10. Rumah pinggiran kota

1298 Words
Setelah itu akhirnya sampailah kami ke tempat yang kami tuju yaitu pinggiran kota, memakan waktu kurang lebih setengah jam jika ingin ke tengah kota. Cukup jauh memang, tapi jauh dari keramaian kota tidak buruk juga lingkungan di sekitarnya cukup tenang, walaupun satu rumah dengan rumah yabg lainnya cukup jauh jaraknya. Aku dan mama turun duluan, sedangkan papa yang terakhir sekalian mengunci mobil. "Nah, ini dia rumah yang rencananya mau Mama dan Papa beli," tunjuk mama pada rumah yang ada di hadapanku itu. Rumahnya terlihat suram di mataku, dan entahlah kenapa aku merinding saat melihatnya. Hawanya tidak enak dan agak berbeda. Banyak pohon besar juga rimbun di sekitar rumah itu, luarnya dibatasi oleh sebuah pintu pagar besi. Warna catnya juga sudah memudar, kesan pertamaku untuk rumah ini adalah suram dan hampa. "Rumah ini memang terlihat agak suram karena sudah lama tidak dihuni, tapi tenang saja keluarga kecil kita akan merubahnya menjadi penuh warna," ujar papa seperti tau apa yang aku pikirkan. Aku tersenyum. Papa kemudian memimpin dan kami mulai masuk ke dalam, pintu pagar besi yang digeser papa berdecit tanda harus diganti atau diperbaiki. Engsel pintu pagar itu juga sudah terlihat tidak menjanjikan lagi, perlahan aku berada di sisi mama dan masuk ke halaman rumah yang luas. Banyak rumput liar di halaman, halamannya luas seperti halaman rumah kantor papa dulu. Di pekarangan rumah menuju ke beranda rumah itu banyak terdapat pot-pot bunga yang sudah hancur, ada juga beberapa pot yang masih utuh dengan bunga yang sudah layu. Indra penciumanku mencium sebuah bau yang membuatku merinding kembali, yaitu bau kayu cendana yang bercampur aroma melati yang cukup menyengat. Aku melihat ke arah mama yang seperti tidak terganggu dengan bau itu atau entahlah mama mencoba untuk mengabaikannya, kulihat juga punggung papa biasa saja. Entah kenapa rumah baru itu selalu menjadi kehororan tersendiri dalam dunia nyata dan juga film horor, maksudku tentu saja rumah ini cukup horor untuk dijadikan syuting tempat film yang ada adegan hantu menangis dan tertawa bersamaan. "Rencananya Mama mau olah kebun di halaman rumah ini sayang, nanti di beranda rumah mau Mama tambahkan bunga gantung warna-warni biar terlihat hidup," jelas mama dengan semangat mengalihkan perhatianku. Kami sampai di beranda rumah, dengan disambut kursi dan meja yang sudah dimakan rayap. "Kenapa sama makelarnya gak di bersihin sih rumahnya, kan jijik banyak rayap makan kursi sama meja di sini," ungkapku jujur dengan sebal. Papa malah tertawa kecil. "Mana mau mereka kalau tidak ada sogokan," kata papa dengan menggosokkan jari telunjuk dan tengah dengan ibu jari yang mengisyaratkan uang. Papa kemudian membuka pintu yang tidak dikunci itu. "Kok gak dikunci pintunya?" protesku. "Sengaja kita soalnya udah bilang mau ke sini buat cek sama anak tercinta kami," jawab papa. "Kalau ada pencuri gimana?" "Memang ada yang mau dicuri di sini," jawab mama sambil terkekeh. Benar juga, rumah ini saja terasa seram dan hampa siapa juga yang mau ke tempat ini. Bagian dalamnya juga cukup luas dengan dua lantai, saat masuk lantai yang terbuat dari kayu itu berdecit dengan sepatu yang aku pakai. Semuanya terbuat dari kayu, mulai dari tangga menuju lanti dua, lantai rumah, sampai beberapa peralatan dapur yang tersisa. Aku melihat-lihat dengan seksama seperti detektif mencari petunjuk. Aku lap bagian meja dengan jari telunjuk dan menggosoknya dengan ibu jari, ternyata itu sangat berdebu dan hitam. Di pintu belakang ada jalan setapak, juga sebuah halaman yang tidak sebesar halaman depan tapi cukup nyaman. Ada sebuah gubuk kecil di sana dan yang menarik perhatianku ada sebuah rumah-rumahan di atas pohon yang juga terlihat suram, mungkin karena cat yang luntur. Suasana rumah ini gelap karena banyak pohon rindang sehingga cahaya matahari susah masuk. "Mama dan Papa sudah sangat suka rumah ini, kalau kamu bagaimana?" tanya mama dengan mata berbinar. Tentu saja jika mereka setuju aku akan senang, tidak mungkin hanya karena kesuraman yang bisa diubah ini aku bilang tidak bisa-bisa mama dan papa sedih. Mereka pasti sudah melakukan yang terbaik, lagipula aku sudah tidak betah tinggal di desa lebih lama dan ingin segera pindah. Selain daripada hal-hal aneh yang terjadi di sana juga tidak ada sinyal, itu masalah utamanya sampai tidak bisa mengirim pesan kepada sahabatku yang juga sedang liburan di luar negeri. "Oke, sekarang kita berangkat lagi ke tengah kota buat liat festival yuk," ajak papa membuatku langsung semringah. "Hayuk!" seruku dengan semangat. *** Perjalanan kami berlanjut ke pusat kota, dengan hati berbunga-bunga aku sungguh tidak sabar untuk pergi ke sana. Aku rindu suasana kota dan segala hiruk-pikuknya, saat papa putar balik menuju ke pusat kota aku mencoba menghapal jalan yang nantinya akan sering dilalui ini. Di mobil aku mendengar papa menelepon makelar yang menawarkan rumah itu untuk membuat janji pertemuan dan menyetujui pembeliannya. "Ma, tolong ambilin ponsel Genta di dasbor dong, Ma. Tadi genta isi baterainya," pintaku pada mama, aku tidak sabar mengabari Febi sahabatku dan pastinya dia akan mengomel-ngomel karena belum mendapatkan kabar dariku lebih dari sepekan ini. Mama mencabut kabel pengisi baterai dan memberikan ponsel itu kepadaku. Benar saja saat aku nyalkan dan melihat aplikasi _chat_ sudah banyak panggilan juga _chat_ dari Febi. Aku langsung membalasnya membahas dengan runtut apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa aku tidak membalas pesannya. Setelah kujelaskan secara detail, aku putuskan untuk menyimpan ponselku. Aku tidak mau kalau sampai hari baik ini perhatianku malah tertuju pada benda pipih itu, sudah lama sekali rasanya tidak bepergian bergini karena mama dan papa harus sibuk selama seharian. Akhirnya kami sampai juga setelah menempuh setengah jam perjalanan, mataku berbinar memandang pada keramaian yang terlihat menyesakkan itu. Aku turun lebih dulu dengan mama, sedangkan papa mencari tempat parkir mobil yang cocok. Dari pintu masuknya saja sudah banyak orang yang mengantre untuk membeli tiket untuk masuk ke dalam. Setelah kami melihat papa kami langsung ikut antrian, festival ini setahun sekali di adakan di kota dalam rangka memperingati berdirinya kota ini dan merayakan hari libur yang cukup panjang. Aku jarang bahkan tidak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya, maklum saja aku anak rumahan yang mager alias malas gerak begitu juga dengan Febi. Kebanyakan waktu kami habiskan untuk menonton atau bermain di rumah Febi yang luas seperti istana itu. Aku baru tau bahwa banyak pertunjukkan di tempat ini, banyak penjual makanan yang berjajar rapi di sisi kanan-dan kiri. Wahana yang terlihat seru dan keramaian yang pastinya selalu ada. Aku berputar-putar sambil mengadah ke atas melihat lampu warna-warni yang digantung di atas sepanjang jalan. Langit juga sangat mendukung malam ini penuh dengan bintang dan bulan yang sudah setengah hampir penuh. Aku menarik tangan mama dan papa untuk membeli jajanan ini dan itu, mencoba wahana ini dan itu, juga melihat acara ini dan itu yang ada di sana. Aku benar-benar sangat menikmati festival kali ini, tidak terlihat seperti anak yang sebentar lagi akan menjalani masa putih abu-abu. Tapi biarkan saja jika di depan kedua orangtuaku aku adalah anak kecil mereka, tapi di depan teman-temanku aku harus terlihat dewasa dan tidak kekanak-kanakan. "Ma, Pa, Genta kebelet pipis," kataku sambil merapatkan kedua kakiku. "Yaudah sana, berani kan sendirian?" tanya mama menahan tawa. "Harus dong, yaudah Genta titip ini. Mama dan Papa tungguin di sini ya." Aku menyerahkan boneka beruang berwarna cokelat kepada mama yang tadi papa dapatkan dari hasil bermain gelang. Aku langsung berlari setelah boneka itu diterima dan mencari toilet, ternyata toilet di sana pun cukup bagus dan yang lebih bagus toilet itu sepi hanya ada beberapa orang. Ada juga beberapa yang dipojokkan entahlah mereka sedang apa di tengah kegelapan dan di bawah pohon rindang itu. Akhirnya setelah lega aku segera mencari papa dan mama lagi, tapi kursi yang papa dan mama duduki terlihat sama di beberapa tempat aku jadi bingung mencarinya. Aku juga tidak tau jalan mana yang tadi aku lalui, sampai aku melihat anak kecil kerdil yang ada di desa menatapku di tengah keramaian sambil membawa pisau. Aku begitu terkejut sampai jatuh terduduk. "Akan aku bunuh kamu!" jeritnya sambil berlari dengan cepat ke arahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD