sisi barat yang menghadap langsung ke lautan.
Embun mengenakan pakaiannya yang paling cantik. Walau tidak nyaman tapi demi mendukung penyamaran. Dia berhenti di perempatan jalan bersama Anoda dan Langit. Sedang Awan dan yang lain berada di posisi yang berbeda.
“Kau tahu apa soal hiburan malam?”tanya Anoda sepele.
“Aku pernah ke klub besar di Indonesia. Kurasa tak akan jauh beda dengan yang ini.”
“Wah, kau pernah meminum barang mahal itu?”
“Alkohol maksudmu?”
“Ya, orang biasa sepertiku cuma bisa minum tuak. Dan jika ada alkohol, pasti disimpan dan diminum sedikit demi sedikit.”
“Tenang. Aku akan membelikanmu alkohol. Selagi komandan Dimas tidak ikut, kita berpesta sejenak.”
“Tidak! Kau mau mati?”teriak Langit kesal.
“Santai saja Langit. Lagian, aku cuma bercanda.”balas Embun singkat.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam. Suasana yang mirip seperti di Indonesia. Bedanya, pakaian yang digunakan sangat sopan. Kebaya dengan ornamen yang sangat cantik dan batik yang harganya pasti mahal.
“Teh manis dingin!”ucap Langit saat barista datang.
“Cupu banget sih!”seru Embun kesal. “Tequila tiga gelas.”ucap Embun merevisi. Barista segera mempersiapkan minumannya.
“Kau punya uang? Ini sangat mahal.”
“Tentu saja. Aku yang akan bayar.”balas Embun sambil tertawa. Emas yang ia curi dari Kerajaan Papua sangat cukup untuk membayar alkohol itu. Sebatang emas saja bisa membeli banyak hal. Bagaimana jika dia mengambil dua batang? Argh, bodohnya. Seharusnya Embun mengambil beberapa.
Mereka meneguknya perlahan. Langit sibuk celingak celinguk untuk mencari orang yang mencurigakan. Jika memang bukan malam ini, maka sia-sia saja pencarian yang mereka lakukan.
“Gila, rasanya enak.”
“Tentu saja. Minumlah sedikit sedikit, biar lebih nikmat.”
“Argh, terima kasih Embun. Kau punya pengalaman yang banyak.”
“Aku siap memberimu bocoran soal segala hal. Yang penting, kita bisa melewati misi kali ini.”
“Baiklah, cheers!!”
Mereka tertawa dan menikmati indahnya dunia di bawah pengaruh alkohol. Dunia yang penuh dengan keindahan dan tak satupun hal berat datang dalam ingatan. Tapi ternyata, tak sesederhana itu. Dalam waktu yang cepat, seseorang terbujur kaku di jarak sekian meter. Darah mengalir dan membuat semua orang histeris. Dalam pengaruh alkohol itu, Anoda merasa tak tenang. Berbeda dengan Embun yang malah semakin bersemangat. Dia berlari melewati semua orang. Dia memperhatikan semua sisi dan mencari bukti. Merekamnya dalam ingatan untuk bisa diberitahukan pada Awan.
Tak lama setelahnya, terdengar dentuman keras dari belakangnya. Langit jatuh terkapar di lantai. Dan pria berjaket hitam itu menghilang dari pandangan mata. Embun ingin mengejarnya, tapi keselamatan Langit adalah yang lebih utama.
“Argh, sial!”keluhnya di tengah hiruk pikuk manusia yang berlari meninggalkan tempat itu. Terdengar teriakan histeris dari para perempuan. Embun membalut luka Langit dengan kain. Dia mendekatkan Langit pada Anoda yang hampir tidak sadarkan diri.
“Jaga dia.”ucap Embun tegas. Anoda yang pikirannya mengawang-awang tidak bisa berbuat apa-apa. Tequila yang masuk ke dalam mulutnya membuat pikirannya tak normal.