Bab 3 KISAHKU DAN CERITA HIDUPMU

1293 Words
∆ Cerita Tentang Elvano ∆ Pagi itu, suasana rumah Elvano terasa tenang. Angin lembut masuk lewat jendela dapur, membawa aroma daun basah dari halaman belakang. Di meja makan kecil, dua cangkir teh hangat mengepulkan uap tipis. El duduk di kursi kayu, sementara Reiven di hadapannya, masih tampak pucat tapi jauh lebih segar daripada hari sebelumnya. “Bang El… boleh aku tanya sesuatu?” Elvano menoleh, menatapnya sambil tersenyum kecil. “Tentu saja Rei. Apa?” Reiven menatap ujung jarinya di meja. “Kau tinggal sendirian di sini. Dari kemarin aku lihat… tak ada foto keluarga. Aku jadi penasaran, sebenarnya… kau tinggal di mana sebelumnya?” Pertanyaan itu membuat Elvano hening sesaat. Ia menatap ke luar jendela, ke arah cahaya yang menerobos tirai. Lalu, dengan nada lembut, ia mulai bercerita. “Aku… tidak pernah benar-benar tahu siapa orang tuaku sebenarnya,” ujarnya tenang. “Aku dibesarkan di sebuah yayasan yatim-piatu. Sejak bayi, katanya. Pihak panti mengatakan aku dititipkan oleh seorang wanta yang katanya ibuku, dia harus kerja jadi TKW diluar negeri dan ibu juga yang memberiku nama Elvano . Sampai sekarang aku hanya beberapa kali bertemu ibuku” Reiven menatapnya tak berkedip. “Serius…? Jadi sejak bayi kau sudah di sana?” El mengangguk pelan. “Ya. Tapi aku tidak menyesal. Panti itu… satu-satunya rumah yang aku tahu. Aku tumbuh di antara anak-anak lain yang juga tidak tahu siapa ayah atau ibunya. Kami belajar berbagi, saling bantu. Aku sering bantu pengurus panti, angkat air, jaga anak kecil. Dari situ, mungkin, aku jadi terbiasa menolong orang.” “Dulu pengurus panti sering bilang, ‘Elvano itu nggak pernah bisa diam kalau lihat orang kesusahan.’” Ia tertawa kecil, tapi suaranya lembut dan penuh kenangan. Reiven ikut tersenyum, tapi matanya lembut menatap El. “Sepertinya Bang El memang orang baik,” katanya pelan. Elvano menggeleng ringan. “Bukan baik, mungkin Cuma nggak tega saja.” Ia menyesap tehnya sebelum melanjutkan. “Ibu menanggung sekolahku sampai SMA. Setiap enam bulan ibu selalu mengirimkan uang ke pihak panti untuk biaya hidupku. Setelah lulus, aku dapat beasiswa kuliah di teknik elektro. Dari sana… hidupku mulai benar-benar aku pilih sendiri.” “Bang El kuliah?” tanya Reiven, suaranya sedikit takjub. El mengangguk. “Iya. Tapi waktu itu aku nggak mau hanya mengandalkan beasiswa. Aku kerja serabutan, betulin alat rumah tangga, pasang lampu, bantu proyek kecil di sekitar kampus. Awalnya Cuma biar bisa makan dan bayar kos. Tapi lama-lama aku suka.” “Lalu Bang El jadi… konsultan listrik, kan?” Elvano tersenyum. “Tepat sekali. Aku mulai bikin jasa sendiri. Nama CV nya ‘Elvan Electric Consultants. Sekarang kadang aku pegang proyek dari perusahaan besar, kadang kerja sendiri. Capek, tapi rasanya puas karena semua dari nol.” Reiven terdiam, matanya tak lepas dari Elvano. Dalam diam itu, ada rasa kagum yang perlahan tumbuh — pada ketenangan lelaki itu, pada cara bicaranya yang jujur dan tanpa sombong. “Bang El,” katanya pelan. “Kau nggak pernah merasa kesepian?” El menatapnya sebentar, lalu tersenyum hangat. “Kadang. Tapi aku belajar menikmati sunyi. Kalau terlalu sepi, aku kerja lebih lama. Kadang malam-malam berbaur dengan warga disini, kadang keluar jalan ke kota lihat lampu-lampu jalan, Entah kenapa… melihat cahaya itu bikin aku tenang.” Reiven menunduk, jari-jarinya menggenggam cangkir. “Aku… belum pernah bertemu orang sekuat itu,” katanya lirih. El tertawa kecil, tapi suaranya lembut. “Kuat? Mungkin bukan kuat, Rei. Aku Cuma terbiasa hidup tanpa banyak pilihan.” Dan dalam keheningan itu, Reiven menyadari sesuatu — bahwa di balik senyum tenang lelaki itu, ada kesepian yang dalam. Kesepian yang entah kenapa, ingin ia pahami… dan temani. ∆ Kisah hidup Reiven ∆ “Rei...” suara Elvano pelan, hampir tenggelam oleh suara kipas angin yang masih berputar diplafon kamar. Pemuda itu hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. “Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa,” lanjut Elvano. “Aku Cuma pengin kamu tahu, kamu aman di sini.” Rei diam cukup lama, seolah menimbang sesuatu yang berat di dadanya. Tapi setelah beberapa detik, bibirnya perlahan terbuka. “Aku... hidup di tempat yang nggak pernah membuatku merasa hidup,” ujarnya pelan. Elvano menatapnya, tak menyela. Rei menghela napas panjang, dan kalimat berikutnya keluar dengan suara bergetar—seolah ia sedang menarik lembar demi lembar masa lalu yang telah lama disembunyikan. “Aku anak bungsu dari empat bersaudara. Aku masih sekolah SMA kelas dua Rumahku besar, ada kolam renang, mobil di mana-mana. Tapi aku selalu sendirian. Ayah sibuk, Ibu lebih sibuk lagi. Semua orang di rumahku hanya tahu cara menuruti perintah, bukan mendengarkan.” Tatapannya bergeser ke luar jendela, menatap bias cahaya lampu yang menembus hujan. “Sejak kecil, aku terbiasa mendapat semua hal yang kumau. Tapi semakin besar... semakin aku sadar, aku nggak punya siapa-siapa. Semua orang dekat karena uang, bukan karena aku.” Elvano menunduk. Ia bisa merasakan beratnya nada di setiap kata Rei — bukan amarah, tapi kehilangan. Rei tersenyum miris. “Sampai akhirnya... sesuatu terjadi.” Suara kipas mendadak terasa lebih berat. Rei menggenggam tangannya sendiri. Jemarinya gemetar. “Malam itu... aku baru pulang dari pesta ulang tahun teman. Mobilku berhenti di perempatan karena lampu merah. Tiba-tiba... semuanya gelap. Ada orang yang menarikku, menutup mulutku, lalu—” Ia berhenti. Napasnya terhenti di tenggorokan. Elvano refleks menatapnya, tapi Rei menggeleng cepat, mencoba menenangkan diri. “Aku nggak mau mengingat semuanya. Yang jelas... saat aku sadar, aku udah di tempat asing. Gelap. Bau besi dan debu. Mereka... nggak bicara banyak, Cuma bilang mereka butuh tebusan.” Rei memeluk dirinya sendiri, bahunya bergetar halus. “Mereka memperlakukanku seperti... bukan manusia. Aku di telanjangi, diikat pada tiang kayu, aku disiksa di hajar, Aku teriak, aku minta pulang. Tapi yang datang cuma rasa takut. Waktu berjalan begitu lambat, sampai aku berhenti menghitung. Aku pikir aku bakal mati di sana.” Elvano menelan ludah, dadanya sesak. Ia ingin menyentuh bahu Rei, tapi menahan diri. Rei melanjutkan dengan suara serak. “Entah berapa lama aku di sana. Aku sempat dengar seseorang bilang, polisi tahu keberadaanku. Setelah itu, semuanya jadi kacau. Aku Cuma ingat suara keras, lalu tubuhku terlempar... dan gelap.” Ia menunduk, bibirnya bergetar. “Ketika aku sadar... aku di tempat sampah. Bau busuk, dingin, dan nyeri di seluruh tubuh. Aku pikir... aku udah nggak hidup lagi.” Rei menarik napas panjang, seolah mencoba menahan air matanya. “Sampai akhirnya... aku dengar suara langkah seseorang. Lalu kamu datang, bang El.” . Rei melirik ke arah Elvano, tersenyum tipis. “Kamu orang pertama yang nggak nanya aku siapa. Kamu Cuma bilang, ‘kamu aman sekarang.’ Dan entah kenapa, kata-kata itu... lebih hangat dari apapun yang pernah aku dengar seumur hidup.” . Rei menunduk lagi, menatap jari-jarinya. “Kadang aku masih mimpi buruk. Kadang aku takut sama suara keras atau bayangan gelap. Tapi kalau aku ingat wajahmu malam itu, aku tahu masih ada alasan buat bertahan.” “Rei,” ujarnya pelan. “Kamu udah cukup kuat, tahu?” sambil memeluk perlahan tubuh Rei dengan kelembutan seorang kakak pada adiknya. Rei tersenyum samar. “Nggak juga. Aku Cuma beruntung... karena ketemu bang El “ Rei enggan bang El melepas pelukan nya, begitu hangat dan mendamaikan hati dan perasaan. Keheningan itu berubah menjadi kehangatan. Dan pagi itu, Elvano baru sadar — kadang, penyembuhan bukan soal waktu, tapi tentang siapa yang mau duduk bersamamu di tengah luka. Melihat Rei yang masih di tutupi selimut , El berkata “Kamu pilih saja pakaian yang pas buat kamu di lemari.” “Baiklah Rei, ini sudah siang, aku berangkat kerja dulu ya, aku sudah siapkan masakan buatmu untuk nanti siang ” ucap El sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07:05. “Baik bang, makasih aku akan menjaga rumah ini” jawab Rei tersenyum manis. “Kau baik sekali bang, kenapa aku merasa nyaman berada dekatmu”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD