Tidak menunggu lama setelah peristiwa Guci pecah, Mami langsung mendatangi rumah dan menemuiku. Saat naik ke balkon di dapatinya diri ini sedang asyik menikmati matahari. Tanpa aba aba lagi wanita itu menarik lenganku dan menyeretku masuk lantas melayangkan pukulannya. Aku tidak terkejut, hanya saja geram menahan sensasi rasa sakit di wajah dan selagi belum sempat menarik napas, dia telah menarik kerah bajuku dengan kejamnya. "Kau pikir tikus kecil sepertimu bisa merusak hidup dan bisnis kami?!" tanyanya dengan tatapan mata membeliak. "Tidak," jawabku berusaha tenang. "Lantas kenapa kau terus mencoba mengacaukan segalanya, kau pikir harga guci itu setara dengan kepalamu, hah?!" "Lepaskan! Mami selalu memukul dan mengintimidasiku, aku heran ketika kami hendak berpisah Mami menahan

