Kejadian di dapur itu benar-benar melumpuhkan logika Candra. Setelah Anya melenggang pergi dengan senyum penuh kemenangan, Candra masih mematung di posisi yang sama. Jari telunjuknya perlahan menyentuh bibirnya sendiri, seolah mencoba memastikan bahwa sensasi lembut yang baru saja ia rasakan bukanlah sekadar halusinasi. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang sekali muncul di wajah kakunya. Namun, kesenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Candra tidak menyadari bahwa di balik bayangan lemari kayu besar yang membatasi area dapur dengan ruang makan, ada sosok yang sejak tadi berdiri diam. Abimanyu awalnya hanya berniat mengambil botol air mineral, namun langkahnya terhenti saat melihat interaksi intim antara adik dan asisten pribadinya. Abimanyu melangkah keluar dari

