Chapter 15 - Akhir Dari Temu

1429 Words
Semua ini seperti mimpi yang tak kunjung usai. Embun berhenti melepaskan kekhawatirannya saat semua berhasil dibuktikan. Dan tentu saja ini berkat Samudera. Pria yang ia temui sekilas. Dan kini pria itu hendak pergi. Kepergiannya seperti akhir dari pertemuan ini. “Kau sangat panik waktu Langit mengorbankan dirinya sendiri.” “Ya. Aku tahu seberat apa dia untuk sampai di tempat ini.” “Kau juga sama kan?” “Ya. Tapi dia butuh bertahun-tahun. Sedangkan aku, baru beberapa bulan disini, aku bisa sampai ke tahap yang jauh. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa yang sudah ia lewati selama ini.” “Kau seorang penyintas?” Embun kaget dan terdiam. Sorot matanya menunjukkan beribu pertanyaan. “Bagaimana kau tahu?” “Perkataanmu barusan. Tak ada manusia Santara yang mengatakan itu langsung dari mulutnya.” “Apa kau membenci penyintas? Seperti temanku yang satu itu.”ucapnya sambil mengarahkan pandangan pada Anoda. Anoda merasa sangat bosan ada di kondisi sekarang. Dia ingin sesuatu yang lebih besar. Bukan sekedar menyelidiki pembunuhan atau apalah itu. Dia pasti jenuh dan tidak sabar ingin menunjukkan keahliannya dalam menggunakan senjata dan pedang. “Dibanding membenci, aku sangat suka pada seorang penyintas.” “Hah?” “Aku terlalu membenci orang-orang di Santara.” “Kenapa?” “Ceritanya panjang. Dunia ini terasa menyesakkan. Mungkin Indonesia jauh lebih baik daripada Santara.” “Buatku pribadi, Santara lebih baik daripada Indonesia.” “Mungkin dunia memang dirancang seperti ini. Manusia di dalamnya tidak akan pernah puas. Dan mereka menginginkan sesuatu yang sempurna. Padahal, kesempurnaan itu hal yang imajinatif di dunia ini.” “Ya, bisa jadi.” Embun merasa lega dan senang bisa bicara panjang lebar dengan Samudera. Dia pria yang baik dan tidak mudah menghakimi. Bisa dilihat dari caranya memperlakukan Embun. Dia tahu cara menghadapi seorang perempuan. Tidak seperti mereka yang sesuka hati menyindir Embun. Terutama karena status Embun seorang penyintas. Argh, dunia ini terlalu kejam untuk dihuni. “Ayo, buruan!” “Ah iya, duluan saja. Aku segera menyusul.” “Makasih ya, berjuanglah. Siapa tahu kita bisa bertemu lagi.”ucap Samudera hendak berpisah. Dia satu-satunya pria yang memiliki kesan positif di pertemuan pertama. Pria yang seakan punya banyak pengalaman. Mungkin dia juga pengalaman pahit yang membuatnya mengerti pada keadaan hidup orang lain. Terkadang manusia hanya diberikan hal baik. Sampai dia tidak bisa memahami orang yang berbeda dengannya. Dia kira hidup ini sesempit pemikirannya. Padahal tidak. Ada saja luka yang tak bisa disyukuri. Dan orang-orang yang tak pernah mengalaminya akan berpikir kalau tidak bersyukur adalah bagian dari kata manja. “Ya, kau juga.”balas Embun sambil tersenyum kecil. Ternyata begini akhir dari pertemuan ini. Ketika Embun bisa bertemu seseorang yang sebenarnya belum bisa ia percaya. Tapi Embun yakin kalau pria itu sedang mengalami hal yang sulit. Ya, tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami Embun kali ini. Embun segera berlari menyusul Anoda yang sedari tadi menunggunya. Sangat tidak biasa Anoda melakukan hal itu. Dia juga tampak awas. Seakan tidak terima Embun bersama dengan Samudera. “Kenapa lagi?” “Siapa dia? Jika ada yang macam-macam, katakan padaku.” “Berlebihan. Dia temanku.” “Kau bisa punya teman selain kami?”balas Anoda seakan tidak percaya. “Kau bukan temanku.”sanggah Embun sambil berjalan menyusul yang lain. Anoda menghela nafas dan menyusul perempuan itu. Mereka harus melapor pada komandan tentang kekacauan yang mereka buat. Kekacauan yang membuat mereka berhasil melewati level ini. Pangeran Artian sudah resmi jadi dalang dibalik pembunuhan yang terjadi belakangan ini. Dia memiliki perkumpulan rahasia yang didirikan secara ilegal. Niat awalnya adalah ingin membalas dendam pada Raja Bali. Balas dendam itu membuahkan hasil. Tapi ia malah dihadapkan pada perjodohan yang tidak disangka-sangka. Perjodohan yang akan membuatnya semakin dekat pada tujuannya. Tapi semua itu gagal dengan pembuktian yang dilakukan oleh anggota militer. “Kau baik-baik saja?”tanya Embun pada Langit yang sedang membereskan pakaiannya. Akhir-akhir ini dia banyak diam. Dia juga berhenti menggurui Embun. Tapi tetap saja, wajahnya yang datar tidak pernah berubah. “Ya.” “Maafkan aku.” “Untuk apa?” “Membuatmu terjebak sampai harus mengorbankan diri sendiri.” “Lupakan saja. Semuanya sudah berhasil kan?” “Jika tidak berhasil bagaimana?” “Aku tidak tahu.” “Bagaimana kau yakin kalau ini benar?” “Sejujurnya, aku tidak yakin. Aku hanya sedikit percaya padamu.”ucap Langit dengan suaranya yang rendah. Perkataan yang membuat Embun terdiam. Sesaat dia merasa kalau dirinya sedikit berarti. Langit tak lagi sama seperti dulu. Dia tak lagi menganggap Embun sebagai musuh. Hal ini sejenak menentramkan hati perempuan itu. “Aku harus mencuci baju.”gumam Langit sambil bergegas pergi. Dia meninggalkan Embun dalam keadaan melongo. Hatinya senang karena sedikit demi sedikit, ada orang yang yakin dan percaya padanya. Embun mengemasi barang-barangnya. Besok mereka akan melanjutkan misi di kerajaan lain. Belum diketahui akan kemana, cuma kali ini ada masalah serius di perbatasan Santara dengan pihak asing. Dan sepertinya, semua anggota militer harus bersedia mengorbankan nyawanya. Misi ini tak lagi misi sederhana antar kerajaan. Misi ini jauh lebih besar daripada itu. Lelah membuat perempuan itu mengantuk. Dia langsung ke kasur untuk merebahkan diri. Dan sebuah mimpi mendatanginya.  Wanita paruh baya tergambar jelas sedang mencari sesuatu di tumpukan pakaian. Wanita itu terlihat sangat lusuh dengan darah di tangannya. Dia berhasil menemukan apa yang dia cari setelah berlalu beberapa menit.  Lalu dia mendekat ke arah Embun, mengangkat badan Embun dan memasukkannya ke dalam mobil. Mobil melaju kencang ke suatu tempat antah berantah. Tempat yang tidak tahu dimana.  “Dengarkan ibu, sampai disana, jangan pernah berniat mencari ibu. Hiduplah dengan baik.”ucapnya dengan tegas.  Setelah itu, Embun bangun dengan keringat mengucur deras di wajahnya. Dan di depannya ada Langit sedang melihat dengan penuh perhatian. “Kau kenapa?”tanya Langit. Embun tampak tergesa-gesa seperti baru berlari puluhan kilometer. Seketika air mata perempuan itu mengucur. Disusul oleh suara tangis seperti mengerang. Dan detik itu juga, Langit hanya diam. Dia bisa mengerti perasaan perempuan itu. Perasaan yang pernah menghantuinya di masa lalu. Dia juga seorang penyintas. Dan tak bisa semudah itu untuk menerima semua ini.  “Ternyata dia tidak sekuat yang kubayangkan.”batinnya dalam hati. Ingatan tentang masa lalu seperti senjata yang menghancurkan. Terlebih jika ingatan dan kenyataan itu sesuatu yang terlihat sangat buruk. Langit menemaninya menangis berjam-jam. Dia sangat berharap, teman-temannya tidak datang terlalu cepat. Saat tangisan itu mulai reda, Langit mengajaknya keluar. Menikmati kopi panas yang dijual tak jauh dari tempat tinggal mereka. Kopi dengan taburan coklat panas diatasnya. Rasanya enak dan sering jadi langganaan para petugas militer. “Kadang, kenyataan memang sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Tapi kau harus bersyukur dan menerimanya.”ucap Langit sambil menikmati kopi di gelasnya. “Apa kau tahu kenapa aku ada disini?” Embun menggeleng dengan tatapan datar. Matanya masih memerah karena menangis begitu keras. “Ayahku seorang anggota DPR. Dia melakukan penyimpangan dengan korupsi uang negara. Aku sangat tidak terima dan melakukan banyak hal yang menyulitkannya. Bahkan, aku hampir bunuh diri. Tidak cuma itu, aku juga  menyebarkan semua aib ayahku ke media.” “Kau serius?”tanya Embun tidak percaya. Perkataan Langit seperti bualan belaka. “Saat aku hendak bunuh diri, dia menyelamatkanku. Dan dia bilang, lebih baik aku pergi dari pada membuat aib di Indonesia.” Seketika Langit ikut meneteskan air mata. Dia ingin sekali menyiksa dirinya sendiri. Andai setiap anak bisa memilih ayah, mungkin Langit akan memilih ayah yang lain. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Yang lebih dulu ada tidak akan bisa memilih siapa yang akan datang. Dan yang akan datang tidak bisa memilih siapa yang lebih dulu. Sesuatu yang sudah sangat lumrah bagi peradaban manusia. “Aku jadi paham kenapa kau begitu membenciku saat sampai disini.” “Maafkan aku jika itu membuatmu sakit hati.” “Mungkin dulu iya, tapi sekarang tidak sama sekali.” “Jadi, kau sudah tidak apa-apa?” “Ibuku bilang tidak usah mencarinya. Aku kira dia mencariku, ternyata dia membuangku percuma.” “Ternyata kita punya masa lalu yang sama. Orang tua yang mengecewakan.” “Lalu, jika sudah tahu begitu, kenapa kau masih ingin kembali ke Indonesia?”tanya Embun penasaran. Embun sendiri merasa tidak pantas jika ingin kembali. Sesuai dengan perkataan ibunya, akan lebih baik jika dia tetap berada di tempat ini. Mungkin dia bukan anak yang diinginkan. Sama seperti Langit. “Jujur, pertama kali aku tahu fakta itu, aku ingin bunuh diri. Tapi Awan menghalangiku. Dia bilang, kematian tak akan membuat ayah menyesal. Dan kurasa itu benar.”ucap Langit menceritakan. Dia menoleh kepada Embun yang masih terdiam. “Kau juga sama. Jangan menyerah secepat ini!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD