Istirahat sekolah.
Seperti biasa Jay dan teman-temannya selalu pergi ke kantin saat jam istirahat berlangsung, tapi kali ini berbeda. Tak ada Sandi diantara mereka, entahlah Sandi tadi menolak ajakan Jay untuk pergi ke kantin. Dan disinilah Sandi sekarang ditaman belakang sekolah dengan melihat seorang gadis yang satu bulan lalu ia suruh untuk menjauhinya.
"Hah" ia menghembuskan nafas berat, kemudian mulai berjalan mendekati gadis itu. Sampainya dibelakang gadis itu, Sandi memberanikan diri untuk berkata.
"sepertinya makanan itu enak…" katanya mengagetkan gadis yang membelakanginya. Gadis itu menoleh kearah Sandi dan menatap lelaki itu terkejut.
"apa aku boleh duduk disebelahmu, Ri?" tanya Sandi kembali, karena dirasa gadis itu tak akan menjawab perkataannya tadi.
"si-sil-lahkan" jawab Rika-gadis yang ditatap Sandi, gugup
Lama mereka terdiam setelah Sandi mendudukkan pantatnya disebelah Rika. Sedangkan Rika sendiri masih menyantap makanannya dengan kegugupan yang melanda hatinya.
"maaf" kata Sandi tiba-tiba membuat Rika kembali menoleh padanya.
"maafkan aku, Rik..seharusnya aku tak menyuruhmu pergi..." kata Sandi lagi.
"tak apa San….aku mengerti" balas Rika.
"tidak Rik...aku sudah membuatmu canggung dengan yang lain"
"tak apa aku tak masalah jika aku seperti ini kok"
"tidak...aku tak mau melihatmu menyendiri seperti ini, aku ingin kau bergabung dengan yang lain dan soal kau menyukaiku itu-..."
"aku tak mau membahas itu lagi..yang penting aku sudah memaafkanmu San" potong Rika.
"kau memaafkanku?" tanya Sandi meyakinkan.
"ya aku memaafkanmu, lagi pul-...."
Belum selesai Rika berkata, Sandi sudah memeluknya membuat Rika mematung ditempat duduknya.
"cieeee" teriak tujuh orang yang berbeda gender itu.
Mendengar itu Rika melepaskan pelukan Sandi dengan wajah yang memerah, sedangkan Sandi sendiri menggaruk tengkuknya karena sudah ketangkap basah oleh teman-temannya.
"kalian terlihat serasi" puji Reza.
"bagaimana kalau kalian berkencan saja" kata Jacop semangat.
“benar…kalian cocok sekali” tambah Dimas.
Rika yang mendengar perkataan Dimas itu hanya menunduk malu dan wajahnya mulai memerah seperti kepiting rebus.
"jadi sekarang kita bertemanam lagi kan, Rik?" tanya Siska yang langsung diangguki oleh Rika. Akhirnya mereka kembali bersama seperti dulu dan tidak ada kesalah pahaman lagi diantara Rika dan Meika.
❇
Satu bulan sudah berlalu, bahkan ujian kenaikan kelaspun sudah mereka lewati. Mereka bertujuh berhasil meraih peringkat sepuluh besar berkat kerja keras mereka yang selalu belajar di flat Eric. Bahkan Jay yang badel-pun dapat menduduki peringkat ketiga setelah Sandi. Peringakat pertama ada Meika, kedua Sandi, ketiga Jay, keempat Siska, ketujuh Rika dan kesepuluh ada Eric. Mereka terbilang sangat berhasil. Sedangkan Reza, Jacop dan Dimas sendiri mendapat peringkat pertama, kedua dan ketiga diangkatannya. Itu juga berkat Siska yang mengajari mereka karena hanya ia yang bisa mengajari ketiganya. Jika Meika dan Rika yang mengajari Jay dan Sandi akan mengganggu mereka dengan menyuruh Meika dan Rika menjelaskan materi yang tak keduanya mengerti. Jika kalian bertanya soal siapa yang mengajari Eric jawabannya adalah dia belajar sendiri karena tidak mau mengganggu keromantisan yang terjadi diantara Jay dan Meika dan Sandi dengan Rika.
Sekarang mereka sudah berada di caffe dekat dengan sekolah untuk merayakan keberhasilan mereka dengan Sandi yang mentraktir mereka semua.
"terimakasih Mei….kau sudah mngajariku semuanya" ucap Jay dengan menggenggam tangan Meika lembut.
"tak masalah" balas Meika dengan senyum manisnya.
"lalu apa kau jadi menunjukkan pada ayahmu, Jay" tanya Sandi.
"entahlah San, aku masih ragu"
"ish! kau ini, kau harus menemui ayahmu setelah ini...biar aku antar" protes Meika saat mendengar jawaban Jay yang sepertinya menolak.
"ya ya..asalkan denganmu aku mau mau saja" jawab Jay sambil mencubit pipi Meika gemas.
"dasar manja" cibir Siska
"yak,,jangan meledeknya Sis..apa kau tak mengaca jika kekasihmu seperti anak kecil" bela Meika.
"YAK!" teriak Siska tak terima.
"kalian ini lucu sekali" kata Rika yang sedari tadi hanya diam menatap perdebatan Meika dan Siska didepannya. Kemudian semuanya tertawa mendengar perkataan Rika.
❇
Kediaman Jay Luwis.
Meika benar-benar menepati janjinya, menemani Jay pulang ke rumahnya. Sebenarnya ia sedikit takut bertemu dengan orang tua Jay, tapi dengan genggaman tangan Jay membuat ketakutan Meika seketika menghilang. Sebenarnya Meika tahu tentang pertengkarang Jay dan orang tuanya, karena Jay sudah menceritakan semuanya pada gadis manis itu.
Mereka berdua masuk kedalam rumah mewah tersebut. Sedikit ragu-ragu Jay membuka pintu rumah utamanya, yang langsung disambut para maid disana.
"tuan muda akhirnya anda pulang juga" sapa bibi yang mengasuh Jay sedari kecil.
"iya bi, apa ayah ada?" tanya Jay sopan.
"ada tuan muda, nyonya dan tuan besar ada taman belakang" balas bibi
"terimakasih" balas Jay sambil membungkuk dan berjalan dengan tetap menggenggam tangan Meika, sedangkan gadis manis itu hanya tersenyum kepada bibi yang menyambut mereka.
"wanita itu sungguh cantik, tuan muda pintar memilih" monolog sang bibi sambil tersenyum.
Tak lama mereka sampainya ditaman belakang, Jay mulai menyapa kedua insan yang berbeda usia itu. Sedangkan Meika diam sambil memegang tangan Jay erat. Oh jika kalian lihat dari dekat mungkin kalian tahu jika tangan Meika saat ini sedang berkeringat menandakan dia sedang gugup.
"malam ayah" sapa Jay pelan.
Mendengar sapaan itu membuat kedua orang itu menoleh.
"aah Jay….kau kembali, sayang" kata ibu kedua Jay.
"untuk apa kau kembali?" tanya ayahnya tak peduli.
"sayang jangan begitu, apa kau tak senang dia kembali?" bela wanita itu.
"dia sudah meninggalkan rumah ini, maka dia bukan anakku lagi" masih tetap dengan nada dinginnya.
Mendengar perkataan ayahnya-selaku kepala sekolah Meika-membuat gadis manis itu menenangkan Jay yang sudah mulai mengepalkan tangannya dengan mengelus pundak lelaki tampannya.
"maafkan aku pak kepala sekolah, Jay kemari hanya ingin membuktikan kalau dia sudah berhasil menduduki peringkat sepuluh besa-..."
"apa peduliku" potong ayah Jay pada ucapan Meika.
"setidaknya ia sudah membuktikan jika ia bisa dan berhasil dengan kerja kerasnya.." bela Meika yang tak terima dengan respon ayah Jay itu.
"sudalah Mei, itu percuma saja..sebaiknya kita pergi dari sini" kata Jay sambil menarik Meika.
"tapi Jay...kau harus bilang pada mereka kalau kau tak seperti dulu lagi-…YAK! Jay kau dengar aku atau tidak?" kesal Meika kala Jay menariknya untuk pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
"tapi dia tak menganggapku Mei, mengertilah"
"tapi..."
"aku mau ke kamar sebentar..tunggulah disini" kata Jay, kemudian berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Meika yang ditinggal Jay pergi kelantai atas itu mulai sedikit terisak dengan sikap Jay barusan dan tak menyangka jika ayah Jay bisa seperti itu dengan anaknya sendiri. Sang bibi yang kebetulan berada didapur dan melihat Meika itupun mulai menghampiri gadis manis itu.
"tak apa jangan menangis nona" kata bibi menenangkan Meika.
"aku tak mau Jay pergi dari rumah ini, bi hiks"
"bibi paham, tuan muda sebenarnya tak seperti itu nona..apa lagi tuan besar..sebenarnya ia tak mau tuan muda pergi darinya" jelas bibi itu.
"tapi, tadi ayahnya mengusir Jay"
Bibi itu tersenyum sebentar sebelum,
"tuan besar" katanya.
Meika yang mendengar itupun menoleh dan menundukkan kepalanya, takut kepada ayah Jay, karena ia belum juga pergi dari rumahnya.
"apa kau habis menangis?" tanya ibu kedua Jay.
Meika hanya diam menanggapi pertanyaan dari ibu Jay itu.
"aish sudah kubilangkan jangan terlalu kasar, lihat kau membuat anak orang menangis" marah ibu Jay pada suaminya.
"ya ya sayang aku salah"
"maafkan ayah Jay ini ya emm..."
"Mieka"
"aah iya! Maafkan dia ya, Mei" kata ibu Jay sambil memeluk Meika.
"ayo kita per-.....kenapa dengan Meika?" tanya Jay sambil melepaskan pelukan ibunya dari Meika.
"aku tak apa Jay"
"lalu kenapa kau menangis?"
"tadi aku menangis karenamu"
"kenapa denganku?"
"kau tak mau menuruti kataku" jawab Meika cemberut.
"bai-...."
"maafkan ayah Jay, ayah tadi hanya bercanda" potong ayahnya.
"aish! bukan begitu bodoh" kata ibu Jay menyalahkan suaminya.
"baiklah...maafkan ayah Jay, ayah bangga padamu kau bisa menduduki peringkat ketiga dan sifatmu yang berubah itu….ayah merasa senang" kata ayahnya membenarkan perkataannya tadi.
"ayah" kata Jay sedikit tak percaya dengan sifat ayahnya itu.
"kemarilah" pinta ayahnya. Jay dengan ragu-ragu membalas pelukan ayahnya.
"ini semua karena Meika, ayah"
"ayah tahu...terimakasih sayang kau sudah merubah anak ayah yang bandel ini"
"sama-sama tu-.."
"a a a a a panggil ayah saja"
"baiklah tu-ayah" senyum Meika.
"uuuh manisnya" kata ibu Jay sambil mencubit pipi Meika gemas.
"mom jangan cubit dia, hanya aku yang boleh" protes Jay ketika ibunya mencubit pipi Meika gemas.
"aish kau marah rupanya"
Semua orang yang ada disana tertawa, termasuk sang bibi yang menyaksikan keluarga majikannya kembali utuh. Akhirnya Jay kembali ke rumahnya dan ia mulai akan berusaha menerima kehadiran ibu barunya. Ternyata ibunya tak seburuk yang ia kira, terlihat dari sikapnya saat memeluk Meika dan saat pertama ia datang tadi. Pantas saja ayahnya begitu menyukai wanita itu. Ia senang bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan ayah dan ibu barunya, ini semua pasti karena Meika, sejak ia kenal dengan gadis manis itu, Jay merasa ada energi positif yang Meika berikan padanya. Jay sangat bersyukur bisa mendapatkan seorang gadis seperti Meika yang baik, pintar, ceria dan selalu bisa menghantarkan keceriaan pada semua orang disekitarnya. Sungguh Meika adalah gadis yang langka, lihat saja Siska yang suka marah-marah dan Rika yang kelewat malu-malu. Tak seperti Meika yang selalu ceria, ia berjanji tak akan melepaskan Meika sedikitpun, atau bahkan ia tak akan melukai gadis itu, tak akan membuatnya menangis. Karena ia tak suka saat melihat Meika menangis, apa lagi itu karena dirinya.
Seseorang bisa merubah sifatnya dari yang buruk menjadi baik dengan kehadiran seseorang yang ia cintai. Seperti Jay yang berubah karena kedatangan Meika dikehidupannya.