Tanpa menunggu jawaban Tirta, Nilam berjinjit, lalu menempelkan bibirnya pada bibir pria itu. Sentuhan itu terasa lembut, sarat dorongan hasrat yang sulit disembunyikan. Awalnya Tirta hanya terdiam, tapi perlahan, dia membalas, bibir mereka saling mencari, saling mengunci dalam ritme yang semakin dalam. Suara napas bercampur, seolah dunia di luar kamar itu tak lagi ada. Nilam menurunkan ciumannya ke leher Tirta, membiarkan bibir menekan lembut di beberapa titik hingga meninggalkan jejak merah. Dia lalu bergerak turun, menyentuh d**a pria itu dengan jemari lentiknya lalu menunduk, berlanjut menciumi perut Tirta. Dia sempat menatap ke atas, ke arah wajah Tirta, dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara keberanian dan kerentanan, dengan gerakan yang penuh tantangan, tangannya menarik simpu

