Chapter 30 - Who Is The Killer?

1471 Words
Dia terbangun dengan mata yang masih sulit memandang seluruh sekitarnya. Dan yang mengagetkan, dia melihat seorang perempuan sedang duduk tak jauh dari tempatnya tidur. “Sudah bangun?”tanya perempuan itu. “Aku dimana?” “Di markas John R Club. Apa kau lupa?” “Kalian menculik ku? Teman-temanku dimana?” “Bodoh. Untuk apa kami menculikmu. Tidak ada gunanya. Mereka sedang pergi mencari bantuan. Kau sudah tidak sadar selama dua jam lebih. Mereka ingin memberitahu tim mu.” “Argh, sial!”keluh Embun sambil memegang kepalanya. “Hmm, sebenarnya apa yang kalian lakukan?” “Maksudmu?” “Apa yang kalian lakukan dengan geng ini. Bukankah kalian yang melakukan pembunuhan di luar sana.” Perempuan itu malah tertawa. “Kau sedang berhalusinasi?” “Jika bukan kalian, lalu siapa?” “Itu bukan urusan kami. Dibanding itu, aku sangat penasaran dengan satu hal.”ucapnya. “Bagaimana seorang perempuan seperti kau jadi anggota militer?” “Tinggal berjuang dan berusaha.” “Kukira perempuan tak akan diterima.” “Hey, kaum kita tentu bisa diterima. Dengan syarat, kau punya kemampuan.” “Banyak cerita di luar sana, mereka akan memecat perempuan dengan sengaja. Alih-alih berhasil menjabat, mereka akan gagal di posisi tertentu.” Perempuan itu benar. Pekerjaan Mandala, ketua kemiliteran pernah hampir menggagalkan niat Embun. Jika Embun adalah orang biasa, maka dia pasti akan gagal. Beruntungnya, dia mengenal Samudera Alia. Pria yang punya kuasa itu. Pria yang diberi gelar Pangeran. Entahlah, dia pasti anak kandung dari salah satu raja di Santara. “Aku pernah hampir mengalaminya. Tapi usaha besar pasti akan membuahkan hasil.” “Argh, kau membuatku iri.” Embun tersenyum. “Namamu siapa?” “Larasati. Kau?” “Embun.” “Nama yang bagus.”ucap Larasati. “Jika bukan kalian yang melakukan hal itu, lalu siapa?”gumam-nya lagi. “Tapi sebenarnya, aku bersyukur pelaku itu bukan kalian. Setidaknya kami bisa menangkapnya.” Larasati terlihat kaget dengan penuturan Embun. “Kalian diberikan tugas seperti itu?” “Iya. Tugas yang sulit bukan?” “Hmm, ku rasa bos bisa membantu kalian. Tapi dia sedang tidak ada disini.” “Apa aku boleh tahu dia dimana?”tanya Embun serius. Keseriusan yang membuat Larasati terkesima. “Ayolah, sekarang kita berteman. Selama aku di Santara, belum pernah ku temukan orang yang seperti kau.”goda Embun sebisanya. Ya, ini adalah teknik mempengaruhi orang lain. Semuanya demi keuntungan semata. Apalagi, Larasati terlihat seperti perempuan muda yang ingin menemukan jati dirinya. Semua orang pernah mengalami masa seperti itu. “Kau yatim piatu?”tanya Larasati tidak nyambung. “Aku seorang penyintas.”ucap Embun jujur. Dia ingin mengambil resiko. Biarkan saja, sepertinya Larasati bukan orang yang benci pada penyintas. Dan seketika, perempuan itu memeluk Embun. Dia bahkan menangis. Tangisan yang seperti suara anak kecil. “Ada apa?” “Maafkan aku, aku terbawa suasana.” “Tidak. Aku bisa mengerti kesedihan seseorang.” “Dulu, aku punya sahabat seorang penyintas. Dalam hidupnya, dia tak pernah merasa bahagia. Aku selalu ada untuknya, tapi dia malah menginginkan yang lain.” Pernyataan yang membuat jantung Embun berdetak lebih cepat. Dia bisa memahami isi hati Larasati. Kehilangan orang yang disayang adalah ketakutan terbesar manusia. Ketika orang itu tak bisa lagi dilihat di dunia ini. Semua seperti kepahitan yang tiada ujungnya.  “Tenang, kau tidak perlu memikirkannya terus-terusan. Sama seperti orang yang mati, setiap pertemuan pasti ada perpisahan.” “Dia terlalu bodoh, Embun. Dia ingin kembali ke Indonesia.” “Hah? Lalu, apa dia bisa kembali?” “Dibanding kembali, dia mati mengenaskan. Mati tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.” Tangan Embun gemetar. Hatinya sakit. Semua orang yang ia temui berkata bahwa keinginan kembali ke Indonesia adalah kesia-siaan belaka. Semua itu hanya keinginan yang tak bisa terealisasi. Banyaknya pengalaman hidup orang lain membuat Embun semakin memendam tujuannya. Dia mulai pesimis bisa kembali ke Indonesia dengan jiwa dan raga yang utuh. “Sabar, sabar!”hibur Embun sambil menepuk-nepuk punggung Larasati. Tak lama, Langit dan Samudera datang. Disusul Anoda yang kini membawa obat-obatan. Mereka sampai dengan wajah lelah  dan keringat mengucur deras di wajahnya.  “Kau sudah sadar. Kukira sesuatu terjadi pada kesehatanmu.”ucap Langit panik. Dia memegang dahi Embun yang memang bersuhu normal. Dia tidak mengalami masalah apapun. Mungkin lelah itu yang membuatnya tidak sadarkan diri sejenak. Mereka bergegas pulang dengan hati yang tidak tenang. Terutama Embun yang tidak bisa mengerti akan tujuannya sekarang. Dia tidak yakin akan kemana arahnya. Kemungkinan paling besar, dia tak akan bisa kembali ke Indonesia. “Ada apa?” “Hah?” “Wajahmu seperti sedang memikirkan sesuatu.”ucap Langit saat duduk disampingnya. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Dan Embun banyak diam sambil melihat awan dari kaca mobil. Saat Langit mengatakan hal itu, Embun langsung sadar.  “Astaga, bagaimana aku bisa lupa.”keluhnya dengan suara keras. Semua orang melihatnya dengan bingung. “Ayo, kita harus ke alamat ini. Untung bertemu dengan John R.” Semua saling melihat dan memikirkan maksud ucapan Embun. “Kau gila?” “Aku serius. Aku sudah yakin bahwa bukan mereka pelakunya. Kita harus mencari pelakunya sebelum waktu misi selesai. Jika kalian memang ingin kita bisa melanjutkan misi di kampung halaman.” Kampung halaman yang dimaksud Embun adalah Kerajaan Sumatera. Mereka harus kesana sebelum ke Kerajaan Kalimantan. Sudah semakin dekat ke tujuan. Mereka harus berusaha sekuat tenaga. Ya, untuk hasil yang maksimal dibutuhkan usaha yang luar biasa. Bukan usaha yang setengah-setengah. Mobil melaju ke alamat yang diberikan Embun. Alamat yang ia peroleh dari Larasati. Sebelum mereka pergi, Larasati memberikannya dengan harapan Embun bisa mencapai tujuannya. Jika Embun berhasil, Larasati akan mencoba untuk jadi anggota militer. Setidaknya dia punya role model seorang perempuan. Kejadian langka yang belum pernah terjadi dalam sejarah Santara. Dan sampailah mereka ke sebuah tempat hiburan yang dikhususkan untuk orang tua. Baiklah, ini terdengar aneh. Kenyataannya, ada tempat yang seperti itu. Tempat yang menjual makanan rendah kalori, sehat dan memiliki gizi seimbang. Pelanggannya kebanyakan orang tua. Mereka enggan untuk masuk ke tempat itu. “Biar aku saja yang masuk.”ucap Embun percaya diri. “Tidak. Kau mau mati sendirian?” “Dengar, aku mendapat alamat ini dari Larasati. Aku percaya, mereka bukan pembunuh. Dibanding dibunuh, mungkin aku hanya dapat luka ringan.” “Hey, biar aku bersamamu. Jika ada masalah, aku bisa membantumu.”seru Samudera dengan kerelaan hati. “Tidak, Sam. Aku ingin masuk kesana tanpa kecurigaan. Jika ada yang tidak beres, kalian boleh masuk.” Semua hening tanpa memberikan tanggapan. “Ayolah, ini tidak seperti yang kalian kira.”lanjutnya menyakinkan. Akhirnya, semua setuju untuk membiarkan Embun berjuang seorang diri. Kali ini mereka hanya tim hore yang bekerja di belakang layar. Embun merapikan pakaiannya dan bergegas keluar. Dia berjalan sesuai dengan tata krama yang berlaku di Santara. Dia membuka pintu perlahan dan mendapat tatapan asing dari barista. Tapi dia tetap menunjukkan wajah ramahnya. “Permisi, tempat ini bukan untuk anak muda. Kalau mau minum, ada toko sebelah.”ucapnya ramah. “Ahh, tidak. Saya kesini ingin bertemu John R.” “Siapa yang mencari saya?”ucap seseorang dari sebelah kiri. Pria dengan wajah rupawan yang berjalan ke arah Embun. “Izinkan saya bicara sebentar.” “Bicarakan di tempat ini.” “Baiklah. Saya sedang mencari pelaku pembunuhan.” “Anda siapa?” Pernyataan itu membuat Embun menelan air ludahnya. Dia bingung harus menjawab apa. Pikirannya berputar, mencoba mencari solusi untuk hal ini. Apalagi pria itu terlihat sangat menyeramkan. Tipikal pria rupawan yang sadis. Jelas sekali terlihat di wajahnya. “Keluarga saya adalah korban dari pembunuhan itu.”ucap Embun mengarang cerita. “Saya mohon, saya tahu kalau John R Club tidak ada hubungannya dengan hal itu. Saya hanya ingin mengungkap siapa dalang dibalik pembunuhan itu. Tidak kurang, tidak lebih.” “Saya tidak ingin ada orang lain yang bernasib sama seperti saya. Tolong, beritahu saya siapa pelakunya.” “Jika kau sudah seyakin itu, kau bisa cari tahu sendiri.” “Aku tidak punya akses apa-apa. Tolong bantu dan berikan belas kasihanmu.”ucap Embun dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Dia hanya sedang berakting. Menurut Embun, orang biasa seperti John R tidak akan suka dengan perwakilan kerajaan yang sering ikut campur masalah orang lain. Jika mengaku sebagai anggota militer, pasti pria itu akan langsung membencinya.  “Tolonglah, hiks. Jangan biarkan kematian orang terkasihku jadi kesia-siaan.” “Hmm, tunggu sebentar.” Pria itu pergi ke tempat lain. Sedang Embun terus memasang wajah sendunya. Wajah sedih seperti kehilangan seseorang. “Itu data tiga orang yang memungkinkan untuk melakukan pembunuhan. Sebenarnya, aku belum tahu siapa orangnya. Data itu kuberikan hanya demi belas kasihan saja. Gunakan dengan baik.” “Hiks, terima kasih. Terima kasih banyak.” Embun kembali dengan percaya diri tinggi. Dia selalu bangga saat berhasil mencapai keinginannya. Dan salah satunya adalah hal ini. Ketika tujuan itu dekat, maka semangat akan lebih besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD