27. Kamar mandi

1121 Words
Ternyata di luar tidak ada apapun walau kami mendengar sesuatu dilempar ke arah jendelaku. Saat kulihat lagi ternyata ada burung kecil yang mematuk-matuk jendela, kakinya terjepit oleh kusen jendela. "Ada apa Gen?" tanya Febi takut, dia berdiri di belakangku. "Ini cuma ada burung yang kejepit di kusen jendela," jawabku. Febi kemudian berdiri di sampingku melihat burung yang masih mematuk-matukkan paruhnya ke kaca jendela agar terlepas, tanpa berkata apapun dia langsung membuka jendela itu membiarkannya terlepas. Namun, sayangnya kakinya terluka sehingga tidak bisa terbang. "Kasian, dia gak bisa terbang." Febi mengambil burung itu perlahan. "Kita rawat, yuk," celetuknya. "Boleh, aja," jawabku sambil mengelus bulunya. "Jadi yang kita perlukan adalah sangkar buat dia. Genta pegangin dia dulu." Febi menyerahkan burung itu padaku kemudian dia mengambil ponselnya segera mencari sangkar di toko online. Setelah memilih beberapa saat dia langsung membelinya, tidak hanya itu saja Febi juga membeli makanannya, peralatan makannya dan semua yang dibutuhkan. "Untuk sementara kita obati dulu." Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang ternyata adalah kotak p3k, dengan telaten di mengoleskan obat merah ke burung itu. "Kok kamu bawa-bawa kotak p3k, Feb?" tanyaku heran. "Oh, harus dong karena itu sangat diperlukan masa kamu gak belajar dari film yang kita tonton sih," jawabnya. Anak ini memang terkadang bisa sangat ajaib. "Oke untuk sementara kita letakkan dia di sini aja." Aku mengambil baju yang sudah tidak terpakai dari dalam lemari dengan cepat. Febi memgangguk dan aku letakkan burung itu di atas nakas dengan baju yang menjadi alasnya. Hari ini cukup melelahkan dan kami memutuskan untuk istirahat, menghanyutkan diri ke dalam alam bawa sadar yang disebut mimpi agar besok pagi kami punya tenaga yang cukup untuk melewati hari lagi. *** Bukan cahaya mentari lagi yang membangunkan aku pagi ini tapi alarm dari ponselku, ponsel Febi dan juga tabletnya yang secara bersamaan berbunyi di jam yang sama. Aku membuka mata mencari ponsel yang ada di atas kepala dan mematikannya begitu juga dengan ponsel Febi dan tabletnya, awalnya niatku begitu sampai aku ingin meraih ponsel Febi dan baru aku sadari dia sudah tidak ada di sampingku. Aku membuka mata lebih lebar lagi walau berat rasanya, ternyata benar Febi tidak ada di sebelahku. "Febi," panggilku dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kamu di kamar mandi?" Kali ini aku mencoba untuk memangilnya lebih keras. Masih tidak ada jawaban, tapi terlihat dari sini pintu kamar mandi terbuka sedikit. Dengan malasnya aku menyingkap selimut dan berjalan ke arah kamar mandi. "Febi," panggilku lagi. Aku terus berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintu yang sedikit terbuka itu, Febi memunggungiku. Terlihat dari punggungnya itu dia sedang memakan sesuatu, suaranya krikukan terdengar dari sana. "Ih, Febi mah jorok makan snack di kamar mandi." Suara krikukan itu berhenti tanda Febi memberhentikan kunyahannya, "Kamu mau?" tanyanya sambil perlahan kulihat tubuhnya berbalik. "Aaa!" Aku terbangun karena alarm yang membangunkanku dari mimpi seram itu, di mimpi itu saat Febi berbalik mulutnya penuh dengan cairan berwarna merah dan bulu burung. Ya benar yang dimakan Febi saat itu adalah burung yang kami tolong tadi malam. Aku melihat sekitar, masih ada Febi yang tidur di sampingku rasa lega menghampiri seketika. Aku menyeka keringay yang keluar akibat mimpi itu, kemudian mematikan semua ponsel yang begitu berisik secara bersamaan itu. Setelahnya panggilan alam datang membuatku harus ke kamar mandi, padahal aku tidak mau masih teringat mimpi itu. Aku tahankan sampai benar-benar mulas dan tidak bisa ditahan lagi, akhirnya dengan terpaksa aku ke kamar mandi. Saat aku buka pintu cairan merah menyambutku, diserta dengan burung yang sudah terbuka bagian isi perutnya. Semua bulunya rontok seperti dicabuti satu per satu membuatku begitu mual, aku lari ke jendela membukanya dan mengeluarkan isi perut yang tidak mampu ditahan lagi. Kemudian aku guncang tubuh Febi dengan sekuat tenaga tapi memang dasar Febi kebo susah sekali untuk dibangunkan. Sampai akhirnya aku hanya bisa duduk lemas di lantai sambil terus merasa mual dan memrgangi perut. "Genta!" Teriakan itu membangunkanku, perlahan aku membuka mata dan tiga orang yang aku sayang dan juga menyayangiku tentunya sudah ada di sekeliling. Perlahan aku bangun, dibantu mama kepalaku masih berdenyut begitu juga dengan perut yang masih terasa mulas. "Kamu gak apa-apa, baik-baik aja kan?" tanya Febi cemas. "Adek gimana kondisinya?" tanya papa juga cemas. "Lumayan, tapi masih pusing," lirihku. Mama kemudian menyodorkan air putih yang hanya kuminum sedikit. "Jangan diinget atau dibayangi lagi ya kejadian tadi, pokoknya lupain aja," kata mama. Aku mengangguk lemas. Setelahnya hanya ada hening yang menyelimuti. Aku tidak habis pikir kenapa bisa burung itu sampai seperti itu, apakah dimakan kucing? Itu mungkin saja, entahlah aku tidak bisa berpikir sekarang ini atau bahkan rasanya merasa penasaran sedikit saja karena itu tambah menbuatku pusing. Febi, mama dan papa mencoba menghiburku dengan bercerita banyak hal dan nengajak ngobrol untuk melupakan kejadian itu, beruntungnya aku memiliki mereka di sisiku. Saat tukang paket datang yang aku tebak adalah barang pesanan Febi berupa sankar burung dan yang lainnya dia langsung keluar agak lama bersama papa walau aku tau. Saat sedang berdua bersama mama pun mama tetap mengajakku ngobrol berusaha mengalihkan perhatianku. Aku menanggapi seadanya karena masih terasa lemas, dan walau aku tau gerak-gerik mereka aku hanya diam saja. *** "Maaf banget ya hari ini kita gak bisa seneng-seneng nemenin kamu belanja atau makan karena seharian lemes banget," ucapku pada Febi. Aku menyatukan kedua telapak tanganku. "Gak apa-apalah santai aja, yang penting sekarang kamu udah baikan. Lagipula gak ada yang mau ini semua terjadi, mungkin kalau aku melihat hal yang mengerikan itu aku bisa pingsan, Mama kamu aja sampai muntah-muntah tadi." Febi tersenyum ke arahku sambil memelukku singkat. "Yang buat aku itu bisa sampai syok gini karena aku kasihan sama burung itu udah mau kita pelihara biar sembuh, kamu obati, beliin sangar dan peralatan lain, sampai kamu obat pula," jelasku sedih. Febi meletakkan tanggannya di atas tangaku "udahlah gak usah dipikirin lagi. Oh, iya kalau soal belanja aku gak lupa dong, hehe. Masuk!" seru Febi tidak lama beberapa orang masuk ke kamarku, aku tidak asing dengan wajah-wajah itu karena mereka adalah asisten rumah tangga Febi. Melihat mereka membawa banyak paper bag membuat aku terharan, ada yang berukuran sedang sampai besar. "Kamu yang belanja, Feb?" tanyaku. "Enggak, mereka yang aku surh tapi atas request akulah." "Oh, jadi ini alasan aku denger kamu ngomong-ngomong sendiri di kamar mandi?" kataku tanyaku kejadian tadi siang Febi yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi sampai aku kebelet pipis di kamar mandi bawah. Dia hanya cengengesan saja menanggapi pertanyaanku. "Ini ganti belanja kita nah kamu pilih aja mana yang kamu suka, kalau aku udah pilih duluan. Terus untuk makan-makan kita yang tertunda bisa besok aja sepulang sekolah di hari pertama." "Ngapain aku dibeliin kan dibilang gak usah!" Aku melotot ke arahnya. "Eh, gak boleh nolak udaj dibeliin juga," katanya ikutan melotot. Aku mengela napas mencoba sabar, dasar kepala batu satu ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD