Bab 4: Kepingan Waktu yang Terlupakan

786 Words
Andra masih berdiri di hadapan Nara, namun dunia di sekitar mereka mulai mengubah bentuk. Apa yang sebelumnya tampak seperti ruang yang familiar kini perlahan mencair, berputar seperti pusaran angin yang menelan segalanya. Jam-jam tua yang tadinya diam, kini berdentang satu per satu. Bunyi detakan itu berirama, tapi tak beraturan—seperti napas dunia yang mulai terengah-engah, menyatakan bahwa waktunya sudah hampir habis. Dinding-dinding toko mulai retak perlahan, dan cahaya keemasan merembes keluar, menyerupai sinar matahari yang terbakar melalui luka di langit. Nara menatap Andra, matanya penuh kecemasan. Bukan karena kehancuran dunia yang sedang terjadi, tapi karena Andra—Andra yang masih ragu, yang belum siap menghadapi kenyataan yang datang begitu mendalam. "Kau harus pergi," kata Nara dengan suara yang pelan namun penuh penekanan. "Sebelum semuanya meledak dan waktu kehilangan jalurnya." Andra menggenggam sisi rak kayu agar tidak terjatuh. Kepala dan tubuhnya terasa sangat berat, seolah-olah ada sesuatu yang tidak bisa ia simpan dalam dirinya. Jantungnya berdegup kencang, dan ada semacam ketegangan yang menarik dirinya menuju kegelapan. "Kemana…?" Andra berusaha bertanya, tapi suaranya tertahan. "Ke tempat kau bisa melihat siapa dirimu yang sebenarnya. Tempat di mana semua versi dirimu bertemu." Dan seketika, dunia di sekitar Andra runtuh. Bukan hancur dalam arti yang nyata, melainkan disedot ke dalam pusaran cahaya yang begitu terang dan menakutkan. Rak-rak kayu, jam-jam antik, dinding toko—semua itu lenyap dalam sekejap. Suara dentang terakhir terdengar di telinga Andra… dan lalu semuanya menjadi hening. Andra merasa tubuhnya terhuyung. Sebelum ia bisa mengerti apa yang terjadi, ia terjatuh ke dalam kekosongan—sebuah kehampaan tanpa batas. --- Ia terbangun di tengah ruang putih tak berbatas. Di sekelilingnya tidak ada langit atau lantai yang bisa ia jejakkan kaki. Udara yang mengelilinginya padat seperti awan, namun tidak menyentuh tubuhnya. Cahaya yang terang namun tidak menyilaukan menyelimutinya. Dan yang lebih menakutkan, di hadapannya—sejauh mata memandang—terdapat ribuan jam yang melayang, masing-masing berdetak dengan ritmenya sendiri. Andra hanya bisa berdiri, terdiam, menatap semua jam itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa seperti terjebak di tengah-tengah sebuah alam yang tidak dikenal. Tapi, entah kenapa, ia tidak merasa takut. Ada sesuatu di dalam dirinya yang merasa familiar dengan tempat ini. Sesuatu yang terlupakan. Di tengah kerumunan jam-jam tersebut, seorang pria berdiri membelakangi Andra. Tubuhnya tampak bersinar samar seperti cahaya bulan, dengan rambut panjang berwarna perak. Jubahnya hitam bertabur bintang-bintang yang bergerak sendiri, seolah jubah itu menyimpan langit malam di dalamnya. Andra tak perlu bertanya. Ia tahu siapa pria itu. Itu dirinya. Pria itu menoleh pelan, dan Andra melihat matanya yang perak—seperti mata dirinya sendiri, namun lebih dalam. Seperti ada kedalaman yang tak terukur, rahasia yang telah lama terkubur. "Sudah lama kita tidak bertemu," kata pria itu dengan suara yang dalam, namun penuh ketenangan. Andra menelan salivanya, merasa tak bisa berkata-kata. Namun hatinya berdegup sangat kencang. "Kau… siapa?" Pria itu mengangkat tangannya, dan saat dia melakukannya, satu jam besar muncul dari kegelapan. Jam itu terbang, lalu berhenti tepat di depan Andra. Jarumnya bergerak, tidak berputar mengikuti waktu, tetapi bergerak mundur, seolah mencoba menghapus semua yang telah terjadi. "Aku adalah kamu yang terhilang," kata pria itu, suaranya penuh keheningan. "Atau lebih tepatnya, bagian dari dirimu yang telah mati. Aku adalah Detik yang Terhenti." Andra terkejut, tubuhnya gemetar. "Apa yang kau maksud? Aku… tidak mengerti." Pria itu tersenyum tipis, namun ada kesedihan di sana, seperti mengetahui bahwa Andra tidak akan pernah bisa mengingat semuanya dalam satu waktu. "Kau adalah detik terakhir dari setiap dunia. Kamu adalah penjaga batas antara waktu dan kehancuran." Andra menggenggam erat lengan bajunya, merasa dunia mulai terbalik. "Kenapa aku tidak mengingat semuanya?" "Karena," pria itu menjawab dengan tegas, "kamu sudah mengulang waktu berkali-kali, Andra. Dan setiap kali kamu melarikan diri, dunia menjadi semakin rapuh. Ingatanmu tersebar di antara detik-detik yang hilang. Waktu, Andra, bukan sesuatu yang bisa kau hindari." Andra merasa dunia sekitarnya berputar, seperti terhanyut dalam pusaran yang tak bisa ia kendalikan. "Aku… mengulang waktu?" "Benar," jawab pria itu. "Dan jika kau tak bisa mengingat siapa dirimu yang sebenarnya… waktu ini akan berakhir. Semua akan dimulai kembali. Atau—tidak pernah ada sama sekali." Andra terdiam, mulutnya kering. Ia merasa jantungnya ingin keluar dari dadanya. Perasaannya kacau—takut, bingung, dan cemas. Namun sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, pria itu mengangkat tangan, dan sebuah kilatan cahaya terang membutakan Andra. "Ketahuilah ini, Andra," suara pria itu terdengar menggetarkan jiwa. "Saat waktumu benar-benar habis, kamu akan menghadapi pilihan yang tak bisa dihindari. Sebelum itu, kau harus memilih: melanjutkan pelarianmu atau menerima kenyataan bahwa detik terakhir itu adalah milikmu." Dan sebelum Andra bisa mengucapkan sepatah kata pun, semuanya menggelap. --- Kehampaan yang sama mengelilinginya lagi. Namun kali ini, ada sebuah pesan yang bergema di dalam hatinya. Waktu tak akan pernah berhenti, dan begitu pula dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD