14. Kasur menjijikkan

1146 Words
Aku memberanikan diri melihat sampah di dapur lagi, dan tidak ada apapun di sana. Mama dan papa baru saja masuk dari kebun belakang. "Kamu kenapa, Dek kok mukanya pucet gitu?" tanya papa, sepertinya papa menyadarinya. "Kamu sakit, Sayang? Gak enak badan? Udah sarapan?" tanya mama bertubi-tubi langsung mengarahkan telapak tangannya ke dahiku. "Genta baik-baik aja kok, Ma, Pa. Masa muka Genta pucet?" tanyaku menghindar pura-pura tidak percaya. "Genta juga udah sarapan kok, Ma. Tapi kangen masakan Mama," tambahku dengan manja. "Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Sabar ya, Sayang. Nanti kalau kita udah beresin semuanya baru Mama masakin lagi," jawab mama, aku pun mengangguk sambil tersenyum senang. "udah beresin kamar belum?" tanya mama, membuat senyumanku jadi cengiran. Aku langsung ke kamar tanpa menjawab pertanyaan mama, aku yakin mama juga pasti mengerti maksudnya. Setibanya di kamar aku membuka pintu itu perlahan dengan kunci yang sudah aku masukkan dan tentu saja diputar gagang pintunya. Debu yang berterbangan ke udara menyapa membuat terbatuk beberapa kali. Aku mengibas-ngibaskan tangan untuk mengusir debu itu, akhirnya aku kembali ke kamar mama dan papa untuk mencari masker. Setelahnya barulah aku berani melihat ke dalam, hawa dingin dan juga lembab begitu terasa dari kamar ini. Entahlah kenapa aku tidak begitu suka, baru saja satu langkah aku masuk sudah terasa tidak enak. Kamar ini terasa lebih suram dari rumahnya sendiri. Aku hanya melihat-lihat dari depan pintu belum berani masuk lebih dalam lagi, di jendela sebaris dengan pintu terletak tempat tidur yang langsung menghadap ke jendela yang tidak terlalu tinggi. Rasanya pas saat bangun dan membuka jendela, kepala langsung bisa melihat kebun belakang. Ada juga meja rias, dan lemari pakaian. Aku bingung harus mulai membersihkan dari sana, akhirnya setelah berpikir cukup lama, aku mengambil sapu dan pel. Lantai kamar ini juga terbuat dari kemarik, dan penuh debu yang tebal sampai hampir menghitam. Aku menyapu perlahan debu yang tebal di lantai, membuka jendela tentu saja sebelum itu. Kemudian mengepelnya, sepertinya waktu satu hari tidak akan cukup membersihkan ini semua tapi sebisa mungkin aku usahakan. Aku tidak bisa membiarkan mama melakukan semuanya dan juga tidak rela waktu belajarku yang cukup berharga harus terista untuk bersih-bersih yang lama. Jadi, jalan tengahnya adalah membersihkan kamar ini secepat mungkin. Akhirnya lantai bersih dan terlihat bersinar dalam waktu kurang lebih satu jam. Berikutnya dengan takut-takut aku melihat ke tempat tidur yang ternyata seprainya berwarna putih polos tapi ada noda merah yang cukup banyak di beberapa bagian. Aku langsung membukanya perlahan, dan saat seprai itu dibuka perutku rasanya mual seperti akan mengeluarkan nasi goreng yang tadi pagi aku makan. Bagaimana tidak dibalik seprai putih itu ada cairan merah yang merembas sampai ke tempat tidur tapi tidak mengenai lantai. Baunya juga tidak enak, ada juga semut hitam dan merah yang saling mengerubungi ditemani oleh belatung dan beberapa kecoa. Aku langsung turun ke bawah dengan histeris "Papa, Mama!" teriakku heboh. "Kenapa, Sayang?" tanya mama khawatir. "Itu di kamar Genta ada, ada itu ...." Sulit sekali rasanya menjelaskan hal menjijikkan yang aku temukan. Akhirnya aku tidak meneruskan perkataanku dan langsung menarik tangan kedua orangtuaku itu. Sesampainya di kamar aku hanya berani menunjuk ke arah tempat tidur tanpa berani melihat. "Memang ada apa sih? " tanya mama sambil masuk ke dalam lebih dulu, dan setelah melihatnya mama langsung turun ke bawah sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Aku menyusul mama dan lupa dengan papa. Kulihat mama pergi ke kamar mandi yang ada di lantai bawah dan kemudian terdengar dia memuntahkan isi perutnya, aku membayangkannya jadi ingin ikut muntah. Saat mama keluar dari dalam kamar mandi wajahnya terlihat pucat, aku mengambilkan air untuk mama dan mama meminumnya sedikit sambil kuelus punggungnya. "Kok bisa sih Sayang ada yang begituan di kamar kami, jijik banget," komentar mama sambil bergidik. "Genta gak tau, Ma," jawabku. "Tapi beneran, Nak. Kemarin pas Mama dan Papa mau beli rumah ini gak ada hal seperti itu kami periksa dengan teliti," tambah mama lagi dengan yakin. Aku hanya bisa diam, bingung juga untuk menjawabnya. Akhirnya kami hanya diam dan sibu dengan pikiran masing-masing tentang apa yang terjadi, atau mungkin lebih tepatnya mama masih mencoba menghilangkan rasa kagetnya. Perhatian kami berpaling saat papa turun ke bawah dan mengambil sapu. "Papa mau ngapain?" tanyaku. "Papa mau bersihin kasur kamu, untuk sementara kamu tidur di kasur lipet aja dulu nanti Papa belikan yang baru ya, Dek," jawabnya kemudian berlalu pergi menaiki tangga. "Papamu itu selalu begitu gak ada rasa takit dan jijiknya, tapi dengan begitu jadi bisa diandalkan," celetuk mama tiba-tiba membuat kami berdua tertawa kecil. *** Akhirnya perasaanku lega, tidak ada lagi rasa jijik dan lainnya dan semoga aku bisa tidur nyenyak malam ini walau hanya dengan kasur lipat kecil. Tapi terkadang aku berpikir bagaimana papa bisa mengeluarkan kasur itu seorang diri tanpa bantuan orang lain dan yang paling penting tidak terlihat olehku maupun mama. Terkadang papa itu memang ajaib sekali. Malam ini kami memutuskan untuk makan di luar, bukan di restoran mahal atau yang mewah kami makan di warung pinggir jalan. Di dekat kantor tempat papa kerja dulu katanya ada sebuah warung pinggir jalan yang harganya murah, dan enak pastinya. "Papa yakin mau ajak kita ke sana? Gimana kalau ada temen kantor Papa yang makan di sana juga?" tanya mama terlihat cemas. Benar juga aku tidak memikirkan hal itu, hanya rasa gembira saja yang ada dihatiku. "Yaudah kalau gitu kita cari yang lain, kalau gak seenak yang di sana gak masalah?" tanya papa setelah berpikir cukup lama. "Gak masalah, Pa. Yang penting ada nasi gorengnya dan makannya bareng Papa sama Mama," jawabku dengan cengiran. "Uh, si Adek bisa aja," kata papa sambil mengacak-ngacak rambutku. Setelahnya kami berangkat, setelah mencari beberapa menit kami putuskan untuk ke tempat yang tidak terlalu jauh dari pinggiran kota tempat kami tinggal. Papa mencari parkiran mobil di tempat yang agak jauh yang penting tidak menghalangi jalan, dan kami turun mencari tempat duduk. Meski pinggiran kota tapi pinggiran kota di sini bukan daerah yang kumuh tapi cukup bagus walau tidak sebagus pusat kota tentunya. Akhirnya di tenda warung pinggir jalan kami menemukan tempat duduk di dekat tempat pembuatan makanannya, kami bisa menyaksikan langsung saat si ibu penjual membuat pesannya. Gerakan tangannya begitu lincah, tangan kiri mengaduk wajan berisi nasi goreng dan yang tangan lainnya mengambil bumbu seperti garam dan gula dari tempat bumbu yang berupa toples kecil di sebelahnya. Tidak lama datang wanita muda yang memakai celemek setelah kami memanggilnya, tidak ada menu di sini kita memesan berdasarkan tulisan yang ada di depan tenda yang seperti sebuah spanduk besar dengan dasarnya yang berwarna putih dilengkapi dengan gambar bebek, ayam, dan nasi goreng yang besar. "Mau pesan apa, Bu?" tanya wanita muda bercelemek itu. "Nasi goreng satu, pecel lele satu, sama ayam penyetnya juga satu ya, minumnya teh anget aja," jawab mama memesan. Setelah menganggukan kepala wanita muda itu langsung membuat pesanan di sebelah si ibu yang terlihat sudah memasukkan masakannya yang sudah matang ke sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu yang dilapisa daun pisang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD