"Selamat pagi, bu Aruna," sapa seorang dokter yang melakukan visit ke ruangan Runa. Di sampingnya seorang suster berdiri dengan papan status serta Doppler yang ia jinjing. Irsyad yang baru saja terjaga dari tidurnya bangkit dan menuju kamar mandi. Ia tak ingin terlihat dirinya peduli dengan pemeriksaan yang di lakukan, padahal jelas-jelas ia ingin mendengar lagi suara jantung bayi didalam perut Runa. sayangnya gengsinya terlalu tinggi. Baru dua kali membasuh wajahnya suara seperti kuda berlarian tertangkap telinganya. Ia menghentikan kegiatan paginya. Tanpa perlu ia perintah, dengan sendirinya rasa itu sudah manjalar di hatinya, rasa tenang yang membuat sudut bibirnya terangkat. Detak jantungnya pun seolah mengikuti detak jantung di luar sana itu. Seolah seirama dan membuat tubuhnya meng

