Part 24 - Antara Ya dan Tidak

1200 Words
JAM di dinding sudah menunjukkan pukul 19:05 dan Alka baru saja kembali dari rumah seberang, rumah sahabatnya, Delma. Gadis itu masuk rumah dan melangkah santai menuju kamar. Baru saja kakinya hendak menapak anak tangga, niatnya terpaksa urung saat mendengar namanya diserukan seseorang. Spontan, ia menoleh ke sumber suara. “Mama?” gumamnya. Ia menemukan Agatha yang tengah berjalan ke arahnya dari arah dapur. “Kamu, kok, baru pulang? Dari mana, sih?” “Dari rumah Delma, Ma. Tadi diajak minum cokelat panas dulu bareng sama Tante Elma.” “Oh, gitu. Terus, Alden jadi nginep di rumah Delma?” Alka mengangguk. “Jadi, kok. Kalo gitu, Alka ke atas dulu, ya, Ma.” “Eh, sini dulu, dong. Mama mau ngobrol sama kamu bentar.” Kening Alka berkerut samar. Kepalanya meneleng, menatap mamanya penasaran. “Ngobrol apa, Ma?” “Ya, makanya sini, ikut mama.” Agatha berlalu menuju ruang tengah. Mengembuskan napas berat, Alka akhirnya mengikuti langkah sang mama. Ia mendudukkan diri tepat di sebelah kanan Agatha. Mereka berdua terdiam selama beberapa saat dengan tatapan tertuju lurus pada televisi yang tengah menayangkan sebuah acara. Alka menoleh ke kiri, menatap Agatha dari samping. “Katanya mau ngajak Alka ngobrol. Kok, malah diem sekarang?” Agatha menoleh dan balas menatap putri sulungnya. “Iya, emang ada yang mau Mama obrolin.” “Apa?” Agatha terdiam beberapa saat. Wanita itu mengalihkan tatapannya dari Alka dan kembali menatap depan. Alka yang memperhatikan gestur mamanya itu merasa penasaran. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh mamanya. Sesuatu yang serius. Mungkin. “Kamu … beneran suka sama Alden?” Pertanyaan yang terlontar dari mulut Agatha itu sukses membuat Alka tertegun. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali, mencerna ulang pertanyaan mamanya. Agatha menoleh dan menatap Alka dengan mimik muka serius. “Gimana? Suka atau enggak?” Alka membasahi bibir. Tiba-tiba saja, rasa gugup menyergap dirinya. Dengan ragu, ia pun mengangguk samar. “Suka?” tanya Agatha, memastikan. Alka kembali mengangguk. “S---suka, Ma,” jawabnya terbata. “Sayang?” “I---iya.” Agatha membuang napas. Raut mukanya kian serius memandang Alka. “Cinta juga?” Alka terdiam beberapa saat. Ia menatap Agatha. Tak berapa lama kemudian, gadis itu mengangguk. “Iya, Ma.” Desahan berat keluar dari mulut Agatha. Wanita itu menyandarkan punggung pada sofa, lantas terdiam selama beberapa saat dengan tatapan lurus ke depan. Entah apa yang sedang dirasakannya kini. Memikirkan masa depan sang putri sulung, membuatnya sedikit cemas. Apalagi, saat mengetahui bahwa putrinya itu sangat jatuh hati pada seorang laki-laki bernama Alden. Memang wajar, tetapi tetap saja ia merasa cemas. “Omong-omong ..., kenapa Mama nanya gitu, sih?” Alka tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi. “Enggak ada apa-apa. Cuma ... mau mastiin aja.” Alka diam, tak menanggapi apa-apa. “Kamu … yakin, Alden juga ngerasain apa yang kamu rasain? Suka, sayang, dan cinta gitu?” Alka tanpa ragu mengangguk, mengiakan pertanyaan Agatha. “Yakin, Ma. Alden sering ngomong gitu ke Alka, kok.” “Ngomong doang? Tanpa action gitu?” Kedua alis Alka bertaut mendengar pertanyaan Agatha yang menurutnya sangat ganjil. “Action gimana, Ma?” “Ya ..., action. Tindakan yang mencerminkan kalo Alden beneran suka, sayang, dan cinta sama kamu. Pernah Alden kayak gitu?” Alka termenung beberapa saat. Sebenarnya, ia tidak terlalu paham dengan maksud pertanyaan Agatha, tetapi ia beranikan diri menjawab, “Alden enggak cuma omong doang, kok, Ma, kalau dia suka, sayang, dan cinta sama Alka. Dia sering bikin Alka seneng, walau dengan hal-hal yang kecil dan sederhana.” Agatha mendengarkan penuturan putri sulungnya dengan saksama, mencari keseriusan hubungan antara Alka dan Alden. “Alka yakin, perasaan Alden yang kasih buat Alka itu tulus.” Kedua sudut bibir Alka tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman. Secara otomatis, ia teringat momen di mana Alden secara jujur menyatakan perasaan padanya untuk pertama kalinya. Momen yang sederhana, tetapi masih membekas jelas di ingatan Alka. “Selama ini, Alden juga enggak pernah ngecewain Alka atau bikin Alka sedih.” Agatha manggut-manggut mendengar penjelasan dari Alka. Wanita itu lantas berdeham, meredakan suasana yang entah mengapa jadi terkesan begitu kaku. “Ya ..., Mama juga ngira kalo Alden emang beneran serius sama kamu. Mama liat tadi, gimana cara dia natap kamu. Tatapannya, tuh, tatapan yang tulus dan ... penuh rasa.” Mendengar hal tersebut, membuat Alka merasa salah tingkah. Rasa hangat tiba-tiba saja menjalar di permukaan kedua pipinya. Benarkah apa yang dikatakan mamanya itu? Benarkah Alden menatapnya seperti itu tadi? “Kamu juga sama. Ngeliatin Alden kayak seneng banget gitu.” Alka tersenyum malu mendengarnya. “Tapi, tetep, Mama belum sepenuhnya kasih izin kalian buat pacaran.” Detik itu juga, senyum yang menghiasi paras cantik Alka memudar secara perlahan, digantikan oleh raut terkejut sekaligus agak kecewa. “Yah .... Mama ...,” rengek Alka. Ia memegang lengan mamanya dengan ekspresi wajah memelas. “Ya ..., gimana? Alden aja belum ketemu sama Papa. Jadi, Mama belum bisa kasih keputusan.” Alka mengerucutkan bibir kesal. Tentu, dalam hati, ia sangat berharap jika mama dan papanya akan memberikan izin baginya untuk berpacaran dengan Alden. Tanggung, sudah satu tahun mereka menjalin hubungan dengan perasan yang sama satu sama lain. “Tapi, sejauh ini Mama bisa menilai kalau Alden itu ....” Agatha menggantung ucapannya. Ia menatap lekat putri sulungnya. Alka jadi merasa penasaran. Gadis itu menatap Agatha penuh tanda tanya. “Alden kenapa, Ma?” Agatha menatap Alka dan tersenyum samar. “Menurut Mama, Alden emang anak yang baik. Sikapnya tadi dia juga ramah, sopan.” Mendengar hal tersebut, tentu membuat Alka merasa senang. Ia tersenyum lebar dan refleks memeluk tubuh mamanya dari samping. Agatha yang mendapat perlakuan tersebut dibuat terkejut. Ia hanya geleng-geleng akan tingkah putri sulungnya itu. “Itu cuma penilaian Mama sementara doang, lho, Al,” ujarnya sambil mengusap rambut panjang Alka dengan telapak tangannya. “Penilaian Mama bisa aja berubah nanti. Bisa aja Alden bersikap baik gitu cuma buat pencitraan di depan Mama sama Papa biar dikasih izin pacaran sama kamu.” Alka mengurai pelukan dan menatap Agatha dengan raut masam. “Mama negative thinking mulu, deh.” “Bukannya negative thinking, tapi me-ngi-ra.” “Sama aja. Pokoknya, Alka yakin, kalo Mama bakal kasih aku izin pacaran sama Alden.” Agatha tersenyum remeh. “Yakin banget kamu?” “Yakin, dong.” “Ya ..., apa pun keputusannya nanti, kamu harus terima, ya. Mama sama Papa mau yang terbaik buat kamu. Kamu tau, ‘kan?” “Mama sama Papa antisipasi supaya kamu itu enggak terjerumus ke pergaulan yang salah,” lanjut Agatha. Entah sudah ke berapa ratus kali Alka mendengar pesan tersebut. Namun, Alka hanya menanggapinya dengan meluruskan bibir, lalu mengangguk samar. “Ya ..., semoga aja apa yang kamu bilang tadi bener-bener terbukti, kalo Alden emang anak yang baik dan tulus cinta sama kamu.” Alka kembali mengangguk. “Jadi ..., Mama bakal kasih keputusannya kapan?” “Besok. Tunggu Papa dulu, ya.” Alka mengembuskan napas berat. Ia hanya mengangguk patuh kemudian. BERSAMBUNG ke PART 25 Komennya jangan lupa, ya Sekali-kali aku yang diem, kalian yang muncul, hehe:D Jangan lupa ♡ untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD