HASRAT YUSTI

1119 Words
Hasratku yang terpancing oleh perangai aneh ibu Salsa seakan meninggalkan pening di kepalaku, aku merasa aneh saja tak seperti hari-hari sebelumnya mama muda itu begitu menutup diri dan sopan padaku. Kini perubahan yang kulihat pada dirinya berbanding terbalik, dia seperti gadis binal yang sengaja mengumbar tubuhnya di hadapanku. "Dik, apa kau sengaja melakukan ini... terus terang saja walaupun aku sudah lama menduda tapi tak pernah sekalipun aku melampiaskan hasratku di rumah bordir ataupun sekedar jajan wanita-,wanita penghibur." Ucapku sembari menutup pusaka yang kian tambah berdenyut. Dia hanya mendongak dan tersenyum tipis menatapku, perlahan tangannya menyusup di balik handuk meraih bola kecil yang menggantung dan masih lembab. Lembut jemari tangannya terasa menggenggan daging yang mengeras hingga melambungkan hasratku hingga ke ubun-ubun. "Houuughks ummh aah... Ssskh." Suara lenguhan ke luar dari bibirku yang tadinya terkatup rapat kini terbuka dengan suara desik. Belum lagi rasa nikmat yang membawa anganku melayang oleh sentuhan jari ibu Salsa, dari luar terdengar deru motor memasuki gerbang rumah kontrakan membuat aku terlonjak dan segera berlari kebelakang rumah lalu kembali ke dalam kamar mandi. Berbeda dengan ibu Salsa yang terlihat santai berjalan kembali ke ruang depan menonton televisi bersama Salsa. "Salsa... Salsa... !?" Seru suara pria dari luar rumah memanggil Salsa. "Itu papa kamu sudah datang, ayo buka pintunya !?" Ucap ibu Salsa sembari menuntun putri kecilnya membuka pintu rumahku. "Eeh anak papa rupanya di sini, om Dey nya sudah pulang ya !?" Ucap ayah Salsa berjongkok di depan pintu sembari memeluk Salsa. "Bang Dey di mana ma !?" Tanya ayah Salsa mendongak ke arah ibu Salsa. "Dia sedang mandi kali, kenapa pulangnya malam begini, pa !?" Tanya bu Salsa dengan pandangan tetap tertuju pada layar televisi. "Habis mengantar orderan di luar daerah, mana saat pulang ada kemacetan panjang." Jawabnya sambil berdiri menggendong Salsa. Tak lama saya muncul dari pintu belakang dengan hanya mengenakan handuk berusaha meredam kecanggungan. "Baru balik Mus !?" Seruku sambil berjalan ke arah kamarku. "Iya bang." Jawab ayah Salsa yang bernama Musdar. Setelah beberapa saat lamanya aku telah selesai berpakaian dan ke luar dari kamarku, sekilas ku lirik ibu Salsa yang sedang asyik menonton acara pencariaan bakat di saluran televisi swasta lalu berjalan ke luar rumah memanggil Salsa untuk memenuhi janjiku pada balita itu. "Salsa... ayo kita duduk di depan tungguin penjual bakso !?" Seruku mengajak Salsa yang langsung berlari ke arahku. Tak berapa lama saya dan Salsa duduk di tembok jembatan depan kontrakan, dari arah gang muncul penjual bakso dengan gerobaknya. "Nah itu dia yang Salsa tunggu !?" Ucapku sambil menunjuk penjual bakso yang mendorong gerobaknya ke arah kami. "Tunggu ya mas, saya tanya dulu yang di dalam, bikin saja satu porsi komplit satu lagi bakso biasa buat anak ini !?" Ucapku sambil berjalan masuk ke kontrakan. "Yusti coba tanya papa Salsa apa dia mau bakso pesan saja, penjualnya ada di depan !?" Ucapku sambil berjalan kembali mengambil pesananku. Malam itu aku dan para penghuni kontrakan berkumpul bersama di depan teras rumah kost menikmati bakso, di antara penghuni empat petak kontrakan hanya akulah yang tidak berkeluarga dan dengan latar belakang berbagai profesi pekerjaan. Petak pertama di huni oleh keluarga pak Ismail dan istrinya yang bekerja sebagai guru honor di salah satu sekolah menengah negeri di kota ini, petak ke dua di huni oleh keluarga pak Remos dan istrinya yang berasal dari NTT bekerja sebagai helper di salah satu toko material, petak ke tiga di huni oleh keluarga Musdar dan Yusti serta anaknya Salsa yang masih balita, bekerja sebagai supir di sebuah toko grosir bahan makanan dan minuman sementara petak ke empat di tempati oleh aku sendiri. "Ayo pak, bu baksonya di tambah, tidak usah sungkan aku yang traktir koq !?" Ucapku menawarkan pada tetangga kostku. "Trims om Dey sudah cukup !?" Ucap pak guru sembari mengatupkan ke dua tangannya. "Okey om Dey saya juga sudah cukup, lumayan jatah makan malam tertutupi dengan bakso he he hehehe." Ucap pak Remos sambil terkekeh. "Caca mau tambah bacco !?" Celetuk Salsa seraya mengacungkan tangannya yang masih menggenggam sendok. "Haa hahahaaa... iya sayang Salsa mau tambah tapi habiskan dulu bakso di mangkok itu, sebentar kita tusuk lagi baksonya okey !?" Ucapku tertawa melihat mukanya yang lucu. "Eeit di habiskan dulu baksonya yang ini, ya !?" Ucap Yusti sambil memperbaiki letak kain yang menutupi dadanya. Akhirnya acara makan bakso malam itu usai setelah aku membayarkan sejumlah uang sesuai pesanan kami. Dua keluarga lebih dulu masuk ke dalam rumahnya sementara aku dan Musdar masih berada di teras depan pintu rumah kami mengobrol seputaran pemilihan kepala daerah dan suhu politik di negara ini. Aku yang sama sekali tidak tertarik membahas hal-hal yang berbau politik hanya sesekali menyela dan kadang menguak lalu aku berdiri. "Dar aku tinggal dulu ya, aku hendak mereport hasil kerjaanku dulu." Ucapku sambil berlalu meninggalkan Musdar duduk di teras. Aku pun berjalan memasuki kamarku dan menyalakan laptop dan membuka galeri Smartphoneku yang menyimpan kumpulan foto-foto hasil audit tadi siang. Sesaat ku amati beberapa folder yang berada di bagian bawah monitor dan membuka riwayat aplikasi yang terbuka. "Umm... perasaan sudah lama aku tidak pernah membuka file film xxx... siapa yang menontonya ya !?" Gumamku sambil membaca sepuluh file film dewasa yang sudah di tonton. "Sebaiknya aku copy dulu foto-foto tadi ke dalam laptop ini, bisa sakit kepala kalau liat film ini apalagi tadi mama Salsa sudah berani memegang pusakaku." Gumamku seraya memperbaiki letak pusakaku yang spontan mengacung mengingat prilaku Yusti tadi sengaja meremas pusaka di selangkanganku. Setelah beberapa lama aku membuat report lalu aku berdiri mengambil kopi kemasan yang ku beli tadi dan berjalan ke dapur untuk menyeduhnya. "Aduuh rupanya aku lupa mengisi termos, minta sama Yusti saja, ah !?" Gumamku sambil menenteng gelas berisi bubuk kopi. "Yus minta air panasnya dong !?" Ucapku sambil mengangkat gelas yang kupegang. "Siapa tahu papa Salsa juga mau, itu ambilkan saja di dapur." Sambungku sambil menunjuk ke arah dapur. "Musdar sudah tidur dengan Salsa kali, bang, sini aku ambilkan air panas." Ucapnya sambil meraih gelas di tanganku, tatapannya tak lekang dari dadaku yang berbulu. Aku pun berjalan kembali ke dalam kamarku dan menyelesaikan report lalu mengirimnya ke email divisiku di kantor. Suara rikik pintu belakang dekat dapurku terdengar terbuka, seseorang telah masuk melalui pintu itu dan aku pun berdiri ingin melihatnya rupanya Yusti muncul dari bagian belakang. "Bang ini kopinya aku taruh di mana !?" Ucapnya sambil melangkah pelan membawa gelas berisi kopi. "Di atas nakas itu saja dekat laktop, trims ya !?" Ucapku sambil menyulut kretek yang terselip di bibirku. "Kamu tidak sedukan untuk papa Salsa !?" Ucapku berbasa basi. "Dia sudah tidur bang, aku lanjut nonton ya !?" Ucapnya setelah menaruh gelas kopi. Tapi dia tak beranjak dari depan meja matanya tertuju pada monitor laptop di depannya dan meraih mouse wireless lalu mengklik folder yang menyimpan berbagai film dewasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD