Setelah pergulatan yang menguras tenaga dan keringat, Yusti tergelak lunglai di sampingku dengan tubuh polos. Aku pun kembali tertidur akibat rasa lelah dan juga masih mengantuk, hingga terbangun pada saat Salsa sedang mengorek-ngorek telinga dan mataku memaksaku untuk bangun.
"Om Dey mangun mangun ayo." Ucapnya sambil menggoyangkan badanku.
"Om tidak mau bangun kalau Salsa belum setor sayang sama om." Ucapku sambil menunjuk pipiku.
"Cup." Bunyi kecupan Salsa di pipiku.
"Satu lagi belum yang keras ya sayang !?" Ucapku sambil menunjuk pipi kiriku.
"CUP." Suara kecupan di pipiku hingga terasa basah oleh ilernya yang ikut menetes.
"Trima kasih sayang, anak pintar cantik kyak mamanya." Ujarku sambil duduk di pinggir springbed.
Aku lalu menggendongnya ke luar dari kamarku dan memberikan cemilan yang ku beli kemarin, dia pun berlari ke ruang depan menikmati biskuit sachet kegemarannya.
"Duduk yang tenang ya, om mau mandi dulu !?" Ucapku meninggalkan Salsa sendiri di ruang depan.
Sementara di bagian belakang rumah kontrakanku yang di kelilingi tembok terpissh masing-masing dua petak, Yusti sedang menjemur pakaian ku. Sadar dirinya ku perhatikan diapun membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku aku pun membalas senyumnya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
"Tok Tok Tok." Suara ketukan pintu kamar mandi terdengar.
"Siapa !?" Tanyaku.
"Aku bang... buka dulu !?" Ucap Yusti dari luar.
Sesaat aku diam dan tak merespon perintahnya.
"Tok Tok."
"Cepat bang !?" Sambungnya sambil mengetok lagi pintu kamar mandi.
Aku pun terpaksa membukajan pintu tapi sebelumnya mengenakan kembali handuk.
Dia pun cepat-cepat menyusup masuk dan mengunci pintu.
"Mau apa kamu !?" Tanyaku berbisik.
"Mandi bareng dengan abang !?" Jawabnya tanpa canggung.
"Aduuh Yus, bagaimana kalau ada orang melihat kita seperti ini !?" Tanyaku dengan wajah gelisah.
"Tidak ada... sejak pagi tadi sudah berangkat kerja, makanya tadi kita bebas bang." Ucapnya sambil tersenyum.
Perlahan dia membuka daster hingga tubuhnya tanpa mengenakan dalaman langsung terpampang di depanku. Aku tersentak melihat beberapa tanda merah yang membekas di gunung kembarnya yang putih, sedikit ada kepanikan yang kurasa takut bila tanda itu di lihat oleh suaminya.
"Yus itu di s*** kamu apa Musdar tidak curiga bila melihatnya !?" Ucapku sambil menunjuk tanda merah di gunung kembarnya.
"Tidak apa bang, justru aku bangga mendapatkan tanda ini dari abang." Ucapnya sambil meraih pusakaku.
Tanpa di komando dia melorotkan tubuhnya, bibirnya yang merah berkali-kali mengecup pusakaku hingga membenamkannya di mulutnya lidahnya menari lincah menyapu tiap senti pusakaku dan aku pin melakukan sama padanya hingga liang nikmatnya kembali sesak oleh pusakaku yang sudah tak bisa di ajak diam. Akhirnya kami selesai mandi dan kembali dalam kontrakan masing-masing untuk berpakaian.
Siang itu tak terhitung berapa kali kami melakukan hubungan terlarang, saat menjelang sore kami berdua duduk di teras sambil ngobrol dan bermain bersama Salsa.
"Yus apa kamu tidak takut melakukan itu !?" Tanyaku ingin mendengar alasannya.
"Bang hanya itu yang bisa ku berikan untuk menebus utang-utangku padamu." Ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
"Utang... utang apa maksud kamu !?" Ucapku sambil menatap tajam padanya.
"Iya bang utang..." Ucapnya sambil mengencangkan ikatan rambut Salsa.
"Apa itu bukan utang namanya setiap aku minta bantuan untuk keperluan hidup kami abang selalu ringan memberikan, termasuk biaya kontrakan hampir setahun ini abang yang menutupinya." Ucapnya lirih sambil mengusap sudut matanya yang terlihat basah.
"Yusti aku ikhlas berbagi dengan kalian... hanya kamu saja yang salah menilai." Ucapku tetap menatapnya.
"Terus terang aku merasa heran melihat perubahan pada dirimu, apa karena kamu sering membuka lakh..." ucapku tertahan merasa ragu untuk meneruskan, walau sebenarnya alasan Yusti bersikap seperti itu telah ku ketahui tapi aku ingin mendengar langsung dari mulutnya alasan dia ingin berselingkuh denganku.
Sekejap dia terpaku nampak bias keraguan dari wajahnya yang cantik, untuk mengatakan sesuatu.
"Maafkan bang, selama ini aaku telah lancang membuka laktop kalau abang berangkat kerja... terus terang tujuanku sekedar ingin menonton film drama yang pernah abang putar tapi tak sengaja membuka folder yang menyimpan berbagai file film dewasa, awalnya aku kira file film india." Ucap Yusti sambil tertunduk.
"Hmm... jadi karena film-film yang kau tonton itu hingga membuatmu ingin berserah nikmat padaku !?" Ucapku sambil menyilangkan ke dua tangan di dadaku.
"Hanya dengan nonton film itu aku bisa meluapkan hasratku yang terpendam walau melalui jariku." Ucapnya dengan suara pelan sambil tertunduk.
"Tapi kan kamu punya suami... kamu bisa melakukannya kapanpun menginginkannya... kenapa mesti menyiksa diri dengan jemarimu !?" Ucapku asal tetapi membuat tekanan pada Yusti untuk berkata jujur.
"Umm... jauh sebelum Salsa lahir, saat usia kandunganku memasuki trimester ke dua atau empat bulan... ke anehan terjadi pada Musdar, waktu itu dia sakit dan sering mengigau menyebut nama seorang wanita dan berteriak memanggil-manggil nenek... aku berpikir itu sesuatu yang wajar bila seseorang menderita demam tinggi." Jelasnya dengan menggertakkan jari tangannya.
"Sakit apa Musdar waktu itu !?" Tanyaku sambil mengernyitkan alisku.
"Entahlah bang... dia cukup lama menderita sakit aneh itu, bahkan setelah aku melahirkan dia belum sembuh." Ucap Yusti menatapku dengan pandangan terlihat sendu.
"Apa tidak memeriksakan ke dokter supaya agar diagnosa penyakitnya dapat kalian ketahui !?" Ucapku.
"Sudah bang, karena aku tak ingin di salahkan oleh orang tuanya... akupun membawanya ke rumah sakit namun dokter hanya mengatakan dia menderita typus dan di rawat selama beberapa hari hingga dia sembuh." Ujar Yusti.
"Alhamdulillah penyakitnya tak pernah lagi kambuh hingga saat ini... hanya saja, hal lain terjadi pada dirinya..." Ucapnya lirih sambil tertunduk.
"Hal lain... dia kenapa !?" Tanyaku sambil memicingkan mataku.
"Hhm... itu yang membuatku tersiksa berkepanjangan... seorang istri yang tidak lagi bisa merasakan nafka batin dari suami, setiap kali aku memintanya selalu saja berujung kecewa dan kecewa..." Ucap Yusti kedua matanya yang indah nampak berkaca-kaca.
"Hm... harusnya kamu menyarankan pada suamimu untuk mendatangi dan memeriksakan penyakitnya pada dokter spesialis." Ucapku sambil memijat-mijat daguku.
"Sudah bang... bahkan berbagai cara dan saran telah dia lakukan namun tetap saja punya Musdar tak bisa lagi mengacung, tidak seperti punya abang sudah panjang besar..." Ucapnya tertunduk.
"Lho koq, mala membandingkan punya Musdar dan punyaku,... usaha untuk sembuh itu tidak hanya di lakukan sekali, sebaiknya periksa lagi ke dokter yang lain siapa tahu cocok dan bisa sembuh." Kataku sambil menatap Yusti.
"Hhha... aku beberapa kali meminjam uang pada abang hanya untuk di pakai Musdar berobat jika tidak salah sudah sekitar dua puluhan juta sudah abang berikan." Ucapnya sambil meremas rambutnya.
"Tidak usah pikirkan itu dan jangan pernah bahas lagi mengenai utang, sekarang aku hanya memintamu bersikap wajar di depan suamimu !?" Ucapku seraya berdiri menggendong Salsa dari kursi di depan teras kontrakan dan berjalan masuk ke kamarku meninggalkan Yusti seorang diri.