Chapter 18 - Samudera Alia

1768 Words
Berdoa kepada Dewa adalah hal yang tidak pernah serius Embun lakukan. Tapi sekarang dia benar-benar duduk dengan ketulusan hati. Meminta agar hatinya lapang menerima kepergian Awan.  Pertama kali mereka akan ikut prosesi adat dengan tarian khas disusul dengan penyembahan dengan kepala tunduk. Semua keluh kesah, keinginan dan harapan bisa diutarakan secara personal dari hati. Dewa akan mendengarnya.  Embun berjalan menyusul teman-temannya. Tampak beberapa orang sedang meminta belas kasihan. Mereka yang disebut kaum pelayan. Embun menaruh beberapa keping uang untuk mereka. Dan terlihat jelas mereka sumringah dan bahagia. Embun selalu menerapkan prinsip bahwa memberi akan menambah hal yang kau terima. Atas prinsip itulah dia selalu berusaha mengutamakan orang lain dibanding dirinya. Terutama mereka yang butuh uang. Kerajaan Sulawesi menjadi salah satu yang paling ramai dengan manusia. Tidak heran banyak sekali tempat hiburan di tempat ini. Selain itu, mereka juga penghasil alkohol terbaik di seluruh Santara. Alkohol yang dihasilkan oleh kerajaan Sulawesi termasuk dalam alkohol buatan sendirian. Hasil produksi ini sudah sampai ke luar negeri. Bahkan lebih populer dibanding Tequila dan Vodka. Potensi itu tak pernah dilihat Embun di Indonesia. Jadi, cukup jelas perbedaan Indonesia dan Santara. Setelah berdoa, mereka menikmati waktu dengan melihat pemandangan. Entah mengapa, Embun dan Langit merasa tidak b*******h. Hatinya penuh dengan pikiran pada Awan. Mereka hanya sedang berpura-pura lupa. “Ini,,”ucap Anoda tiba-tiba. Dia tersenyum manis. Semanis madu. Sebotol minuman untuk melegakan dahaga. “Kita pasti bisa melewati misi berikutnya. Jangan terlalu sedih.” “Terima kasih, Anoda.” “Aku boleh minta tolong?”tanya Anoda masih dengan tingkah tidak biasa. Embun mengangguk begitu saja. Lagian Anoda pantas sekali diberikan bantuan. “Tapi ini rahasia kita berdua.” “Eh, kenapa begitu?”protes Langit tidak terima. Protes itu tak diindahkan seorang Anoda. Dia malah menarik tangan Embun menjauh. Mereka berbincang sebentar. Dan seketika, Embun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sikap yang membuat Langit dipenuhi rasa penasaran. Tak berapa lama, perempuan itu kembali dengan senyum tipis di wajahnya. “Dia bilang apa?” “Rahasia.” “Tidak apa. Beritahu padaku.” “Kalau kuberi tahu, namanya bukan rahasia lagi.”tolak Embun sambil berjalan menyusul teman-temannya. Dan tinggalah Langit disana seorang diri. Dia agak kesal tapi mau bagaimana lagi. *** Duka dalam kemiliteran adalah hal yang biasa. Bagaimana tidak, nyawa ini sudah dibayar mahal. Dibayar dengan nama baik, reputasi dan jabatan yang tinggi. Ya, dibalik setiap hal buruk selalu ada hal baik. Kalau mau mendapat sesuatu yang besar maka harus rela mengambil resiko yang tinggi. “Selamat malam untuk kalian.”ucap Dimas Anggara sambil membuka pintu ruang latihan. Ruangan untuk melatih otot dan keutuhan badan.  “Selamat malam, komandan!”ucap mereka serempak dengan posisi siaga. “Saya ada sedikit pengumuman.”ucapnya mengawali. Dia mengatur nafas dengan berdehem sejenak. “Kalian akan kedatangan anggota baru.”lanjutnya dengan singkat. Semua orang saling berpandangan. Mereka memang sudah berkurang dua orang dalam waktu yang singkat. Tapi mereka masih sanggup dengan formasi ini. Apalagi, pasti sulit menerima orang baru di tim ini. “Ini bukan keputusan petinggi tapi keputusan saya sendiri.”lanjutnya untuk membuat semua orang terdiam. Jika sudah keputusan Dimas, mereka akan enggan untuk melakukan protes. “Ayo, silahkan.”ucapnya pada orang itu. Pria dengan badan tinggi, kulit sawo matang dan wajah rupawan. Samudera Alia, pria yang kini tersenyum kepada mereka. Dan terkhusus pada Embun, orang yang paling kaget dengan kedatangannya. “Saya berhutang budi dengan komandannya. Dia tinggal seorang diri. Teman-temannya sudah tewas di perang dengan Australia tempo hari. Saya harap, kalian mau bekerja sama.” “Siap komandan!” “Baiklah. Silahkan lanjutkan lagi.” Seperti biasa, Anoda adalah manusia yang paling sensitif dengan orang baru. Dia punya sifat menebar kebencian di awal pertemuan. Entah untuk menunjukkan kalau dia lebih hebat atau memang dia punya penyakit seperti itu. Dia memandang Samudera dengan tatapan tajam. Dia meneliti dari atas ke bawah. Persis seperti kayak kelas hendak membully adik kelasnya. “Kau bisa lepas dari perang kemarin karena hebat atau cuma sekedar beruntung?”ucapan yang mengawali pembicaraan. Semua orang tak ada yang mau ikut campur. Bukan karena mereka takut, tapi mereka penasaran pada orang baru itu. Dan sifat Anoda yang seperti ini kerap jadi sesuatu yang menarik untuk diperhatian. Ya, semacam hiburan yang diberikan secara gratis. “Atau kau cuma punya wajah rupawan? Jadi kau mengandalkan itu untuk bisa menggoda komandan?” “Orang sepertimu tidak akan tahan dengan kami. Kau sebaiknya memilih tim lain untuk diajak bergabung.” “Tanganmu terlalu mulus untuk disebut sebagai anggota militer. Kau bukan bangsawan kan? Tidak ada bangsawan yang dengan rela hati mau jadi anggota militer.”ucapnya sambil memegang tangan Samudera yang halusnya selembut sutra. Dia mengambil pedangnya untuk memberikan sedikit syok terapi pada Samudera. Dia menaruhnya di leher pria itu. Dia tersenyum sejenak. “Jawab! Cepatlah!”lanjutnya dengan wajah bengis. Samudera menatapnya tajam. Dalam sekali pergerakan, pedang itu hampir terhunus di leher Anoda. Anoda menelan air ludahnya. Tapi dia mencoba untuk tegar agar tak terlalu memalukan dilihat teman-temannya. Pedang itu membawa tubuhnya ke dinding. Dan kini, dia terperangkap disana. Sedang Samudera tersenyum sinis. Dia berjalan menuju ke tempat yang lain berdiri. “Saya berada disini karena kemampuan saya. Jika tak percaya, akan saya buktikan.”ucapnya sambil menunjukkan kakinya sebelah kiri. Kaki yang penuh luka dan masih sedang dalam tahap pemulihan. Semua merinding melihat kaki itu. Dia menutupnya segera. “Dan saya berada disini hanya karena utang budi komandan tim saya. Saya tak ada hubungannya dengan Komandan Dimas. Dan jika kalian bilang komandan saya tidak kompeten, maka saya bisa menepisnya. Dia sudah tak bisa berjalan hanya karena menyelamatkan anggotanya.”lanjutnya tegas. Penjelasan yang membuat semua orang terkesima. Ya, dia cukup hebat saat mengungkapkan semua itu. Apalagi, wibawanya benar-benar luar biasa. Dan mereka bisa menyebutnya si keren yang kini sedang berpidato. “Kulit mulusku tidak bisa jadi penentu apa-apa. Seseorang bisa terlalu indah.”balasnya tegas. Dia berjalan mendekati Anoda yang masih terperangkap pedang. “Jadi sekarang, siapa yang beruntung? Kamu atau saya?” Anoda tak bisa menjawab. Lagi dan lagi, dia berhadapan dengan manusia keras kepala. Samudera langsung pergi melakukan latihan. Sedang yang lain sibuk saling lirik. Mereka juga menertawakan Anoda di dalam hati. Semakin banyak yang lebih baik dari pria itu. Kali ini bukan orang yang pintar di satu bidang saja, tapi di dua bidang sekaligus. Dia ahli menggunakan pedang dan dia pintar berkata-kata. Embun segera latihan. Dia mengambil posisi yang dekat dengan Samudera.  “Apa ini yang disebut kebetulan?” “Mungkin. Tapi percayalah, aku tak pernah memilih untuk masuk tim kalian.” “Ya, aku tahu. Tidak mungkin kau berbohong kan?” Samudera tersenyum. Dia mengayunkan alat berat itu dengan tangan kirinya. Di dalam hatinya dia bahagia. Pasalnya,  masuknya dia ke tim itu karena keinginannya sendiri. Dan Mahesa sengaja menyuruhnya untuk masuk tim mana saja. Tujuan utama Samudera adalah satu tim dengan Embun. “Iya. Apa mau makan mie nanti?” “Tidak bisa. Dia ada janji denganku.”ucap Langit tiba-tiba. Dia datang seperti petir di siang bolong. Kedatangan yang tak diinginkan sama sekali. “Tidak masalah, kita punya lusa.” “Lusa dia  ada janji dengan Anoda. Pria yang tadi hampir kau bunuh.” Bukannya marah, dia malah tertawa. “Ya sudah, kita bisa melakukannya kapan-kapan. Yang pasti, kita harus makan mie bersama.”ucapnya dan pergi keluar dari tempat itu. Embun menatap Langit tajam. “Ada apa denganmu? Tak biasanya kau begini.” “Aku tidak menyukainya.” “Lah, kenapa?” “Tidak ada alasan. Hanya tidak suka.” “Bisa-bisanya kau benci seseorang tanpa alasan.”ucap Embun sambil geleng kepala. Dia kembali melakukan latihan fisik untuk memperkuat dirinya. Langit sendiri tidak paham kenapa dia melakukan hal itu. *** Perempuan itu berjalan sempurna dengan badannya yang ramping.  Dia melakukan diet ketat untuk mendapat bentuk badan yang seperti itu. Kebaya hingga sepatu yang ia gunakan bisa dipastikan harganya luar biasa mahal. Wajar saja, tak lama lagi ia akan menjadi seorang permaisuri. Kedudukan yang membuat semua wanita di dunia iri padanya. Pelayan itu membawa makan siang untuknya. Makan siang yang didominasi buah dan sayuran. Dia akan makan di depan danau buatan yang indah itu. Danau itu dibuat sudah lama dan jadi salah satu tempat terbaik di kerajaan. “Aku tadi melihat kaum pelayan ada di depan gerbang istana. Mulai besok, aku tidak ingin melihat itu lagi.” “Baik nyonya!” “Kapan adikku akan datang?” “Kakak, aku disini!”teriak seseorang dari balik pintu. Perempuan muda yang sangat cantik. Dia menunjukkan tatapan tidak suka pada pelayan yang baru saja keluar. Dia langsung duduk sempurna di depan wanita itu. “Kak, berita itu benar?” “Tentu saja. Kau akan jadi adik seorang permaisuri, Gina.” “Wah, aku tidak menyangka. Kalau sudah begini, aku juga bisa menikah dengan Pangeran Antasari.” “Jangan terburu-buru. Kau harus mengikuti permainan paman. Selagi kita melakukan apa yang dia suruh, kita bisa menjadi lebih tinggi.” Gina memeluk kakak perempuannya itu. Indiri, selir dari Raja Kalimantan yang akan menjadi permaisuri sebentar lagi. Dia berhasil mengambil hati raja sepeninggal istri pertamanya. Istri pertama yang pergi melewati batas antara manusia dan dewa. Ya, dia tak mungkin hidup lagi. Tak ada yang sanggup menghidupkan manusia yang sudah mati. “Dan aku juga ingin sesuatu kak. Izinkan aku jadi penata rias dinasti. Aku ingin berprestasi sebelum menikah dengan Pangeran Antasari.”ucap Gina dengan percaya diri. Khayalan yang terlalu tidak masuk akal. Pertama, Pangeran Antasari tidak mengenal Gina. Dan yang kedua, untuk jadi penata rias di kerajaan, butuh waktu yang cukup lama. Tidak hanya waktu, tapi juga kemampuan. “Minta tolonglah pada raja. Pasti raja akan melakukannya.” “Tidak semudah itu. Aku perlu melakukan yang baik dan tidak banyak menuntut. Kau tidak mau kan kalau keputusan raja berubah.” “Iya kak, maafkan aku.” “Hmm, kalau begitu kita harus bersiap berkunjung ke Kastil Tua. Aku ingin kau menemaniku.” Gina mengangguk paham. Indiri sering sekali pencitraan dengan menunjukkan bahwa dia perhatian pada semua hal di Kerajaan Kalimantan. Citra yang baik bisa menumbuhkan rasa simpati dari rakyat-rakyat bodoh itu. Indiri merapikan pakaiannya dan menemukan keanehan di pakaiannya. Dia murka dengan wajahnya yang memerah. “Siapa yang menyiapkan pakaian ini?”teriaknya seperti orang kesurupan. Semua orang di tempat itu tahu kalau selir raja yang satu ini tak sebaik selir yang lain. Mereka sangat menyayangkan jika dia yang jadi permaisuri. Tapi mau bagaimana lagi, raja terlanjur mencintainya. “Sa..Saya nyonya.” “Keluar dari sini! Mulai sekarang, kau dipecat.” Sudah berapa pelayan yang dipecat bulan ini? Semua membicarakannya di belakang. Mereka sangat berharap jika Indiri tak berhasil jadi selir raja. Andai itu bisa jadi kenyataan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD