MUSIBAH BERTUBI-TUBI MENIMPA IRVAN

1016 Words
Musdar yang terlihat lemas dan wajahnya terlihat pucat berjalan pelan ke luar dari rumahnya meninggalkan Yusti seorang diri di dalam rumah kontrakannya. Setelah tak terdengar lagi percekcokan, aku lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Sementara di rumah Irvan, seorang remaja bertubuh kurus berusia lima belas tahun sedang meronta-ronta menahan sakit pada paha kirinya yang sudah membengkak kebiruan dan terancap sebatang besi dengan berjurai sayatan-sayatan tali rapia terikat di pangkalnya, besi tersebut berbentuk anak panah yang di lontarkan menggunakan ketapel. "Bapak... tolong Madi, cabut busur ini..." Ucap remaja itu terlihat lemas menahan sskit di pahanya. "Bapaak... ibu... nenek... kalian di mana, tolong Madi..." Ucap remaja itu saat menyebut namanya tubuhnya tak lagi bergerak dia pingsan. Saat itu pula Irvan muncul dari luar rumah dan heran melihat sebuah motor matic dengan posisi tergelak di tanah. "Hm... rupanya anak itu sudah pulang." Gumamnya diapun buru-buru memasuki rumahnya dan mendapati anak sulungnya dalam keadaan pingsan di pahanya tertancap sebarang anak panah. "Madi... Madi... bagaimana ini !?" Serunya sambil menepuk-nepuk pipi anaknya. "Kamu habis tawuran lagi, dasar kepala batu !?" Ucapnya dengan wajah kebingungan. "Kalau di bawa ke rumah sakit pasti biaya operasinya tidak sedikit dan pasti akan berurusan dengan polisi... sebaiknya aku cabut saja busur ini nanti setelah tercabut baru aku bawa ke rumah sakit." Gumamnya seraya menggenggam besi itu dengan kuat. "Satu... dua... ti..ga CAAKH." Di hitungan ke tiga anak panah itu tercabut dari paha dan menyadarkan anaknya. "AAAAKH ADADADADAAA..." Teriakan Madi terdengar keras seiring tercabutnya anak panah dari pahanya. Darah yang mengalir ke luar dari lubang bekas anak panah itu terlihat berwarna merah kehitaman. "Untung anak panah ini tidak terlarlalu beracun, sebaiknya aku membawanya ke puskesmas terdekat saja." Gumam Irvan menatap anaknya yang sudah mulai pucat akibat banyak kehilangan darah. Dan tak berselang lama dengan mengendarai motor matic yang tergeletak di halaman rumahnya, Irvan membawa Madi anaknya ke puskesmas terdekat dari rumahnya. "Tolong anak saya suster !!?" Seru Irvan memanggil perawat. Seorang dokter dan beberapa perawat yang melihatnya segera membantu Irvan meletakkan Madi di atas tempat tidur lalu memberikan pertolongan pertama dan mempersiapkan beberapa peralatan medis. "Apa yang menyebabkan luka di paha anak ini pak !?" Tanya Dokter itu pada Irvan. Nampak keraguan di wajah Irvan saat dokter yang memeriksa Madi bertanya padanya, dia memikirkan besaran biaya yang bila mengatakan anaknya terkena anak panah. "Iiitu... dia terjatuh dari pohon terus mengenai tembok yang atasnya terdapat paku-paku pengaman, Dok." Ucap Irvan berbohong. "Apa hubungan bapak dengan anak ini !?" Tanya Dokter itu. "Saya sendiri orang tuanya, Dok !?" Jawab Irvan. "Baik, silahkan bapak menyelesaikan administrasi di bagian loket pendaftaran langsung saja berikan catatan ini pada petugasnya !?" Ucap Dokter itu seraya menyodorkan kertas pada Irvan. Irvan pun meraih kertas itu dan bergegas menuju loket pendaftaran untuk menyelesaikan administrasi pengobaran anaknya sesuai arahan dokter yang menangani lalu menyerahkan KTP, KK dan beberapa kartu jaminan sosial dari pemerintah pada petugas loket. Dia pun duduk di bangku sambil menunggu proses administrasi, wajahnya terlihat lesu memikirkan musibah kapal karam yang menimpa ibu, istri dan anaknya di tambah lagi dengan anak sulungnya terkena anak panah di pahanya yang belum dia ketahui penyebabnya. "Pak Irvan... pak Irvan." Seru suara perempuan loket beberapa kali memanggil namanya hingga dia pun menyahut. "I ya." Jawabnya singkat sembari berdiri dan berjalan ke arah loket. "Hmm... pak Irvan ini kami jelaskan, jadi yang dapat di tanggung di sini hanya pengobatan saja sedangkan untuk perawatan khususnya rawat inap lebih dari dua puluh empat jam itu menjadi tanggungan pasien." Ujar petugas loket menjelaskan pada Irvan. Sesaat Irvan nampak terdiam memikirkan perkataan petugas loket itu, dia mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghempaskan nafasnya. "Huufh..." "Bagaimana pak Irvan !?" Tanya petugas perempuan itu di balik dinding kaca. "Aku tak punya biaya untuk perawatan anakku,bu... biar aku rawat di rumah saja." Ucap Irvan dengan suara lesu. "Baik pak Irvan... kalau begitu silahkan tebus resep ini di loket itu dan ini berkas-berkas bapak." Ucap petugas itu sembari menunjuk ruangan tempat pengambilan obat. Sementara siang itu di rumah kontrakan Deyrmansyah, Salsa nampak serius bermain jenga. Anak itu begitu cerdas menyusun balok berwarna warni dan membentuk sesuai imajinasinya, beberapa kali Yusti memanggil namun dia tetap fokus bermain. "Caca mam dulu ya, setelah itu baru main lagi !?" Ucap Yusti sambil mengaduk aduk makanan Salsa. "Mmau... caca tunggu om Dey maam." Ucap Salsa tetap fokus pada balok jenga yang di susunnya. "Om Dey kemana dari tadi mama tidak lihat !?" Tanya Yusti sambil menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut Salsa. "Tuh dalam kamal nya." Ucapnya dengan bahasa anak-anak yang mulai fasih terdengar. "O oo om Dey ada di dalam kamar lagi kerja, kalau begitu maam dulu nanti omnya marah kalau Caca malas makan, ya sayang !?" Ucap Yusti membujuk Salsa. "Mmau ah hee ee e." Ucap Salsa merengek sambil menggoyangkan badannya. "Om Dey lihat nih Caca tidak mau makan !?" Seru Yusti. Tak mendapat sahutan, Yusti lalu berdiri dan menuju kamar Dey yang tertutup rapat. "CKLEK." Yusti membuka pintu kamar Dey. Aku tetap serius membaca surel yang di kirim dari kantorku dan mengamati daftar nama petugas yang akan di utus mengaudit beberapa site. "Bang ku kira lagi serius nonton." Ucap Yusti melingkarkan tanganya di dadaku sambil menopang dagunya di bahuku. "Si Salsa nggak mau makan, tolong bujuk dia, bang !?" Ucap Yusti merapatkan pipinya yang halus di pipiku. "CUP... CLUGH." Ku layangkan sebuah kecupan di pipi dan bibir Yusti lalu aku berdiri dan berjalan ke luar kamar menghampiri Salsa. "Salsa makan dulu ya sayang... setelah itu baru main lagi !?" Ucapku sambil mengelus kepalanya. "Yeeei caca bisa..." Seru Salsa sambil bertepuk tangan. "Pluk puk puk." Seringai wajah gembira terlihat saat jenga yang di susunnya membentuk sebuah menara. "Hore... Salsa pintar... supaya menaranya kuat tetap berdiri... Salsa makan dulu, okey !?" Ucapku sambil ikut bersorak dan mencium pipinya yang tembem. "Oke Caca mo maam." Ucap Salsa sambil membuka mulutnya hingga terlihat gigi-gigi kecilnya dan lidahnya yang berwarna pink, Yusti lalu menjulurkan sendok berisi makanan ke mulut Salsa. "DDEEERT DEEEERT DEEERRT." Bunyi getar panggilan dari smartphoneku yang terletak di atas meja nakas di dalam kamarku terdengar. Segera aku berdiri lalu kembali ke dalam kamarku dan meraih benda pipih itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD