Kutunggu Heri dan kekasih gelapnya menuntaskan kegiatan mereka dan meninggalkan tempat ini sambil menikmati pemandangan malam dari kaca gedung kamar yang kupesan. Sengaja kubiarkan pintu terbuka agar bisa melihat keadaan. Tepat satu jam berikutnya, pintu itu terbuka dan si wanita terlihat keluar, tak lama diikuti oleh pria itu yang mengantarnya ke pintu. Mereka berpelukan dan dan saling memberi ciuman perpisahan. Kujepret momen langka yang mungkin akan membuat istri dan orang tua Letnan Heri mendadak mati berdiri. Berselang dua menit wanita itu beranjak meninggalkan tempat itu. "Wah, kebetulan sekali," gumamku yang sukses membuat dia membalikkan badan dan terkejut "Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu menguntitku?" "Buat, Apa? Aku sedang ada acara, dan kebetukan melihatmu datang."

