Aku hanya heran melihat prilaku Yusti tak merasa malu atau canggung denganku atau mungkin karena kami sudah bertetangga cukup lama dengannya dan memang setiap harinya kunci rumahku ku titipkan padanya untuk membersihkan pakaian kotorku juga sekedar menonton televisi karena di kontrakan hanya aku yang memiliki televisi.
"Tenang bang dia tidak akan bangun kalau sudah tertidur !?" Ucapnya berbisik sambil berjalan ke arahku kemudian berjongkok menadahkan wajahnya pas di depan selangkanganku.
"Apa yang ingin kau lakukan, Yus !?" Tanyaku berbisik sambil tertunduk menatapnya sembari memegang pundaknya.
Dia hanya mendongak dan menempelkan wajahnya di selangkanganku hingga menyentuh pusakaku yang sudah mulai terusik. Perlahan aku menuntunnya berdiri menatap wajahnya yang sendu di buai birahi, nampak dua buah ceri menonjol terhalang daster yang di kenakannya.
"Apa yang kau lakukan Yus, aapa kau tidak takut bila suamimu mmemergoki kita bberdua di dalam kamar !?" Tanyaku dengan suara terbata dan keringat membasahi keningku.
"Sudah ku katakan bang, dia kalau sudah tertidur susah untuk bangun... aku kadang kesal di buatnya." Ucap Yusti tertunduk tatapannya tertuju pada benda menonjol di halangi celana boxer yang ku pakai.
Perlahan tangannya bergerak maju bersamaan tubuhnya yang telah rapat mendekap tubuhku hingga benda keyal yang tergantung di dadanya terasa lembut menempel di perutku.
"Jangan lakukan... hentikan kegilaanmu Yus, apa jadinya jika suamimu tiba-tiba bangun dan memergoki kita !?" Ucapku pelan dengan geram berusaha melepaskan pelukan Yusti dan menjauh darinya.
Di ruang depan aku duduk meremas rambutku yang panjang tergerai, memikirkan apa yang terjadi pada Yusti.
"Ada apa dengan dia... tidak seperti biasanya dia menjaga sikap dan sangat lugu... jika memang hasratnya menggebu dia punya suami yang bisa memberinya kepuasan batin masih muda pula." Bisikku dalam hati seraya mengusap wajahku dengan kasar.
Sesaat ku pandangi pintu kamarku yang sedang terbuka lebar berharap wanita muda itu sudah pulang dan aku pun berdiri hendak mengambil kopi yang sudah di buat tadi tapi ternyata dia masih berada dalam kamarku mala sedang tengkurap terlihat punggungnya bergetar seperti sedang sesugukan.
"Kasian anak itu... apa yang harus kulakukan agar dia mau ke luar dari kamarku." Ucapku berdiri sandar di tiang pintu menatapnya.
Hingga aku memberanikan diri mendekatinya duduk di pinggir ranjang dan menepuk pundaknya.
"Sudalah Yus sebaiknya kamu pulang, kasian suami dan anakmu." Ucapku sambil mengusap punggungnya.
Diapun membalikkan tubuhnya hingga ujung dasternya di bagian bawah tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih mulus, sesaat dia duduk di sampingku sambil menangkupkan tangan di atas pahanya.
"Bang maafkan aku... aku tidak tahan... !?" Ucapnya tertahan karena aku menempelkan jariku di bibirnya yang merah tanpa polesan.
"Besok saja kamu ceritakan, aku tidak ke mana-mana... sekarang kamu ke sebelah saja, ya !?" Bisikku berusaha membujuknya.
"Hmm... baik bang." Ucapnya lalu berdiri.
"CUPS CUPS." Sebuah kecupan di pipi dan bibirku yang tak dapat kuhindari saat dia tiba-tiba menerjangku dan diapun berbalik melangkah ke arah belakang seperti biasanya ketika selasai menonton acara favoritnya di televisi saat hendak pulang.
Selang beberapa lama aku duduk menikmati kopi yang sudah mulai dingin, hatiku terdorong untuk menguntik pasutri muda itu ketika pandanganku tertuju pada tangga lipat inventaris kantorku yang belum sempat ku kembalikan.
Akupun memasang tangga tersebut lalu mematikan lampu di dalam rumahku agar nampak bias cahaya dari sebelah.
Sesaat kuamati dari lubang segi empat bekas balok yang belum tertutup campuran semen, sebuah pemandangan yang terlihat jelas b****g Yusti yang putih... dia memaksa benda hitam yang di genggamnya masuk ke lubang daging yang terbelah dan sudah lepek oleh cairan yang menetes... hingga berulang kali dia berusaha membangunkan benda hitam itu namun tetap tak mau mengacung, nampak kekesalan di wajahnya hingga dia menghempas kasar benda hitam milik suaminya yang sebesar burung pipit.
Akupun tak ingin berlama-lama melihat pemandangan itu dan bergegas turun dari tangga dan melipatnya lagi.
"Rupanya ini penyebab dia ingin melampiaskan hasratnya padaku, kasian mereka... tapi jika Musdar tak bisa ereksi... lalu Salsa itu anak siapa !?" Gumamku sambil memijat daguku.
"Kenapa Musdar tidak ke dokter memeriksakan kondisinya, bahaya jika dia membiarkan seperti itu bisa-bisa istrinya akan berselingkuh atau menjajakan tubuhnya pada pria-pria lain... aku harus menolongnya agar Yusti tidak terjerumus." Gumamku.
"Huaaakkh..." Aku menguak rasa kantuk nendera lalu memaksaku masuk ke dalam kamar melucuti baju dan celanaku berganti sarung lalu menghempaskan tubuhku di atas sringbed.
Sekilas bayangan-bayangan Yusti terlintas saat memegang pusakaku, genggaman jarinya yang lembut masih terasa membekas... hingga akupun hanyut dalam buaian mimpiku bersama Yusti.
"DERRRT... DERRRRT...DERRRRRRT." Getar dan suara dering alarm dari HPku terdengar hingga aku pun terbangun mematikan alarm.
Aku lalu duduk di pinggir springbed sayup-sayup ku dengar suara motor pak guru ke luar dari halaman rumah kontrakan, karena kantuk masih mendera di tambah rasa pegal di punggungku hingga aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku dan kembali di buai mimpi.
Rasa keram di selangkanganku berubah nikmat hingga menjalar ke seluruh tubuhku, sesuatu yang becek telah menjepitnya ke luar masuk... suara desahan halus terdengar sayup ke telingaku.
"Ouugghh bbang bbangguun...
Hingga sebuah lumatan lembut di bibirku membuatku susah benafas memaksaku membuka mata.
Sayup-sayup bayangan wajah Yusti terlihat hingga nampak jelas dan aku tersentak mana kala hal yang nyata ku rasakan. Yusti berada di atasku tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya yang terguncang.
"Oummmgh bbaang Ddeey ummhh..."
Lenguhan-lenguhan dan rintihan syahdu terdengar jelas mana kala tubuhnya bergetar mencapai nikmat dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku dan membiarkan pusakaku terbenam dalam liang surgawinya.
Akupun memeluknya dan menghujani ciuman di lehernya yang jenjang hingga bibirnya yang merah ranum tak luput dari
lumatanku... rasa haus yang selama bertahun-tahun terbenam kini menyeruak, lama kami saling melumat membenamkan lidah. Hingga aku pun menarik tubuhnya dan memangkunya hingga dua gunung kenyal bersembur di wajahku tak luput dari remasan dan lumatan bibir dan lidahku pada buah ceri ranum.
"Sssshg ouuuugh bbang tteruus... ouumh."
"Terus gooyang dik ssampai dapattgh..." ucapku.
"Aaakhu ssampai laggi bbang ooouuuughk." Lenguhan panjang Yusti melepaskan lagi air nikmatnya.
Tubuhnya lunglai di atas pangkuanku, ku rangkul erat tubuhnya dan kembali ku lumat bibirnya dengan lembut sambil perlahan membaringkan tubuhnya membiarkan pusakaku tetap terbenam.
Saat ku rasa gairahnya telah kembali, aku pun bergati memacu liang nikmatnya dengan pusakaku hingga kembali tubuhnya bergetar seiring wajahnya yang memerah namun aku terap memacu hingga lebih dalam sampai suara becek dari cairan nikmat terdengar menambah gairahku.
"CLUK CLUK CLUK."
"Teruuus bbang lebiiih dddalam iiyakh."
"Ttahaan dik kkita sama-ssama lepaskan." Ucapku
"Akkhu kkluar laggi bbang... Ouuuugghk uummh bbang Ddey ssayang." Desahnya mendapatkan nikmat dengan peluh yang membasahi tubuhnya.
"Crrot crot croot."
"Aaku ssampai lleppaaassskkan OOUUUUGGHK Ssayaaang." Lenguhanku hingga memeluk tubuhnya dengan erat.
Hembusan nafasnya yang tersengal-sengal nampak hangat menerpa pipi dan telingaku, hingga aku berguling di sampingnya dan kembali tertidur pulas.