Tirta tersenyum bahagia, ekspresinya seolah jelas berkata, “Lihat, Mil! Aku lebih berarti untuk anakmu daripada kamu!” Matanya tak lepas dari wajah Zamil yang penuh rasa puas. Zamil membalas tatapan Tirta — tatapan yang tampak dingin, menusuk, dan seolah ingin menantang perang. Meski tak ada kata yang keluar, tapi udara di antara mereka membuat d**a sesak. Dua pria itu seperti dua ekor singa jantan yang sedang mengukur kekuatan sebelum bertarung. Nilam yang menyadari suasana itu hanya menghela napas. “Ayo kita makan!” ujarnya dengan nada tegas, berusaha memotong aura tegang yang makin terasa. Kedua pria itu akhirnya mengalihkan pandangan masing-masing ke arah piring. Sendok dan garpu mulai bergerak, tapi suasana di meja makan tak benar-benar cair. Ada senyum tipis, ada tatapan sekilas,

