“Dia masih bisa diselamatkan.”satu kata yang dilontarkan pihak kesehatan. Dan itu membuat tim X lega. Setidaknya mereka bisa menemukan bukti baru. Walau tak bisa berkuasa atas John R, mereka bisa menemukan solusi jika memang terbukti mereka yang melakukan pembunuhan berantai itu.
“Kalian bisa masuk. Dia sudah sadar tapi masih butuh istirahat.”
“Terima kasih, dokter.”
Mereka bergegas masuk dengan langkah yang penuh hati-hati. Tidak ingin mengusik dan menakut-nakuti pasien yang sedang dalam pemulihan itu.
“Apa yang melakukan ini geng yang meresahkan itu?”
Pria itu hanya menyipitkan matanya bingung.
“Apa benar mereka?”
Dia menggeleng. Dia tak bisa banyak bicara karena masih terlalu lemah. Tak ada informasi penting yang mereka dapat. Gelengan kepala tak membuktikan apa-apa. Embun tidak punya bukti apapun. Dia merasa putus asa. Terlihat jelas di wajahnya.
Samudera dan Langit kembali latihan. Latihan yang tidak ada gunanya untuk misi kali ini. Mereka menjalani hari yang sama. Semua tampak sama. Dan kelihatannya, pembunuh berantai itu sedang libur. Dalam tiga hari yang sudah dilewati, tak ada lagi berita tentang pembunuhan. Tetapi Langit tak bisa melepaskan kecurigaannya. Mereka bersikukuh agar tetap waspada. Kantung mata jadi hadiah spesial dari misi kali ini. Semua orang berjuang dengan mata yang tak bisa ditahan dari kantuk. Lama-lama mereka juga bosan dan kelelahan menghadapi misi yang seperti ini.
Dan di malam yang keempat, Samudera bersama dengan Langit untuk berpatroli di bagian pasar perkotaan. Mereka berdua tampak awas di setiap sisi. Dan yang pasti, telinga harus dipasang baik-baik. Berjaga-jaga semisal ada orang yang berteriak meminta pertolongan.
Setelah lima kali putaran, kaki Langit terlihat luka. Dia berhenti karena sudah tidak sanggup. Luka yang dia tahan beberapa hari yang lalu tampak lebih parah. Samudera ikut berhenti demi solidaritas.
“Kenapa lagi?”
“Berjalan saja lebih dulu. Aku hanya perlu istirahat sebentar.”
Samudera mendekati dan duduk. “Bagaimana mungkin? Aku akan disalahkan jika kita berjalan sendiri-sendiri. Kalau ada apa-apa, aku juga yang kena masalah.”seru Samudera sambil mengambil sebuah obat luka dari dalam tasnya. Dan segera memberikannya pada Langit.
“Terima kasih.”
“Argh, ini semua membosankan. Tapi tetap saja sebuah misi. Setidaknya selama kita ada disini sudah sedikit yang meninggal. Betul tidak?”
“Hmm, selagi tidak ada yang meninggal. Aku hanya takut tiba-tiba ada kejadian lagi.”
“Wah, jangan begitu. Pikiran kita harus positif agar hasilnya tidak mengecewakan.”
Langit hanya mengangguk sedikit. Tidak perlu menunggu lama, mereka kembali berjalan. Berpatroli seperti biasa. Dan memang, tak ada yang terjadi. Semua terlihat aman dan sentosa. Walau kadang-kadang Geng John R berjalan dan bepergian di malam hari, tapi mereka hanya menikmatinya dengan gitar dan lagu. Tidak ada kejadian yang aneh.
Sampai pagi datang semua masih sama. Sampai akhirnya sebuah pengumuman menggemparkan mereka.
“Ditemukan 10 orang meninggal di daerah Kantum. Mohon kepada semua orang untuk lebih berjaga. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan anda.”
Pemberitaan yang membuat merinding sekujur tubuh. Semua kaget mendengarnya. Apalagi jumlah kematian tidak main-main. Sepuluh orang tak mengubah apa-apa. Bahkan hal itu bisa membuat mereka gagal melewati misi di Kerajaan Jawa.
“Sial! Tidak mungkin.”keluh Langit dengan suara kerasnya.
“Bagaimana itu bisa terjadi? Kita sudah begitu yakin. Bahkan aku sampai tidak tidur.”protes Anoda tidak terima.
“Sial! Sudahlah, kita mati aja.”keluh Embun seakan tidak punya harapan.
“Tidak! Tidak boleh begitu.”ucap Samudera tegas. “Ayo, kita bicara di dalam.”ajaknya ke suatu ruangan kosong yang ada disana. Mereka berkumpul atas arahan Samudera. Sesungguhnya semua orang sudah hilang harapan. Namun demi masa depan, Samudera mulai mencari cara.
“Kita harus berani. Pertama, kalian punya kecurigaan pada siapa?”
“Apa itu penting?”ucap Embun sembarang.
“Penting. Daripada kita menghindari kematian, lebih baik kita mencari sumbernya.”
“Pelakunya sudah jelas. John R Club!!”ucap Embun tegas.
“Iya, orang itu paling memungkinkan.”ucap semua orang sepakat. Kesepakatan akan terlihat seperti kebenaran. Begitulah ketika musyawarah jadi sesuatu yang utama.
“Baiklah. Jika begitu, kita akan langsung bertemu dengan John R Club.”ucap Samudera begitu mudah. Apakah dia tidak berpikir dengan baik? John R Club, geng paling ditakuti di Kerajaan Jawa. Mereka pasti punya kemampuan yang sangat luar biasa. Tidak hanya luar biasa, tapi juga belum tentu bisa dihadapi.
“Jangan bodoh! Mau cari mati?”
“Bukan sekarang saatnya bertingkah sok hebat.”
“Sudahlah. Kita diam saja menunggu keputusan.”
“Keputusan sudah bisa ditebak. Kita pasti akan gagal.”ucap Samudera seperti menakut-nakuti.
“Kenapa kau begitu yakin?”
“Jelas saja, angka kematian tidak turun secara signifikan. Jelas sekali, kita hanya tinggal nama di dunia kemiliteran Santara. Kalian tidak usah berharap banyak.”
“Jadi apa maumu?”
“Ini bukan keinginan sepihak. Aku ingin kita berhasil. Kalian harus paham itu.”
“Iya. Aku ingin dengar rencanamu.”
“Kita segera menemui John R Club.”
***
Mereka menemukan beberapa orang duduk di luar dengan gelas yang berserak. Tempat itu tampak kumuh jika dilihat dari luar. Dengan keberanian yang dikumpulkan, Samudera berjalan perlahan. Dia memasang wajah ramah. Tidak ingin ada perlawanan yang luar biasa. Apalagi mereka datang tidak ingin mencari masalah. Mereka hanya ingin menerima kejelasan.
“Ada apa?”ucap salah satu orang yang paling besar diantara mereka.
“Apa bisa bicara dengan pemimpin tempat ini?”
Mereka tampak saling lirik. Memang tidak nyaman saat menerima tamu yang tidak diundang. Saat menyadari hal itu, Samudera langsung mengambil kartu identitasnya.
“Saya anggota militer. Dan kami sedang bertugas di tempat ini. Saya hanya ingin mengajak bicara.”
“Hmm, sebentar.”
Tak lama, seseorang datang. Pria berbadan kurus yang tampak rapi.
“Saya sudah membayar pajak. Apa ada yang penting lagi?”
“Bukan tentang itu. Saya ingin bicara tentang pembunuhan yang sering terjadi.”
“Hmm, itu bukan urusan kami. Saya harap, kalian segera pergi.”
“Tapi??”
“Sebelum saya pakai cara kekerasan!!”teriak pria itu keras. Samudera menghela nafas panjang. Kemudian dia hendak pergi, tapi Embun tiba-tiba tersungkur jatuh. Topi yang dia pakai terlepas dan dia pingsan. Anoda panik dan mencoba menyadarkannya.
“Embun! Bangun Embun! Kau ingin mati disini?”teriak Anoda mengguncang-guncangkan tubuhnya. Masih depan kepanikan, Samudera mendatangi nya. Memegang kepalanya yang kini panas.
“Dia perempuan?”tanya perempuan yang tadi sibuk bermain kartu di tempat duduk.
“I-iya.”
“Perempuan masuk militer?”
“Ceritanya panjang. Apa boleh kami meminta air putih?”tanya Samudera.
“Baik. Tunggu sebentar.”ucap perempuan itu. Dia segera pergi.
“Kau gila? Kalau Embun diracun bagaimana?”
“Diamlah. Embun harus sadar dahulu.”
Pada akhirnya, mereka menunggu Embun sadar di tempat itu. Perempuan itu terlalu banyak begadang. Sampai dia harus tumbang hari ini. Begadang memang bisa menghancurkan hidup manusia. Seperti yang terjadi pada Embun hari ini. Apalagi dia tidak sadar diri. Tumbang di tempat ini bisa membuatnya mati kutu.