30. Sakit

1249 Words
"Gak apa-apa kok Non," jawabnya sambil pergi membawa alat pel dan alat kebersihan lainnya. Aku melihatnya menjauh kemudian meneruskan langkah menuju ke gerbang sekolah. "Pulang bareng aku, yuk," ajak Febi tanpa rasa bersalah atas ulahnya itu. "Aku mau dijemput Papa nanti," jawabku berusaha menyembunyikan kekesalanku pada Febi. Aku mengerti dia melakukan itu karena masih takut dengan kejadian tadi pagi, dan detik berikutnya muncullah ide untuk menjahilinya. "Besok gak usah jemput lagi ya, aku sama Papa aja. Dan juga aku gak mau ke sekolah lagi jam enak pagi," kataku sambil bergidik. Raut wajah Febi berubah menjadi takut kembali "Ye, siapa juga yang mau pergi sekolah jam segitu apalagi ke perpustakaan," jawabnya dengan sewot. Aku tertawa dalam hati, baru segini saja dia sudah ciut apalagi kalau dia mengalami apa yang aku alami di desa entah akan jadi apa nantinya. "Jadi kamu udah percaya sama hal gaib dong karena udah liat langsung?" tanyaku. "Gaklah, tadi itu hanya kesalahan teknis. Sebenarnya dibilang gak percaya aku juga percaya kok, cuma mungkin belum sepenuhnya aja." "Kalau aku ceritain pengalaman yang lebih serem dari itu kamu akan percaya?" Febi melotot ke arahaku "Gak usah aneh-aneh, males tau inget kejadian tadi apalagi ditambahi sama cerita gak jelas!" marahnya. "Takut nie," godaku. "Gak, ish." Sebenarnya aku ingin menggoda lebih lama lagi sampai dia benar-benar kesal dan merasakan kekesalanku juga, tapi karena mobil jemputannya sudah datang niat itu tidak bisa terlaksanan. Wajah Febi terlihat senang ketika mobilnya datang, mungkin dia sudah harus pergi ke rumahnya dan ngemil banyak untuk melupakan kejadian itu. "Aku duluan ya, Gen," kata Febi berpamitan aku mengangguk dan kami berdua melambai ke satu sama lain. Aku mengecek ponsel, menanyakan papa ada di mana saat ini atau sudah dekat belum menuju sekolah. Ternyata papa sebentar lagi akan sampai dari pesan yang aku terima. Akhirnya untuk membunuh kebosanan yang melanda aku bermain game offline yang aku sukai akhir-akhir ini. Permainan petualangan yang cukup seru dengan teka-teki yang dicampurkan di dalamnya. Saat melawan bosnya entah kenapa seketika aku merasa merinding, aku melihat ke sekitar dan aku terkejut saat tidak ada orang yang terlihat lagi di halte. Padahal beberapa detik yang lalu masih ada beberapa anak yang menunggu di sampingku. Aku berdiri berniat mencari tempat lain yang lebih ramai, karena di tempat sepi atau gelap itu menyeramkan. Sejujurnya aku ini penakut, tapi karena Febi lebih penakut lagi jadi terkesan aku pemberani. Buktinya kalau tidak penakut kenapa jika ada penampakkan seperti yang terjadi di perpustakaan bisa sampai pingsan. Kemudian aku berdiri melihat ke arah gerbang sekolah yang ada di depan sana, ternyata di sana masih cukup ramai membuatku merasa lebih lega. Baru akan melangkah kurasakan sesuatu menghentikan pergerakan kakiku, dengan sekuat tenaga aku mencoba melangkag kembali tapi nihil sama sekali tidak bisa digerakkan. Refleks aku lihat apa yang menahan kakiku, dan di sana terlihat rambut yang lebat dan panjang. Perlahan ada sesuatu yang bergerak dari rambut itu, dan itu adalah sebuah mata yang menyembul begitu saja disusul dengan mulut yang tersenyum menyeramkan. Keringat dingin tanpa diminta sudah mengucur deras dengan adanya terik matahari juga, tubuhku gemetar. Rasanya aku ingin menjerit dan menangis sejadi-jadinya tapi tidak bisa aku terlalu takut untuk melakukannya. Aku diam dalam posisi seperti itu sambil berharap makhluk mengerikan ini segera pergi. "Berikan benda itu!" seru makhluk itu "berikan!" Dengan cepat dia melilit seluruh tubuhku dengan rambutnya sampai aku sulit bernapas. Perlahan dari bawah kursi batu yang ada di halte muncul sebuah tentakel, dia merogoh saku baju, rok, dan mengobrak-abrik tasku sampai semua isinya dia keluarkan dan menjadi berantakan. "Tidak ada!" seru makhluk yang mempunyai tentakel itu. Perlahan lilitan rambut mulai mengendor sampai akhirnya mereka menghilang. Aku terduduk di lantai halte sambil terbatuk, barulah air mataku bisa keluar. Aku terisak, tidak lama papa menghampiri dengan khawatir dari mobilnya. Aku tidak melihat mobil papa datang sama sekali, mungkin tidak sadar karena lilitan rambut tadi. "Adek, kamu kenapa!?" tanya papa. Aku hanya menggeleng sambil terus terisak. Papa kemudian menggendongku dan mendudukkanku di sebelah kursi kemudi mobil. Aku hanya bisa melihat gerakan papa yang cepat menyalakan mobil dengan wajah khawatir setelahnya semua menjadi gelap. *** Rasa dingin menyelimuti, aku membuka mata perlahan. Terlihat mama dan papa dengan wajah khawatir tapi ada raut wajah bahagia yang juga terlihat, bisa jadi karena aku sudah sadar. Aku yakin aku pingsan lagi. "Genta pingsan lagi, Ma, Pa?" tanyaku. "Kamu udah baikan, Dek?" tanya papa balik mengabaikan pertanyaanku. Aku mengangguk. "Syukurlah," kata mama sambil memelukku. "Kalau gitu Mama buatkan nasi goreng kesukaan kamu, ya?" Aku menggeleng lemah, entah kenapa rasanya aku tidak lapar dan bernafsu untuk makan. Mama hanya mengangguk. "Kalau gitu kita tinggal dulu biar kamu bisa istirahat ya, Dek." Aku mengangguk dan mereka berdua akhirnya keluar dari kamar. Aku merebahkan tubuhku melihat ke arah sekitar, dan menyesalnya aku melakukan itu karna kedua makhluk itu sepertinya mengikuti sampai ke rumah. Perlahan mereka bergerak keluar dari dalam tasku, yang tentakel tidak mempunyai wajah dengan tubuh hancur. Yang berambut lebat mempunyai tubuh utuh tapi berjalan dengan kaki dan tangannya, mereka sungguh mengerikan. "Di mana benda itu?" tanya yang berambut lebat. Perlahan langkah mereka mendekat, aku tercekat rasanya benar-benar mengerikan. Tubuhku hanya bisa mematung, bahkan untuk berkedip pun aku tidak sanggup, mereka terus maju sampai tentakel itu lebih dulu menuju ke arahku. Aku menutup mata karena tidak sanggup melihat tubuhku dililit lagi, tapi tidak ada yang terjadi. Coba aku mendengarkan suara dengan mata terpejam, tidak ada suara langkah mereka mendekat lagi yang semula benar-benar terdengar sangat kuat. Perlahan aku beranikan diri membuka mata, mereka berhenti mendekat dan aku lihat tentakel makhluk itu meleleh dan lelehan hitam itu jatuh ke lantai. Dia mengamuk mencoba mengerahkan seluruh tentakelnya untuk menyentuhku, tapi semua terhenti dan leleh seketika ketika mendekati ranjang. "Ada penangkal di sini," lirih si makhluk berambut lebat sambil menatapku tajam. "Pergi!" seru si tentakel dengan cepat mereka menghilang tanpa jejak bersamaan dengan lelehan tentakel hitam itu. Aku bernapas lega, ternyata penangkal yang papa buat benar-benar bekerja itulah kenapa tidak ada gangguan lagi. "Adek, mereka udah pergi?" tanya papa yang seperti terburu-buru masuk ke kamar disusul oleh mama. "Iya, Pa. Udah," jawabku. Aku jadi semakin yakin kalau papa itu punya kemampuan mata batin. "Ma, ambil garem gih sana," pinta papa pada mama. Mama kemudian mengangguk dan pergi dari kemar, tidak lama kemudian kembali dengan garam beserta wadahnya. Papa mulai menaburkan garam tersebut sambil mulutnya komat-kamit, entahlah apa yang papa baca aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. "Mama dan Papa akan pindah tidur malam ini di sini," ujar papa kemudian keluar. Aku terkejut tapi tidak bisa juga menolak. Papa dan mama akhirnya mengambil kantung tidur untuk dibawa ke kamar agar lebih mudah. "Mama tidur aja sama Genta di tempat tidur biar Papa yang tidur di bawah," pinta papa ketika mama siap memasuki kantong tidurnya. Mama mengangguk dan menurut tidur di sebelahku. "Papa, yakin? Genta gak apa-apa kok, Pa. Lagipula kan besok Papa kerja, nanti badan Papa pegel-pegel lagi," kataku tidak tega. "Gak kok, Dek." Papa berjalan ke arahku dan mengusap kepalaku lembut. *** Malam semakin larut sampai aku harus terbangun karena panggilan alam, kebiasaan memang. Aku langsung menuju ke kamar mandi dengan memegangi puret yang mulai mules. Selesai dari kamar mandi aku mencoba tidur, dan baru akan terlelap terdengar suara kaki yang mendekat di kesunyian. Aku mengintip dari balik tubuh mama, ternyata dua makhluk itu kembali lagi. Mereka mendekat ke arah papa, tentakel dan juga rambut panjang itu melilit tubuh papa. Aku hendak menolong sampai aku lihat detik berikutnya rambut lebat itu terpotong begitu juga tentakel itu, tentakel yang terpotong masih menggeliat di lantai seperti ekor cicak dan rambutnya menjadi abu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD