15. Gosong

1141 Words
Selesai makan dan membayar kami pulang, nasi goreng di sini menurutku cukup enak. Kami pulang tidak langsung menuju ke rumah tapi melihat tengah kota di malam hari dan berjalan-jalan sebentar, akhirnya hidupku yang nyaman dengan kedua orangtuaku kembali lagi. Apalagi jika papa sudah mendapatkan pekerjaan aku rasa hal itu akan membuat kami jadi jauh lebih senang, aku yakin diam-diam papa sedang berusaha mencari pekerjaan baru dan akan memberitahukannya jika sudah berhasil. Akhirnya malam ini aku bisa tidur dengan hati senang setelah apa yang terjadi pagi tadi. Kamar ini sudah bersih, walau aku belum sempat membersihkan lemari dan meja riasnya. Entahlah bagaimana papa bisa menyingkirkan kasur menjijikkan itu, papa memang sangat ajaib karena bisa melakukannya seorang diri dan yang lebih hebat mama dan aku tidak melihat papa di pintu depan. Tau-tau saja papa bilang bahwa kasur itu sudah dia bawa ke tempat pembuangan sampah yang besar itu, yang berisi banyak tumpukan sampah menggunung. Tempat itu sangat jauh dan papa rela menghabiskan setengah jam waktunya dengan kasur menjijikkan itu demi membuangnya, sungguh aku sayang orangtuaku yang hebat. Setelah aku terlelap antara setengah sadar dan masih mengantuk kudengar suara jam berdetik kembali, sama kerasnya seperti kemarin. Tetap kelanjutan tidurku, tidak peduli hal itu. Akhirnya suara itu menghilang juga. Tapi kemudian aku terlonjak kaget ketika mendengar bunyi seperti bom meledak, aku langsung berdiri melihat ke arah jendela tetapi hanya ada sunyi. Sepertinya itu hanya mimpiku saja, "Menyebalkan sekali," gerutuku. Aku melanjutkan tidurku. Baru saja aku berbalik, sudah mau terjengkang ke belakang jika tidak cepat menyeimbangkan tubuh. Bagaimana tidak, kini di depanku ada sebuah bola api yang melayang dan cukup besar. Aku bergidik ngeri, "Ini hanya mimpi," gumamku meyakinkan diri walau tidak bisa sepenuhnya. Apa yang terjadi di desa tentu jadi pelajaran yang tidak akan terlupakan dan membuatku yang serba logika berubah menjadi percaya akan hal-hal seperti ini. Saat bola itu melayang ke arahku aku langsung duduk sambil memegangi kepala, dan akhirnya bola api itu keluar dari jendela yang masih terbuka. Aku menutup jendela itu rapat-rapat dan kembali tidur, berharap ini mimpi dan segera bangun. Jam berdetik itu kembali terdengar dan entah kenapa setiap detikan jam itu aku merasa panas, aku terbangun kembali keringat sudah banyak membanjiri sampai kaus yang kenakan juga ikut basah. Tidak tahan dengan panas ini aku menyalakan kipas, tidak juga berhasil. Akhirnya aku memutuskan ke kamar mandi dan mandi saat itu juga. Rasanya lega, panas yang menjalar itu sedikit mulai sedikit menghilang. Tapi entah kenapa aku mencium bau gosong setelahnya, akhirnya aku keluar dengan baju yang basah kuyup dan mencari bau gosong itu sambil mengendus-ngendus. Kenapa aku merasa bau gosong itu sangat dekat, aku mengendus diriku sendiri dan benar saja ternyata bau gosong itu berasal dari tubuhku. Aku mencari cermin untuk melihat wajahku. "Aaa!" teriakku saat melihat kulit wajah yang gosong seperti habis dipanggang, tidak hanya itu kepalaku juga penuh dengan asap. Aku lihat kulit tanganku juga perlahan mulai menghitam. Langsung aku berlari ke kamar orangtuaku yang ada di sebelah. "Ma, Pa!" panggilku dengan air mata juga sambil menggedor-gedor pintu. Wajah cemas dan masih mengantuk terlihat dari wajah mereka saat pintu kamar dibuka, jika saat ini aku sedang tidak panik sudah pasi kutertawakan karena wajah itu begitu lucu terlihat. "Ada apa, Dek?" tanya papa. "Kenapa, Sayang?" timpal mama. "Wajah ... wajah Genta." Tangisku pecah. "Wajah kamu kenapa Dek ada jerawatnya?" tanya papa. "Kamu ngigau ya, Genta? Wajah kamu kenapa emangnya masih cantik kok," kata mama. "Masa Mama dan Papa gak liat wajah Genta gosong gini, terus juga kepala Genta ada asepnya!" rengekku. Mama dan papa saling bertatapan, mama kemudian masuk ke kamar dan tidak lama setelahnya membawa sebuah cermin kecil. "Liat deh, wajah kamu gak kenapa-kenapa kok." Mama memberikan kaca itu padaku dan aku langsung melihat wajahku di cermin, dan benar saja tidak ada wajah gosong atau asap di kepala seperti tadi. Aku melihat tanganku yang ternyata sudah kembali seperti semula tanpa aku sadari. "gimana?" tanya mama. "Eh, iya kok kembali seperti semula ya," kataku kaget. "Terus itu kenapa kamu basah kuyup gitu?" tanya papa sambil melihat dari ujung kaki sampai ujung rambutku. "Itu tadi Genta kepanasan jadi mandi deh, ehe," kataku bergegas pergi setelah mengembalikan kaca itu ke tangan mama. Aku tidak mau diinterogasi lebih jauh lagi. *** Paginya aku enggan untuk turun ke bawah, kejadian kemarin malam sungguh memalukan. Apakah aku bermimpi atau benar itu nyata sulit sekali untuk dibedakan, tapi mau tidak mau aku harua turun. Dengan langkah gontai berjalan menuju bawah, melihat ke kiri dan ke kanan sepertinya aman tidak ada mama dan papa. "Kenapa, Dek kok ngendap-ngendap kayak maling gitu?" tanya papa yang berdiri di belakangku secara tiba-tiba membuat aku terlonjak kaget. "Ng ... nganu, Pa. Itu lagi ... hmm nganu, main detektif-detektifan," jawabku dengan alasan yang konyol. Benar saja papa terkekeh sampai memegangi perutnya. "Adek, Adek, tingkah kamu pagi-pagi udah aneh-aneh aja. Oh, iya tadi malam gimana mukanya masih gosong," goda papa sambil terkekeh lagi. "Tadi malam?" tanyaku sok pikun. "memang tadi malam Genta ke kamar Papa sama Mama?" tanyaku lagi mulai berakting agar tidak diledek. "Haduh yang pagi-pagi udah akting, mau main sinetron apa gimana sih Genta?" tanya mamaku sambil mencubip pipiku tanpa ampun. "Aw, sakit Ma. Memang Genta gak inget kok kejadian semalam," kataku masih kukuh dengan jawabanku. "Terserah kamulah, Dek. Pokoknya Papa dan Mama anggap tadi malam itu kejadian lucu tidak terlupakan," jawab papa sambil tersenyum jahil. Seketika otakku menemukan sebuah ide. "Tadi malam ada juga kok yang mukanya kayak gini." Aku memperagakan wajah orangtuaku yang menurutku lucu itu, kemudian aku terkekeh ikut mengejek. "Eh, ada tukang bubur tuh Ma. Beli yuk," ajak papa yang aku tau hanya mengelak saja. Akhirnya pagi ini kami benar-benar sarapan bubur yang jualan berkeliling dengan sepeda motornya. Saat memesan bubur pastinya ada bincangan basa-basi agar tidak bosan, papa memperkenalkan dirinya, aku, juga mama sebagai pemilik rumah baru ini. Entahlah papa menyadarinya atau tidak tapi saat papa bercerita demikian tukang bubur itu seperti agak terkejut, tapi dengan cepat merubah raut wajahnya dan mengalihkan topik pembicaraan. Gelagat yang menurutku aneh, tapi uniknya tukang bubur itu jualan di setiap tanggal kelipatan lima saja. Jadi hari-hari lainnya dia berdagang yang lain, unik menurutku. Selesai sarapan aku berencana belajar hari ini, waktu liburku hanya tinggal seminggu lagi dan sahabatku juga mungkin mulai belajar karena masa libur seminggunya telah usai di luar negeri. Tapi aku juga tidak lupa kalau aku harus membersihkan kamar ini sebelum aku pakai total, mungkin besok aku akan membersihkannya. Masih trauma dengan kejadian kemarin, aku mengambil kursi dan duduk di tempat teduh di taman belakang untuk belajar. Tidak lupa dengan camilan juga sebuah minuman. "Dengar aku ...," bisik sebuah suara. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan tidak ada orang, mama dan papa sedang pergi. "selanjutnya kamu ...." Aku langsung berdiri karena merinding mendengar suara itu lagi dan langsung masuk ke dalam tidak peduli dengan kursi yang tadi dibawa dari dalam. "Aaa!" teriakku, aku merasakan rambutku dijambak sangat kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD