Chapter 31 - Tiga Orang Itu

1491 Words
Tiga orang terdakwa yang memiliki latar belakang berbeda. Wanita bernama Angela Lamona, seorang pedagang kaki lima yang berada di lokasi pada beberapa kejadian. Dia sudah berusia tua tapi penampilannya sangat mencekam. Dia berjualan barang-barang mistis yang sering jadi bahan ramalan untuk orang-orang. Sering kali, pasangan kekasih meminta diramal oleh Angela Lamona. Berdasarkan informasi, dia pernah ikut pelantikan dukun yang direkrut oleh kerajaan. Dukun yang akan bekerja bersama dokter. Sayangnya, hal itu gagal oleh karena suatu hal.  Orang kedua adalah perempuan muda yang tinggal di sekitaran kejadian. Diketahui perempuan muda bernama Asiska Dian itu sering pulang tengah malam. Perempuan dengan latar belakang yang buruk karena sering menghabiskan waktu di tempat hiburan malam. Ada desas desus yang mengatakan kalau dia sering mabuk-mabukan. Dan bisa saja, mabuk-mabukan itu membuatnya melakukan sesuatu yang sangat besar. Semisal melakukan pembunuhan berantai. Orang ketiga bernama Alexander Gradio. Dia adalah pria tua yang hidup sendirian. Sepeninggal istrinya, dia hidup seorang diri di rumah. Dia jarang bersosialisasi. Dia keluar rumah hanya untuk membeli kebutuhan pokoknya. Semua orang dapat mengerti akan hal itu. Dia memang terlalu mencintai istrinya. Dan ketiga yang dicintainya itu pergi, dia cuma bisa merenung dan memikirkan kisah indahnya selama ini. Embun kira akan mudah menemukan pelakunya diantara tiga orang itu. Tapi tak ada jawaban meski dia sudah menemui ketiganya.  “Mereka tidak tampak seperti pembunuh.”ucap Anoda berkomentar. “Saat melihat mereka, aku tidak bisa berpikiran negatif. Tapi tidak untuk wanita bernama Asiska Dian. Dia tampak seperti wanita penghibur.” “Hey, aku malah tidak curiga padanya. Dia yang paling tidak bisa dicurigai. Dia apa adanya. Beda dengan dua orang lain yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.” “Kau terlalu dramatis. Kau kira ini novel?” “Anoda, kita harus memikirkan semua sisi.” “Sekarang kutanya, kau lebih curiga Angela atau Pak Alexander?” “Aku tidak bisa memilih. Karena tidak baik mencurigai tanpa argumen yang jelas.”ucap Samudera bak dosen di universitas. Anoda menghela nafas sambil bingung. Dia terlalu menyebalkan sampai harus mengutarakan pendapat yang sangat teoritis itu. “Ya, Samudera benar. Untuk menangkap seseorang, kita butuh bukti yang tepat.”komentar Langit. “Masalahnya, waktu kita terbatas. Bagaimana ini?”ucap Embun panik. “Jangan panik. Pasti ada jalan.”ucap Samudera sambil bergegas keluar dari tempat itu. Dia menatap awan yang semakin gelap. Tak lama, Langit datang dan menawarkannya sepotong roti. “Terima kasih.” “Sama-sama. Apa kau punya rencana?” “Hmm, bagaimana kau tahu?” “Kau terlihat percaya diri. Kenapa tak jujur di depan Embun dan Anoda?” Samudera tersenyum kecut. Mimik wajahnya bisa terbaca oleh Langit. Ya, dia memang tidak mudah menyembunyikan perasaan. Dia menggigit roti itu perlahan. Dia sudah sangat lapar. Tak ada waktu bagi mereka untuk makan siang. Semuanya demi keberhasilan Tim X.  “Aku tak ingin Embun pingsan lagi. Akan lebih baik rencana ini tanpa sepengetahuannya.” “Izinkan aku ikut. Aku pasti bisa membantumu.” “Ya, tidak masalah. Tapi rahasiakan dari semua orang.” “Baik.” Waktu memang mampu mengubah segalanya. Hubungan yang awalnya buruk kini tampak berubah drastis. Terlihat jelas dalam diri Langit dan Samudera. Dalam bekerja sama, mereka tampak luar biasa. Dua pria yang memiliki keunggulan yang berbeda. Dan mereka sama-sama ahli di dalam bidangnya. Meskipun Samudera sudah tahu keinginan Langit dan Samudera, dia tidaklah peduli. Jika seseorang punya mimpi, walau tidak masuk akal, biarkan dia berusaha untuk mimpi itu. Biarkan dia sendiri sadar bahwa mimpi itu memang mustahil. Kenyataan pahit yang dialami langsung lebih luar biasa dibanding saran orang lain. Saran yang kadang dianggap sebagai kata sepele. *** Menurut Samudera, ketiga orang itu masih memungkinkan untuk jadi pelaku pembunuhan. Oleh sebab itu, mereka harus mengikuti setiap kegiatan tiga orang itu. Sisa empat hari sebelum hari penilaian. Dan mereka akan menyelidikinya setiap hari. Dimulai dari malam ini. Setelah berjualan sampai hampir malam, Angela Lamona membereskan jualannya. Dia bergegas untuk pulang. Rumahnya berada di ujung jalan. Dan dia kembali pulang melalui jalan pintas. Jalan yang tidak harus melewati rumah-rumah tetangganya. “Dia mau kemana?” “Aku juga tidak tahu. Rumahnya lumayan jauh, mungkin dia mencari jalan pintas.”jawab Samudera singkat. Dia tetap awas dan siaga terhadap segala kemungkinan. Jangan sampai ketika leher sudah ditebas, baru siaga dirancang. Itu sama saja sakit dulu baru diobati. Wanita tua itu melewati jalan tikus yang bahkan tidak diketahui orang-orang diluar sana. Kebaya yang ia kenakan tak terlalu mengganggu. Dan jalan itu membawanya sampai ke belakang rumah. Angela Lamona langsung mandi dan menanak nasi. Nasi yang langsung dari perapian. Wanginya semerbak membuat Samudera dan Langit terhanyut dalam angan-angan.  “Kita pulang.”ucap Samudera saat hari semakin malam. Mereka tak yakin jalan pintas itu bisa membawa mereka pulang. Akhirnya, mereka pulang melalui jalan besar. Di hari kedua, mereka juga meminta kepada Komandan Dimas untuk dijadikan satu tim. Dan Embun masih saja frustasi karena bergumul dengan kertas yang diberikan oleh Praja. Dia masih berharap kertas itu bisa membawanya pada jawaban siapa pelakunya.  “Dia memang paling memungkinkan. Kau tak lihat, alkohol membuatnya terbawa pada bayang-bayang ketiadaan.”ucap Langit dengan penuh keyakinan.  “Kita disini untuk memastikan. Bukan untuk berdebat tentang pendapat masing-masing.” “Baiklah. Aku menyerah soal memberikan jawaban dan argumen. Tapi ini tentang prediksi.” Seorang pria tampak mendekati Asiska Dian. Perempuan itu malah menolak dengan menunjukkan cincin di jari manisnya. Sesaat kemudian, tiga orang wanita mendatanginya. Wanita dengan pakaian super mewah. Samudera mengatur posisi agar dapat mendengar pembicaraan mereka. Dia tampak seperti penguntit. “Kau sudah menunggu lama? Maafkan kami, kami baru dari Adelta. Kau kan tidak ingin ikut.” “Iya, tidak apa-apa.” “Sebentar lagi dia datang. Kau sudah membeli hadiah kan?” “Ya, tenang saja. Aku datang kemari tidak dengan tangan kosong.” “Bagus. Sekarang kita akan menyiapkan kue untuk diberikan.” Berdasarkan pembicaraan itu, mereka hendak merayakan ulang tahun dari salah satu teman dekatnya. Itulah yang dapat ditangkap oleh Samudera Alia. Tak lama orang yang mereka tunggu datang. Dan mereka membuat acara sederhana. Semua bergembira. Bahkan setiap orang membawa kado untuk diberikan. Cukup lama dan membosankan. “Kami pergi ya. Kau bisa pulang sendiri kan?” “Hmm, tentu saja.” “Baik. Lain kali kita bertemu lagi.” Mereka hendak pergi dengan pembicaraan akan kemana. Asiska Dian tampak murung setelah kepergian itu. Dia malah didekati oleh seorang pria. “Mengapa tak langsung bilang? Kau kan tidak suka diperlakukan begini?” “Tidak mudah. Kau mau mereka membicarakanku di belakang?” “Lalu, mau ikut denganku saja?” “Kemana lagi?” “Bersenang-senang di kamar hotel.” “Baiklah.” Setelah itu mereka pergi ke hotel. Kepergian yang tidak membuahkan hasil apa-apa. Itulah yang ada dalam pikiran Langit Bebiru. Tapi tidak dengan Samudera Alia. “Kita pulang.”ucap Samudera hendak bergegas pergi. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam. Mereka harus berada di lokasi patroli. Jangan sampai ada inspeksi dari Komandan Dimas Anggara. Mereka bisa ketahuan sudah melalaikan tugas dan kewajibannya. “Kau tidak mau menunggu sampai mereka keluar hotel?” “Kita akan ketahuan jika melakukan hal itu. Sudahlah, besok kita masih harus membuntuti Alexander.” Dua hari yang seperti sia-sia bagi Langit. Tapi dia sudah terlanjur berjanji dengan Samudera. Janji tetaplah sebuah janji. Dan seharusnya memang wajib ditepati. Keyakinannya lama-lama pudar pada keputusan Samudera kali ini.  “Kita cuma makan sayuran hari ini. Makanan yang membosankan.”komentar Anoda dengan wajah sedih. Kapan dia bisa makan daging lagi? Langit tak mau berkomentar banyak. Dia menikmati makanan itu walau dengan wajah tak b*******h. Seperti manusia yang bisa menghargai koki tanpa banyak komplain. Dia memang sesederhana itu. “Kau kenapa dengan Samudera? Kalian terlihat akrab. Apa jangan-jangan, kalian menjalin kasih?” Seketika Langit menghamburkan minuman dari mulutnya. Dia tidak menyangka kalau pikiran Anoda sekacau itu. Tanggapan yang tidak disangka Langit sama sekali.  “Lagian, kalian selalu meminta digabungkan dalam grup yang sama. Apalagi, kudengar gosip bahwa kau tak pernah punya kekasih. Mungkin saja kau memang tidak menyukai wanita kan?” “Kurang ajar!”teriak Langit tidak terima. Jika itu benar, Langit tidak masalah. Tapi di dalam kenyataannya, itu hanya sebuah hoaks yang menjamur begitu kuat. “Jangan marah! Aku cuma bertanya.” Tak lama, Embun datang ke tempat itu dan menarik tangan Langit. “Aku mau bicara!”ucapnya tegas. “Tapi,,” “Sekalian aku traktir makan daging.” “Aku ikut.”seru Anoda ingin ikut berpartisipasi. “Tidak. Kau tidak boleh ikut! Diam saja disini.”tegasnya pada Anoda yang terlihat menderita dan sengsara. Tapi Embun tidaklah perduli. Dia menarik tangan Langit dan membawanya keluar dari tempat itu. “Ada apa lagi?” “Apa rencanamu dengan Samudera? Kau pikir aku bodoh? Kalian menyembunyikan sesuatu kan?” Langit berada dalam dua serigala yang sadis. Dia tak ingin melanggar janjinya dengan Samudera. Tapi wajah Embun kali ini terlihat sangat marah. Dia pasti akan ketahuan jika melakukan kebohongan. Bagaimana ini? Langit terdiam sesaat hingga mulutnya berkata dengan penuh keraguan. Perkataan yang sudah dia timbang dalam hati selama beberapa saat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD