Chapter 17 - Real Death

1856 Words
Tempat itu penuh dengan tangisan. Pertarungan yang mengambil nyawa memang sesuatu yang sangat melukai hati. Ketika mereka yang biasanya bersama tiba-tiba harus sendirian. Ini bukan hal yang baik untuk dilewati. Tak cuma satu dua orang, kebanyakan dari mereka menangis dengan menahan suara. Mereka harus memperlihatkan kalau mereka tidak semanja itu. Meski demikian, hati mereka sudah rapuh.  “Terima kasih untuk perjuangan kalian. Pertarungan hari ini akan jadi sejarah besar bagi Santara terutama Kerajaan Bali. Selanjutnya, kalian bisa berkemas.” Pria itu dengan mudah mengatakannya. Dan pertarungan ini tidaklah berguna. Tak ada jaminan bahwa wilayah Santara dipertahankan. Mereka yang duduk di singgasana hanya ingin unjuk gigi. Harga diri mereka lebih tinggi dibanding nyawa para anggota militer. Semua orang berduka. Melihat darah yang membanjiri tanah kering itu, hati mereka seperti disayat-sayat. Dibanding ketakutan, mereka lebih dipenuhi rasa bersalah. Bersalah karena tak bisa menjaga koleganya masing-masing. Mayat yang berserakan itu akan dibakar. Dan abunya akan dikirim ke rumah keluarganya masing-masing. Sedih dan menyakitkan, tapi begitulah aturan yang berlaku. “Saya tak bisa mengatakan apa-apa. Yang pasti, kalian harus tetap berjuang. Bersedih tentu boleh, tapi jangan biarkan hal itu menguasai kalian. Seseorang yang sudah mati tak akan bisa hidup kembali. Sebesar apapun tangisan kalian, itu tak akan bisa mengubah apa-apa.”ucap komandan Dimas Anggara dengan suara yang berusaha tegas. Dari raut wajahnya, dia juga sangat kehilangan. Awan sudah cukup lama menjadi bawahannya. Profesionalisme bisa menenangkan dirinya. Dia bergegas pergi dan meninggalkan bawahannya tetap disana. Semua orang mulai bergegas untuk mempersiapkan diri. Rasa lapar juga tak bisa dihindari. Dan tinggallah disana Embun, Langit dan Anoda.  Embun sudah kehabisan air matanya. Dibanding mengeluarkan benda itu, wajahnya terlihat murung dan menatap dalam keadaan kosong. Tak berapa lama, Langit pergi dan mengajak Anoda. Perempuan itu ingin sendiri. Biarkan saja biar dia puas. Sedang Langit membereskan barang-barangnya dengan cepat. Dan dia pergi begitu saja. Pergi tanpa bicara apa-apa kepada teman-temannya. Dia berhenti di sebuah tempat yang indah sekali. Tapi keindahan itu seakan tidak nyata. Dia duduk di jalan itu dengan air mata yang menetes perlahan. Dia mengambil buku kecil tempatnya menggambar. Dia melihat wajah Awan yang terlukis disana. Wajah yang tak akan lagi dia lihat. Kenapa harus Awan? Kenapa bukan orang lain saja yang mati? Kenapa harus dia? “Maafkan aku!”pintanya dengan kepala menunduk. Kini tangisannya disusul oleh suara. Dia memukul dadanya keras. Andai saja Awan tidak mengikutinya, maka semua akan baik-baik saja. Semua tidak akan berakhir seperti ini. Bagaimana reaksi Anambas dan Malaka? Arafuru yang kini kehilangan saudara laki-lakinya. Argh, mereka terlalu berharga untuk jadi seorang Wali. Tahun-tahun yang Langit lewati bisa begitu bermakna karena mereka semua. “Kenapa? Kenapa kau harus pergi??”teriaknya pada lautan yang membentang luas itu. Kematian itu hal yang pasti. Tapi itu adalah kepastian yang diusahakan agar terjadi dalam waktu yang lama. Tidak ada yang mau mati secepat mungkin. Kecuali mereka yang memang sudah tidak suka hidup di dunia ini. Kejadian ini membuat semua orang mengalami perubahan mental yang luar biasa. Dan ini menjadi perjalanan yang penuh dengan kekosongan. Perjalanan menuju Kerajaan Sulawesi.  Anoda yang paling bertingkah aneh. Semua tahu kalau dia jadi begitu perhatian pada Embun. Sepanjang perjalanan dia khawatir pada perempuan itu.  “Kau tertarik ya sama Embun?” “Apa? Kau gila?” “Kenapa kau melihat dia sedari tadi?” “Aku cuma kasihan. Dia begitu dekat dengan Awan.” “Kau tidak kasihan pada Langit?” “Hahaha, untuk apa kasihan padanya. Dia pasti lebih kuat dibanding Embun.” “Wah, berarti Embun kau anggap lemah? Dia akan marah jika mendengarnya.” “Makanya tak usah kau katakan. Dim saja.” Ketika sudah sampai di perbatasan, terlihat jelas perbedaan antara satu kerajaan dengan kerajaan lain. Kerajaan Sulawesi termasuk yang paling besar di Santara. Kerajaan Sulawesi fokus pada penjagaan lingkungan dari perusakan lingkungan. Termasuk di dalamnya perburuan daging dan penambangan ilegal. Kegiatan ekonomi yang berlangsung di kerajaan itu antara lain perdagangan komoditas sumber daya alam seperti hasil pertanian, perikanan, pangan, nickel dan kakao. Keasrian daerah itu membuat mata berbinar. Bahkan, jika dibandingkan dengan Sumatera, Sulawesi masih yang paling asri. Seakan oksigen yang dihasilkan daerah itu masuk dalam oksigen terbaik di dunia.  “Besok akan saya umumkan misi kita. Untuk sekarang, beristirahatlah.” “Siap, komandan!!” Semua keadaan masih belum stabil. Tak ada tawa seperti hari kemarin. Beberapa yang sudah pergi membuat mereka tak bersemangat. Seperti seseorang yang kehilangan separuh jiwanya. “Ayolah, kita harus bersemangat!” “Betul. Jika kita begini, bagaimana bisa melewati misi untuk besok?” “Ada yang mau cari makanan?” Semua bersemangat. Kecuali dua orang itu, Embun dan Langit. Mereka pergi begitu saja. Tidak baik juga memaksakan mereka. Selang beberapa menit, Embun berganti pakaian. Dia mengenakan kebaya paling sederhana yang pernah ia pesan bersama Arafuru. Dia tak ingin mengenakan pakaian resminya. Seakan Langit dipaksa penasaran, dia mengikuti Embun dari belakang. Dia tak ingin menghalangi perempuan itu. Dia berjalan dengan wajah datar. Coba saja ada yang menembaknya dengan senapan, dia akan benar-benar mati tanpa perlawanan. Mati sia-sia tanpa perjuangan. Tapi pikirannya tertuju pada Awan seorang.  Tiba-tiba seseorang berjalan di sampingnya. Samudera. “Mau kemana?”tanya Samudera ramah. Keramahan yang tak digubris Embun sedikitpun. Dia tetap berjalan. Samudera tetap mengikutinya. Saat langkah kaki perempuan itu hendak menginjak sebuah kubangan air, Samudera menarik badannya. “Makan disini aja yuk?” Samudera memaksanya untuk ikut. Dan Embun mengikut dengan wajah yang tak berubah sama sekali. Sebuah tempat yang dihuni banyak anak muda. Seperti cafe hits di Indonesia. Samudera mengambil alih semuanya. Dia memesan makanan yang enak dan manis rasanya. Makanan manis bisa meningkatkan mood bahagia di hati seseorang.  “Apa kau masih sedih?”ucapnya mencari topik. Tapi Embun tetap tak menjawab. “Aku juga kehilangan semua temanku.”ucapnya membuat Embun membelalak. Dia terlihat kaget dengan penuturan Samudera. “Wandi dan Nahasa juga tewas di pertarungan itu. Aku ada disini hanya untuk menemani Komandan Mahesa. Demi harga dirinya.” “Kau serius?” “Kehilangan mereka seperti petaka untukku. Aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Bahkan, ketika pertama kali masuk militer, mereka manusia yang paling kubenci. Aku sendiri tidak menyangka, aku menangis saat melihat mayat-mayat itu terbujur kaku.” “Aku turut berduka.”seru Embun dengan wajah sedihnya. Wajah yang membuat Samudera merasa iba. Pasti perempuan itu banyak menghabiskan waktu untuk menangisi temannya itu. “Tidak apa. Ayo, kita makan dulu. Kasihan mereka yang sudah pergi, mereka pasti sedih kalau melihat kita tidak menjaga pola makan dengan baik.” Mendengar itu, Embun menyendok makanan itu ke dalam mulutnya. Dan seketika, dia menangis lagi. Dia ingat pada Awan yang suka melihatnya makan. Awan adalah manusia pertama yang peduli padanya. Bahkan saat semua orang meremehkannya, Awan yang maju paling depan. Memberinya semangat yang harganya tidak bisa dibayar dengan uang. Samudera melihat dengan wajah sedih. Semua orang memang butuh waktu untuk melepaskan duka. Tak bisa secepat kilat.  “Bagaimana kau bisa sampai kesini disaat teman-temanmu sudah tidak ada?” “Komandan yang menyuruh. Dia bilang, aku hampir mati demi mempertahankan hidup Nahasa dan Wandi. Dan dia ingin aku tetap melanjutkan misi ini walau sendirian.” “Bagaimana bisa itu terjadi?” “Bisa saja. Mahesa punya banyak cara.” “Baguslah. Kau punya tujuan kan untuk kesana?” “Iya. Kau sendiri punya tujuan juga?” “Ya. Aku punya sesuatu yang harus dilakukan. Dan hal itu bisa terjadi hanya jika aku sampai di Kerajaan Kalimantan.” “Aku tidak akan bertanya. Aku akan ikut berdoa agar kau bisa mencapainya.” “Terimakasih Samudera.” “Sekarang, kau harus bangkit. Tetaplah mengingat Awan, tapi jangan lupa untuk berjalan maju.” Embun mengangguk paham. Mereka berjalan untuk menikmati hari ini. Sedikit demi sedikit, hati Embun mulai sembuh. Sembuh dari kehilangan yang mendalam. Dia harus bisa berjuang. Sampai ia bisa tahu bagaimana cara kembali ke Indonesia.  Samudera banyak bercerita. Pria itu punya sejuta cerita yang tidak bisa dikelola otak Embun. Seakan dia berbeda dengan warga Santara lainnya. Dia punya pengalaman yang unik dan terasa asing. Sepertinya dia lahir dari keluarga yang berpendidikan. Terlihat jelas cara bicaranya yang tertata dan pengalaman hidupnya tentang suatu permasalahan. *** Langit kembali dengan wajah kecewa. Waktu tahu Embun bersama pria itu, dia bergegas pergi. Niatnya ingin menghibur perempuan itu kandas ditengah jalan. Dia membuka pintu dan mendapati teman-temannya yang sudah kembali. “Kau baru datang? Dari mana saja?” “Kau bersama Embun?” “Ah, iya. Tadi Embun bersamaku. Tapi dia ingin sendiri dulu.”seru Langit mencoba mencari alasan.  “Semangatlah, aku tahu Awan sudah tenang disana.”hibur Anoda. “Aku tahu kok. Aku cuma tidak sanggup melihat keluarganya.”balas Langit sedih. Anoda jadi paham perasaan Langit. Dia punya tanggung jawab besar. Dan hidupnya sudah bergantung pada keluarga Aires. Bukankah terdengar tidak tahu diri jika Langit masih hidup disaat anak kandungnya sudah mati? Bisa saja keluarga Aires murka jika Langit kembali. Paling aman jika Langit tidak kembali pada Walinya.  “Aku harus bilang apa sama adiknya dan kekasihnya? Akan lebih baik jika aku yang mati.” “Tidak begitu, Langit. Semua punya jalannya masing-masing.” “Anoda benar. Jika kau merasa bersalah, kau harus bertahan sampai akhir. Itu pasti akan membuat Awan senang di atas sana. Dewa pasti akan melindungimu.” “Ya, itu benar.”seru Embun yang tiba-tiba muncul. Dia mendekat ke arah Anoda. Merangkul pria itu dengan tangan kirinya. Anoda sampai salah tingkah mendapat perlakuan itu. Sikap Embun yang tampak tidak masalah memeluk pria. Dia tidak sadar jika dia  seorang wanita. Wanita yang membuat pria bisa bereaksi berbeda. “Aku berniat berdoa kepada Dewa. Besok dini hari sebelum komandan datang. Ada yang mau ikut?”tanyanya dengan wajah sumringah. Seketika Langit mengernyitkan dahinya. Pasti perubahan mood Embun bersumber dari pria yang tadi ia temui.  “Aku ikut!” “Aku juga.” “Aku jangan lupa.” “Baiklah. Ayo latihan. Aku butuh kau Anoda, kita ke tempat latihan ya?”serunya dengan senyuman manis di wajahnya. Senyuman yang membuat hati Anoda berdebar.  Anoda mengangguk perlahan. Dan Embun segera bersiap dengan pakaiannya. Pria-pria itu berhamburan ke kamar mandi. Sedang Embun mempersiapkan diri. Dia akan mandi setelah pria-pria itu selesai. “Kenapa kau tiba-tiba begini? Seseorang membuatmu lupa pada Awan?”protes Langit dengan ketegasannya. “Tidak ada yang bisa membuatku melupakan Awan. Aku hanya ingin menunjukkan padanya kalau aku bisa sampai ke Kerajaan Kalimantan.” “Apa kau tidak takut berhadapan dengan sang Wali dan Arafuru?” Seketika Embun berhenti merapikan barang-barangnya. Dia menoleh pada Langit yang tampak seperti orang sekarat. “Aku takut. Bahkan sangat takut.”balasnya kemudian. “Tapi aku akan memikirkan hal itu nanti.” Langit menatapnya kosong.  “Yang terjadi besok, biarlah terjadi besok. Kesusahan besok, biarlah miliknya sendiri. Untuk sekarang, aku hanya bisa berdoa kepada Dewa. Berharap Awan bisa diterima dengan baik dan Sang Wali diberikan kelapangan d**a. Juga pada Arafuru yang kehilangan kakak laki-lakinya, aku harap dia masih bisa tertawa.” Untuk saat ini, doa adalah hal yang bisa dilakukan Embun. Dia tak bisa kembali ke Sumatera hanya untuk mengadakan prosesi dan acara adat untuk kematian Awan. Dia juga tak bisa mengirim surat untuk mereka. Embun hanya bisa mengirim doa singkat dan berharap doa itu dikabulkan oleh Dewa. Dewa pemilik semesta ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD