26. Tertangkap

1257 Words
Di dalam mobil wajahku dan Febi sama-sama tegang. Apalagi rasa penasaran yang sudah memuncak ingin segera sampai dan menanyai si pelaku tetang semua ini, agar pertanyaan yang terus berputar ini bisa terjawab. "Duh, gak sabar banget kayaknya," ejek Febi. "Idih gak ngaca, kamu juga tuh. Liat aja kamu terus-terusan nepuk paha kamu yang artinya kamu juga gak sabar," jawabku, dan dia hanya cengengesan. "Pak, masih lama gak sih?" tanyanya kepada pak supir. "Sabar, Non. Lumayan macet ini," jawabnya. Febi melongo ke depan dan berdecak sebal. Aku yang gantian cengengesan. Akhirnya setelah lama menunggu degan tidak sabaran kami sampai di rumah Febi. Saat kami masuk sudah ada beberapa orang di sana, yang aku kenal tentu ayah Febi, si pak botak yang aku kenal sebagai pengawas CCTV waktu itu, dua orang polisi, dan satu orang yang memakai baju hitam juga topeng badut yang dinaikkan di atas kepala. Pasti itulah pelakunya. "Gimana, Yah?" tanya Febi, "oh, ini pasti pelakunya, ya." Febi menatap orang yang diapit dua polisi di sisi kiri dan kanannya itu dengan mata melotot. "Ayo, Yah mulai interogasinya Febi sama Genta udah penasaran." Aku melihat ke arah ayah Febi setelah dia mengatakan itu dengan wajah datar seperti biasa ayahnya mengangguk. "Tapi Ayah gak bisa temani ada urusan kerjaan lain. Kalian ditemani dia saja." Ayah Febi melihat ke arah bapak botak yang berdiri di sana. "Oke, Yah. Bi minta kursi," pinta Febi pada asisten rumah tangga yang berdiri tidak jauh darinya. Dengan cepat asisten rumah tangga itu langsung mengambil sebuah kursi yang ada di meja makan, asisten rumah tangga Febi mengambil dua kursi. Kami duduk menghadap ke arah para polisi, pelaku, dan bapak penjaga CCTV itu. Mereka juga diberikan kursi masing-masing. "Baik, sesi wawancaranya kita mulai," ucap si bapak penjaga CCTV itu. "Kenapa kamu mengincar mereka berdua?" Dengan hati berdebar aku menunggu jawaban keluar dari mulut si pelaku. "K ... ka ... karena ada me ... mereka berdua," jawab pelaku itu gagap. "Kenapa harus ngincar kami berdua?" tanya Febi yang mulai terlihat emosi. Pelaku itu terlihat tertunduk semakin dalam. "Sabar, Feb. Pelan-pelan tanyanya jangan pakai emosi," kataku. "I ... i ... itu k ... ka ... karena saya pi ... pikir benda i ... itu ada sa ... sama kalian." "Benda apa yang kamu maksud?" tanyaku kali ini. "N ... na ... nar ... narkoba." Aku tersentak kaget bagaimana mungkin anak baik-baik seperti kami punya barang haram itu. "Jadi maksud kamu kami penjuak n*****a gitu!?" Febi berdiri tangannya mengepal, dia benar-benar emosi kali ini. "I ... iya, k ... ka ... karena i ... in ... informasi yang saya da ... dapat begitu." "Kami akan selidiki kasus ini lebih lanjut tenang saja." Kata salah satu polisi itu sambil berdiri. "Kalau begitu kami permisi membawa penjahat ini." Polisi itu segera memborgol si pelaku kemudian membawanya keluar dari rumah Febi. Febi duduk kembali di kursinya dengan wajah masam yang sama sekali tidak enak jika dilihat. "Kenapa? Kan udah gak penasaran lagi tapi kok mukanya masih ditekuk?" Febi berbalik badan berhadapan denganku. "Ya habisnya anak imut, gemes kayak kita berdua gini dituduh jadi p**************a enak aja. Siapa sih yang kasih info si gagap bisa-bisanya sampai kasih info begitu," omel Febi dengan pipi tembamnya yang semakin tembam karena digembungkan. Aku tertawa pelan, meletakkan jari telunjuk di pipi Febi yang seperti ikan buntal itu. "Anak gemes dan imut itu juga kadang suka difitnah ya kayak kita ini, tadi juga dah denger sendiri kan kata Pak polisi akan diselidiki lagi. Yang penting rasa penasaran kita terbayarkan." "Apaan terbayarkan kalau cuma salah sasaran." Dia menepis tanganku kasar sambil memalingkan wajah. Jujur saja aku setuju dengan Febi yang berkata bahwa aku tidak puas dengan hal ini hati kecilku seperti berkata bahwa ini belum berakhir. Mungkin karena ketidakpuasan yang aku dapatkan dari hasil yang tidak seberapa, apa yang dia lakukan dan kami dapatkan tidak sebanding. Maksudku dia meneror kami sampai begitu menakuti, saat dia ditangkap hanya jawaban salah informasi yang kami dapat. Benar-benar tidak puas rasanya, tapi sudahlah kalau memang informasi itu salah berarti kami aman dan hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan anak-anak baik seperti kami. "Oh, iya Non Genta kata Tuan besar bisa beritahukan hasil interogasi yang tadi ke Papa Non agak tidak khawatir. Saya permisi kembali ke pos." Aku mengangguk kepada bapak penjaga CCTV, dia kemudian pergi dari sana setelah menerima anggukanku. "Udahlah Feb gak usah ngambek gitu sampai merasa gak puas segala yang penting kan pelakunya udah ketangkep dan kita gak akan diteror lagi." Aku memegang bahu Febi. "Yaudah makan yuk semua ini membuatku jadi lapar," sahutnya. "Bi, Bibi udah masak belum?" "Belum, Non tadi Bibi matikan kompornya karena ada Tuan besar mau pulang." "Yaudah kalau gitu terusin masaknya biar aku sama Genta ngemil aja dulu." Tanpa aba-aba dia langsung menarik tanganku menuju ke kamarnya. "Buset, Feb kamu gak kenyang apa kita barusan dari kafe lho aku aja masih kenyang. Perut kamu karet banget ya." Febi menghentikan langkahnya membuat aku menabraknya. "Heh Genta aku lagi sebel ya jangan pancing kemarahan anak imut ini. Kenapa juga baru protes sekarang setelah lama jadi sahabatku, dan juga nih ya prinsipku adalah makan itu pakai nasi selain itu cuma dihitung camilan aja." Dia kemudian menghempaskan tanganku yang semula dia gandeng, kemudian dengan cepat menuju ke kamarnya. Aku berlari lebih dulu masuk ke kamarnya karena aku tau kalau dia sudah ngambek begini bisa-bisa pintu kamarnya dikunci dan meninggalkan aku sendirian di luar. "Iya deh iya maaf, Febi manis, imut, gemes anak sultan jangan marah dong," bujukku. "Boleh, asal kamu ngalah ya main ular tangga." Wajah Febi cerah seketika. "Oke, deh," jawabku agar dia tidak marah lagi. *** Sepulang dari rumah Febi menjelang makan malam aku beritahukan papa dan mama apa yang terjadi dengan Febi yang masih mengintili ingin tetap menginap di sini sampai ayahnya pulang besok. "Lha, katanya mau pulang pas pengumuman?" tanyaku. "Kan tadi udah yang pas nganter penjahat ke rumah," jawabnya. Aku memutar mata malas, tidak salah juga tapi jawabannya membuat emosi saja. Kali ini dia membawa lebih banyak makanan dari biasanya katanya untuk melepaskan lelah hari ini, terkadang aku heran perutnya itu terbuat dari apa. Walau dia itu berisi tapi dia tidak gendut banget, dan juga walau dia banyak makan aku perhatian badannya segitu-segitu aja. "Karena Tuhan tau kalau aku doyan makan makannya walau makan banyak aku gak melar atau bertambah gemuk." Begitulah saat aku bertanya kenapa walau dia makan banyak tapi tetap saja tidak melar. Aku curiga ada yang Febi lakukan dengan tubuhnya tanpa aku tau tapi dia tidak mau memberitahukannya karena malu, misalnya dia melakukan sedot lemak. Sesampainya di kamar kami merebahkan tubuh menatap langit-langit kamarku yang penuh sarang laba-laba karena belum sempat aku bersihkan. Mama memang mau membersihkannya tapi aku yang melarang marena ingin kulakukan sendiri. "Kalau dipikir-pikir kita belum rayain kelulusan kita masuk sekolah itu ya," kataku baru teringat. "Iya, capek banget rasanya hari ini." "Jadi mau dirayakan gimana? Besok hari terakhir kita libur sebelum masuk sekolah baru." Aku melihat ke arah Febi yang terlihat sedang berpikir. "Kita belanja aja, tas baru, buku baru semua yang baru-baru sama makan-makan jangan lupa gimana?" "Kalau belanja aku ikut aja tapi gak ikut belanja, ngintilin kamu aja karena tas aku masih bagus, buku aku masih banyak yang kosong kok. Kalau makan okelah." "Ah, gak seru masa ngintilin ikut belanja dong nanti aku kasih deng uangnya gak usah diganti ya, ya, ya? Kan sekolah baru harus semua serba baru." "Gak, ah." "Harus!" "Enggak!" "Wajib!" Perdebatan itu terus berlanjut sampai kami mendengar suara di luar jendela, aku sontak terbangun begitu juga dengan Febi kemudian aku berjalan perlahan ke arah jendela dan perlahan membuka kain gorden.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD