Bab 5 — Detik yang Memilih

776 Words
Dentang waktu masih menggema samar ketika Andra membuka matanya. Ia kembali berdiri di toko jam. Tapi segalanya… tidak sama. Udara mengandung rasa logam. Aroma hangus samar menusuk hidung. Jam-jam tua masih menggantung, namun detaknya terasa tidak sinkron — seperti napas dunia yang mulai tersengal. Dan di hadapannya, Nara berdiri. Tatapannya bukan lagi tenang, tapi penuh: kelegaan, kegelisahan… dan ketakutan yang belum sempat disuarakan. Andra merasakan benda di tangannya — jam kecil pemberian entitas cermin — masih hangat, meski logamnya dingin. Detaknya tak terdengar, tapi terasa… seolah menunggu. Seolah menyimpan janji yang belum ditepati. > “Aku sudah melihatnya,” bisik Andra. “Diriku… yang lain. Yang masih hidup dalam retakan.” Nara mengangguk. Tapi ekspresinya tak berubah. “Dan sekarang?” tanyanya. “Sudah siap untuk memilih?” Andra tidak menjawab. Tapi tekad mulai tumbuh di dadanya. Dunia tidak akan menunggu. Dan waktu tak akan berhenti. Jam-jam di sekeliling mereka mulai berdetak mundur. Irama aneh yang membuat tulang bergidik. Waktu bukan lagi alat pengukur — tapi makhluk yang sedang mengamati, menanti keputusan. Andra menoleh ke jendela. Dunia di luar mulai kehilangan logika. Dua matahari bersinar dari arah berlawanan. Bayangan orang-orang berjalan sendiri — terpisah dari tubuhnya. Seorang anak menangis, tapi tangisannya datang dari masa depan. Seorang kakek berdiri diam, namun tubuhnya terus mengulang gerakan duduk dan berdiri. > “Apa ini efek aku bangun?” bisik Andra. Nara menatapnya. “Bukan hanya kamu. Retakan pusat mulai terbuka. Waktu sedang meleleh. Kalau kita tidak ke sana sekarang… segalanya akan kembali ke nol.” --- Perjalanan mereka dimulai dari lorong belakang toko. Lorong yang dulunya sempit kini membentang tak berujung. Dindingnya bukan lagi bata, tapi semacam batu bercahaya — tertanam jam-jam menyala separuh badan. Beberapa berdetak ke depan, beberapa ke belakang. Beberapa bahkan… beku. Langkah-langkah mereka bergema. > “Retakan pusat bukan tempat,” kata Nara. “Ia adalah simpul dari semua kemungkinan. Di sana, semua versi dunia bertabrakan — yang gagal, yang menang, yang dibatalkan.” Andra hanya mendengar sebagian. Sebagian lainnya… ia rasakan. Tubuhnya semakin berat. Terkadang ringan seperti bayangan, lalu mendadak padat seperti beban kenangan. Setiap langkah seakan membawa potongan dirinya dari masa lalu yang tak ingin ia hadapi. Mereka sampai di sebuah dinding cermin. Cermin itu hidup. Andra menoleh… dan melihat dirinya. Tapi bukan dirinya sekarang. Sosok itu mengenakan baju perang. Luka membelah wajahnya. Matanya hitam pekat. Dan senyumannya… miring. Versi dirinya yang pernah memutuskan menghancurkan dunia — bukan untuk menguasai, tapi untuk berhenti berharap. > “Jangan lama-lama menatapnya,” bisik Nara. Andra berpaling. Dadanya sesak. > “Berarti aku pernah jadi…” “Monster,” potong Nara. “Tapi juga pahlawan. Pengkhianat. Penyelamat. Semua itu pernah jadi kamu.” > “Lalu… siapa aku yang sekarang?” Nara tak menjawab. --- Mereka tiba di ruang besar. Bundar. Lantainya kaca bening, menampakkan dunia yang retak di bawah mereka — seperti bola salju yang pecah tapi tak jatuh. Di tengahnya berdiri sebuah jam raksasa — tanpa angka. Hanya simbol-simbol yang terus berganti, seperti mencoba mengingat masa lalu yang dilupakan. > “Itu Retakan Pusat?” tanya Andra. Nara menggeleng. “Itu hanya pintunya. Penjaganya… sudah menunggumu.” Dari balik bayangan jam, sebuah sosok melangkah keluar. Seorang pria tinggi, tak mirip Andra. Tapi aura yang mengikutinya… identik. Terlalu identik. > “Akhirnya kita bertemu,” katanya. “Aku… Bayangan. Aku adalah kamu—yang pertama. Aku yang menolak menjadi kunci waktu. Aku yang memilih untuk… kabur.” Andra terpaku. “Kalau kau bagian dariku… kenapa melawan?” Bayangan tertawa — pelan, getir. “Karena stabilitas adalah kebohongan. Dunia ini tidak butuh penyelamat. Dunia butuh akhir. Aku ingin memutus siklus ini. Dan hanya aku yang bisa melakukannya… dengan menghancurkanmu.” > “Aku tidak akan membiarkanmu.” > “Tentu tidak. Tapi pertarungan ini bukan tentang kekuatan, Andra. Ini soal… siapa yang diakui waktu sebagai kebenaran.” Nara menatap Andra. “Kau harus memilih. Bukan siapa yang menang. Tapi siapa yang akan menjadi akhir.” Andra menutup mata. Kilasan datang: Dunia yang runtuh. Gadis dengan mata penuh air mata. Cermin yang tak memantulkan siapa pun. Semua versi dirinya. Semua jalan yang pernah ia pilih. > Dan hanya satu… akan tersisa. Andra membuka mata. Jam kecil di tangannya mulai berdetak. Untuk pertama kalinya… jarumnya bergerak maju. Dan waktu bergetar. --- Bayangan tersenyum. “Ah… akhirnya.” > Dentang pertama terdengar. Udara di ruangan mulai retak — seolah waktu tidak bisa lagi menahan dua kenyataan. > Dentang kedua. Dentang ketiga. Dunia memilih. Andra maju selangkah. Bayangan pun demikian. > Dentang keempat. Jam raksasa di tengah ruang menghitam. Simbol-simbolnya berhenti berubah. > Dentang kelima. Segalanya menjadi sunyi. Seperti sebelum badai. Dan saat dentang keenam terdengar— Semua cahaya padam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD