Sampai di depan gedung kost Zamil, Nilam tampak sudah benar-benar lemas. Zamil memapahnya masuk, lalu menggendong ketika langkah gadis mungil itu sudah tak lagi mampu menapak. Begitu dibaringkan di kasur, Nilam membuka mata. Tangannya meraih leher Zamil, menariknya mendekat, dan bibir mereka bersentuhan. “Nilam! Lo … gila?! Gue cowok sahabat lo!” Zamil mencoba menahan. “Tolong aku, Mil ... tolong!” Suara Nilam nyaris tak terdengar. “Sentuh gue … please ... malam ini aja, lo harus sentuh gue!” Zamil menelan ludah, mencoba mengatur napas. “Nil, jangan ngawur! Mendingan lo tidur, gih! Lo itu mabuk! Akal pikiran Lo lagi nggak normal. Gue mau balik dulu ke—” Tarikan itu datang lagi, kali ini lebih kuat. Tubuh Nilam terangkat sedikit, jarak di antara mereka hilang, tergantikan oleh hembusan

