“Kenapa sih? Kenapa orang-orang begitu takut pada mereka? Memangnya mereka siapa?”protes Embun dengan wajah yang penuh emosi. Dia ingin sekali menghadapi manusia-manusia sok hebat itu.
“Aku juga kesal. Bagaimana bisa mereka seenaknya.”
“Kalian sama saja. Ini semua kesalahan kita. Jangan mencari alasan untuk membenarkan diri sendiri.”ucap Langit kesal. Langit paham sekali kalau tim ini sedang tidak maksimal. Mereka lengah karena mengira tidak terjadi apa-apa.
“Tetap saja. Semua ini salah John R dan anggotanya. Mereka semua sangat menyebalkan.”
“Tapi kita tidak bisa mencari masalah dengan mereka. Bahkan dinasti saja tidak berani pada mereka. Apalagi kita yang hanya anggota militer yang bisa saja di pecat di esok hari.”
Semua berseteru dengan tanggapan masing-masing. Mereka sangat menyayangkan kematian perempuan tadi. Apalagi perempuan itu termasuk bunga desa yang diidam-idamkan pria di tempat ini.
“Begini saja, mulai sekarang kita harus lebih awas. Jika sudah begini, tak mungkin kita bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Jadi, kita lebih siaga mulai sekarang.”ucap Samudera mencoba menenangkan.
“Siap!!”
Untuk tidur lagi, Embun sudah tidak berselera. Dia merenungi semua perbuatannya. Mereka tidak serius dalam menjalankan tugas dari Dimas. Beginilah hasilnya jika sepele pada suatu tugas dan tanggung jawab.
Semua orang kembali tidur seakan tidak peduli. Embun memilih menikmati matahari yang semakin terik. Walau badannya lemas karena tidak tidur, dia masih kepikiran dengan manusia dibawah naungan John R itu.
Tiba-tiba saja dia melihat Samudera bergegas pergi entah kemana. Karena penasaran dia mengikuti dari belakang. Dia menyayangkan perbuatannya itu, tapi penasaran tak menghentikan langkahnya. Jika ingin tahu, seharusnya Embun berterus terang saja pada Samudera. Tapi kali ini dia ingin melihat dari jauh.
Dia masuk ke sebuah restoran yang terlihat mewah. Dia terlihat sedang menunggu seseorang. Seketika Embun ingat pesan dari Langit. Pesan agar tidak terlalu percaya pada orang lain. Walaupun orang itu Samudera sekalipun.
Embun bingung memikirkan cara untuk masuk ke tempat itu. Hingga matanya tertuju pada sebuah butik pakaian. Dia bergegas membeli pakaian dengan sisa uang yang dia miliki. Dia sangat penasaran dengan identitas Samudera. Apalagi perbuatan Samudera ketika berhadapan dengan Ketua Malaka. Bagaimana bisa? Ya, Embun sangat ingin tahu.
Dia merapikan diri di depan cermin. Dan berharap Samudera tidak mengenalinya. Dia menggerai rambutnya yang hitam panjang. Dia berjalan bak permaisuri. Tak sulit melakukan itu. Dia masih ingat semua pelajaran yang diterima dari Arafuru.
Dia duduk tepat di belakang tempat duduk Samudera. Dia memesan minuman dan makanan yang manis. Walau harganya mahal, Embun masih punya sisa uang. Ya, uang yang cukup untuk membayar semua pesanannya.
Tak lama, seseorang datang. Seseorang yang jika dilihat dari wajahnya, dia termasuk kaum bangsawan. Dia duduk setelah tersenyum pada Samudera.
“Salam, pangeran!”ucapnya dengan hormat. Perkataan yang membuat Embun terbelalak. Bagaimana bisa Samudera seorang pangeran? Tidak mungkin. Apakah mereka sedang latihan untuk sebuah film?
“Tidak usah begitu. Apa semuanya baik-baik saja?”
“Ya, seperti yang pangeran lihat di koran. Semua itu fakta.”
“Hmm, aku sangat sedih hingga tak bisa berpikir.”
“Pangeran bagaimana? Anda baik-baik saja kan? Wajah anda terlihat makin lusuh.”
“Tidak usah khawatirkan saya. Saya hanya ingin menitipkan surat untuk kakak dan Hujan. Tolong pastikan agar tidak ada yang mengetahui surat ini. Saya tidak ingin mereka semakin khawatir.”
“Baik pangeran!”
“Kalau begitu, kau bisa pergi sekarang.”
“Baik. Saya berharap kita masih bisa bertemu lagi.”
“Aku pastikan itu. Aku juga masih ingin bertemu kakak dan Hujan. Aku tak akan mati semudah itu.”
“Baik, pangeran! Saya undur diri.”
Pria itu segera pergi. Dia juga kelihatan mengawasi sekitar. Setelah itu, Samudera hanya diam sambil menikmati sisa minuman di gelasnya.
Embun bertanya-tanya dalam hati. Dia menatap gelas di atas meja itu. Hatinya sedikit iba pada keadaan Samudera. Mungkin saja keinginannya sampai di Kerajaan Kalimantan adalah untuk bertemu keluarganya. Dia juga punya misi yang sama seperti Embun dan Langit.
Tiba-tiba saja, terdengar isak tangis dari pria itu. Dia mengusap wajahnya dengan sapu tangan. Dia selalu ingin terlihat ceria. Namun pada kenyataannya, dia memiliki hati yang rapuh. Walau dia seorang pangeran, dia pasti punya hal berat. Dan Embun mengira kalau gelar pangeran itu dimiliki oleh banyak orang. Hingga dia bicara dengan Anoda saat sedang berpatroli di malam hari. Kebetulan mereka tergabung di dalam satu tim.
“Gelar pangeran?”
“Iya. Siapa saja yang bisa memilikinya? Anak pejabat kah? Atau anak bangsawan? Soalnya, setahuku Awan tidak mendapat gelar itu.”
“Kau bodoh ya. Gelar pangeran hanya untuk anak seorang raja. Sedangkan untuk putri raja diberikan gelar putri. Makanya putri dari Raja Bali disebut Putri Ida Ayu. Jelas kan?”
“Oh, begitu..”ucap Embun dengan pikiran tak menentu. Di kepalanya masih terngiang-ngiang ucapan pangeran yang dilontarkan untuk Samudera.
“Apa kau tahu putri dan putra dari setiap raja?”
“Jelas tidak. Kerajaan tidak mengekspos hal itu. Terkadang, mereka melakukannya ketika anaknya sudah berusia matang. Dan biasanya, yang diekspos adalah orang-orang yang akan jadi penerus kerajaan. Jadi tidak semua keturunannya di ekspos ke masyarakat.”
“Oh, begitu….”
“Kenapa memangnya? Kau begitu penasaran.”
“Hanya ingin tahu. Aku hanya membaca sekilas koran kemarin. Ya, itu sedikit mengusikku.”
“Koran tentang pelantikan ratu?”
“Hah, bukan itu sih.”
“Oh, kukira. Soalnya, aku sangat tidak suka dengan calon ratu itu. Dilihat dari wajahnya, dia seperti membawa hal buruk pada Santara.”
“Memangnya kau cenayang?”
“Aku bukan cenayang. Tapi mataku bisa menilai seseorang. Ya, itu cuma penilaian personal.”
Mereka berjalan dengan mata meneliti ke semua arah. Dipastikan bahwa misi kali ini akan sangat melelahkan. Terutama karena hal ini dilakukan di malam hari setiap hari. Argh, menguras tenaga, mental dan kejiwaan.
Embun berjalan dengan pikiran mengarah pada Samudera. Semua pasti kaget saat tahu Samudera seorang pangeran. Mungkin saja dia mengalami sesuatu yang buruk hingga dia harus menjadi anggota militer. Dan yang terutama, dia sedang bersiap untuk balas dendam pada seseorang.
Anoda berjalan tegak dengan sorot mata mengarah pada semua sisi. Hingga dia berhenti di sebuah gang sempit. Dia mengajak Embun untuk mempercepat langkah kakinya. Mereka berjalan perlahan dan menemukan seorang pria yang bersimbah darah. Embun langsung mengecek nadinya.
“Dia masih hidup, Anoda.”
“Cepat. Kau ke markas. Minta bantuan.”
“Kau tidak apa disini sendirian?”
“Tidak. Aku punya senjata yang siap menghancurkan jantung lawan. Daripada kau disini, kau hanya tinggal mengantar nyawa.”
“Baik.”
Embun bergegar pergi dengan langkah kaki yang cepat. Dia harus berhasil menyelamatkan nyawa orang itu. Dia pasti melihat siapa membunuhnya. Itu bisa memberi Embun sedikit harapan. Harapan untuk menyelamatkan tim X dari misi sederhana ini. Hatinya sedikit mekar. Selalu ada jalan untuk mereka yang mau berusaha. Meski misi ini seberat menghadapi perang antar wilayah, tapi jika berusaha keras, mereka pasti dapat menghadapinya dengan baik. Ya, tidak ada yang mustahil.