11. Nenek vs Papa

1380 Words
Aku segera berdiri, tapi sayangnya terlambat pisau itu mengenai lengan kananku cukup dalam sehingga bajuku sobek dan cairan berwarna merah kental itu perlahan keluar, belum lagi rasa perih dan nyeri yang ditimbulkan. Tapi sekuat tenaga aku mencoba terus lari dari kejarannya, berlari tanpa tau arah yang penting lolos dari dirinya. Beberapa kali aku sembunyi dan cepat juga ketahuan olehnya, entahlah bagaimana dia bisa tau tempat persembunyianku. Aku lelah, ngos-ngosan dan keringat juga sudah terkumpul di seluruh wajah sampai membuat wajah basah. Banyak orang memandangku aneh, padahal anak kecil kerdil itu menabrak banyak orang tapi mereka yang ditabrak seperti tidak merasakan apapun. Sungguh aneh.. Rasanya aku sudah tidak sanggup berlari lagi, jadi aku pergi ke area yang sepi di g**g sempit yang tidak jauh dari festival itu. Aku menyandar ke tembok dengan napas tidak beraturan dan kakiku sangat pegal juga lemas, setelah itu baru aku sadari bahwa darah yang mengalir dari lengaku berceceran sedari tadi. Pantas saja dia bisa tau tempatku sembunyi dengan mudahnya, akhirnya aku robek bagian bawah bajuku dan mengikat lenganku mencoba menghentikan pendarahannya. Aku rasa itu cukup berhasil. Sekali lagi aku mencari tempat untuk bersembunyi kali ini mungkin dia tidak bisa menemukanku, aku sudah mencapai batasanku dalam kabur. Setelah kurasa aku kuat berdiri, aku berdiri perlahan mencari benda di sekitar tong sampah di dalam g**g kecil itu untuk menjadi s*****a. Kutemukan beberapa balok kayu yang ukurannya pas untukku. Pada saat yang bersamaan aku mendengar suara yang tidak asing, suara anak kecil kerdil itu tentunya. "Aku akan membunuhmu!" ancamnya terdengar semakin dekat, kakiku bergetar tapi harus aku tahan atau aku akan jatuh ke tanah. Dia terus mengoceh dan berteriak, suara itu semakin dekat dan semakin dekat. Aku bersembunyi di balik bak sampah yang cukup besar sekarang, aku mengintip. Kulihat dia menusuk barang-barang di sekitarnya dengan pisau yang dia bawa. Kaleng yang ada di dekat sana dia tendang dengan kakinya yang terbalik dari kaki normal orang biasa, jarinya ada di bawah dan tungkai kakinya ada di atas. Saat dia mendengar suara yang mengalihkan perhatiannya dia melihat ke arah suara itu, ternyata suara sepasang kekasih yang terlihat mabuk dan menuju g**g kecil ini. Kesempatan ini aku gunakan untuk memukul kepalanya, membuat sepasang kekasih yang berjalan sempoyongan berteriak. Aku memukulnya sampai pingsan, kemudian mencoba kembali ke festival mencari mama dan papa. Daripada aku harus mencari di area festival aku mencari di area parkiran, dan sebuah keberuntungan aku menemukan mereka di sana yang juga cemas mencariku sedari tadi. Tidak bisa kutahan wajah ketakutan dan juga tangisan sebagai ekspresi campur aduk akan ketakutan juga kegembiraan bisa bertemu mereka. Mama dan papa tidak bertanya apapun dan hanya membawaku ke mobil, mendengarkanku menangis dan mencoba menenangkan sampai aku cukup tenang. "Kamu sudah tenang, Sayang?" tanya mama. Aku hanya mengangguk lemah. "Kalau gitu kita pulang aja ke desa, kamu ceritakan sama Mama dan Papa apa yang terjadj ya," pinta papa lembut, aku mengangguk lagi. Kemudian mama menemaniku duduk di belakang dan papa sendirian duduk di depan. Mobil mulai melaju pelan. "Kalau pun kita gak sempat ke desa malam ini, kita nginap aja di mobil ya, Pa," usul mama. Papa mengangguk. Untunglah ada baju ganti kami di mobil dan peralatan mandi juga seperti sikat gigi dan sabun, keluarga kami terbilang unik karena selalu menyimpan cadangan di tempat mana pun. Di mobil, di tas atau di rumah saudara kami. Aku juga kadang begitu saat sekolah membawa baju ganti yang aku letakkan di loker dan juga jaket. Siala tau ada hal tidak terduga yang terjadi yang mengharuskan kita untuk berganti pakaian. Sebelum aku bercerita mama mengoleskan obat yang sama persis seperti punya nenek dulu, tapi tidak langsung sembuh dan baru aku sadari sembuh lima menit kemudian. Aku menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, mulai dari pergi ke toilet seperti biasa, kesasar dan akhirnya bertemu anak kecil kerdil itu. Entahlah sekarang dia sudah bangun atau belum akibat pukulanku. Kulihat wajah mama jadi berubah ketakutan, tapi mama mencoba menutupinya. Percuma saja mama mencoba menutupi wajah ketakutannya itu karena sangat kentara, sedangkan papa entahlah aku tidak tau apa yang papa pikirkan tapi dilihat dari punggungnya, panggung papa seperti menegang. "Apakah saat kamu hilang tempo hari juga karena diculik orang kerdil itu?" tanya papa kemudian. Aku mengangguk kecil. "Iya, Pa. Waktu itu Genta mau pipis tapi karena jauh kan harus jalan, eh Genta mendengar suara gamelan dan akhirnya pergi ke arah suara itu dan melihat orang menari. Terus tidak lama Genta lihat ada anak kecil, awalnya Genta tidak sadar kalau mereka kerdil karena Genta pikir memang ukuran badan anak kecil itu segitu. Tapi saat sampai di desa mereka baru Genta sadar kalau mereka semua bertubuh kecil atau kerdil, mereka menyebut Genta dewi dan berniat memasak Genta di kuali besar yang sudah mereka siapkan. Terus setelah itu Genta diselamatkan Nenek dan luka-luka Genta yang dibuat mereka sembuh dalam sekejap dengan obat yang sama seperti punya Papa," jelasku panjang lebar. Entah hanya perasaaanku saja atau itu benar papa menancap gas mobilnya lebih kencang lagi dari sebelumnya. Aku dan mama sampai beberapa kali terpelanting karena jalanan yang tidak mulus tapi papa seakan tidak peduli, untung kami menggunakan sabuk pengaman sehingga tidak sampai terkena atap mobil. "Pa, pelan-pelan, Pa. Sakit semua nih badan Mama," protes mama yang aku sahuti dengan anggukan, kemudian barulah papa mengontrol laju mobilnya menjadi lebih pelan. *** Malam itu kami tidur di mobil dan baru setengah perjalanan menuju ke desa, papa sepertinya tidak tidur sama sekali karena saat beberapa kali aku terbangun mobil itu masih melaju dan papalah yang menyetirnya. "Pa, istirahat dulu berhentiin mobilnya," kataku pelan sambil menguap mencoba membujuk papa kesekian kali, dan papa hanya berkata iya dengan suara lirih yang tidak jelas. Menjelang pagi kami baru sampai di desa, seperti biasa papa akan menitipkan mobilnya di kantor kepala desa dan kami jalan menuju ke arah rumah nenek. Aku berjalan dengan terkantuk-kantuk sampai beberapa kali mama marah dan memperingati aku untuk jalan yang benar, karena inu benar-benar masih pagi-pagi buta. Tidak ada satu orang pun di sepanjang jalan, bahkan warung pun masih tutup semuanya. Sesampainya di rumah nenek aku langsung masuk kamar dan masuk ke dalam selimut, badanku rasanya pegal-pegal semua karena tidur di dalam mobil dan terasa tidak nyenyak. Mama juga ikut tidur di sampingku, sedangkan papa kulihat keluar sebentar sebelum akhirnya menutup pintu dan ikut tidur juga. Menjelang pagi mungkin sekitar pukul sembilan pagi mataku langsung segar terbangun, rasa kantuk seketika lenyap begitu saja ditelan bunyi suara barang jatuh yang nyaring dan suara kemarahan. Aku langsung bangun dan menuju ke seumber suara, terlihat di sana nenek dan papa sedang berhadap-hadapan dengan wajah yang sama-sama penuh emosi dan marah. Terlihat dari guratan wajah mereka yang tidam bersahabat sama sekali, aku bingung. Kutatap mama dengan tanda tanya, tapi mama hanya diam saja dengan raut wajah ketakutan bercampur khawatir. "Kalau kamu tidak bisa menggantikanku biarkan anakmu saja, jangan berdebat dengaku!" bentak nenek. "Aku menolak jalan hidup itu, Bu. Tidak akan aku biarkan diriku atau pun anakku meneruskan kesesatanmu!" papa juga ikut membentak nenek. Baru kali ini aku lihat wajah papa merah padam seperti itu dengan kepalan tangan dan juga tatapan mata tajam, jika nenek jangan ditanya aku sudah biasa melihat nenek seperti itu. Tanpa sadar aku memeluk mama karena takut, mama juga balas memelukku. "Kau sama bodohnya dengan Bapakmu!" Nenek melempar barang yang ada di dekatnya ke arah papa, papa menghindarinya dengan gesit. Barang pecah belah juga nenek lemparan membuat lantai penuh dengan pecahan kaca yang berserakan. "sama bodo*nya, jika saja dia mau mendengarkan aku pasti dia tidak akan cepat meninggal! Kami bisa menikmati waktu lebih lama lagi!" d**a nenek naik turun tidak karuan, matanya mulai memerah. "Jangan harap aku akan menuruti kemauan Ibu! Aku kemari karena aku pikir Ibu telah berubah, tapi ternyata aku salah!" Papa kemudian menghampiri kami. "bereskan semua barang-barang kita, kita pergi dari sini. Dan hari ini juga akan Papa beli rumah itu." Papa menarik tanganku dan juga mama kemudian pergi meninggalkan nenek yang kulihat menangis sambil berlutut di lantai, aku baru kali ini melihat nenek rasanya sedih. Tapi pasti papa punya alasan yang kuat untuk ini, aku percaya kepada papa. Dengan cepat kami membereskan seluruh barang kami, dan seger membawa tas-tas berukuran cukup besar serta koper yang digeret seperti sebelumnya. "Liat saja, aku kubuat kau menyesal! Kau akan meminta padaku sampai menangis-nangis untuk mendapatkan hal itu!" teriak nenek yang begitu jelas terdengar saat kami hendak pergi meninggalkan rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD