PERANGAI ANEH TETANGGAKU
Pekerjaanku sebagai teknisi jaringan dan di satu perusahaan BUMN sebagai Rigger atau pemanjat menuntutku untuk bekerja secara profesional, tentunya keselamatan diriku lebih utama. Setelah tugasku selesai mengarahkan antena signal di atas menara yang tingginya sekitar tujuh puluh dua meter dari permukaan tanah yang terletak di wilayah pesisir, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitaran pantai hembusan angin laut yang bertiup kencang dan deru riak ombak menghempas dinding pembatas pantai hingga terbias membasahiku, siang itu cuaca nampak mendung. Bulan ini merupakan waktu yang sangat riskan bagi para nelayan untuk melaut, tingginya ombak dan kencangnya tiupan angin yang kadang berpotensi menimbulkan badai membuat sebagian masyarakat yang menggantungkan hidupnya di laut enggan untuk beraktifitas.
"Semoga saja tak terjadi musibah seperti yang pernah ku alami." Gumamku saat menatap gelombang besar di tengah laut.
Hingga sore hari gelora ombak tak kunjung tenang, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah kostku.
Saat di tengah perjalanan ku putuskan untuk singgah di sebuah swalayan untuk membeli keperluan yang kubutuhkan saat malam nanti di kamar yang ku kontrak.
Tak berapa lama mencari barang yang kubutuhkan aku pun melangkah menuju antrian pembayaran di kasir, aku terpaku melihat sebuah berita yang di tayangkan oleh salah satu televisi swasta. Sebuah insiden kecalakaan pelayaran yang menenggelamkan kapal yang memuat barang dan penumpang terjadi sekitar teluk, saat itu pula ingatanku tertuju pada musibah yang menimpaku empat puluh tiga tahun yang lalu saat kapal yang kutumpangi berlayar dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju Pelabuhan Soekarno Makassar yang menewaskan ratusan penumpang termasuk nahkoda kapal itu.
"Mas... mas ayo silahkan maju ke kasir." Ucap seseorang yang berada di belakang.
Akupun terhenyak merasakan sebuah jari mencolek punggungku.
"O iya maaf, mbak." Ucapku sambil melangkah maju menuju kasir namun mataku tetap tertuju pada layar televisi yang berada di belakang kasir.
"Apa hanya ini belanjaan bapak !?" Tanya kasir berparas cantik di depanku.
"Iya." Jawabku singkat tetap fokus pada berita yang tayang di televisi.
"Ada kartu membernya pak !?" Tanya kasir itu lagi.
"Iya." Jawabku.
"Mana pak, biar kami memberi discount dari total belanjaannya." Ucap kasir itu sembari menunggu.
"Iya." Jawabku asal tetap fokus pada berita di televisi hingga reporter yang melaporkan berita tersebut mengakhiri tayangannya.
"Maaf mana kartu member bapak !?" Ucap kasir mengulang dengan wajah ketus.
"Eh um... anu itu saja mbak totalnya berapa !?" Jawabku tergagap.
"Kalau mau nonton di rumahnya aja, mas gonrong jangan di sini kasian kita pada menunggu." Ucap wanita di belakangku.
"Um.. maaf mbak." Jawabku seraya menoleh ke belakang dan tergelik melihat deretan orang yang lagi mengantri untuk membayar belanjaannya.
Tak berapa lama aku pun membayar sejumlah barang belanjaanku dan berlalu dari hadapan kasir tanpa menghiraukan orang-orang yang berbaris antri memandangku dengan tatapan kesal.
Dari jauh kulihat seorang anak perempuan kecil usia balita sedang bermain di gerbang rumah kost dan saat deru motorku terdengar dia pun berdiri menyambutku sambil bersorak.
"Om Dey datang... om Dey datang... om Dey datang... horee !?" Serunya sambil meloncat loncat gembira.
Aku lalu menghentikan motorku lalu mengangkat dan mendudukkannya di depanku, seperti hari-hari biasa balita yang bernama Salsa itu selalu menungguku saat pulang kerja. Rumah yang ku tempati kost adalah rumah petak dan hanya terdapat empat petak, kebetulan kamarku bersebelahan dengan kamar orang tua Salsa.
"Salsa kita masuk yuk, sudah malam jangan main di luar." Ucapku sambil menciumnya.
"Iya om tapi caca mau bacco." Ucapnya sambil memeluk leherku.
"Um... tunggu om mandi dulu ya, setelah itu baru kita cari bakso." Ucapku sambil menggendongnya masuk ke rumahnya.
Aku pun langsung membuka pintu rumahnya dan betapa aku terlonjak melihat pemandangan di depanku, ibu Salsa yang baru saja selesai mandi... handuk yang di kenakannya melorot hingga dua buah gunung kembar miliknya dan barang sensitif yang di tumbuhi bulu yang jarang-jarang nampak helow di hadapanku. Tubuhnya yang indah putih dan seksi terlihat jelas tanpa celah sedikitpun.
"Mmaaf mama Salsa." Ucapku sambil memalingkan mukaku.
"Tidak apa mas, saya mengira tidak ada orang jadi main pelorot aja." Ucapnya yang tiba-tiba sudah berada di depanku.
"Salsa ayo ganti baju dulu sudah malam." Ucapnya sambil meraih Salsa yang masih dalam gendonganku hingga wangi tubuhnya tercium dan seakan sengaja merapatkan tubuhnya.
"Papanya Salsa kemana, biasanya dia lebih dulu ada di rumah !?" Tanyaku sengaja memalingkan wajahku ke samping.
"Hm... mungkin dia lembur, mas." Ucapnya dengan tatapan yang tak dapat kuartikan.
"O, iya kalau begitu aku ke sebelah dulu gerah, rasanya mau mandi dulu." Ucapku seraya tersenyum pada mama muda di depanku dan mengusap kepala Salsa.
Aku pun berjalan ke luar dari rumahnya dan segera membuka pintu rumahku yang memang kuncinya selalu ku titipkan pada tetanggaku ini, setibanya di dalam kamarku aku menghempaskan tubuhku di atas springbed dan merenggangkan otot-ototku yang terasa pegal. Sesaat terlintas lekuk tubuh dan benda sensitif milik mama Salsa memenuhi pikiranku membandingkan milik mantan istriku yang kini rimbanya entah berada di mana.
"Hhmm... kenapa dia tak berteriak atau menjerit saat melihatku berada dalam rumahnya... seakan tak menyalahkan saat aku tanpa permisi masuk ke dalam rumahnya."
"Sebaiknya aku mandi sudah sangat lengket rasanya, uuhp." Gumamku seraya bangun dan meraih handuk lalu melepas pakaianku.
Dua puluh menit berlalu aku pun selesai mandi dan kembali ke dalam kamar, ku dapati Salsa dan ibunya tengah duduk di ruang depan sedang menonton televisi dan begitu melihatku anak itu berlari lalu bergayut di betisku.
"Om Dey ma'am bacco." Katanya sambil mendongak.
"Iya sayang om berpakaian dulu ya." Ucapku sambil mengelus kepalanya.
Melihat anaknya bergayut tak ingin melepaskan betisku, ibunya Salsa lalu berjalan menghampiri dan menundukkan badannya ingin meraih anak itu tapi lagi-lagi pemandangan tak terduga terlihat jelas di depanku... kerah daster yang di kenakannya terjuntai hingga ke dua gunung kembar tergantung indah tanpa pengaman menyembur dari balik dasternya.
Sebagai lelaki normal melihat pemandangan seperti itu sontak membangunkan pusaka yang selama ini ku jaga, hingga terlihat tonjolan tertutup handuk di bawah perutku.
"Dik kamu kenapa membiarkan asupan asi Salsa ke luar dari dastermu !?" Ucapku memberanikan diri sambil menutupi dengan tangan benda di bawah perutku yang sudah meronta.
Dia hanya tersenyum tak berkata apa-apa dan pandangannya terarah pada tonjolan pusakaku yang sudah bangun mengacung, dia pun meraih Salsa yang memeluk betisku namun seolah sengaja menyentuhkan hidung dan bibirnya di pusakaku.