Seperti kebiasaannya, Embun menunggu di luar untuk mandi. Dia mendahulukan pria-pria itu untuk mandi lebih dahulu. Dan beruntung, dia punya kemampuan alamiah dalam memanfaatkan waktu. Dia bisa mandi secepat kilat. Jadinya, tidak akan terlambat melapor pada komandan. Dunia militer memang tak pernah ditujukan untuk seorang perempuan. Tapi ada saja yang melanggar batasan itu. Seakan para petinggi di atas sana tidak mau perempuan sejajar dengan para lelaki. Nyatanya, zaman semakin berkembang. Lihat saja yang memulai bisnisnya di luar sana. Perempuan tak pernah goyah untuk sejajar dengan para lelaki.
Tak berapa lama, semuanya berhamburan keluar. Mereka juga sudah paham kalau Embun menunggu. Lama-lama semuanya mengerti dan saling memahami. Apalagi, Embun berjasa sekali dengan posisi mereka sekarang.
“Ayo, aku butuh tasmu untuk tempat beberapa barangku.”seru Awan seraya berjalan menuju ke tempat istirahat.
“Duluan saja.”
“Hah?”
“Aku takut ada orang lain yang masuk tanpa tahu ada Embun di dalam.”ucap Langit begitu saja. Perkataan yang membuat Awan mengernyitkan dahinya. Aneh bukan? Langit yang tadinya membenci perempuan itu menjadi berubah begitu saja. Sungguh sesuatu yang mengagetkan.
“Hey, ada apa denganmu?”
“Tidak ada. Anggap ini sebagai upah karena sudah berjuang begitu keras.”
“Baiklah. Terserahmu.”seru Awan sambil pergi dengan persepsi yang menumpuk di kepalanya. Sedang Langit tidak peduli dengan Awan. Entah kenapa, dia melakukan ini dengan sukarela. Seakan Embun kini sudah jadi bagian dari dirinya. Tak perlu berlama-lama, perempuan itu keluar dengan seragam yang melekat di badannya. Dia tak seberuntung pria-pria itu yang bisa dengan mudah ganti baju di kamar.
“Dari tadi disini?”
“Ada yang ingin kutanyakan.”ucap Langit mencari alasan. Dia kaget dan belum siap dengan kedatangan perempuan itu. Jadilah dia mencari alasan.
Embun berjalan sembari mendengar pertanyaan Langit yang tidak menarik untuk dijawab. Dia malah menanyakan bagaimana cara meningkatkan skill analisis yang baik. Dia berniat memiliki kemampuan di semua bidang. Tidak hanya menggunakan pedang dan senjata tapi juga menerapkan taktik jitu.
Setelah itu, mereka bergegas menuju mobil yang akan membawa mereka untuk misi selanjutnya. Dimas bilang misi kali ini sangat berat. Tapi misi ini membuat Anoda antusias dan bahagia. Manusia yang satu itu sudah terlalu lama menunggu saat-saat seperti ini. Saat dimana dia bisa memamerkan kemampuannya.
Sisi barat Kerajaan Bali bersinggungan langsung dengan Australia. Dan hal ini menimbulkan berbagai permasalahan. Terutama soal wilayah mana yang masuk ke dalam Santara dan yang masuk ke Australia. Persoalan ini malah menimbulkan baku hantam yang tidak terkira. Dan tepat dua hari yang lalu, pihak Kerajaan Bali diberikan surat bahwa Australia akan menggunakan cara kekerasan jika nelayan Santara masih mengambil sumber daya yang ada di laut itu. Tentu saja Raja Bali marah. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk meminta bantuan pada Raja Kalimantan. Dan dengan keputusan dari semua petinggi di Kerajaan Kalimantan, diambillah kesimpulan.
Semua anggota militer yang sedang dalam misi akan ditugaskan menghadapi tentara dari pihak Australia. Hal ini membuat jantung berdetak tidak normal. Terutama Embun dan Awan yang akan pasrah pada hidupnya. Mereka bersandar pada orang-orang yang ahli di bidang itu.
“Kalian jangan khawatir, kita akan baik-baik saja.”ucap Anoda mencoba mencairkan suasana. Perkataan Dimas berhasil membuat mereka gentar. Terutama soal teknologi canggih yang berkembang di Australia.
“Katanya mereka bisa menghancurkan lawan dengan melempar sesuatu ke arah kita.”
“Itu namanya granat.”ucap Embun ngasal.
“Kau tahu?”
“Tentu saja.”
Seketika Embun kepikiran dengan semua benda yang pernah ia tahu. Sayangnya, dia tak punya banyak referensi. Dia butuh buku untuk merakit bom atau apapun itu. Tapi di Santara, tidak ada buku seperti itu.
Semua berjalan baik sampai tiba waktunya. Semua orang tampak pucat karena harus menghadapi misi yang mungkin akan mengambil nyawa. Terlihat jelas di wajah mereka kekuatiran yang sangat besar.
Setelah arahan singkat dari seorang pria berkumis tipis, mereka bergerak untuk mengambil senjata. Semua orang mengambil posisi sesuai instruksi komandan. Jantung Embun berdetak cepat. Mungkin saat ia tahu ibunya tak menginginkannya, dia ingin mati saja.Tapi perkataan Langit beberapa waktu yang lalu berhasil membuatnya ingin hidup. Langit saja bisa lepas dari kematian. Langit bisa melewati setiap hal meskipun tujuannya bisa saja tak akan tercapai. Lalu, kenapa dia tidak bisa?
Beberapa orang memegang tombak dan pedang dengan ujungnya yang terukir. Embun lebih memilih senapan yang berdiameter lebar itu. Setidaknya dia bisa menjauh dari musuh.
Tak butuh waktu lama, ribuan tentara menyerbu mereka dengan kapal besar itu. Embun menarik nafas dalam-dalam. Suara sirine terdengar begitu menakutkan. Semua orang dipaksa untuk jadi perkasa. Sedari awal nyawa mereka memang sudah disajikan untuk hal-hal seperti ini. Mereka tak akan mudah untuk sampai ke singgasana terbesar Santara. Mereka harus berani mati, demi Santara dan demi diri mereka sendiri.
Gencatan senjata memang membunuh beberapa orang. Tapi tidak sampai disitu, ketika semua orang mulai lengah, tibalah waktunya berhadapan langsung. Anoda terlihat sangat berapi-api. Dia tidak lemah saat melihat koleganya mati mengenaskan. Malah, dia semakin bersemangat untuk membunuh lawan-lawannya. Lain Anoda, lain pula Langit. Pria itu lebih banyak bersembunyi dan membunuh dengan cepat dan tepat.
“Bagaimana ini?”seru Awan gemetar saat semua terlihat tenang. Ketenangan yang seakan bisa menghanyutkan kapan saja.
“Tenang saja! Kita pasti bisa.”ucap Embun menenangkan.
Dalam hitungan ketiga, semua orang menunjukkan diri. Menggunakan pedang dan bambu runcing untuk membelah perut lawan. Tak ada hati untuk lawan. Jika darah bisa menyelesaikan masalah, mari saling bersimpuh. Itu adalah solusi untuk masalah kali ini.
Embun memakai topinya dan bergegas menemui para tentara itu. Wajah mereka tampak berbeda. Ya, mereka adalah kaum hidung mancung. Embun mengerahkan semua kekuatannya. Dia membunuh dengan tebang pilih. Jika orang itu terlihat kuat, dia akan menghindar. Mencari yang paling tepat untuk dibunuh. Hello, untuk mempertahankan nyawa diperlukan taktik. Kadang otot akan kalah dengan otak. Dan Embun berusaha menyeimbangkannya.
“Awan!!”teriaknya untuk memberi perintah. Awan langsung menoleh kebelakang. Dan untung saja, pria itu belum sempat menebas leher Awan. Awan langsung mendekat ke arah Embun. Duduk dibalik batu besar yang bisa menyembunyikan mereka sementara.
“Tanganmu kenapa?”tanya Embun panik. Terlihat jelas tangan itu mengeluarkan darah yang luar biasa. Embun langsung mengambil kain yang ia simpan. Membalut tangan itu erat.
“Argh, kurasa kita harus bergerak cepat.”gumamnya dengan mempersiapkan diri. “Awan, bertahanlah.”
Awan mengangguk sembari menahan rasa sakit. Embun bergegas untuk menghalau semua musuh itu. Mereka sangat kuat. Tak cuma dalam hal canggihnya senjata tapi juga kekuatan fisik masing-masing anggota. Mungkin saja roti dan selai membuat tubuh mereka berfungsi sebagaimana mestinya. Tak seperti manusia di Santara yang tak bisa kenyang jika tidak makan nasi. Kebiasaan yang menghancurkan tubuh. Makanya penyakit berdatangan ketika umur semakin tua.
Embun mengerahkan semua kekuatannya sampai kakinya tersangkut di sebuah kayu. Ikatan rambutnya terhempas dan terlihatlah kalau dia seorang perempuan. Sebuah pisau hampir memukul kalah dan menebas lehernya. Tapi tiba-tiba terhenti karena pria itu ingin memastikan siapa Embun.
“Are you a girl?”
Tangan Embun gemetar saking takutnya. Pria itu terlihat menyeramkan dalam wajah bengis yang tergambar di wajahnya. Embun melihat pedang yang bersiap mengambil nyawanya. Saat dia sudah pasrah, pria itu terkapar mengenaskan dengan darah memenuhi wajah Embun. Dan Langit memapahnya berdiri.
“Jangan diam saja!”ucap Langit dengan teriakan. “Kalau kau seperti itu, kau bisa mati.”
Embun mengangguk dengan perlahan. Tapi tiba-tiba terlihat sesuatu yang sangat menyayat hati mereka berdua. Saat Awan hendak datang menemui mereka. Sebuah pisau menghancurkan jantungnya. Dan setelah itu terjadi, Anoda membunuh orang yang melakukan itu pada Awan. Dan tak lama setelahnya, musuh mundur dengan alasan terlalu banyak yang mati.
Langit dan Embun berlari mendekat ke arah Awan. Mereka seperti tidak peduli jika ada yang tiba-tiba mengambil nyawa mereka.
Darah memenuhi semua tempat. Langit mengguncang-guncangkan tubuh Awan. Tapi tak ada reaksi. Dia terdiam waktu tahu jika Awan telah mati. Ya, dia sudah benar-benar menghilang dari dunia ini. Dia sudah tinggal nama dan akan dilupakan suatu hari nanti. Fakta dan takdir dari manusia.
Embun tidak terima. Dia mengambil alih tubuh Awan. Dia memegang wajahnya yang kini mulai dingin. Wajah yang tak lagi merasa takut. Tapi wajah datar yang tak berekspresi sama sekali.
“Bangun! Bangun Awan!”teriak Embun dengan tangisan yang kini memenuhi wajahnya. Dia semakin terisak saat Awan tidak mengindahkan ucapannya. Embun memukul tubuh pria itu. Tubuh yang tak akan menerima reaksi apa-apa. Sebab nafasnya tak lagi bekerja. Tak ada lagi kehidupan di tubuh itu. Tubuh itu cuma sebuah benda yang tak bernyawa.
“Argh!!!!”Teriak Embun. Tangisan dan erangan menguasai tempat itu. “Tidak Awan! Jangan tinggalkan kami.”
“Apa yang harus kukatakan pada Wali? Apa yang harus kujelaskan pada Arafuru?”seru Langit dengan air mata yang tak terbendung di wajahnya. Dia memukul dadanya keras. Kesakitan di dalam sana sangat parah. Bahkan lebih parah dibanding bekas sayatan pedang dan senjata yang mengenai organ tubuhnya.
Semua orang menangisi temannya masing-masing. Banyak yang kehilangan, tapi tak ada yang separah kehilangan Awan. Awan terlalu berharga untuk pergi secepat ini. Embun mengusap wajahnya yang berlinang air mata. Ini semua seperti mimpi. Mimpi terburuk yang pernah dialami seorang Embun Deangkasa. Jika Awan pergi, siapa lagi yang bisa Embun percaya? Bukankah selama ini dia sudah memberi batasan? Dan Awan sudah menghancurkan batasan ketidakpercayaan itu. Tapi kenapa? Kenapa dia malah pergi begitu saja?
“Sudah. Kita harus pergi. Sebentar lagi pimpinan datang.”seru Anoda berusaha menenangkan teman-temannya. Semua orang juga tampak berdiri dan bersiap untuk mendengarkan arahan dari pimpinan. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Terutama bagi mereka yang sudah siap untuk menjadi anggota militer. Sedari awal, Santara sudah membeli nyawa mereka. Dan mereka harus sadar akan hal itu.
“Ayo Embun!”desak Anoda.
“Diam! Aku mau disini. Awan pasti kedinginan. Ini semua salahku.”
“Ini bukan salah siapa-siapa.”
“Tidak. Aku mau disini saja.”ucap Embun dengan suara lirih. Dia masih menangis. Rasanya, air mata itu tak ada habisnya. Dia ingin sekali memapah tubuh Awan. Tubuh yang kini terbujur kaku dengan bersimbah darah.
“Ayo semua! Kembali ke barisan!”teriak salah satu komandan dari tim lain. Sedang Embun tidak peduli dan tetap disana. Semua orang mulai menyusun barisan. Embun dan Langit masih disana. Bedanya, Langit sudah berhenti menangis. Walau begitu, semua orang tahu betapa sakit perasaan pria itu. Dia menarik tangan Embun. Embun menolak berkali-kali. Hingga sebuah teriakan mendarat di telinganya.
“CEPAT! KAU BODOH?”teriaknya keras. “Mau kau apakan mayat itu? Mau kau sembah seperti menyembah dewa?”
“Kau yang diam! Setidaknya, kita kubur dia dengan baik Langit. Setidaknya, kita bisa memeluknya sebentar. Tolonglah, aku mohon!”Pinta Embun dengan suara parau. Dia seperti manusia yang sudah hilang akal sehat. Bahkan kini dia menghempaskan rambutnya. Dia berlari menemui Awan. Rambutnya tergerai. Dan semua orang melihatnya. Status yang selama ini ia tutupi di depan tim lain. Rambut panjang itu bersentuhan dengan darah yang membanjiri. Rambut yang tadinya hitam berubah jadi merah.
Langit menangis di kejauhan. Dia mengusap wajahnya berkali-kali. Semua kenangan bersama Awan membuat hatinya sakit. Dia tidak menyangka akan kehilangan pria itu. Pria yang bersamanya kini dengan alasan ingin membantu Langit. Ya, dia terlalu iba dan menganggap Langit sebagai saudara laki-laki. Dia kehilangan nyawanya demi Langit. Jika dari awal hal ini tidak ada, mungkin Awan masih hidup. Hidup bersama dengan Wali Aires dan Arafuru. Semua penyesalan itu datang begitu saja. Memenuhi ruang kosong di hati Langit. Ruang kosong itu kini dipenuhi dengan kesedihan yang tiada terukur.
Seseorang datang mendekati Embun. Embun yang masih tidak lepas dari tangisannya. Pria itu adalah Samudera Alia. Saat melihat wajahnya, Embun semakin terbuai dalam tangisan yang lebih parah. Entah bagaimana, Samudera membuatnya tenang. Seperti anak kecil yang terjatuh dari sepeda dan langsung bertemu ibunya. Dia ingin merengek seperti itu pada seorang Samudera. Samudera tidak memeluknya. Dia mengambil rambut Embun dan mengikatnya dengan karet. Lalu, dia mengambil topinya dan menggulung rambut itu ke atas. Embun masih saja gemetar. Tangannya tak bisa berhenti dari rasa takut.
Samudera mengambil tangan itu. Menggenggamnya erat. “Tegarnya sebentar. Kau bisa menangis lagi nanti. Sekarang, berbarislah di tempatnya.”ucapnya lembut. Samudera memang tahu cara memperlakukan wanita. Kelembutan akan membuat seorang wanita percaya. Bukan dengan teriakan dan kekerasan yang akan membuatnya semakin larut dalam emosi.
Embun mengangguk paham. Samudera segera melepaskan genggaman tangannya. Dia melirik ke arah Anoda yang melihat dengan tajam. Anoda langsung menemani Embun untuk berjalan menuju ke barisan. Anoda sangat yakin, bahkan saat berbaris disana, Embun akan tetap menangis.
Ini adalah perpisahan paling tragis dalam hidup manusia. Ketika perpisahan itu tak lagi mengenal kata pertemuan. Ketika raga seseorang sudah menghilang, mengingat kenangan juga akan sulit. Tak mudah untuk tetap mengingat mereka yang sudah lama pergi.