Chapter 27 - Java Kingdom 2

1101 Words
Takdir adalah sesuatu yang abstrak tapi sering jadi pembicaraan manusia. Di Kerajaan Jawa terjadi hal-hal menyimpang yang baru-baru ini merusak tatanan hidup masyarakat. Perkumpulan manusia yang tergabung dalam organisasi gerakan pengacau. Mereka menyebut dirinya John R Club. Diketuai oleh pria yang sering mengacaukan semua orang. John R menggerakkan anggotanya dalam menguasai satu daerah besar di Kerajaan Jawa. Dia berhasil mendapatkan upeti dan upah tempat dari orang-orang yang menggunakannya. Padahal sesuai peraturan hal itu tidak benar. Dan pihak kerajaan tidak berani mengusik mereka. “Tugas kalian kali ini tidak terlalu spesifik. Kalian cukup mengurangi kematian di daerah itu. Pasalnya, sejak Geng John R menguasainya, sering terjadi kematian yang sudah diketahui dari mana asalnya. Bukan tidak tahu siapa pelakunya, tapi dinasti kerajaan tidak ingin membuat masalah dengan mereka.” “Komandan!”ucap Samudera sambil mengangkat tangannya. “Iya, silahkan.” “Kenapa bisa pihak kerajaan takut? Bukankah mereka yang punya kuasa?” “Faktanya, kekuatan mereka melebihi batas. Dan ada sesuatu yang dirahasiakan pihak kerajaan tentang hal itu. Kalian tak perlu mempermasalahkan hal itu. Yang paling utama adalah mengurangi angka kematian di daerah itu. Semua mendengarkan dengan seksama. Terutama soal rencana Dimas untuk melakukan patroli setiap malam. Jika ada yang dalam kondisi parah, mereka harus menyelamatkannya. Sejujurnya pihak kerajaan tidak peduli dengan nyawa itu. Dia hanya peduli dengan reputasinya di Santara. Angka kematian kerap jadi penilaian keamanan setiap kerajaan. Dan jika tidak aman, tak akan ada yang mau berkunjung ke kerajaan itu. Semua anggota tim bersiap untuk pindah lokasi. Mereka akan tinggal di daerah itu. Daerah yang dikuasai oleh Geng John R. Mereka tak terlalu takut karena diluar sana kematian pernah hampir menguasai mereka. Nyawa mereka pernah hampir menghilang dari muka bumi ini. “Ternyata misi kali ini juga tidak terlalu berat.”komentar Anoda sambil menatap jalanan yang ramai dengan manusia. “Jangan begitu. Aku takut malah terjadi sebaliknya.”protes Embun kesal.   “Santai saja. Ada abang disini.” “Berisik!” Daerah itu memang terlihat menyeramkan. Bahkan orang-orangnya juga tak terlihat sumringah seperti manusia lain di luar sana. Dan lagi, tempat itu tak lagi ramai ketika sudah pukul 8 malam. Ketakutan menghantui mereka. Ketakutan yang meresahkan semua orang. Akhirnya misi dimulai ketika sudah pukul 7 malam. Mereka tak boleh lengah dan harus berpatroli di setiap sudut daerah itu. Tim X dibagi menjadi beberapa bagian. Dan setiap bagian terdiri dari dua orang. Embun bersama dengan Langit memiliki misi di suatu tempat yang tidak terlalu jauh ke dalam. Ya, mereka mengutamakan perempuan di tempat yang tidak terlalu menyeramkan. Sepanjang perjalanan tak ada yang terjadi. Rupanya malam ini akan sangat membosankan. “Aku ingin berbagi rahasia.”ucap Langit bicara setelah mereka berpatroli satu putaran di tempat yang sama. “Informasi tentang Indonesia berada di salah satu kuil di Kerajaan Kalimantan. Aku tidak tahu kuilnya dimana. Tapi yang pasti, kuil itu bisa menunjukkan kebenaran pada kita.” “Bagaimana kau tahu hal itu? Kau yakin? Itu bukan informasi hoaks kan?” “Saat kita di Kerajaan Sulawesi, aku bertemu seorang penyintas.” “Hah? Aku juga.” “Kau serius? Bagaimana bisa ini kebetulan?” “Aku bertemu seorang anak laki-laki remaja yang sedang duduk di depan tempat tinggal kita.” Tidak mungkin. Bagaimana bisa orang yang bertemu dengan Langit sama dengan yang ditemui Embun di WMM? Ya, anak remaja yang Embun temui saat dia membantu Anoda bertemu Biella. Kebetulan macam apa ini? “Aku juga bertemu orang yang seperti itu?” “Hah? Tidak, tidak. Bisa saja orangnya berbeda.” “Apa mukanya terlihat sendu? Rambutnya ikal?” “I,,iya.” Embun menghela nafas panjang. Dia berusaha mengingat lagi pertemuannya dengan anak laki-laki itu. Jelas sekali, ciri-cirinya sama. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka bertemu orang yang sama. Bagaimana bisa penyintas seperti dia menemui Embun dan Langit di waktu yang tidak jauh berbeda? “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.” “Sebenarnya,,”ucap Embun memulai. Dia sendiri merasa bersalah sudah membuat rahasia yang disimpan dari Langit. Padahal Langit mengatakan banyak hal padanya. Seharusnya Embun juga melakukan hal yang sama.  “Aku mau jujur. Aku mendapat banyak informasi yang mungkin saja belum kau ketahui.” Langit kemudian tersenyum. Senyum yang memiliki sejuta makna. Entah apa maksudnya. “Kenapa?” “Sudah lama aku tahu kalau kau menyimpan sesuatu. Tidak kusangka kau akan jujur sekarang.” “Kau tidak penasaran?” “Penasaran. Tapi aku tak ingin memaksamu. Kau bisa mengatakannya kapanpun kau mau.” Dalam perjalanan yang sepi itu, Embun mengungkapkan semua yang dia ketahui. Aktivitas yang tadinya membosankan sekarang tidak terasa bosan. Bulan menemani langkah mereka. Ditambah dengan sinar lampu yang teriknya cukup untuk menuntun jalan agar tidak terjatuh.  Hingga akhirnya pagi datang. Dan bulan berganti jadi terbitnya mentari. Udara pagi yang dingin menusuk kulit. Dan kantuk mulai datang. Pekerjaan mereka sudah usai. Setidaknya malam ini tidak ada berita kematian. Begitulah yang ada di pikiran mereka. Setelah menikmati minuman hangat, mereka terlelap dalam tidur. Setelah tiga puluh menit berlalu, sebuah kegaduhan terjadi. Kegaduhan yang membuat mereka terbangun. Walau dengan mata yang masih belum bisa terbuka lebar, mereka segera melihat perihal apa yang terjadi.  “Tolong, seseorang menemukan mayat lagi.” “Mayat perempuan yang hanyut di sungai.” “Bagaimana ini?” Semua ucapan itu berhasil membuat mereka tidak mengantuk lagi. Bagaimana bisa mereka luput dari tempat itu? Dan bahkan tidak ada suara teriakan tadi malam. Mereka segera bergegas dengan membawa semua peralatan yang akan membantu.  Perjalanan kesana cukup sulit. Dan memang daerah itu tidak masuk dalam area patroli tadi malam. Walaupun ujung dari sungai mengarah ke kota, tapi mayat ditemukan di sisi lain yang jarang dilewati manusia. Hanya kebetulan saja seorang petani hendak pergi dan melewati jalan itu. Dan ia menemukan mayat wanita muda yang terkapar di sisi sungai. “Dimohon agar semua menyingkir!”ucap Anoda tegas. Salah satu temannya mulai mengecek mayat itu. Seorang anggota yang punya kemampuan di bidang kesehatan. Ya, dia sudah mendapat gelar selama ini. Dan keputusannya untuk jadi anggota militer adalah keinginan orang tuanya. Keinginan yang tak bisa dia hiraukan.  “Bagaimana?”tanya Embun penasaran. “Dia belum lama mati. Hanya saja, kematiannya bukan karena hanyut dalam aliran sungai. Ada bekas sayatan pisau di perutnya. “Argh, sial! Kenapa kita bisa kecolongan?”gumam Embun kesal. Mereka berada disana untuk memastikan mayat itu tidak diganggu gugat. Dan tak lama, gerombolan manusia lewat dengan kegagahannya. Dan saat mereka lewat, semua orang terdiam. Pria-pria yang berpenampilan luar biasa. Mereka mengenakan pakaian yang serba hitam. Ada beberapa perempuan yang juga mengenakan kebaya berwarna hitam. Mereka tampak seperti gerombolan manusia yang ingin pergi melayat. Embun melirik dengan tatapan tajam. Dia semakin yakin. Mereka adalah orang dibalik pembunuhan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD