JANTUNG Alden berdegup dengan kencang. Ia menelan ludah dengan susah payah memperhatikan Dokter Pian yang dengan penuh kehati-hatian melepas perban putih yang melilit kepala Trisha, menutup kedua mata gadis itu. "Mata Cha kenapa ditutup, sih, Dok? Kan, Cha sama aja Cha enggak bisa liat," keluh Trisha dengan polosnya. Dokter Pian hanya tersenyum sambil fokus melepas perban. Begitu perban sempurna terlepas, Dokter Pian menyentuh pelan pundak Trisha. Trisha hanya diam dengan keadaan mata tertutup. "Cha, pelan-pelan kamu mulai buka mata kamu, ya," aba Dokter Pian. Dahi Trisha berkerut samar mendengar perkataan Dokter Pian. "Kenapa gitu, Dok?" "Cha ...." Alden memanggil. Laki-laki itu meraih tangan kanan Trisha dan memegangnya. "Ikuti aja apa yang Dokter Pian bilang, ya." Trisha terdiam se

