16. Penangkal

1259 Words
Tidak lama aku tersungkur ke tanah, aku melihat ke belakang siapa pelaku yang berani menjambak rambutku. Tidak ada siapa pun, tapi aku merasa merinding. Segera aku masuk ke dalam dengan masih ketakutan, hantu-hantu di rumah ini sangat jahil bahkan siang pun mereka berani muncul. Mungkin karena hari ini mendung di tambah banyak pohon yang rindang membuat sinar matahari sulit masuk, hanya itu kemungkinan yang terpikir olehku. Aku kemudian menuju ke depan rumah, menunggu di sana membuatku sedikit lebih tenang. Setidaknya jika ada sesuatu aku bisa langsung berlari ke rumah tetangga yang berjarak satu meter. Ngomong-ngomong soal tetangga aku baru ingat kalau kami belum menyapa siapa pun yang ada di sini, mungkin aku harus mengingatkan orangtuaku nanti soal ini. Setelah mama dan papa pulang dari membeli kasur. Aku tidak perlu ikut membeli kasur karena aku yakin pilihan mereka adalah yang terbaik. "Lho, Dek gak di dalam rumah ngapain berdiri di depan pintu pagar?" tanya papa dengan kerutan di dahinya. "Kasurnya mana?" tanyaku mengalihkan topik malas membahas hal itu. "Ya nanti dianterin sama mobil khusus, ya kali kita bawa kasur besar begitu si Genta," kata mama sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Oh, iya juga ya," kataku sambil nyengir kuda. Akhirnya kami masuk ke dalam, kulihat mama membawa banyak belanjaan. Aku meletakkan buku dan membantu mama meletakkan semua belanjaannya di kulkas. "Papa ke atas duluan ya," ujar papa. Setelah menerima anggukan dari kami papa naik ke atas. "Mama mau masak apa? Genta bantuin ya." "Gak usah kamu belajar aja," jawab mama. Akhirnya aku langsung ke kebun belakang bukan karena ingin belajar lagi di sana tapi membereskan semuanya. Membawa kursi, minuman dan camilanku ke dalam dan kemudian belajar sambil melihat mama memasak di meja makan. "Lho, kok malah belajar di situ sih, Sayang?" "Gak apa-apa, Ma. Sekalian nemeni Mama masak," jawabku mencari alasan. Mama hanya diam saja dan melanjutkan mencuci sayuran. Akhirnya aku bisa konsentrasi belajar dengan suara percikan air, suara sayuran dipotong dan pertemuan antara wajan juga spatula yang bekerjasama mengaduk makanan sebagai hiasan suara belajarku. "Ayo, makan dulu nanti lanjut belajar. Kamu cuci tangan Mama mau panggil Papa dulu." Mama menuju ke atas setelah mengatakan itu. Aku langsung menutup bukuku dan menuju ke wastafel untuk mencuci tangan. Masakan mama tercium sangat enak, aku berniat mengambilnya dengan tangan dan mencicipnya sedikit. Niatku aku urungkan saat aku lihat mie goreng yang mama masak adalah berupa cacing yang hidup dan menggeliat. Aku mengucek mataku, dan saat kembali melihat mie itu mie itu kembali seperti semula hanya sebuah mie biasa bukan cacing. "Apakah aku kebanyakan nonton film horor ya?" tanyaku pada diri sendiri. Mama dan papa turun dari tangga, aku langsung menggelengkan kepala dan kemudian membantu mama menyiapkan piring dan menyusun makanan di atas meja makan. *** Malam muncul menggantikan mentari dan senja yang telah usai, entahlah kenapa aku sekarang membenci malam. Karena banyak hal yang dilalui bersama malam terutama gangguan yang aku terima, dan aku belajar bahwa malam bukanlah satu-satunya perantara. Tempat yang gelap pun atau teduh tanpa sinar matahari juga bisa. Setelah mencuci kaki, dan mencuci wajah aku menuju ke kasur. Setidaknya kasur baru bisa membuatku senang, perlahan aku hempaskan tubuhku ke kasur empuk itu. Rasanya sangat nyaman, dan tanpa sadar mulai terlelap dengan sendirinya. Suara detikan jam itu kembali berulah, tapi aku sudah tidak peduli masa bod*h. Aku hanya ingin tidur nyenyak saja, dan syukurlah malam ini aku bisa tidur dengan tenang. Tapi sepertinya itu tidak berlangsung lama karena aku merasa seperti ada yang memegangi kakiku dan juga menjambak rambutku membuat tidurku tidak nyaman, aku langsung bangkit dan benar saja kulihat sosok anak dua anak kecil di depanku. Mereka tersenyum dengan wajah pucat mereka dan hiasan darah di pelipis mereka, menyebalkan. Kenapa setiap rumah harus selalu ada hantu anak kecilnya, dan mereka semua jahil. "Kakak, Kakak main yuk," ajak salah satu dari mereka. Aku hanya diam pura-pura tidak melihat mereka walau aku tau mereka mengizinkan aku melihat wujud mereka. Sebagai anak biasa yang tidak punya keistimewaan tidak bisa melihat hal yang tidak kasat mata kita perlu izin dari mereka saat mereka memang ingin memperlihatkan diri barulah bisa melihatnya, aku ingat betul itulah yang kakek katakan padaku. Aku pergi ke kamar mandi seolah-olah terbangun bukan karena gangguan mereka tapi karena ingin pipis. Setelah itu aku kembali tidur, entahlah bagaimana wajah anak-anak itu membayangkannya pun aku tidak mau. Saat keluar dari kamar mandi mereka telah pergi dan aku melanjutkan tidurku. Akhirnya biaa tidur nyenyak tanpa gangguan apapun lagi setelah itu. *** Setelah mencuci muka aku langsung ke bawah, mencuci muka tanpa melihat cermin karena tidak ada cermin di kamar mandi. "Pagi, Ma, Pa. Sarapan gak ngajak-ngajak, ih," kataku sambil mengerucutkan bibir melihat papa dan mama sudah memakan sesuatu sebagai sarapan. "Siapa suruh kamu bangunnya siang terus, Dek," jawab papa tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan yang dia makan. "Udah, udah, itu Mama dan Papa udah beliin lontong sayur juga buat kamu," kata mama sambil menunjuk bungkusan di tengah meja. "muka kamu kenapa, Sayang!?" tanya mama kaget saat melihatku. "Kenapa emang muka Genta, Ma?" tanyaku malah balik bertanya. "Oh, iya muka kamu kenapa Dek. Kamu alergikah? Tapi setau Papa kamu gak alergi apapun," tambah papa. Aku yang penasaran langsung pergi ke kamar dan mengambil cermin, betapa kagetnya aku ketika melihat wajahku yang berbintik-bintik merah. Mama dan papa menyusul ke dalam kamar dan berdiri di belakangku. "Wajah Genta kenapa ya, Ma, Pa?" tanyaku pada mereka. "Kita gak tau, Sayang. Coba kamu inget dulu mungkin kamu lupa cuci muka sebelum tidur, atau ada sesuatu hal yang lain?" tanya mama. Aku menggelengkan kepala "Genta gak lupa cuci muka kok, Pa, Ma." Kulihat perhatian mama dan papa teralihkan ke kasurku, perlahan papa berjalan ke arah sana dan menyibak selimut. Aku dan mama berbarengan melotot dan saling berpandangan tidak percaya, ternyata banyak ulat bulu di selimutku. "Kok ... kok bisa banyak ulat bulu!?" heranku. "Adek, Mama, ayo kita bersihkan ini dulu habis ini ada yang mau Papa omongi," kata papa dengan wajah serius. Aku dan mama mengangguk kemudian bersamaan turun ke bawah mengambil sapu, tempat sampah dan sarung tangan. Saat mengambil ulat itu aku merasa geli, dia menggeliat. "Hih," ujarku ngeri sambil membuang ulat itu ke tempat sampah. Setelah selesai kami pindah ke meja makan, wajah papa sudah serius sedari tadi. "Adek banyak dapat gangguan tidak selama di rumah ini?" tanya papa setelah diam agak lama. Aku terkejut, bagaimana papa bisa tau padahal aku memang tidak berniat menceritakan hal ini takut mereka khawatir. Sekarang papa malah terlihat seperti nenek yang seperti tau segalanya. "I ... iya sih, Pa," jawabku gugup. "Adek gak bawa barang apapun dari Nenek kan?" tanya papa lagi. Aku menggeleng kuat, aku sudah berjanji pada papa. Tapi aku tidak berani menceritakan soal kacamata yang dibakar itu. "Kalau begitu gangguannya dari penghini rumah ini, yaudah nanti Papa buatkan penangkal." Papa kemudian pergi ke kamar tanpa menunggu jawaban dariku mau pun mama, aku masih mematung belum bisa mencerna penangkal yang papa maksud. "Genta gak belajar?" tanya mama membuat aku sadar bahwa aku harus belajar. "Oh, iya Ma kalau gitu Genta belajar dulu di sini aja ya, Ma," jawabku. "Iya, sabar dulu ya Sayang nanti kalau sudah dapat pekerjaan Papa pasti akan belikan meja belajar baru untuk kamu." Mama mengelus rambutku. "Iya, Ma." Aku langsung menuju ke atas, mengambil buku, turun ke bawah lagi, dan mulai belajar. "Eh, sebelum belajar Mama oleskan obat ke muka sama badan kamu ya," kata mama saat aku hendak membuka buku. Aku mengangguk kemudian memejamkan mata, kebiasaan kalau ingin diobati mama. Aku tidak bisa bertatapan langsung rasanya akan gugup atau malah lucu dan tidak berhenti tertawa. "Dek potong rambut kamu sedikit dong," pinta papa tiba-tiba sambil membawa gunting.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD