13. Tengah malam

1181 Words
Ketika sampai di rumah kami harus membersihkan kamar lagi, malam ini aku berencana tidur bersama mama dan papa di kamar mereka. Kamar kami ada di lantai dua yang saling berhadapan, aku malas melihat kamarku dulu takut merinding lagi. Walau pun aku bukan orang yang bisa melihat makhluk tidak kasat mata tapi tetap saja jika mereka lewat akan terasa oleh bulu kuduk semua orang, belum lagi aku masih belum terbiasa dengan rumah ini. Untunglah untuk listrik dan air masih berfungsi dengan baik. Total ada tiga kamar mandi di rumah ini, masing-masing di kamarku dan orangtuaku juga ada di bawah di dekat tangga. Kami bergantian menggunakan kamar mandi di kamar mama dan papa, sedangkan kata papa besok akan mengecek kamar mandinya satu persatu karena takut ada yang tidak berfungsi baik seperti kamar mandi mereka. Setelah itu mama menyapu bagian lantai yang terbuat dari keramik itu, mungkin khusus bagian kamar lantainya terbuat dari keramik bukan dari kayu. Cukup unik menurutku, sedangkan aku bagian mengepelnya, dan papa mengambil kasur lipat kami dari dalam mobil beserta selimutnya dan bantal-bantal kecil yang ada kemudian menyusunnya. Akhirnya kami bisa tidur juga walau alakadarnya, mulai saat ini akan aku lupakan apa yang terjadi di desa karena itu sudah tidak penting lagi. Walau otakku masih merekam dengan jelas saat papa dan nenek bertengkar, aku yakin papa sedih tapi dia bisa menutupi kesedihannya itu. Suara dengkuran terdengar dari sebelah, mama dan papa sudah terlihat tidur lelap dengan napas yang teratur. Aku mencoba memejamkan mata, tapi tidak berhasil juga setelah lima menit mencoba. Mungkin karena tadi sudah tidur di mobil jadi susah untuk tidur lagi, akhirnya aku mencoba menatap sekitar dengan asal dan terhenti pada langit-langit rumah yang catnya sudah mengelupas. Tapi di bagian pinggirnya ada ukiran bunga-bunga kecil membentuk seperti bingkai yang terlihat jelas dan agak mencolok. Rumah ini benar-benar unik, pantas papa bisa jatuh cinta. Desainnya minimalis tapi ada beberapa detail yang jika diperhatikan dengan teliti barulah terlihat, kebanyakan ada ukiran yang aku lihat di kamar mandi. Lebih detailnya di bagian setiap langit rumah, jiga setiap sudut dindingnya. Yang membuat aku menyadari hal itu karena ukirannya akan diwarnai berbeda dan agak mencolok, contohnya saat ini di langit-langit kamar ini cat yang mengelupas di langit-langit berwarna putih tapi bagian yang diukir membentuk bunga-bunga kecil berwarna biru muda yang mencolok tapi tidak norak. Akhirnya setelah menatap langit-langit itu cukup lama tanpa sadar aku terlelap. Jarum yang berdetik cukup kencang terdengar ditelingaku, tapi seingatku tidak ada jam di kamar ini. Perlahan mataku terbuka, terasa begitu berat. Aku lihat sekitar, benar saja tidak ada jam di kamar ini tapi suara jam itu cukup keras terdengar. Kemudian tidak lama jam itu berbunyi nyaring seperti gong yang dipukul membuatku kaget, tapi kantukku belum sepenuhnya hilang karena suara itu. Akhirnya aku melanjutkan tidurku, mungkin itu hanya mimpiku saja. Aku merasakan tubuhku kaku, mataku melotot seketika menatap langit-langit kamar yang kemudian lama-kelamaan dipenuhi rambut berwarna hitam yang menjuntai dan menutupi wajahku. "Enak saja kamu mau bakar aku!" seru sebuah suara serak yang terdengar menyeramkan di telingaku. Setelah itu entah kenapa sekujur tubuhku terasa panas seperti dibakar api, aku hendak mengeluh tapi tidak bisa. Rasanya ingin aku berteriak memanggil mama dan papa yang ada di sebelahku, tapi suaraku tidak mau keluar. Aku bisa melihat mereka yang masih tertidur dari sela-sela rambut hitam panjang ini. Mencoba menggerakkan tanganku, tapi percuma saja malah rasanya semakin kaku dan sakit. Semakin lama panasnya semakin menjadi-jadi, rasanya aku tidak kuat lagi. "Itulah yang aku rasakan, apa yang aku rasakan kamu juga harus rasakan!" bentak suara itu lagi. Kali ini tiba-tiba muncul wajah mengerikan dari balik rambut itu, aku coba meronta lebih kuat lagi. Wajah itu begitu mengerikan, tulang tengkorak yang sudah tidak berbentuk membuat wajahnya sulit dikenali. Tetesan darah dari wajah itu mengenai wajahku, baunya membuatku mual. Kemudian tidak lama kepala retak itu membela kepalanya kali ini tidak seburuk yang tadi, tapi tetap saja menyeramkan. Tatapannya kosong, dengan mulut mengaga. Semakin lama kepala itu semakin banyak saja dengan berbagai rupa membuatnya semakin menyeramkan seperti monster. Aku menangis, air mataku tidak bisa lagi dibendung. Rasanya sesak, entahlah apakah aku akan mati di rumah baru ini. Rasanya tidak sanggup lagi menahan panas yang ada di dalam tubuhku, juga melihat pemandangan seram ini. *** Bagaimana hari berganti dan menghilangkan mimpi buruk yang kemarin adalah yang aku suka. Perlahan aku buka mata, masih berada di tempat yang sama. Ternyata aku tidak mati seperti yang aku bayangkan. Aku bernapas lega jika kejadian kemarin hanyalah mimpi yang terasa begitu nyata. Aku bergegas ke kamar mandi dan melihat diriku di cermin, terlihat tidak bisa tidur nyenyak dengan tanda kantung mata hitam di bawah mataku. Aku melihat sesuatu di cermin itu terasa dia seperti sedang tersenyum. Aku berbalik, tidak ada siapa pun. Saat aku melihat kembali ke cermin, dia juga sudah tidak ada mungkin hanya perasaanku saja. Aku menepuk-nepuk kedua pipiku dengan kedua telapak tangan. "Jangan berhayal, ini masih pagi banyak yang harus dikerjakan," gumamku pada diriku sendiri. Aku turun ke bawah, ternyata mama dan papa tidak ada. Aku coba mencari mereka dan akhirnya menemukan mereka di kebun belakang. "Ma, Pa lagi ngapain gak buat sarapan dulu?" tanyaku. Mereka yang terlihat sedang asyik menanam sesuatu kemudian langsung berpaling melihatku. "Kita udah makan, kamu aja Dek yang bangunnya lama!" seru papa mengejek. "Yeee, namanya juga capek," kataku ngambek. "Mama tadi pesen nasi goreng tuh, ada di meja," kata mama membuatku langsung berselera. Aku langsung kembali ke dalam dan melihat di meja ternyata ada sebuah kotak makanan berwarna putih, lengkap dengan kerupuk yang dibungkus plastik bening kecil, sendok dan juga garpu plastik di atasnya. Dengan tidak sabar aku duduk dan ingin memakannya. Baru saja aku duduk kursi yang kududuki langsung patah membuat diriku merintih dan juga kaget. Punggungku rasanya sakit, perlahan aku bangkit. Aku tidak mau membuat papa dan mama khawatir, untung saja suara kursi yang patah beserta tubuhku tidak membuat papa dan mama terkejut dan langsung masuk. Aku mengganti kursi yang ada di sebelah kursi yang patah itu, mendudukinya perlahan takut jika nanti patah lagi. Kali ini tidak patah, aku yakin itu. Langsung setelahnya dengan lahap aku memakan nasi goreng itu. Selesai makan aku mencari tempat sampah di dalam rumah yang ternyata ada di dapur dekat kompor. Tempat sampah itu model pijak yang saat dipijak akan terbuka, aku tersenyum itu adalah tempat sampah kesayangan mama yang dia bawa-bawa di dalam mobil. Mungkin mama ingin rumah barunya menyimpan banyak barang kesayangannya salah satunya tempat sampah ini. Aku langsung memijak tempat sampah itu dan saat itu pula aku terlonjak kaget melihat sebuah kepala yang matanya sudah tidak ada tapi mulutnya tersenyum ke arahku. Mulut itu bisa bergerak, karena setelah tersenyum aku lihat lengkungan senyum itu menjadi ke bawah alias cemberut. Seketika aku merasa merinding langsung aku pergi dari sana dan mencari tempat sampah lain untuk membuang kotak dan air mineral yang telah habis aku makan dan minum. Dengan ngos-ngosan akhirnya aku menemukan tempat sampah di depan rumah, tanpa melihat ke dalamnya aku langsung membuangnya. Rumah ini benar-benar aneh, baru sehari aku tinggal di sini saja sudah banyak aku melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat. Aku menggelengkan kepala, "Itu hanya hayalan," kataku pada diriku sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD