Papa masih terlihat tidak terusik karena kehadiran dua makhluk itu, papa tidur seperti biasa tanpa sedikit pun terusik. Aku terus mengintip tidak berani mendekat, mereka sepertinya menyadari aku mereka melihat ke arahku dan sebelum itu untunglah bisa aku melepaskan kontak mata dengan mereka dan pura-pura tidur.
Hening kembali selama beberapa menit ketika aku memejamkan mata, aku memberanikan diri melihat apakah dua makhluk itu masih ada atau tidak dan ternyata mereka masih ada di sana dan mata menyeramkan mereka menandang langsung ke arahku. Seketika aku membeku, kedua kaki ini terasa begitu dingin.
Mereka hanya diam saja dan melihat tanpa melakukan apapun. Sampai detik kemudian mereka ingin menyerang mama menggerakkan tentakel dan rambut panjang lebat itu dengan cepat. Dengan cepat aku memeluk tubuh mama sambil terpejam, aku tidak mau mama terluka dan sulit bernapas karena lilitan itu.
Tapi tidak aku rasakan apapun membuatku berani membuka mata dan melihat ke arah mereka, terlihat papa memegangi tentakel dan rambut yang mau menyerang tadi. Papa langsung bangun dari tidurnya, kemudian memotong rambut dan tentakel itu hanya dengan tangan kosong saja.
"Arrrgh!" Erangan terdengar dari si tentakel.
"Sakit!" Begitu juga dari si rambut lebat.
Cairan hitam keluar dari bagian tentakel dan rambut mereka yang terpotong, mereka kemudian menjauh dan detik berikutnya sudah menghilang disusul papa melalui jendela yang dibuka. Aku kangsung kaget dan melihat dari jendela, papa seperti mengejar sesuatu tidak terlihat di kebun belakang rumah.
"Adek, jangan ke sini. Tetap di dalam kamar aja!" teriak papa saat kakiku sudah menyentuh kusen jendela. Aku mengurungkan niatku mendengar teriakan itu.
"Ada apa sih Gen kok kayaknya ada yang teriak tadi?"
Pertanyaan itu mengalihkan perhatianku sejenak dari mama. "Itu, Ma. Papa," jawabku. Mendengar itu mata mama terbuka lebar, dia kemudian ikut berdiri di sampingku melihat ke arah papa yang seperti bermain kejar-kejaran dengan sesuatu tidak kasat mata.
"Papa, hati-hati!" teriak mama. Kulihat papa mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Mama, bisa lihat mereka?" tanyaku heran. Mama hanya diam tidak menanggapi pertanyaanku, matanya intens melihat ke araha papa dengan wajah cemas. Aku juga melupakan pertanyaan itu dan melihat papa yang sedang mengulurkan tangannya. Mulutnya berkomat-kamit.
Suara erangan mulai terdengar membuat bulu kudukku berdiri. Tidak lama kemudian dua sosok itu muncul kembali kali ini dengan leher yang sudah dipegang tangan papa. Mereka meronta-ronta tapi tidak mampu melepaskan diri, perlahan aku lihat wajah papa berubah menjadi mengerikan dengan mata merah. Aku mengucek mata takut salah melihat apa yang terlihat saat ini, tapi tidak aku sama sekali tidak salah melihat hal itu.
Kucubit diriku dan terasa sakit, ternyata ini bukan mimpi. Apa yang aku lihat saat ini adalah benar-benar nyata, papa sedang berhadapan dengan makhlu yang mengerikan juga dengan mudahnya memegang leher mereka dengan satu tangan. "Mama, Papa ...." Aku menunjuk-nunjuk ke arah papa saat ini. Mata papa sangat tajam menatap ke arah mereka, bisa terlihat kemarahan di sana. Wajahnya menjadi hitam pekat bersatu dengan rambut papa yang juga hitam, serta ada keretakan di beberapa sisi di wajahnya.
"Ma, Papa, Ma." Aku menarik-narik tangan mama, tapi mama sama sekali tidak peduli dan hanya terus fokus ke arah papa. Ketika aku menatap wajah mama baru aku sadarai bahwa wajah mama hampir mirip dengan papa.
Aku mundur beberapa langkah dengan takut, apa yang aku saksikan saat ini. Apakah orangtuaku memang semengerikan ini? Aku menggelengkan kepala, meyakinkan diri kalau ini hanya mimpi tapi entahlah semua ini terasa membingungkan.
"Siapa yang menyuruh kalian menyakiti keluargaku!?"
Teriakan itu jelas adalah suara papa, tapu suaranya jauh lebih berat dan terdengar menyerankan di kupingku. Aku mencoba berdiri dan melihat kembali apa yang terjadi.
"Kalian tidak mau bicara? Aku tanya sekali lagi siapa yang menyuruh kalian untuk menyakiti keluargaku!?" Papa berteriak kembali di depan wajah dua makhluk itu, kali ini lebih terdengar nyaring dan penuh kemarahan.
"Kami .... kami tidak akan katakan padamu," jawab makhluk berambut lebat itu seperti tercekat, tapi suaranya cukup terdengar jelas sampai di kamarku.
"Baik, kalau begitu selamat tinggal!" Papa seperti mengeratkan cekikannya sampi urat lengannya menonjol, mereka kemudian lenyap menjadi abu dan dibawa angin membuatnya tidak bersisa. Aku menyaksikan sendiri hal mengerikan itu, bagaimana dua makhluk itu lenyap oleh tangan papa menjadi abu.
Beberapa saat kemudian wajah papa kembali seperti semula, matanya juga tidak lagi menjadi merah. Aku menatap mama dan mama juga ikut kembali seperti semula, tapi tubuh mama terlihat limbung untunglah dengan cepat aku bisa memeganginya dan menuntun mama ke tempat tidurku. Papa masuk dari jendela dan menutupnya seperti semula.
Papa berjalan ke arah mama yang sudah aku selimuti kemudian meletakkan tepalak tangannya di kening mama. "Kenapa, Mama, Pa?" tanyaku cemas.
"Mama gak apa-apa kok, Dek cuma butuh istirahat aja," jawab papa "kamu tidur aja, Dek. Besok kan sekolah, Papa tau banyak pertanyaan dalam pikiran kamu tentang kejadian malam ini tapi nanti saja Papa ceritakan ya." Papa menuju ke kantung tidurnya dan mulai memejamkan mata.
Aku juga kembali ke tempat tidurku yaitu di samping mama dan mulai untuk tidur, walau banyak pertanyaan yang bertumpuk tapi sebisa mungkin aku enyahkan untuk sementara karena papa bilang akan menjawab semuanya nanti.
***
Aku terbangun oleh alarm ponsel, kulihat sekitar mama dan papa sudah tidak ada di kamarku dan aroma nasi goreng yang sangat enak tercium oleh hidungku membuatku bersemangat. Sangat bersemangat sampai hampir melupakan kejadian tadi malam kalau saja tidak ada taburan garam yang masih tersisa di kamarku, pikiranku kembali bertanya-tanya. Namun, untuk saat ini aku tidak boleh memikirkan hal itu dulu, rasa penasaranku ini kadang bisa merusak suasana dan aku tidak mau pagi ini rusak karena itu.
Jadi, sebisa mungkin aku coba menahan diri dan mulai mandi kemudian mengenakan seragam sekolah. Aku turun ke bawah.
"Pagi, Ma, Pa," sapaku riang.
"Pagi, Sayang."
"Pagi, Dek."
Aku langsung duduk di meja makan dan tanpa menunggu mengambil nasi goreng beberapa centong juga telur mata sapi. Papa berjalan mendekatiku dan ternyata mengambil tasku yang aku letakkan di meja sebelah yang masih kosong.
"Gantungan kunci yang Papa buatin ke kamu man, Dek kok gak ada di tas kamu?" tanya papa.
"Oh, iya Pa. Genta lupa mindahin dari tas lama ke tas itu, kan itu tas yang dikasih Febi yang masih baru."
"Yaudah kalau gitu makan dulu nanti ambil terus gantung di tas kamu ya," ujar mama sambil tersenyum aku mengangguk dan kembali melahap nasi goreng di depanku.
"Genta udah selesai makan. Genta ambil dulu ya Pa, Ma gantungan kuncinya." Tanpa menunggu jawaban dari mereka langsung aku mencari tas lamaku yang ada di lemari dan mengambil gantungan yang dibuat papa itu. Aku turun dan menggantungnya di tas baru.
"Jadi kapan, Pa mau jelasinnya?" tanyaku. Rasa penasaranku sudah tidak bisa aku tahan lagi.
"Nantilah, Dek pulang sekolah juga pas Papa pulang kerja gak sabaran banget si Adek, ih."
"Kelamaan," rengekku.
"Ya, kalau mau telat gak apa-apa sih Sayang. Atau mau bolos di hari kedua sekolah?" tanya mama.
"Ih, Mama dan Papa mah kompak kalau nyudutin Genta," kataku merajuk.
"Kamunya aja, Dek yang gak sabaran. Kayak Papa sama Mama mau pindah rumah aja." Papa tertawa kecil dan aku hanya cemberut.
"Udah, ah jangan cemberut gitu masih pagi juga nanti keriput kamu, lho Sayang."