Pukul 02.10 dini hari aku baru sampai di kontrakanku, dari depan gerbang ku matikan mesin motorku kemudian aku membuka gerbang dan menguncinya setelah aku di dalam lalu aku menuntun motorku hingga ke tempat parkir.
Perlahan aku memutar kunci pintu rumahku dan menekan handle pintu namun ternyata terkunci dari dalam.
"Tok tok... Musdar... buka pintunya !?" Ucapku pelan sambil perlahan mengetuk pintu kontrakanku.
"Cklek." Suara pintu di buka dari dalam.
"Kamu masih di sini !?" Ucapku berbisik.
"Tidak... baru saja ke sini, mendengar abang datang aku langsung bangun membukakan pintu." Ucap Yusti pelan sambil bergayut di leherku.
"Akh." Aku meringis menahan sakit di bahuku.
"Kamu kenapa bang !?" Tanya Yusti dengan alis tertaut.
"Tidak apa-apa cuma nyeri sedikit." Ucapku sambil memijat-mijat bahuku.
"Bang tadi Salsa rewelnya minta ampun, nangis terus memanggil manggilmu... padahal dia sudah tertidur." Ucap Yusti berdiri di ambang pintu kamarku.
"Mungkin dia mimpi, hupks !?" Ucapku meringis sambil melepas jaketku.
"Hmm, tidak seperti biasanya... kalau dia nangis paling cuma sebentar tapi ini dia meronta-ronta memanggil om Dey !?" Bisik Yusti memperhatikan punggungku.
"Bang, kenapa dengan punggungnya... kelihatnnta memar begitu !?" Bisiknya sambil melangkah menghampiriku.
"Sepertinya abang habis berkelahi ya, itu ada noda darah di baju abang !?" Ucapnya pelan dengan wajah cemas.
"Tidak koq... tadi kebetulan ada balok jatuh dan menimpaku juga orang di depanku kepalanya kena dan bocor." Ucapku menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Sudahlah Yus, kamu ke sebelah saja... jangan sampai Musdar terbangun !?" Ucapku sambil mengelus pundaknya.
"Bang...!?" Ucapnya sambil merapatkan tubuhnya dan memelukku.
"Sudahlah aku takut ketahuan... lakukan saja seperti tadi pagi sayang... Cup !?" Ucapku sambil mengecup pipinya.
Dia pun beranjak dari kamarku dan meninggalkanku duduk di pinggir springbed.
Seketika ingatanku tertuju pada kejadian di rumah Irvan, tentang sosok yang menyerupai ibu, istri dan anaknya dan begal yang dia hajar
"Mengapa tiba-tiba saja aku rindu pada Irvan dan ingin mengunjunginya... dan kenapa pula Irvan tak mendapat firasat apa-apa tentang musibah yang menimpa keluarganya."
"Begal itu... Ck, aku harus tetap waspada, bisa saja satu orang yang lolos itu memanggil teman-temannya untuk mengeroyokku." Gumamku sambil berbaring memejamkan mataku hingga akupun tertidur.
Hembusan angin yang bertiup kencang membawa titik-titik air menerpa dan membasahi sekitarnya seakan ingin mematahkan frame yang menopang tenda domeku, suaranya yang menderu memaksaku bangun dari kungkungan sleepingbed yang membungkus tubuhku.
"Separtinya telah terjadi badai, aku harus mencari tempat berlindung yang lebih aman." Gumamku sambil mengenakan raincoat dan bersiap packing.
Namun saat membereskan tenda aku tersentak, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya terang bersamaan suara menggelegar menghantam sebuah dahan pohon yang cukup besar hingga patah dan jatuh tak jauh dari tempatku ngecamp.
"Astagafirullah... hampir saja aku celaka." Gumamku sambil mengusap dadaku tanpa memperhatikan kalau cahaya itu tak redup walau tebalnya kabut membatasi pandangan.
"Dey... Dey... Dey..."
Terdengar suara memanggil namaku dan aku pun memutar pandanganku mencari sumber suara itu.
"Siapa itu... di mana kalian !?" Seruku di tengah ke sunyian dan tebalnya kabut.
"Dey... terima kasih telah memberitahu Irvan tentang kami... sampaikan padanya agar tidak bersedih memikirkan kami." Ucap sosok yang menyerupai istri Irvan yang tiba ada dan berdiri di dekatku dan di selimuti kabut.
Sssabrina kau berada di mana saat ini !?" Ucapku pada sosok bayangan berpakaian putih yang menyerupai Sabrina istri Irvan.
"Aku terjebak dalam dek kapal bersama anakku !?" Ucap sosok Sabrina yang pergi di telan kabut yang kian bertambah tebal.
"Tunggu...Sabrina !!?" Seruku sambil mengibas-ibaskan tanganku menghalau kabut.
"Sabrina... Sabrina... tungguuu !?" Seruku berlari mengejar Sabrina di tengah kabut.
Hingga diriku terasa melayang tak menginjak tanah dan...aku terjatuh.
"BUG."
"AAKH"
"Aduuuh ukh...!?" Keluhku saat tersadar dari mimpi sambil mengelus b****g dan kepalaku yang terjedot kaki meja.
Sesaat aku duduk di bawah lantai dan bersandar di sisi springbed untuk mengumpulkan kesadaranku lalu berdiri meraih mug dan minum.
"Hhuu... ternyata aku bermimpi ngecamp di sebuah lembah di dalam hutan tapi... istri Irvan..." Gumamku sambil mendongak merenggangkan otot leherku dan meremas rambutku.
Sesaat ku raih smartphoneku dan melihat jam digital yang baru menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit dan akupun kembali melanjutkan tidur karena kepalaku terasa pening.
Seperti biasanya saat pagi, weker hidup seorang anak balita mencongkel-congkel mataku dan menghujani pipiku dengan ciuman dari bibir mungilnya.
"Om Dey mangun.. mangun.." Ucapnya dengan mengguncang-guncang tubuhku.
"Huuumm iya anak cantik, om bangun." Ucapku sambil memeluknya gemas.
"Hii hi hi hii... om Dey." Suara tawanya terdengar dari bibir mungilnya yang merah.
"Caca mau bobo cini om." Ucap Salsa sembari berguling ke sampingku dan menutup matanya.
"Hee heheheee... Salsa mau bobo atau mau mandi !?" Ucapku tertawa sambil bangun dan duduk di pinggir springbed.
"U um caca bobo, ya." Suara kecilnya yang lucu membuatku gemas hingga menggelitik perutnya.
"Tikitikitik...
"Hii hihihiii...
"Ya sudah Caca bobo saja di sini, om mau mandi dulu." Ucapku sambil berdiri dan menanggalkan celana dan bajuku lalu mengenakan handuk dan berlalu ke luar dari kamarku.
Sementara di kamar kontrakan Musdar dan Yusti, dua pasutri itu terdengar cekcok.
"Memang kamu saja yang dasarnya malas, sakit sedikit saja kau jadikan alasan untuk tidak bekerja... kita ini mau makan apa, kau selalu saja bergantung pada orang lain !!?" Ucap Yusti sambil memalingkan mukanya.
"Dasar istri tak tahu diri, jangankan aku sakit seperti ini... sehat saja kau tidak pernah perduli denganku... yang ada di pikiranmu cuma uang uang dan uang saja !?" Hardik Musdar nampak denyut di ke dua rahangnya menahan emosi.
"Apa kamu bilang... aku tak tahu diri... apa kamu sadar apa yang kau katakan itu, HA !!?" Bentak Yusti drngan wajah memerah.
"Kua katakan cuma uang yang aku pikirkan... apa kau sudah memberiku cukup uang selama ini... apa kau pikir dengan kau memberiku tigaratus ribu selama sebulan itu cukup buat aku dan anakmu... huu uuh hiiiks sementara kau lebih mengutamakan memberikan saudara-saudaramu dan orang tua mu dua juta sebulan... saat kau sakit mereka mana peduli denganmu, hiik huu huu !!?" Ucap Yusti terisak di sela ratap tangisnya.
Musdar hanya terdiam tak mampu berkata-kata memandangi istrinya.
"Apa kau pikir dengan uang tigaratus ribu bisa membayar kontrakan, air dan listrik... semua itu aku pinjam bahkan biaya pengobatan IMPOTEN kamu kau pikir itu uang pemberian kamu... tidak MUSDAR semua itu aku pinjam... jangankan NAFKA LAHIR NAFKA BATIN PUN KAU TIDAK PERNAH PENUHI sekarang mulai detik ini saya memintamu segera ceraikan diriku !!?" Ucap Yusti dengan suara terdengar keras.
"PLAK." Sebuah tamparan dari Musdar membuat Yusti terhuyung membentur dinding.
"Kurang ajar apa yang kau lakukan barusan ini akan ku jadikan bukti, aku akan menggugat cerai denganmu, ayo pukul aku dasar laki-laki tak berguna !!?" Sergah Yusti tanpa bergeming dan menatap nanar pada Musdar.
Aku yang melihat sepintas pertengkaran pasutri muda itu hanya bisa menghela nafas tak ingin mencampuri urusan tumah tangga mereka namun rasa ingin membela Yusti lebih besar hingga aku memilih berjongkok di ambang pintu sambil berjaga jangan sampai Musdar menjadi gelap mata dan mencelakakan Yusti