Pada malam yang ketiga, mereka akan membuntuti pria bernama Alexander itu. Pria tua renta yang kehilangan istrinya di waktu yang sudah lama. Tapi cinta tetap menghinggapinya. Melupakan lebih sukar daripada menerima kenyataan. Walau ia tahu istrinya tak mungkin hidup lagi, tapi ia tidak bisa lupa kisah indah yang pernah terjadi selama ini.
“Kau yakin kita pergi? Hari ini komandan Dimas akan datang.”keluh Langit sambil merapikan barang bawaannya. Senter untuk penerang di malam hari dan senjata untuk menghindari para penjahat.
“Aku sudah bekerja sama dengan komandan. Jadi tidak masalah.”
“Wah, diam-diam kau membereskan semuanya dengan baik.”
“Sesungguhnya tidak sebaik itu. Aku mengorbankan harga diri untuk membuat dia percaya. Dan kuharap, kau juga percaya kepadaku, Langit.”
“Baiklah. Aku coba untuk percaya. Ayo segera pergi.”
Setelah perpisahan dengan semua anggota tim, mereka pergi ke arah barat. Mencari tempat yang mungkin dikunjungi oleh Alexander, pemakaman. Ini memang terdengar mistis, tapi dia melakukannya dengan kesadaran penuh. Mengunjungi makam setiap malam dan menghangatkannya dengan banyak cerita. Begitulah pria bernama Alexander itu menghabiskan setiap malamnya.
Suasana makam itu tampak menyeramkan. Tak ada manusia selain Alexander disana. Langit sampai merinding menyusuri jalanan yang kian mencekam. Tapi tidak dengan Samudera. Dia seperti robot yang tidak peduli apapun. Tidak punya ketakutan dan perasaan merinding.
“Kalian hendak kemana?”tanya seorang pria memecah keheningan diantara mereka. Pria yang diterangi oleh satu lampu saja. Dia membuat Langit melonjak kaget. Tapi teriakan itu ia tahan sekuat tenaga.
“Kami dari kemiliteran pak. Hanya ingin memeriksa sesuatu.”ucap Samudera sambil menunjukkan kartu identitasnya. Dia menunjukkan wajah tanpa keraguan agar dipercaya oleh lelaki tua itu.
“Baiklah, silahkan masuk.”
Langit selalu kagum dengan cara licik Samudera. Dia bisa dengan mudah punya alasan untuk setiap kondisi yang tidak disangka-sangka. Seakan dia sudah tahu apa yang akan terjadi, padahal tidak.
“Kau hebat sekali bersilat lidah.”bisik Langit.
“Itu bukan bersilat lidah. Itu namanya mencari solusi untuk masalah.”
“Ya, tidak ada bedanya bagiku. Kau terlalu natural sampai hal itu tak tampak seperti kebohongan.”
Perkataan menohok yang membuat Samudera sedikit ciut. Di dalam kenyataan, Samudera memang banyak berbohong. Dia melakukan itu hingga saat ini. Terutama tentang statusnya yang merupakan seorang pangeran. Pangeran yang dibuang jauh hanya karena sebuah fitnah keji. Samudera sendiri merasa bersalah, tapi dia belum sanggup untuk jujur.
“Ayo, percepat langkah. Aku tidak mau kehilangan pria itu.”ucap Samudera tegas. Mereka mempercepat langkah dan melihat pria itu duduk di sebuah makam penuh taburan bunga. Dia melebarkan tikar dan duduk dengan seduhan kopi panas. Seperti sedang camping atau semacamnya. Tak lupa ia juga membawa banyak makanan. Hal itu berlangsung sampai pagi datang. Setelah matahari mulai menampakkan diri, dia bergegas untuk pulang. Dan disaat yang sama, Samudera dan Langit kembali ke lokasi patroli.
Langit langsung rebahan karena semalaman terjaga. Dia terlalu takut kalau ada hantu yang muncul tiba-tiba. Beda dengan Langit, Samudera malah duduk sambil menyeruput kopi panas. Dia mencari-cari Embun tapi tak kunjung muncul.
“Embun dimana?”
“Biasa. Di tempat latihan. Membaca dokumen yang banyak itu sambil memikirkan solusi untuk kita.”
Mendengar hal itu, ia buru-buru bergegas. Merapikan seragamnya yang compang-camping. Dia berjalan cepat dan sampai di tempat itu. Melihat Embun sedang termenung dengan frustasi yang semakin menjadi. Seketika, Samudera tersenyum melihat wajah kecil itu. Dia berjalan dan mendekat ke arahnya.
“Sibuk sekali?”
“Tidak usah ikut campur.”balas Embun tampak kesal.
“Kenapa tiba-tiba seperti ini. Aku melakukan salah?”
“Tentu saja. Kau pikir aku tak tahu? Kau melakukan sesuatu kan selama ini? Dan kau menganggapku tidak ada. Aku akan buktikan kalau aku bisa menemukan jawabannya seorang diri.”
Ketika Embun bertanya pada Langit, Langit jujur tentang semuanya. Dengan syarat, Embun tidak akan melaporkan Langit pada Samudera. Dia terlanjur janji meski tidak bisa ditepati. Merasa dirinya dianggap sepele, Embun berusaha keras berjuang sendirian. Dia tak mungkin mengacaukan semua rencana Samudera. Terutama karena Samudera sampai meminta bantuan Komandan Dimas Anggara.
Embun menguatkan dirinya untuk mencari solusi sendiri. Dia kesal tapi tak bisa melepaskannya.
“Ternyata aku ketahuan.”ucap Samudera sambil tersenyum tipis. “Tapi aku begini demi kebaikanmu.”
“Jangan mencari alasan.”
“Kau baru saja pingsan karena kelelahan. Jika kau ikut andil, maka aku akan merasa bersalah. Membiarkan kolegaku yang paling berpengaruh mengalami sesuatu yang buruk.”
“Jangan pura-pura memuji.”
“Aku serius. Kau tidak sadar kah? Kita bisa sampai disini semua karena kau.”
“Ya, kuakui sih.”balas Embun sambil tertawa. Dia tidak bisa marah berlama-lama pada seorang Samudera Alia. Terlepas dari statusnya yang seorang pangeran, dia juga punya jiwa dan pribadi yang mudah dimaafkan. Jadi, sulit bagi Embun untuk membencinya.
Mereka tertawa dengan berbagai cerita. Dan Samudera menceritakan penemuan yang dia dapat selama mengikuti gerak gerik tiga orang itu. Samudera menyelipkan cerita lucu dalam kejadian itu. Walau sebenarnya di dalam kenyataan tak selucu itu.
“Tunggu dulu,”ucap Embun menghentikan Samudera bicara panjang kali lebar. “Kau sudah menemukan jawabannya?”tanya Embun penuh tanya.
Samudera mengangguk. Seketika Embun bernafas lega. Kelegaan itu menguasainya. Dia sedikit tenang karena sudah dapat dipastikan kalau mereka akan berhasil. Ya, mereka akan berangkat ke Kerajaan Sumatera dengan segera. Kembali ke kampung halaman.
***
Pada hari terakhir misi dilakukan, Tim X mengungkapkan temuannya kepada Komandan Dimas Anggara. Dan mereka melakukan inspeksi mendadak soal temuan itu. Pelaku pembunuhan berantai itu adalah Alexander.
John R Club sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan angka kematian di Kerajaan Jawa. Dibanding sisi buruk itu, John R Club malah membantu dalam meningkatkan keuangan kerajaan dengan berbagai upaya yang dilakukan. Mereka memang terlihat barbar, tapi membunuh bukan hal yang tepat untuk dilakukan.
Sesuai informasi yang didapat Samudera dari penjaga makam, setiap dua kali seminggu, Alexander tidak datang ke pemakaman. Dan dihari seperti itulah dia melakukan pembunuhan random pada orang-orang yang pulang tengah malam. Polisi segera menyelidiki ke rumahnya. Dan ditemukan banyak sekali benda-benda tajam. Benda itu disimpan di sebuah ruang rahasia. Ruang yang ditemukan Samudera sewaktu mereka membuntuti Alexander.
“Kau mau kemana?”tanya Langit malam itu. Ketika sinar bulan menerangi sebuah makhluk bumi.
“Tunggu disini sebentar. Aku harus kencing.”
“Tapi, aku tak bisa ditinggalkan sendirian.”ucap Langit dengan wajah pucat pasi. Dia terlihat gemetar duduk di sisi gundukan tanah yang diberi nama itu.
“Tenang saja.”ucap Samudera menyakinkan. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Ini, pegang. Jimat keselamatan.”ucapnya sambil memberikan sebuah kalung berbentuk daun. “Dia akan menjagamu. Aku akan kembali secepatnya. Ini sesuatu yang tak bisa ditahan.”
Setelah berhasil menyakinkan Langit, Samudera bergegas pergi. Dia menemui penjaga makam dan menanyakan tentang jadwal Alexander berziarah setiap malam. Samudera mengira bahwa pria itu datang setiap malam. Ternyata dalam satu minggu dia bisa absen beberapa kali. Dengan keraguan yang memenuhi kepalanya, dia bergegas pergi menuju ke rumah pria itu. Mencari tahu alat yang mungkin digunakan. Tak cukup hanya fakta kehadiran yang membuktikan hal itu. Harus ada bukti fisik yang mendukung semua itu.
Dia melakukan pencarian cukup lama. Mungkin Langit sudah terkencing-kencing di pemakaman karena kelamaan menunggunya. Hingga matanya tertuju pada sebuah gundukan rumput kering. Dia membuka nya perlahan. Disana banyak sekali alat-alat tajam. Dan beruntungnya, alat-alat itu masih penuh dengan darah kering. Sesuai pengamatan Samudera, ketika Alexander membunuh, dia tidak pernah mencucinya. Dia ingin menebalkan pedang itu dengan darah yang mengering dari setiap korban.
Itulah yang terjadi hingga Samudera tahu siapa pelakunya. Pria itu tidak bisa menuduh Asiska dan Angela. Mereka berdua orang biasa yang sering melakukan kesalahan. Beda dengan Alexander yang menata semuanya dengan teratur. Pantas saja dia bisa membunuh banyak manusia tanpa diketahui. Statusnya sebagai pria tua yang sayang pada almarhum istrinya membuat semua orang tak curiga padanya. Tak ada polisi yang datang ke tempat tinggalnya. Semua warga juga tahu kalau dia manusia baik.
Beruntungnya ada John R Club yang selalu mengutamakan logika di atas perasaan. Diam-diam mereka mencurigai orang-orang. Mereka bukan orang yang peduli pada peristiwa itu. Tapi setidaknya mereka punya alibi jika dituduh sebagai pelaku.
Tim X dibawah asuhan Dimas Anggara kembali jadi perhatian. Mereka selalu berhasil melalui misi yang diberikan. Bahkan untuk misi yang sulit sekalipun. Tim lain selalu menunjukkan wajah iri pada tim X. Mereka tidak tahu saja kalau Tim X bisa sekuat itu hanya karena desakan dan target. Ketika hidup kacau balau, maka target akan semakin kuat untuk direalisasikan.
Mereka tidak tahu kalau Tim X terdiri dari dua penyintas yang berambisi untuk kembali ke Indonesia, seorang pangeran yang ingin membalas dendam dan ditambah orang-orang yang berambisi untuk mengharumkan nama keluarganya. Bisa dilihat sekuat apa tim itu.
“Polisi sudah menangkapnya. Mereka benar-benar bersyukur akan tim ini.”ucap Dimas Anggara. Mereka semua merasa tenang. Mungkin sudah saatnya mereka makan daging untuk perayaan.
“Sebenarnya, saya tidak menyangka kalian akan bisa melewati misi ini. Bahkan, kolega saya sudah bersiap untuk memberikan surat pemberhentian. Saya bangga! Dan lagi, kalian akan diberikan penghargaan oleh Raja Jawa.”
Pengumuman itu membuat semuanya gembira. Sebelum mereka melanjutkan misi, mereka diberikan penghargaan oleh pihak kerajaan. Ini sangat membanggakan. Terutama untuk Anoda. Dia pasti akan dipuja puji keluarganya nanti. Keluarga militer yang mengemban amanah dan percaya bahwa mereka lahir untuk membela tanah air Santara.
Semua orang diberi penghargaan berupa cedera mata. Tim X diberikan juga fasilitas untuk menikmati makan siang di singgasana kerajaan. Mereka diberikan akses yang membuat harinya semakin menyenangkan.
“Semangat untuk kita. Sebentar lagi kita akan pulang ke rumah. Aku rasa, kita pasti diberi waktu untuk pulang sebentar.”
“Benar. Ayahku pasti sudah menunggu.”ucap Anoda.
Langit dan Embun saling bertatapan. Mereka hanya bisa diam. Bukan karena tidak rindu kampung halaman. Mereka hanya merasa tidak pantas untuk kembali. Ada ketakutan di dalam hati masing-masing. Seandainya semua masih sama, maka tak akan ada ketakutan di hari ini. Gemetar tak bisa ditahan Embun. Tapi Samudera memegang tangan itu. Berusaha membuat Embun tersenyum. Jika besok ada badai yang memporak-porandakan dunia ini, biarlah itu terjadi. Namun untuk sekarang, biar bahagia dan tawa saja yang menghiasi wajah mereka.