12. Kembali

1196 Words
Setelah sampai di kantor kepala desa papa sempat ditanyai beberapa orang dan kami sudah masuk mobil lebih dulu, aku masih kaget nenek dan papa bisa bertengkar hebat dan aku tidak tau apa yang mereka permasalahkan. Setelah itu aku lihat dari kaca mobil papa menyalami beberapa orang yang ada di sana sambil tersenyum seperti tidak terjadi apapun, tapi raut wajahnya berubah kalut begitu masuk ke dalam mobil. Mobil pun mulai bergerak ke tempat tinggal baru kami, rumah yang ada di pinggiran kota. Hany sunyi dan diam yang menghiasi mobil, kepalaku masih berisi pertanyaan yang sama tentang apa yang mereka ributkan sampai bertengkar brgitu hebatnya. Sedangkan aku tidak tau apa yang mama dan papa pikirkan saat ini, kami larut dalam pikiran masing-masing sambil memandangi jalanan yang sunyi. "Ini semua salahmu," bisik sebuah suara membuat aku melihat ke arah bagasi mobil, tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada banyak barang yang berdesak-desakkan mengisi ruang. Apakah itu hanya imajinasiku, tapi aku jadi merasa bersalah karena hal itu. Bisa saja kan nenek dan papa bertengkar karena aku, karena hal yang aku ceritakan sebelumnya mungkin atau karena hal lainnya. "Apa Papa dan Nenek bertengkar karena Genta?" tanyaku pelan. Setelah kukumpulkan keberanian akhirnya pertanyaan itu terlontas juga, sepanjang jalan suara-suara yang menyalahkan aku terdengar begitu menyakitkan membuat d**a sesak. Tangan papa dan mama terlihat berhenti mencari barang yang ada di bagasi, mobil kami telah berhenti di sebuah rumah makan yang tidak terlalu sederhana tapi tidak juga terlalu mewah. Rencananya kami akan menumpang mandi dan dikat gigi di sini, kebetulan beberapa karyawan di sini adalah kenalan mama dan papa dulu. "Bukan kok bukan salah Genta, kenapa Genta mikirnya seperti itu?" tanya mama. "Genta hanya ...." Omonganku terpotong saat papa menyela. "Jangan dengarkan suara yang menyalahkanmu atau apapun itu," jawab papa kemudian masuk ke dalam restoran melalui pintu belakang. Aku dan mama mengikuti papa. Jujur aku agak kaget bagaimana papa tau bahwa aku mendengar suara itu, tapi itu tidak penting untuk dipikirkan saat ini. Setelah selesai kami makan di tempat itu dengan masih keadaan diam, rasanya suasana sangat tidak enak. Bahkan nasi goreng kesukaanku yang biasanya menggugah selera terasa hambar. "Udah dong jangan diem-dieman mulu kayak patung pancuran gak dibayar aja," celetuk mama sambil tersenyum. "Iya, Adek juga jangab merasa bersalah ya, Dek," kata papa dengan senyum yang dipaksakan. "Enggak kok, Pa," jawabku bohong. Papa dengan cepat menghabiskan makanannya kemudian bermain ponsel, satu lagi peraturan di keluarga kami yang tidak tertulis disaat makan atau belum menghabiskan makanan maka tidak boleh ada ponsel yang dinyalakan. "Kalian Papa tinggal di sini dulu ya, soalnya Papa udah buat janji sama makelar buat tanda tangan pembelian rumah hari ini," kata papa. "Iya, Pa," jawabku dan mama serentak, aku dan mama hanya tertawa setelah itu. Selesai makan papa langsung pamit pergi, dengan meninggalkan tasku karena aku yang memintanya. Sedangkan mama ikut membantu di dapur sebagai ucapan terimakasih sudah diperbolehkan menumpang mandi dan berganti pakaian. Aku berencana untuk mencari tempat belajar, itulah kenapa aku minta tasku ditinggal. Tas sekolah yang berisi buku, jajanan, dan beberapa pakaianku yang aku susun sendiri juga tidak lupa boneka sapi berukuran sedang yang kini sedang kupeluk. Setelah menemukan tempat yang sekiranya cocok langsung aku lihat ke dalam tasku dan aku menemukan sebuah kota yang pernah aku lihat sebelumnya, terlihat tidak asing. Mencoba mengingat dengan jari telunjuk di dagu, sampai akhirnya aku menjetikkan jari karena sudah mengingatnya. "Ini kan kotak di rumah Nenek," gumamku. "sebentar, kenapa kota ini ada di tasku?" aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Merasa aneh dan juga heran tentu saja, tapi separuh dalam diriku merasa penasaran ingin tau ada apa dibalik kotak kayu yang berukiran bunga itu. Terlihat seperti kotak zaman dulu, bentuknya agak panjang, kemudian ukiran bunga di sisi kira dan kanan juga di atas kotak itu. Warnanya cokelat tua, seperti warna kayu juga agak kilat dan saat dipegang terasa licin. Sudah siap tanganku ingin membuka kotak itu hanya tinggal mengangkat tutupnya saja, tapi kepalaku malah mengingatkan tentang apa yang papa katakan. Peringatan papa bahwa aku tidak boleh menerima barang pemberian nenek atau dekat dengannya demi kebaikan semua orang, akhirnya aku urungkan niatku. Tapi aku tidak pernah menerima kotak itu, atau mungkin nenek tau dan sengaja memasukkannya ke tasku agar aku membawanya. Akhirnya tanpa pikir panjang aku tinggalkan kotak itu begitu saja di sana dan mencari tempat lain untuk belajar. Akhirnya aku pindah tempat dari tempat semula, cukup jauh. Tapi saat kulihat lagi tasku kotak itu masih ada, kulihat ke tempat semula malah kotak itu sudah tidak ada di tempat semula. Akhirnya aku jengkel dan kubuang saja ke sembarang arah, tapi begitu aku buang kepalaku terasa ada yang melempar sesuatu dan saat dilihat kotak itu kembali lagi. Kulihat sekeliling dan tidak ada orang lain selain para pekerja yang sibuk membuka rumah makan mereka. Kali ini aku letakkan di tempat sampah dan kembali ke dalam, saat kuperiksa kotak itu juga masih ada. Di belakang rumah makan itu aku melihat ada yang menyulut api dan siap membakar banyak tumpukan plastik di depannya, akhirnya aku menitipkan kotak itu untuk di bakar dan aku melihat sendiri kotak itu terbakar sampai hangus akhirnya aku bisa bernapas lega. Papa paati bisa marah jika mengetahui bahwa kota nenek ada padaku, menuduh nenek pun tidak akan baik, apalagi menceritakan soal kotak itu yang tiba-tiba kembali dengan sendirinya setelah dibuang papa tidak akan percaya. Karena papa selalu berkata berulang kali bahwa benda itu tidak mempunyai kaki dan bisa berjalan sendiri jadi mana bisa dia berpindah tempat, papa selalu seperti itu saat aku mencari alasan tentang lupa akan suatu barang yang aku yakin sudah kumasukkan ke tas tapi nyatanya tidak ada. *** Menjelang sore papa kembali dan tentu saja dengan berita gembira bahwa rumah itu sudah bisa kami tempati saat itu juga. Setelah berpamitan dengan orang-orang di rumah makan itu dan mengucapkan terimakasih kami menuju rumah kami yang ada di pinggiran kota itu. "Sore ini kita akan bereskan bagian kamar dulu supaya setidaknya kita bisa istirahat, ya," ujar papa sambil melihat ke belakang. "Siap, Pa," jawabku senang. "Pa, nyetir liat depan bahaya tau," kata mama memperingati. Tapi sepertinya rencana kami hanya tinggal rencana karena macet yang melanda sungguh tidak masuk akal, hampir pukul sembilan kami baru bisa keluar dari kemacetan itu sepenuhnya. Sampai aku tidur di dalam mobil, sebenarnya kemacetan bukanlah suatu hal yang aku benci tapi saat banyak orang mengumpat dengan klakson yang dibunyikan membuat telinga sakit dan berkata mereka terburu-burulah yang membuatku membenci suasana macet. Seakan semua orang adalah orang penting yang sangat sibuk di seluruh dunia saja, bersabar sedikit juga tidak akan mengurangi umur mereka. u*****n mereka malah membuat hatiku panas dan membuat kesal, apalagi suara klakson mereka yang nyaring itu. Saat aku terbangun dan masih setengah sadar papa hanya menunggu dengan sabar malah aku mendengar papa bernyanyi bersama mama. "Genta, Sayang. Ayo bangun kita udah sampai nih." Mama menepuk pipiku pelan. Aku menguap lebar sambil merenggangkan otot. "Melek dulu baru jalan, ntar jatoh lho," kata papa sambil tertawa. Diledek begitu aku langsung bangun, kantukku hilang. Saat mataku menatap bangunan yang ada di depanku ini, yang akan menjadi pelindung dari panas dan hujan aku merasa merinding. Kenapa saat malam tiba rumah ini terasa lebih suram dari sebelumnya, mengerikan. Sepertinya aku harus segera terbiasa atau aku tidak akan tenang nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD